MasukAlingga membuka pintu kamar dengan lega. Key lock number yang sempat diberi oleh Huki lewat pesan berhasil dienternya. Kamar baru dan bukan kamar yang dia tempati siang tadi. Senang yang dirinya cepat mengerti di mana posisi kamar barunya ini sebab ancer-ancer dari Huki. Berada di teras yang mudah dihampiri. Sederet dengan ruang kerja Huki yang ada di ujung teras panjang ini.
Namun, Alingga berpikir jika kamar barunya justru kurang aman sebab lubang kunci ada tetapi anak kunci tidak diberikan. Menduga entah Huki atau entah Zoe sendiri yang menyimpan. Meski password sudah ditukarnya, pintu akan mudah disabotase dengan anak kunci dan lubang kunci yang dipertemukan. Ah, biarlah, hak tuan rumah. Menyadari jika dirinya sekadar menumpang tidak lama. Apalagi mengingat adanya anak-anak Fahri yang sama sekali tidak ramah, sangat ingin hengkang saja dengan segera. Tinggal sendiri bukan hal yang sangat mengerikan baginya. Sebagai mahasiswa dengan jarak kampus yang jauh dari kampung halaman, dirinya acapkali tinggal di rumah sewa dan sering tanpa teman. "Segernya ... luas lagi ...!" serunya takjub. Saat masuk, merasa dejavu dan seperti kehabisan kata-kata. Kamarnya wangi, bersih, dan sangat luas. Berbeda dengan kamar pertama yang sempat ditempatinya. Mungkin ini kamar tamu…? Atau dirinya sudah dianggap keluarga dan boleh mendapat fasilitas lebih layak? “Oh, pintu kamarnya ada dua….” Alingga lebih heran, ada satu pintu lagi selain pintu di teras dan pintu kamar mandi. Menduga itu adalah pintu yang menghubungkan isi dalam rumah. Jadi pintu yang pertama tadi seperti pintu balkon dan teras. Alingga ingin melihat lagi setelah mandi dan menukar baju, dingin sekali karena basah-basah di sekujur badan. Kopernya pun sudah pindah sendiri mengikuti, terlihat diam setia di samping ranjang. Alingga mengeluarkan sepasang baju tidur. Isi koper yang sengaja tidak ditata ke dalam lemari sebab berniat akan pindah, ditutup dan diletak lagi di tempat semula. Merasa jam malam yang ditentukan oleh tuan rumah cukup berat. Sepertinya tidak akan mudah untuk kembali ke rumah ini sebelum pukul sembilan malam. Mengingat aktivitasnya yang terbiasa padat dan seringkali lupa waktu. Namun, niatnya ini harus dia bicarakan dulu dengan tuan rumah. Alingga tersenyum dalam kamar mandi. Semua peralatan bersih badan tersedia dan masih tersegel. Sikat gigi, sabun, sampo, sikat badan, lulur, dan banyak body care lainnya, semua ada yang seperti sengaja disediakan untuknya! “Siapa yang menyiapkan? Apa semua tamu begini? Kerasan dong! Tapi…,” ucap Alingga tanpa sadar, tetapi tiba-tiba senyumnya menghilang. Terdiam sambil mengisi bathup hingga penuh. Teringat lagi dengan keluarga Fahri di rumah ini yang merusak suasana hatinya. Bayang wajah Zoe atau Huki yang dinilai cukup baik menerima datangnya, berpikir tinggal di sini lebih lama, seketika terhapuskan. “Daripada makan gak enak, tidur gak nyenyak, diam pun tak tenang, mending tinggal di luar.” Alingga memutuskan. Selain dalam situasi di antara para tiri yang ternyata merongrong jiwa, aturan Zoe cukup berat. Makan pagi wajib di meja makan bersama. Malam pun diusahakan makan malam bersama juga. Siang hari tidak ada sebab lelaki itu kerja. Sedang Alingga terbiasa bebas selama ini tanpa aturan pengikat apapun. Ibunya dulu memberi dukungan dan kepercayaan penuh, budenya juga tidak kolot, selalu percaya, dan tulus. Hanya selalu berpesan agar pergi hati-hati dan selamat hingga kembali. Juga biasa pergi sangat pagi, atau pulang pun lewat malam. Bahkan tidak pulang dan menginap di kos teman sudah hal biasa. Alingga hanya di tahun-tahun awal belajar menyewa rumah dengan teman. Selebihnya, memilih pulang pergi kuliah dari rumah. Tapi sekarang, Zoe memberikan aturan yang sangat berlainan. Belum mencoba, Alingga sudah merasa pasti akan ribet setengah jiwa nantinya. “Mungkin dia adalah lelaki yang kesepian?” Alingga bertanya-tanya sendiri dengan menyelonjorkan kaki di atas ranjang. Suasana takjub