Share

5. King Jet

 “Jadi, Daddy pikir kami hanya menikah pura-pura?” sungut Claire berpura-pura kesal.

“Antara percaya dan tidak.” Brandon mengedikkan bahunya santai. “Kamu memiliki motif untuk segera menikah, Claire.” Lalu, ia bergantian menatap Rainer. “Entah motif apa yang mendasari Rainer.” 

“Karena cinta, Tuan,” balas Rainer sambil merangkul bahu Claire.

Brandon memperhatikan kedua pasangan di depannya. Mereka terlihat segar. 

Brandon memperkirakan Rainer dan Claire baru saja mandi karena rambut Claire masih basah.

“Bagaimana Daddy bisa percaya?” Brandon mendengus. “Bahkan keluarga Rainer sama sekali tidak ada yang datang pada pernikahan kalian.”

“Itu karena Daddy menginginkan kami secepatnya menikah!” Claire berusaha membela suaminya. Sementara Rainer bersikap santai dan hanya memberikan sedikit senyum pada sang mertua. “Kami hanya diberi waktu satu hari untuk persiapan. Bagaimana keluarga Rainer bisa datang secepat itu? Mereka bukan keturunan flash.”

“Betul, Tuan. Terus-terang saya memang belum sempat memberitahukan keluarga,” aku Rainer.

Brandon menatap nyalang ke arah menantunya. “Kenapa?”

“Sama seperti Tuan, keluarga saya pasti akan sangat terkejut. Untuk itu, lebih baik saya memberitahu mereka secara langsung daripada melalui telepon.”

Claire meminta Daddy-nya duduk sementara Rainer membuatkan teh. Brandon mengamati Rainer. Lalu, netranya berotasi pada sekeliling apartemen. Tatapannya berakhir pada sang putri.

“Ternyata kamu bisa juga tidur di tempat sederhana begini,” cetus Brandon.

Claire tersenyum, bangga. Ia kemudian menyahut riang, “Karena ada Rainer di sini.”

Lelaki yang hampir seluruh rambutnya memutih itu mencondongkan tubuh ke arah sang putri. Matanya melirik Rainer yang membelakangi mereka. Lalu, dengan wajah serius Brandon berbicara pada Claire.

“Daddy lihat Rainer adalah lelaki yang baik. Jangan kamu permainkan dia agar kamu mendapatkan keinginanmu.”

Claire menahan napasnya, tetapi kemudian ia mengangguk. 

“Jika Daddy tau kalian ternyata berpura-pura, kamu akan kehilangan apa yang sudah kamu raih.”

Susah payah Claire menelan ludahnya sendiri. Apa Daddynya masih curiga? 

Ia cukup bersyukur semalam tidur dengan Rainer, walaupun ternyata posisinya tetap belum aman saat ini.

“Daddy akan mengesahkan jabatanmu jika kamu sudah bertemu dan memperkenalkan diri sebagai istri pada keluarga Rainer,” tuntut Brandon. “Hal ini dilakukan agar Daddy yakin kalian benar-benar serius menjalani pernikahan.”

Rainer kembali dengan nampan berisi teko dan tiga cangkir. Claire membantu meletakkan cangkir di depan Brandon lalu menuang isi teko. Aroma teh herbal memanjakan penciuman mereka.

“Silakan diminum, Tuan.”

“Terima kasih.”

Brandon mengangguk. Lalu, ia menatap Rainer dan Claire bergantian.

“Oh ya, bagaimana dengan bulan madu kalian?”

“Saya berencana mengajak My Lady ke kampung halaman sekalian memperkenalkannya dengan keluarga saya, Tuan,” balas Rainer yakin.

“Bagus, aku setuju.” Brandon tampak bersemangat.

Wajah Claire menampakkan ketidaksetujuan. Di bawah meja, ia menendang kaki Rainer, memintanya meralat pernyataan tersebut. Tetapi, Rainer malah menjauhkan kakinya dari kaki Claire.

“Setelah kalian kembali, kita akan meresmikan jabatan baru untuk Claire sebagai pemimpin tertinggi perusahaan. Ajak keluargamu untuk datang, Rainer,” imbuh Brandon lagi.

Mendengar pernyataan sang Daddy, Claire akhirnya mengangguk setuju. “Aku akan mengundang keluarga Rainer, Dad.”

“Harus! Mereka harus menjadi saksi pengangkatan jabatanmu,” tegas Brandon.

Setelah berbincang beberapa saat, Brandon berpamitan. Rainer dan Claire mengantar hingga ke pintu. Dengan santun, Rainer menunduk hormat pada sang mertua.

“Terima kasih atas kedatangannya, Tuan.”

Brandon menepuk bahu Rainer sambil mengangguk. “Tuan? Kamu adalah menantuku. Panggil aku, Daddy.”

Salah tingkah, Rainer mengangguk dan menjawab santun. “Baik, Daddy.”

*****

Keesokan harinya, Claire berdandan feminim dan elegan. Dress berwarna navy pas di tubuh, sepatu berhak tinggi, perhiasan anting, cincin dan jam tangan mewah serta tas tangan keluaran terbaru brand internasional.

