Share

Sinisnya Adik Ipar

“Abang kenapa taplak mejanya diganti?” tanya Giana begitu pulang dari kuliah bertepatan Gallen baru selesai mandi keluar dari kamar dengan rambut basah.

“Oh tadi ... ketumpahan jus.” Gallen melirik pintu kamar berwarna coklat tua yang masih tertutup rapat.

“Ketumpahan jus? Terus di mana taplaknya? Enggak Abang cuci kan?” Giana melotot pada Gallen.

“Di mana ya tadi Abang taruh, di belakang apa ya.” Gallen menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, sambil kembali melirik pintu kamar yang masih tertutup rapat. 

“Ah Abang ... itu aku buat pakai rajutan sutra. Enggak bisa dicuci sembarangan.” Giana berlari menuju area dapur di mana bersebelahan dengan area cuci. 

Saat Giana melihat taplak rajut putihnya berada di dalam ember yang sudah berisi air dan detergen, sontak Giana menjerit histeris dan mengentakkan kakinya dengan dramatis sebelum ia angkat taplak yang sudah berubah warna sedikit keabuan tersebut.

“Abang Gallen! Aku sudah bilang jangan di sentuh taplak yang ini apa pun nodanya! Ini lihat kelunturan.” Giana mengangkat taplak persis ke hadapan wajah Gallen yang meringis lebar.

“Di bilas coba siapa tahu hilang. Enggak perlu menangis Giana astaga hanya taplak meja.” Gallen hendak mengambil taplak di tangan Giana namun Giana menghalau tangan panjang kakaknya dengan kesal.

“Enggak akan bisa hilang, serat sutra sama katun sangat berbeda. Enggak bisa diproses cuci sama hanya di rendam kucek bilas.” Giana membawa taplak ke bawah air keran dan mengguyurnya bagian demi bagian.

Gallen mendesah panjang. “ Maafkan Abang, Abang lupa kalau itu taplak lebih berharga dari pada perhiasan kamu. Abang akan belikan yang baru ya.”

“Enggak bisa, aku beli benangnya di Yogyakarta pas darmawisata dulu. Dan ini aku rajut sendiri, bukan beli jadi,” gumam Giana menahan diri agar tidak kembali berteriak pada Gallen.

“Abang lupa dan tidak sengaja Giana .... “

Emily menghentikan langkahnya saat akan mendekati kedua kakak beradik di sana saat melihat Gallen mengisyaratkan untuk tidak mendekat dan mengakui semuanya. Yang sebenarnya terjadi adalah Emily yang menumpahkan jus mangga kemasan saat ia menjerit histeris melihat Gallen yang keluar dari kamar mandi ruang tengah hanya dengan pakaian dalam. Gallen lupa jika di rumah ada Emily walau tidak ada Giana.

Sebelumnya Gallen tidak pernah berkeliaran di dalam rumah hanya dengan pakaian dalam, namun beda kejadian karena Gallen terpeleset dan tidak sengaja menekan keran hingga membasahi baju dan celananya. Gallen hanya berpikir jarak kamar mandi tengah dengan pintu kamarnya tidak ada dua meter, jadi ia memutuskan berlari saja ke kamar. Ternyata Emily baru keluar dapur dan menjerit melihatnya tanpa busana seperti itu sampai menjatuhkan gelas di tangan dan mengotori taplak kesayangan adiknya.

Gallen tahu itu taplak keramat Giana, makanya dengan impulsif dia langsung merendamnya di ember. Tidak tahu jika bahan sutra tidak boleh direndam seperti itu. Giana membersihkan taplak dari sisa busa dengan diam sesekali menarik hidung yang basah. Seberharga itu taplak rajut bulat miliknya.

“Ya sudah kalau enggak bisa di maafkan, kamu bilang Abang mesti bagaimana?” Gallen menepuk kepala Giana yang menunduk dalam di depan keran yang masih mengalir.

Giana tidak menjawab, tapi mendorong badan kakaknya dari sana dan ia menuju tempat jemuran besi. Melebarkan taplak yang tidak kembali berwarna putih bersih seperti semula. Gallen mendesah panjang dan memilih meninggalkan Giana sendirian, karena ia tahu jika sang adik sudah diam seperti itu. Maka percuma semua rayuannya tidak akan digubris.

“Biarkan saya yang bilang ke Giana.” Emily membuntuti langkah Gallen menuju ruang tengah.

“Jangan dulu, dia akan semakin marah nanti. Biarkan dulu saja, memang saya yang salah pakai merendamnya di ember. Sutra memang merepotkan begitu ya?” tanya Gallen.