dalam kamar membuatnya lupa dengan rasa lapar. “Hampir satu minggu tidak coba aku hubungi. Pesanku pun masih centang satu. Oh, aku terlalu sibuk dengan pernikahan rahasiaku ini.” Dia kembali meletak ponsel di bantal sebelah. Hanan, sang dokter pujaan hati masih tidak bisa dihubungi. Sampai kapan dia bertugas di tempat terpencil? Rasanya jadi sentimen dengan hal yang berbau penugasan. Seperti penjara sosial berkedok dinas yang memisahkan dua hati dan sepasang jiwa yang mencinta. Rindu berjumpa pun terpaksa di tahan sepenuh jiwa …. ____* Alingga terbangun dengan rasa serik luar biasa di tenggorokan. Kehausan membuatnya terjaga. Pukul satu lebih tiga puluh lima menit dini hari. Semalam ketiduran, ponselnya pun tidak diletak di meja tetapi masih terpegang di atas bantal. Beringsut turun dan meninggalkan ranjang menuju pintu yang di dalam. Alingga ingin pergi ke dapur dan mengambil air minum meski ragu sebab dirinya tidak tahu di mana posisi dapur. Sedang tadi siang, dari ruang makan di antar ke kamar yang berbeda dari dalam. Ceklerk! Benar dugaannya, di balik pintu adalah ruang luas dengan sofa beberapa set dan televisi layar lebar. Pastilah ruang keluarga. Ada dua pintu lagi selain kamarnya. Bisa jadi anak-anak Fahri di balik pintu itu. Lalu, di mana emaknya yang galak? Ngeri, Alingga berjalan cepat-cepat. “Ah, mana sih dapur, ya….” Alingga menghampiri sebuah pintu yang menghubungkan dengan ruangan seperti lorong. Tetapi berujung di ruangan lagi yang lebih kecil dengan satu set sofa saja. Jantung Alingga seperti terlempar ke perut saat pintu yang tepat di sebelahnya berdiri tiba-tiba terbuka. “Siapa?” Suara besar lelaki menggema tipis. “Pak Julin?” Alingga yang kebingungan, kini terkejut saat menyadari jika lelaki yang membuka pintu adalah Zoerendra. Mungkin itu kamarnya! “Uhuk! Uhuk!” “Eh, Pak Jul!” Alingga sempat mendengar suara batuk lelaki dengan langkah cepat yang mendekat. Namun, Zoe telah menarik kuat tangannya dan membawa masuk ke dalam kamar! 🍒Alingga merasa kesal sekaligus ingin tertawa. Sudah berapa kali dirinya gagal berbusana. Lebih tepatnya digagalkan. Meski dengan memejam, tetapi tangan lelaki itu seperti kerasukan dan terus memenjara tubuhnya. “Pak Zoe, katakan segalanya mengenai pernikahanmu dengan Mbak Sandra.” Alingga mengungkitnya. Kesalnya kembali berserabut. “Ck, itu nanti dulu. Penuhi dulu tugasmu, senangkan aku dulu, Alingga.” Zoe mempererat dekapannya. “Ish, sengaja ngulur-ngulur. Sudah ah, main-mainnya, Pak zoe! Segan, nanti kedengaran Mak Tini!” seru Alingga dengan suara lirih. Namun, Zoe justru menghentak tubuhnya dan memeluk erat. “Mak Tini nggak akan ada di rumah ini. Sudah kusuruh pergi dan jangan kembali sementara.” Zoe berkata santai dengan suaranya yang menggema. “Pergi sementara, dia ke mana?!” tanya Alingga histeris. Zoe segera melonggarkan pelukan, khawatir istrinya jadi sesak napas sebab kaget. “Dia check in,” sahut Zoe dengan tersenyum. Sudah diduganya, Alingga pasti keheranan
“Tunggu, Pak Zoe!” sentak Alingga sedikit keras dengan ekspresi serius. Tatapannya lebar dan tidak berkedip pada lelaki yang membuatnya sedikit mendongak. “Ada apa, Ling?” Zoe terkejut dan memandang saksama. Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar. Tangan yang akan mendorong handle pintu ditarik lagi dan tidak jadi membukanya. “Memangnya, Ini kamar siapa …?” Alingga berusaha terus serius tetapi tidak mampu menahan senyumnya. Merasa puas dengan ekspresi Zoe yang benar-benar tampak bingung. “Kamu ingin mengerjaiku, Ling? Jelas jika kata asisten rumahmu, ini kamarmu!” Namun, Zoe menyadari ulah Alingga dengan cepat. Tanpa menunggu lagi, pintu kamar sudah dibukanya. Alingga kembali ditariknya untuk masuk. Tidak peduli Alingga keberatan dan berusaha menolak. “Pak Zoe, kenapa kamu tiba-tiba datang?” Alingga bertanya saat Zoe menutup pintu kamar. Coba bertahan dengan diam di depan pintu. Lelaki yang ditanya tidak menjawab dengan kata-kata tetapi langsung dengan pelukan era
