Share

7. Shock

Setelah berbisik pelan di telinga Claire, Rainer memberikan kecupan di pipi istrinya.

Wanita itu memaksakan sebuah senyum. Ia kembali menatap piringnya yang penuh oleh makanan yang selama ini ia hindari demi menjaga bentuk tubuh.

“Selamat makan.” Suara Maya mengisi kehampaan di ruang makan.

Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar denting sendok beradu pelan dengan piring.

Sesekali, Maya terlihat memberikan perhatian khusus pada Granny. Wanita tua itu masih dapat makan dan minum sendiri. Walaupun porsinya memang sedikit.

“Jadi, kalian telah menikah?”

Claire mengangkat wajahnya yang sedang menekuni piring. Pertanyaan Adam sedikit menyentaknya. Ia mengelap pinggir bibirnya dengan serbet, lalu menatap Rainer.

“Iya, Pa.” Rainer menjawab setelah mengosongkan mulut dan meminum seteguk air.

“Kapan?”

“Dua hari yang lalu.”

“Kenapa tidak memberi kabar?”

Deheman kecil terdengar dari tenggorokan Rainer. Lelaki itu berusaha menjelaskan pertanyaan Papanya.

Tutur kata Rainer sangat lembut pada orang tuanya. Claire menyimpulkan suaminya adalah anak yang berbakti. Tidak terdengar nada tinggi walaupun Adam membalas sinis setiap pernyataan tentang pernikahan dadakan ini.

“Begitu keadaannya, Pa. Tolong mengerti kondisi kami berdua. Sekali lagi kami mohon maaf karena tidak memberitahukan pernikahan ini,” sesal Rainer.

Adam mengembuskan napas panjang. Lelaki setengah baya itu lalu menatap Claire.

Claire adalah wanita yang cantik. Penampilannya sangat modern, berbeda dengan keluarga Rainer yang selalu tampil bersahaja.

Adam kembali menggeleng samar melihat putra dan istrinya berdua. Ia masih tidak mempercayai penglihatannya sendiri bahwa Rainer telah menikah. Apalagi menikahi wanita macam Claire.

“Kamu bekerja di mana, Claire?” Brandon menurunkan nada suaranya saat berbicara dengan Claire.

Wanita cantik itu tersenyum sebelum menjawab dengan nada bangga. “Aku wakil presiden direktur perusahaan Rischmond, Pa.”

Dengan alis menyatu, Adam berpaling menatap Rainer.

“Bukankah kamu juga bekerja di perusahaan Rischmond?”

Rainer mengerang dalam hati kemudian mengangguk. “Iya, Pa.”

Adam menghela napas, lalu bersandar pada kursi.

“Rainer bekerja sebagai asisten wakil presiden direktur. Artinya, ia bekerja padamu, bukan?” Suara sedih meluncur dari tenggorokan Adam. Matanya menatap Claire memohon penjelasan.

“Betul. Rainer adalah asisten pribadiku,” ucap Claire dengan nada ceria. Ia tak sadar bahwa Adam dan Maya begitu shock mendengar pernyataan Claire barusan.

“Jadi kalian adalah atasan dan bawahan di perusahaan?” Maya ikut membuka suara.

Kepala Claire mengangguk. Rainer menunduk lalu minum untuk melegakan tenggorokannya yang tercekat. Lelaki itu lalu angkat bicara.

“Aku menjadi asisten Claire hanya sementara, Ma, Pa. Sekalian belajar di perusahaan Rischmond itu.”

Setelah itu, hening sejenak. Adam tidak melanjutkan pertanyaan mengenai pekerjaan. Mereka kini berbincang tentang keseharian masing-masing.

Saat makan malam selesai, Claire melihat keluarga Rainer saling membantu merapikan meja makan. Mau tak mau, ia juga ikut membantu. Walaupun hanya sekedar meletakkan piring kotor di wastafel dapur.

“Kamar kalian sudah siap. Silahkan beristirahat. Sampai bertemu besok pagi.” Maya tersenyum tipis lalu membantu Granny berdiri.

“Sampai besok, Ma, Pa, Granny.” Rainer menyahut dan menundukkan sedikit kepalanya pada ketiga orang yang dituakan di keluarga.

Claire segera menarik tangan Rainer menjauhi ruang makan. “Di mana kamarnya. Aku mau mandi.”

“Aku juga mau mandi. Untuk menghemat waktu, kita bisa mandi bersama,” cetus Rainer sambil berjalan menuju kamarnya.