“Kamu yakin mau menggunakan pakaian itu?” tanya Rainer mengamati istrinya.

“Iya. Terus-terang saja ini sudah cukup simple menurutku.”

Rainer tidak membantah. Keduanya lalu menuju bandara. Perjalanan mereka cukup tersendat padatnya lalu lintas.

“Apa kita akan ketinggalan pesawat?” Ia mulai sedikit panik.

“Tidak.”

Claire mengangguk, percaya pada sahutan sang suami. “Berapa lama perjalanan kita?”

“Sembilan jam.”

Claire melirik jam tangan mewahnya. Saat ini sudah pukul delapan pagi dan mereka masih terjebak kemacetan. 

Tapi, kenapa Rainer sangat santai dan mengatakan mereka tidak akan terlambat?

“Kamu memesan kursi executive ‘kan? Aku tidak mau duduk di kursi ekonomi.” Claire menoleh ke arah Rainer, nada suaranya sedikit merengek. “Bisa kaku tubuhku sembilan jam duduk di kursi ekonomi.”

“Hem.”

“Pakai pesawat apa?”

“Yang biasa aku gunakan.”

Claire mengamati sekitar. Mobilnya masuk ke area parkir VIP bandara. Dahinya berkerut saat mereka berhenti di samping sebuah pesawat pribadi.

Wanita itu keluar dari mobil. Rainer langsung berkoordinasi dengan petugas bandara yang membawakan koper mereka. 

Claire mengamati orang-orang tersebut yang menunduk santun pada suaminya.

“Kita naik pesawat jet pribadi itu?” bisik Claire.

“Iya.”

Claire tergelak. “Ternyata kamu bisa juga buang-buang uang.”

Rainer tidak menanggapi. Claire sudah melenggang lebih dulu ke tangga pesawat. Mata wanita itu memicing saat membaca tulisan besar pada badan pesawat.

KING JET.

Belum sempat bertanya, mereka disambut ramah oleh kru pesawat. Claire diarahkan ke kursi yang mirip sofa mewah. Dengan senang hati, wanita itu menjatuhkan bokongnya pada dudukan empuk itu.

Interior pesawat ini minimalis, namun rapi dan fungsional. Claire melihat Rainer berbincang dengan kru pesawat lalu menghampirinya. 

“Kita akan take off sebentar lagi,” ucap Rainer sambil mengenakan sabuk pengaman dan membantu Claire dengan teliti.

“Kamu butuh sesuatu, My Lady? Makanan, minuman atau buku bacaan?” tanya Rainer saat mereka telah mengudara dan sabuk tanda pengaman boleh dilepaskan.

“Tidak. aku mau menonton saja. Nanti jika perlu apa pun, aku akan bilang sendiri pada pramugari,” jawab Claire.

“Oke. Aku pamit ke belakang sebentar. Mau menelepon keluargaku.”

Claire mengangguk. Kini ia sibuk memilih berbagai tontonan. Belum ada satu jam, Claire diserang rasa bosan.

Rainer kembali dengan seorang pramugari yang membawa makanan. Claire terpana dengan sajian di piring yang baru saja diletakkan pramugari di mejanya. Sedangkan Rainer tampak biasa saja melihat hidangan tersebut.

Steak ayam, salad dan telor rebus.

“Selamat makan, My Lady,” ucap Rainer.

Claire menatap heran pada Rainer yang memakan saladnya. 

Bukankah suaminya ini tidak suka sayuran? Malas bertanya, Claire menyuap makanan ke mulutnya.

Selesai makan, Rainer mengajak Claire untuk beristirahat di kabin. Wanita itu mengikuti suaminya. Kabin yang dimaksud ternyata sebuah kamar dengan ranjang menghadap televisi layar datar. Di pojok ruangan ada kamar mandi yang tidak terlalu besar.

“Tabunganmu akan habis untuk perjalanan ini, Rainer,” cetus Claire sambil menggeleng.

“Tak masalah. Uang bisa dicari. Lagipula, aku menggunakannya untuk bepergian dengan istriku.”

Wajah Claire memerah hingga ke telinga.

Ucapan yang sangat manis. Seandainya ia adalah istri sungguhan, pasti sudah meleleh dengan ucapan Rainer. 

Mereka berbincang akrab tentang berbagai film yang ditonton. Hingga akhirnya Claire tertidur dengan kepala bersandar pada lengan atas Rainer.

Rainer membuka lengannya hingga Claire kini tidur di dadanya. Lelaki itu tersenyum. Akhirnya ia bisa memeluk Claire lagi.

Pesawat mendarat. Claire dan Rainer bersiap turun. Ia mengamati kru pesawat yang menunduk hormat pada suaminya.

“Kita naik mobil itu?” tanya Claire menatap van di depan mereka yang sedang diisi oleh koper-koper.

“Tidak. Hanya koper-koper saja yang menggunakan mobil.”

“Lalu kita?”

Mata Claire mengikuti arah jari telunjuk Rainer.

“Kita naik itu.”

Komen (2)
goodnovel comment avatar
uvuvwevwevwe osas
Rainer udh keliatan tanda2 kaya
goodnovel comment avatar
Yiming
king jet? pesawat pribadinya pasti punya Rainer nih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status