Accueil / Romansa / Suami Pengawal Nona Muda / Bab 3. Ancaman Jebakan

Share

Bab 3. Ancaman Jebakan

last update Dernière mise à jour: 2024-02-06 11:51:23

“….”

Sebelum Gemi sempat meresapi maksudnya, gadis itu merasakan kepala Nakula merunduk, tanpa aba-aba mencium bibirnya.

Seketika, seisi ruangan bersorak. Akan tetapi, Gemi tidak mendengar apa pun selain jantungnya yang berdebar dan darahnya yang berdesir di kepala. Dalam keterpakuannya, dia bisa merasakan bibir Nakula bergerak perlahan, mengecup dan memagut bibir Gemi bagai permen kapas, lembut dan manis.

Sikap Nakula begitu tenang dan lembut, sungguh berbeda dengan perangainya yang selama ini tampak bagaikan anjing penjaga galak. Gemi dibuat kewalahan atas aksi tiba-tiba ini. Rasanya gadis itu hendak merosot jatuh lantaran kedua kakinya melemas, tetapi Nakula dengan sigap menahan kedua lengannya.

Pria itu melepas ciumannya, lalu berkata pada Gemi dengan suara bergetar, “Maafkan saya.”

Gemi tidak bisa berkata apa-apa, entah masih syok atau hanyut dalam sensasi-entah-apa yang begitu mendebarkan. Sentuhan Nakula di bibirnya masih terasa panas dan menggelitik. Tercium aroma musk dan rasa manis rempah yang tertinggal di bibirnya.

Aroma Nakula, batin Gemi. Karena ‘serangan mendadak’ itu, fokusnya pada acara ini menghilang total. Akhirnya, Gemi membiarkan Nakula menguasai sisa acara siang ini.

Pada pukul tiga sore, acara pernikahan usai. Mereka kembali ke rumah Gemi dan orangtuanya. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar dan mengepak barang lantaran besok dia akan pindah ke rumah Nakula. Perasaannya masih tidak bersahabat, bahkan ketika Nakula mengetuk pintu kamarnya, lalu masuk dengan suara langkah tipis.

“Nona,” kata Nakula yang berdiri di belakang Gemi. “Anda belum bicara sepatah kata pun sejak tadi. Apa Anda merasa tidak nyaman dengan sikap saya?”

Gemi tiba-tiba berbalik dan menampar pipi Nakula dengan keras.

Plak!

Dia berharap Nakula akan memasang tampang terkejut sambil mengusap pipinya yang merah, atau barangkali menyemprot tidak terima lantaran ditampar tanpa ragu. Akan tetapi, pemuda itu hanya bergeming seolah tenaga tamparan Gemi tidak berefek apa-apa.

“Saya minta maaf.” Hanya itu yang Nakula sampaikan. Sepasang mata cokelatnya memandang Gemi begitu dalam dan lembut.

“Memberi tontonan menarik, katamu?” Gemi memprotes, mengulang kata yang pria itu ucapkan tadi. “Menurutku, yang kamu lakuin itu justru bikin aku malu!”

“Itu adalah hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami-istri.”

Gemi berdecak, marah. “Aku sama sekali nggak sudi menganggapmu suami, dasar pengawal kurang ajar!”

“Saya tidak pernah memaksa Nona untuk menganggap saya suami.” Nakula melangkah mendekat pada Gemi, membuat gadis itu bersikap defensif dengan menatapnya secara menantang. “Sampai kapanpun saya hanyalah pengawal yang berdiri di belakang Anda. Silakan benci, pukul dan tampar saya semau Nona. Saya tidak akan berpaling atau melawan.”

Gemi tidak tahan untuk mendengus. “Kamu segitu penginnya jadi keset kakiku, hm?”

“Kalau itu yang Nona mau.”

Gemi seketika merinding mendengar kata-kata itu, dan sedetik kemudian dia sadar bahwa sikap Nakula barusan hanya bertujuan untuk meredam kemarahan dalam hatinya.

Gemi tidak akan tega memperlakukan pengawalnya seperti sampah, dan dia tahu Nakula mengetahui hal tersebut. Pria ini sudah bersama Gemi sejak usianya empat belas tahun. Dia tahu bagaimana watak Gemi, dan selalu bisa mencari tombol yang tepat untuk menjinakkan hyena liar dalam dirinya.

