Share

4. Inspeksi Mendadak

Rainer tersenyum lembut. Jari-jarinya sangat terampil membuka kancing piyama Claire. Wanita itu hanya diam dan berusaha mengatur napasnya yang kian tak beraturan.

“Sesuai bayanganku. Kamu cantik sekali,” gumam Rainer menatap tubuh polos Claire.

Kemudian, pria itu kembali mendaratkan bibirnya dan memagut bibir Claire dengan lembut dan dalam.

Dengan posisi mereka yang seperti ini, Claire bisa merasakan pergolakan gairah Rainer yang semakin nyata. Salah satu bagian tubuh pria itu terasa memberontak, dan terus menekan bagian pahanya.

“Aku menginginkanmu, Claire.” Mata pria itu berkabut kala berkata demikian.

Sementara, Claire kehilangan kata-kata untuk menyahut. Kendati begitu, wanita itu pun tahu jika gairahnya juga sudah sama-sama tak tertahankan.

Setelahnya, pagutan Rainer pada bibir Claire semakin dalam.

Claire yang awalnya tidak menyambut, perlahan mulai bereaksi. Bibirnya mulai mengeluarkan lenguhan, tubuhnya meliuk, mengikuti permainan jari Rainer yang tak henti menggoda kulitnya.

Rainer begitu pintar menggodanya, membuat Claire seolah lupa jika baru saja ia ketakutan akibat suara petir yang bersahutan.

Kini, wanita itu tidak legi memedulikan petir yang kian menggelegar. Satu-satunya yang ia kejar adalah gairahnya yang menuntut untuk segera dipuaskan. 

Pagi harinya, Rainer terbangun lebih dulu dengan Claire yang masih berada dalam pelukannya. 

Claire menggeliat kala pria itu mengeratkan pelukannya.

Rainer tersenyum, kemudian menyapa dengan senyum cerah. “Selamat pagi, My Lady.”

Mata Claire memicing menatap Rainer yang begitu dekat dengannya. Dengan gerakan tiba-tiba, wanita itu terbangun. 

Ia menatap tubuhnya dan tubuh Rainer yang tanpa busana. Wajahnya seketika merona, mengingat malam tadi mereka baru saja melalui malam pertama.

Untuk menahan malu, Claire berniat menuju kamar mandi, tetapi kemudian ia meringis memegangi perut bagian bawahnya.

“Kenapa? Apa terasa sakit?” tanya Rainer yang seolah peka.

Wajah Claire semakin memerah. Ia menunduk, sembari merapatkan kedua kakinya. “Aku perlu ke kamar mandi.”

“Aku bantu.”

Dengan sigap Rainer bangkit dari ranjang. Lelaki itu membopong istrinya ke kamar mandi. Lalu, mendudukkannya di toilet.

Kemudian dengan telaten Rainer mengatur suhu air hangat, dan mengguyur tubuh mereka berdua tanpa banyak bicara.

Namun begitu, Claire merasa Rainer terus mengamati dirinya sembari pria itu membantunya membersihkan tubuh. 

Segala perawatan mahal setiap minggu yang ia lakukan memang sangat berhasil. Tubuhnya mulus tanpa cacat, halus dan harum.

“Maaf. Aku tidak tau kalau kamu belum pernah melakukannya,” cetus Rainer saat mereka berpakaian. “Apa aku menyakitimu semalam?”

Sesaat, Claire terpaku. Mengapa Rainer menganggapnya demikian? Apa di mata pria itu Claire adalah gadis dengan kehidupan yang bebas tanpa aturan?

 Namun, ia memilih tidak membahas lebih lanjut. Rasa canggung membuat rasa tersinggungnya kalah.

Claire menggeleng. Tentu saja, pria itu tidak menyakitinya semalam. 

Kelihaian Rainer di ranjang membuat rasa sakit hanya sebentar saja Claire merasakan. Karena selanjutnya ia cukup menikmati malam pertama mereka.

“Aku lapar,” cetus Claire yang ingin mengalihkan perbincangan.

Rainer terkekeh. “Ayo ke dapur. Aku masakkan sesuatu untukmu.”

Claire terpekik sesaat, kala Rainer kembali mengangkatnya. Pria itu juga tidak lupa mengeringkan tubuhnya, memakaikannya bathrobe yang senada … sebelum akhirnya mengekori Rainer ke dapur.

“Kamu bisa masak?” 

“Aku hidup merantau seorang diri. Harus bisa melakukan segalanya sendiri. Ya. Aku cukup pintar memasak.”