“Tidak mau.” Claire menolak mentah-mentah tawaran Rainer.

Di dalam kamar, Claire memutar matanya. Kamar itu tidak terlalu luas. Meski begitu, terlihat sangat nyaman.

Sambil mengamati sekeliling, Claire membuka-buka laci.

“Cari apa?” tanya Rainer heran.

“Remote AC di mana?”

Rainer meledakkan tawanya.

Claire memandang penuh tanya pada Rainer. “Apa yang lucu?”

Lelaki itu menggeleng dan berkata,” Tidak ada AC di sini.”

Dengan dahi berkerut, Claire kembali mengamati sekeliling kamar. Kepalanya mendongak dan ia memang tidak menemukan satu unit AC pun di kamar ini.

Kini Claire menatap ngeri pada Rainer, seolah-olah ia menemukan sesuatu yang menakutkan.

“Tidak ada AC? Ya Tuhan, aku tidak pernah tidur tanpa AC, Rainer.” Claire merajuk kesal.

“Kamu akan terbiasa.”

Mulut Claire tetap memberengut. Dengan kasar, ia menghentakkan kakinya dan masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Rainer yang hanya bisa menggeleng.

Lima belas menit kemudian, Claire keluar dengan pakaian tipis dan rambut digelung handuk. Wanita itu langsung naik ke ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut tipis.

Rainer masuk ke kamar mandi dan membilas diri. Kemudian setelah selesai berpakaian, lelaki itu bergabung dengan Claire yang sedang membaca majalah.

“Majalahmu mesum semua,” ketus Claire sambil membalik-balik kasar lembaran majalah di tangannya.

Majalah yang dimaksud Claire merupakan majalah koleksi Rainer sejak ia kuliah. Majalah-majalah dengan cover wanita-wanita cantik dengan pakaian minim.

“Aku lelaki normal.” Rainer membalas santai.

Claire melempar majalah ke meja nakas. Lalu, melipat tangan di perut. Wanita itu menatap dinding di depan mereka yang kosong.

“Kenapa tidak ada televisi di kamar ini?”

“Kami tidak terlalu suka menonton. Lagipula, jika pun ada, siarannya juga tidak ada yang bagus.”

“Membosankan.”

Malam ini memang belum terlalu larut. Claire dan Rainer belum dapat tidur karena biasanya mereka terlelap larut malam. Apalagi, mereka telah banyak tidur di pesawat. Keduanya menatap langit-langit dalam diam.

“Apa kamu tidak memperhatikan bahwa Papa shock mendengar aku bekerja sebagai asisten pribadimu?” Rainer membuka perbincangan.

“Tidak. Kenapa harus shock?”

Rainer mendengus pelan. “Aku pamit pergi ke luar negeri untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan besar, namun pulang dengan status asisten pribadi yang menikah dengan atasan wanitanya.”

Claire membalik tubuhnya menyamping menghadap Rainer.

“Tenang saja. Begitu aku sah menjadi presdir, kamu pun akan mendapatkan kerja sama itu.”

“Aku rasa jalan menuju ke sana masih panjang.”

“Kenapa begitu?”

“Aku lihat orang tua-ku pun tidak percaya bahwa kita sungguh-sungguh telah menikah.”

Pernyataan Rainer membuat Claire berusaha mengingat bagaimana ekspresi orang tua Rainer saat mendengar mereka telah menikah.

“Artinya, di sini pun kita harus bersandiwara,” gumam Claire.

Mereka kemudian terdiam. Rainer mengembuskan napas panjang dan memejamkan mata. Hembusan angin dingin menerpa tubuh mereka.

Claire bergidik. Ia menoleh ke belakang menatap jendela yang ternyata belum tertutup.

“Rainer, tutup jendelanya, dong.”

Rainer membuka mata, lalu melirik sekilas ke jendela.

“Minta yang baik.” Rainer berkata sambil kembali menutup matanya.

Sambil mengguncang pelan tubuh Rainer, Claire berkata,” Ayo, tolong. Tutup jendelanya. Anginnya dingin.”

Bukannya turun dari ranjang, Rainer malah membalik tubuh dan memeluk Claire. Kaki-kaki panjang Rainer mengunci tubuh istrinya. Wanita itu terperangkap di dekapan sang suami.

“Kalau seperti ini tidak dingin, ‘kan?”

Komen (1)
goodnovel comment avatar
uvuvwevwevwe osas
nah kan kocak pasangan ini
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status