“Nakula,” kata Gemi, berusaha melupakan amarahnya. “Aku ingin kamu berjanji padaku satu hal.”

“Apa itu, Nona?”

“Saat kita berdua sudah pindah ke rumahmu nanti, lupakan fakta bahwa kita adalah sepasang suami istri. Aku nggak mau tinggal di kamar yang sama denganmu, dan aku nggak mau melihatmu berkeliaran di sekitarku, atau menanyakan keadaanku,” ujar Gemi secara bertubi. “Kita berdua hanyalah dua orang asing yang tinggal bersama dalam satu rumah. Kamu ngerti?”

Nakula menatap Gemi lurus-lurus. “Tentu.”

“Dan, jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu!”

“Tatapan seperti apa maksud Nona?”

“Tatapan itu….”

Gemi memikirkan susunan kalimat di kepala. Dia ingin berkata bahwa tatapan Nakula seperti tatapan seekor anjing pada majikannya. Penuh akan ekspresi memuja dan mendamba.

Namun, Gemi tidak tega berkata demikian. Apalagi melihat raut polos Nakula yang terlihat bingung menunggu kalimatnya selesai.

Gemi menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosi.

“Sudahlah, pokoknya aku akan menjalani hidupku sebagai Gemilau Maharani Seta yang baru,” tegasnya. “Anggap rumah tempat kita berdua tinggal hanya simbolisme pernikahan saja. Kalau waktunya sudah tepat nanti, aku yang akan pergi sendiri dari rumahmu.”

“Sudah menjadi tugas saya untuk memastikan Anda aman, Nona,” kata Nakula.

“Persetan dengan itu. Akulah yang menjaga diriku sendiri mulai saat ini.”

“Saya pengawal Anda.” Nakula bersikukuh.

“Kamu cuma pengawal yang dibayar Ayah untuk menjagaku supaya aku enggak berbuat macam-macam di rumah. Setelah aku keluar dari sini, hidupku bebas. Kamu bukan pengawalku lagi.”

Nakula terdiam lama. Gemi pikir dia berhasil membuat pria ini terkejut, atau yang lebih hebat lagi, tersinggung. Akan tetapi, Nakula tiba-tiba saja memegang lengan Gemi dan menariknya agak kasar—menyentak tubuh gadis itu hingga punggungnya merapat ke dinding di kamar.

Lagi-lagi, aksi mendadak Nakula mengejutkannya. Gadis itu memprotes panik, “Ngapain kamu?”

“Dengarkan saya, Nona.” Nakula berkata lirih, tiba-tiba ekspresinya menggelap dan menjadi lebih serius. “Nona boleh memperlakukan saya semau Anda, tetapi hanya ada satu hal yang tidak boleh Anda lakukan.”

Gemi menelan ludah gugup. “A-apa? Kamu mau mengancam aku?”

“Katakanlah begitu, tetapi tentu itu datang dari orang yang membenci Anda.”

Kening Gemi mengerut dalam. “Maksudmu?”

“Tetaplah di dekat saya, atau Anda akan mati.”

Gemi membelalakkan mata. “Dasar sialan—” Gadis itu memberontak dan hendak menampar Nakula karena berkata tidak sopan, tetapi pria itu mencekal pergelangan tangan Gemi lebih gesit.

Pandangan pria itu pun semakin dalam, keseriusannya semakin terlihat. “Percayalah, jebakan berikutnya akan lebih parah kalau Anda melanggarnya.”

“Jebakan berikutnya? Apa kamu sedang membahas insiden di kamar hotel itu?”

Nakula mengangguk yakin. “Orang itu pasti memiliki rencana lain yang lebih besar. Untuk itu, tetaplah berada di sisi saya bila tidak mau mendapat jebakan berikutnya.”

“Kamu—” Gemi merapatkan rahang, terbelah di antara syok dan terkejut mendengar seolah sang pengawal tengah memerintahnya.

Namun, belum sampai Gemi memberontak, Nakula meremas pergelangan tangan Gemi lebih kuat, dan bertanya lagi, “Anda paham?”

Sial! umpat Gemi dalam hati. Dia tidak punya alasan untuk menolak. Untuk itu, dia mengangguk kecil sambil menahan amarah yang bergumul di dadanya. “Paham, dan lepaskan tanganku.”