“Iya dia harus dirawat dengan cara berbeda dengan kain lainnya. Saya jadi tidak enak sudah buat dia menangis seperti itu,” gumam Emily.

“Bukan salah kamu, yang salah saya karena merendamnya. Sudah jangan terlalu dipikirkan, nanti juga sembuh sendiri mengambeknya.” Gallen menjatuhkan tubuh di sofa panjangnya. 

“Lain kali aku akan memberikan tanda jika ada di rumah ini. Biar kamu setidaknya pakai handuk saat keluar kamar mandi.” Emily terpekur di depan ponselnya.

“Tidak ada lain kali, saya tidak pernah begitu sebelumnya. Tadi memang tidak sengaja.” Gallen menjawab dengan kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Emily memperhatikan Gallen yang salah tingkah di seberang ia duduk, ia bisa memastikan Gallen tidak berbohong saat bilang tidak pernah melakukan hal itu sebelum kepergok Emily. Giana melewati mereka berdua tanpa menyapa keduanya. Langsung masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu lumayan kencang.

“Giana punya pacar?” tanya Emily mencari topik pembicaraan.

“Setahu saya belum, semoga saja belum sih.” Gallen menjawab ringan.

“Kenapa semoga belum? kamu takut Giana bertemu playboy?” tuntut Emily.

“Iya, dia walau terlihat garang tapi polosnya kadang kebangetan. Laki-laki sekarang ... tidak bisa dipercaya,” tukas Gallen.

“Kamu juga laki-laki berarti tidak bisa dipercaya juga dong?” serang Emily.

“Iya jangan percaya juga sama saya. Saya juga laki-laki,” terang Gallen.

Emily mendengus memilih menyudahi percakapan mereka berdua. Pukul tujuh malam tiba-tiba Gallen harus meninggalkan rumah karena salah satu calon kliennya meminta bertemu sekarang juga sebelum bertolak ke Madiun. Meninggalkan Emily dan Giana yang masing-masing berada di dalam kamar.

Emily menatap langit-langit kamarnya di rumah Gallen, memikirkan sebenarnya ia bisa saja menolak permintaan mamanya yang ingin ia tinggal bersama Gallen agar lebih mengenal. Ia sungguh tidak ingin mengenal siappun laki-laki setelah kegagalan pernikahannya yang sampai saat ini tidak ia ketahui di mana keberadaan Batara.

Emily langsung terperanjat saat mendengar suara barang jatuh dan pecah ke lantai. Cepat ia keluar kamar dan mencari sumber suara, ternyata Giana yang berada di dapur menjatuhkan gelas kaca.

“Kamu mau ambil minum?” tanya Emily menghampiri Giana yang sudah menyingkir dari pecahan kaca di lantai.

“Enggak usah sok tanya-tanya, saya tahu kalau kamu yang menumpahkan jus di taplak saya kan? Abang hampir tidak pernah minum jus kemasan karena tidak suka.” Giana langsung menanduk saat Emily bertanya dengan pelan.

Emily mendesah pelan. “Iya memang saya yang menumpahkannya, saya tidak sengaja karena ... saya sudah mau bilang sama kamu tadi sore tapi abang kamu larang. Saya minta maaf untuk hal itu.”

Giana tidak menjawab namun menatap Emily penuh kebencian.

“Kenapa harus menunggu seratus hari baru kalian bercerai, kenap tidak sekarang saja. Apa yang membuat kalian harus menunggu padahal jelas tidak saling mencintai. Kamu juga tersiksa bukan? tinggal dengan saya, karena jelas saya tidak suka kamu berada di rumah ini.” Giana bertambah lancang mengeluarkan unek-uneknya yang tidak bisa ia sampaikan pada Gallen.

Emily memandang dalam mata berkaca-kaca gadis beranjak dewasa di depannya, memperhatikan kening Giana yang semakin banyak berkeringat. Melihat kedua tangan gemetar Giana yang meremas perutnya semakin kuat. Tersinggung, tentu saja Emily tersinggung dengan keterusterangan adik dari suaminya. Namun Emily tidak bisa bodo amat melihat kondisi Giana yang butuh pertolongan.

“Kamu sedang datang bulan hari pertama?” Emily langsung bertanya tanpa menjawab semua ucapan Giana.

“Aku tanya kenapa kalian tidak bercerai sekarang saja!” jerit Giana menggema di dapur.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Eka Puspasari
waah seru banget ini..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status