Jantung Alingga seperti meledak. Apa yang dilihat terasa kejutan luar biasa dan mendadak. Sosok yang membujur di sofa dan terlihat kakinya bersarung itu ternyata Pak Zoerendra! “Siapa, Ling?” tanya Danu juga ikut mendekati sofa untuk melihatnya. Setelah diamati, dia adalah pria dewasa. Kulitnya terlihat bersih dengan hidung yang mancung. Rambut tampak berkilat dan lebat. Fix, dia pria berkharisma dan tampan. “Dia … adik ipar ibuku,” jawab Alingga lirih. Simalakama rasanya. Antara menduga Zoe sedang kelelahan, juga khawatir akan berburuk sangka jika lelaki itu melihatnya dengan Danu berdua dalam rumah. “Apa dia orang baik?” tanya Danu terus terang. Merasa khawatir dengan keamanan Alingga di rumahnya. Tidak ingin kejadian buruk dulu terulang kembali. “Aman, jangan khawatir, Mas. Dia baik banget.” Alingga tidak tahu lagi harus bilang apa. Namun, segera menyadari bahwa kesalahannya adalah membawa lelaki ke dalam rumah. Bagaimana cara bilang pada Danu untuk segera pulang s
Sajadah dan mukena telah dilipat begitu cepat dengan sedikit tidak rapi. Namun, sempat diletak semula di atas kursi di pojok kamar. “Ada apa dia, tumben. Nggak salah kirim, kan …?” gumam Alingga. Menyambar ponsel dan duduk di atas sisi pembaringan. Tidak sabar membaca isi pesan yang dikirim Zoe setelah memilih mengabaikannya. Bagaimana lagi, subuhnya hampir lewat. Ternyata bukan hanya pesan. Tetapi beberapa panggilan masuk dari lelaki itu saat dirinya mandi. Hati pun berubah lebih keras berdebar. Ini sangat mengejutkan. Kenapa mendadak lelaki itu seperti jadi rempong?! “Dia … dia ingin datang? Kapan? Apa dengan Mbak Sandra?” gumam Alingga. Terkejut luar biasa dengan isi pesan dari Zoerendra yang mengatakan akan datang. Menanyakan di mana Alingga berada. Tapi pesan itu malam tadi. Pagi ini, lelaki itu meminta dikirim share lokasi. Lantas, di mana Pak Zoe saat ini? Sempat bingung, Alingga memutuskan mengirim lokasi dirinya. Barangkali Zoe memang sudah di Kota Malang dari semalam. M
Dua minggu berlalu. Alingga tidak lagi sesibuk belakangan. Urusan Dinda telah sukses dibereskan. Danu begitu baik, bertanggung jawab, dan sangat ringan tangan. Meskipun tidak sampai pelaminan, tetapi kasus mereka telah dikawalnya hingga penghulu di KUA. Meski Dinda sudah tidak lagi ada, tetapi masih peduli pada Alingga yang ternyata tanpa keluarga di rumahnya. Meski ada Mak Tini yang tetap menemani sebagai asisten rumah tangga. Perhatian anak Pak RT tidak lantas selesai."Yah, ini kan hujan, Mas? Dari mana?" sapa Alingga setelah menemui Danu di teras pukul delapan malam. "Aku kepikiran nganter durian buat kamu!" tegas Danu. Tampak sedikit basah, dia sedang mengelap mukanya dengan telapak tangan. “Mas Danu repot-repot banget! Bawa durian lagi!” ucap Alingga meresponnya. “Banyak orang jual di pinggir jalan. Sekalian, kalo beli beberapa kan diskon.” Danu tersenyum. Rambutnya pun basah. Lelaki itu dari mobil di trotoar berlari ke teras tanpa payung. “Satu saja sih cukup, Mas. C
Mak Tini bahkan sudah menyongsong dengan wajah bantal. Kini duduk semua di ruang tamu. Danu telah berbicara dan memulai interogasi. Nadanya tegas dengan tatapan tajam. Anak Pak RT rupanya sudah mulai menunjukkan bakat. “Saya hanya ingin menikahinya, Mas. Tidak ada maksud jahat. Mohon maaf.” Lelaki penyusup bernama Andri itu ternyata adalah mantan pacarnya Dinda. “Tetapi untuk apa menyusup ke rumah orang, itu perbuatan tidak terpuji sekaligus meresahkan. Anda bisa dituntut banyak pasal. Lagipula, kenapa memaksa jika dia tidak mau?” Danu kembali mendesak. Dia juga melirik pada Dinda. Tampak tegas dan garang, ingin terang benderang malam ini juga. “Saya sangat khawatir, Mas. Soalnya, Dinda pernah akan bunuh diri dan berniat aborsi.” Andri menunduk. Namun, ucapannya membuat Alingga terkejut bukan main. “Maksudmu ... Dinda hamil?” tanyanya dengan perasaan shock dan menahan napas. “Benar, Mbak. Kehamilan Dinda sudah masuk ke tiga bulan. Tetapi tidak pernah mau saya nikahin