"Bagus." Nakula melepaskan tangan Gemi dan sikapnya berubah kalem seperti semula dengan pembawaan yang lebih tenang.

"Siapa kamu sebenarnya?" Mendadak Gemi bertanya. "Kenapa kamu seolah tahu insiden yang akan terjadi di masa depan, hah? Kamu ini kan hanya pengawal!"

"Hanya pengawal?" Nakula mengulangi kata-kata itu, lalu menyeringai tipis. "Suatu saat, Anda akan tahu siapa saya sebenarnya."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Suami Pengawal Nona Muda   Bab 62. Penculikan Gemi

    Sudah lewat semingu sejak Nakula akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Pria itu menunjukkan progres pemulihan yang memuaskan, sehingga para dokter dan perawat pun terkejut melihatnya. Gemi, yang diliputi senang, akhirnya mengantarkan Nakula pulang. Penyelidikan kasus sebelumnya juga sudah terpotong lama karena Gemi mau tidak mau harus menunggu Nakula sembuh. Dia tidak bisa menyeleweng dari perintah sang suami yang menyuruhnya beristirahat, padahal satu-satunya yang butuh istirahat adalah Nakula. “Nakula,” kata Gemi saat memasuki ruang kamarnya. Wanita itu terkejut melihat Nakula bukannya berbaring malah berdiri di hadapan balkon sambil menatap titik entah di luar sana. “Astaga, apa yang kamu lakukan? Harusnya kamu masih tiduran!”Nakula berbalik sambil tersenyum. “Saya tidak apa-apa, Gemi. Saya hanya rindu saja dengan kamar ini.” Saat Gemi mendekat, Nakula merepetkan tubuh. Jemari Nakula menari-nari di pipi Gemi. Suaranya rendah saat berkata, “Dan saya juga rindu menyentu

  • Suami Pengawal Nona Muda   Bab 61. Dua Musuh Sebenarnya

    “Nakula, kamu sudah bangun?” Gemi baru saja masuk ke ruang rawat dan terkejut saat melihat Nakula tengah menggeledah laci nakas. Pria itu terlihat gelisah. Gemi mendekap tasnya dengan baik di pundak. “Ya, saya bangun dan kamu tidak ada di mana pun,” kata Nakula, kemudian dia menatap Gemi lebih lama daripada biasanya. “Gemi, kamu mengambil amplop cokelat yang dikirim oleh Dirga untukku?” “Itu….” Gemi tidak punya alasan untuk mengelak. Jadi, dia mengakuinya. “Betul, aku yang mengambilnya.” “Kamu membacanya?” Gemi mengangguk. Nakula menarik napas dalam-dalam seolah menahan frustrasi. “Kenapa, Gemi? Kamu berjanji pada saya tidak akan menyentuh amplop itu. Sekarang kamu melanggar kesepakatannya? Apa yang mau coba kamu temukan?” “Nakula, dengar, aku sudah tahu siapa yang menjebak kita di kamar hotel saat itu.” Gemi mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Nakula mengernyitkan kening. “Hah, siapa menurutmu?” “Ayahku sudah mengakui perbuatannya.” Kemudian Gemi menceritaka

  • Suami Pengawal Nona Muda   Bab 60. Semuanya Terungkap

    Pagi pukul 09.39. Setelah memastikan Nakula meminum obatnya dan tidur, Gemi menyelinap keluar dari kamar rawat diam-diam, menuju kantin rumah sakit yang masih sepi. Kemarin, mulanya Gemi meminta sang ayah untuk bertemu di yayasan tempatnya bekerja, tetapi Gemi sadar tempat itu kurang baik. Ada banyak mata-mata Nakula di sana, dan Gemi tidak mau mereka memberitahu kepada Nakula tentang pertemuan rahasia ini. Jadi, Gemi mengganti tempat pertemuannya di kantin rumah sakit. Dia menengok jam di layar ponsel, terpikir akan menelepon saja ayahnya, ketika mendadak terdengar bunyi langkah mendekat. Saat Gemi mendongak, wajah sang ayah menyambutnya. “Ayah?”“Gemi, rindu sekali Ayah padamu, Nak.” Ayahnya langsung memeluk Gemi erat. Gemi merasa kikuk dan kaku. Sudah bertahun-tahun dia tidak merasakan dekapan dari sang ayah. Wanita itu tentu rindu, tetapi di saat bersamaan juga sedih dan bingung. Mengapa sang ayah tiba-tiba berubah menjadi baik? Apa yang dia sembunyikan? “Langsung saja, Ayah