Claire duduk di kursi tinggi. Ia memandang Rainer yang sibuk meracik bahan makanan. Lelaki itu sangat cekatan menggunakan pisau dan perlengkapan masak lainnya.

“Aku tidak bisa memasak,” ucap Claire dengan bibir mencebik.

Sebagai wanita, harus diakui kemampuannya di dapur kalah jauh dengan Rainer.

Pria itu terkekeh. “Aku tau. Jangankan memasak. Masuk dapur saja tidak pernah.” 

Mendengar pernyataan Rainer, Claire menyeringai. Kenapa ia harus memasak jika ada chef di penthousenya? Lagi pula ia lebih sering makan di restoran.

Tak banyak yang bisa Claire lakukan. Ia lebih sering mengamati Rainer dibanding membantu suaminya itu. Pengetahuannya tentang dapur memang sangat minim.

“Sarapan sudah siap. Silakan,” ucap Rainer.

Meja yang tidak besar itu kini terlihat penuh. Satu piring berisi omelet, daging asap, keju lapis dan sayuran segar. Satu teko air mineral, satu botol susu murni dan dua gelas.

“Maaf jika sarapannya hanya sederhana saja. Sekali-kali kamu perlu juga makan makanan orang biasa,” ucap Rainer sambil membagi omelet ke piring-piring.

“Tetapi, ini kelihatannya lezat,” balas Claire menatap piringnya.

“Silakan dicoba. Selamat makan.”

Claire mengangguk. Ia memotong omelet dengan garpu lalu memakannya. Wanita itu mengunyah perlahan, merasakan tekstur dan rasa makanan di mulut, lalu mengangguk-angguk.

“Enak sekali omeletnya,” puji Claire.

“Terima kasih. Omelet paling mudah dibuat. Siapa saja pasti bisa memasaknya."

'Tidak,' gumam Claire dalam hati. 

Siapa saja itu, tidak termasuk Claire. Sebab, ia tidak tahu bagaimana cara membuat omelet. Apalagi yang rasanya seenak masakan Rainer ini.

Mereka lalu makan dalam diam. Kecanggungan kembali terjadi. Hingga hidangan di meja habis dan Rainer membereskan perlengkapan makan yang baru saja mereka pakai.

“Apa kamu tidak memiliki pelayan untuk membersihkan apartemen ini?” tanya Claire saat melihat Rainer membilas perlengkapan masak dan makan sebelum dimasukkan ke dalam mesin pencuci piring.

“Pelayan? Untuk apartemen sekecil ini? Yang benar saja, Claire,” tukas Rainer.

“Lalu yang menyapu, mengepel, mencuci baju, membersihkan kamar dan kamar mandi siapa?” tanya Claire bingung.

“Aku, aku, dan aku,” jawab Rainer.

Claire tercengang. Tidak menyangka ada lelaki yang dapat melakukan pekerjaan rumah. Apalagi apartemen ini sangat rapi dan bersih.

Lalu, bel apartemen terdengar berbunyi. Rainer mencuci dan mengelap tangan. Ia berjalan ke pintu dan membukanya. 

Wajah Rainer penuh tanda tanya saat melihat sosok pria yang begitu dihormatinya berdiri di depan pintu.

“Tu-Tuan Brandon?” Dengan gugup Rainer menyapa.

Tanpa menjawab, Brandon masuk bersama seorang lelaki kepercayaannya. Claire segera bangkit dan menghampiri sang Daddy dengan langkah tertatih.

Alisnya terangkat tinggi menyaksikan lelaki yang merupakan ajudan daddynya, masuk ke kamar bersama Brandon. Kedua pria itu seperti ingin menggeledah apartemen ini.

“Daddy mau apa?” tanya Claire.

Brandon menghentikan langkahnya, kemudian menjawab, “Memastikan kalian memang berstatus suami-istri sungguhan.” Lalu ia kembali melangkah memasuki kamar.

Di belakang dua pria itu, Claire dan Rainer membuntuti. Keduanya melihat bagaimana dua pria itu benar-benar menggeledah ranjang kusut mereka.

Orang kepercayaan Brandon menyingkap selimut. Noda darah di ranjang menjadi pusat perhatian lelaki tua itu.

Claire menutup mulutnya yang terbuka. Wajahnya pun memerah malu karena sang Daddy melihat sprei bernoda itu. 

Senyum di wajah Brandon mengembang. Ia lalu mendekati Rainer. Lelaki paruh baya itu menepuk-nepuk bahu sang menantu.

“Selamat! Kamu berhasil menaklukkan putriku!”

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yiming
duh bapake sampe segitunyaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status