  • Suami Pengawal Nona Muda   Bab 59. Kupu-Kupu Lilith

    Sudah berlalu bertahun-tahun sejak Gemi terakhir mendengar ayahnya meminta maaf. Malam itu, pengakuan tulus sang ayah membuat Gemi diserang rasa rindu bertubi. Sebenarnya apa yang terjadi selama ini? Pada waktu Gemi terperangkap tidur di hotel bersama Nakula, ayahnya marah besar sehingga mengusir Gemi dari rumah. Gemi pikir sejak saat itu ayahnya tidak memedulikannya lagi. Tapi sekarang? Mengapa sang ayah kembali baik kepadanya? Ah, sudahkah. Jangan berpikir berat dulu, Gemi meyakinkan diri. Kemudian dia beralih pada sesuatu yang hendak diselidikinya. Di hadapan Gemi, terpampang sebuah layar komputer yang sedang menyala. Beberapa menit lalu Gemi akhirnya kembali ke rumah Nakula untuk memeriksa sendiri laporan barang bukti dari Dirga. Setelah segalanya siap, Gemi memasukkan kepala USB pada port yang kosong, kemudian mendapati jendela baru berkedip di layar. Ketika dibuka, isinya adalah folder-folder berisi foto. Jantung Gemi berdegup kencang. Sekarang sudah tidak ada jalan kembali.

  • Suami Pengawal Nona Muda   Bab 58. Panggilan Dari Ayah

    Pukul 20.12. Gemi duduk di sofa kamar rawat Nakula sambil menatap suaminya yang sudah tertidur setelah meminum obat. Dengan gerakan pelan, Gemi merogoh sesuatu di tasnya untuk mengeluarkan amplop berisi foto-foto pemberian pria dengan luka di wajah kemarin. Wanita itu kembali menatap selembar foto yang menunjukkan interaksi antara Dirga dan Rajendra. Sejak kemarin, benaknya gatal untuk memberitahu Nakula, tetapi dia selalu menahan diri, setidaknya sampai suaminya itu sembuh. Dilingkupi penasaran yang semakin meradang, Gemi teringat dengan amplop cokelat berisi laporan penyelidikan Dirga, yang tadi pagi dia berikan kepada Nakula. Gemi sudah bilang pada Nakula bahwa dia tidak akan menyentuh amplop itu, tetapi… hatinya tetap tidak tenang. Bagaimana bila di amplop itu, Dirga menyembunyikan sesuatu yang penting? Menelan ludah gugup, Gemi berdiri dari sofa dan perlahan-lahan menghampiri nakas di dekat ranjang. Nakula masih tertidur pulas, jadi Gemi menarik lacinya hingga terbuka, mengore

  • Suami Pengawal Nona Muda   Bab 57. Ciuman Tulus

    “Nakula, gimana perasaaanmu?” Gemi bertanya pelan ketika Nakula akhirnya terbangun pagi itu. Masih tampak pucat, dan linglung. Sang abang berdiri di belakangnya tanpa mengatakan apa-apa. “Gemi,” Nakula menyentuh tangan Gemi yang tertangkup di pipinya. “Kamu nggak luka, kan?”“Harusnya kamu tanya itu ke dirimu sendiri.” Gemi tersenyum lemah. “Aku baik-baik aja. Kamu menyelamatkanku lagi kemarin.”“Apa pria itu sudah tertangkap?” Mendadak Nakula mendorong tubuhnya bangkit. Rasa sakit menusuk di perutnya, membuatnya buta sejenak. Gemi membujuk agar Nakula tetap berbaring, sehingga pria itu menurutinya. “Belum,” Gemi menggeleng. “Tapi kamu nggak usah memikirkan hal itu untuk sementara waktu ini. Fokus dulu untuk kesembuhanmu.”“Mas Dirga?” Nakula menatap abangnya yang berdiri dengan wajah datar. “Mas juga di sini?”“Mana mungkin aku nggak menjenguk adikku yang sedang terluka?” “Ayah tahu?” Dirga terdiam sebentar. “Belum. Beliau juga masih dalam perawatan. Kalau tahu kamu terluka juga

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status