LOGIN"Bu Bil.." ucap Raya sambil membuka pintu.
Nabila yang kaget langsung beranjak dan menampar pipi Bima, Bima sontak memegang pipinya karena kesakitan dan kaget. "Aku sudah bilang berkali-kali aku akan selesaikan desain ini !" Teriak Nabila lalu mengambil tas nya dan menarik Raya untuk pergi. Bima hanya mematung ditempatnya dan bingung dengan kelakuan istrinya itu. Nabila tergesa-gesa pergi bersama Raya, Raya yang kebingungan hanya mengikuti Nabila. "Bu Bil, kalian kenapa berantem lagi. Malah sampe tampar-tamparan." Ucap Raya bingung. "Biasalah pak Bima tuh suka gak sabaran, jadi aku kesel ya terbawa suasana aja." Ucap Nabila menjelaskan agar Raya percaya padanya. "Kamu ngapain balik lagi ke kantor?" Tanya Nabila. "Ini Bu kunci kosan aku ketinggalan dilaci meja, yaudah jadi balik lagi, eh aku liat lampu kantor ibu masih nyala yaudah aku tadinya mau ajak pulang bareng eh tau nya ibu lagi berantem sama pak Bima." Jawab Raya. "Yaudah kebetulan emang aku mau pulang, yaudah yuk aku anter ke kosan kamu." Ucap Nabila. "Beneran Bu? Wah makasih ya Bu Nabila. Ibu emang bos terbaik." Ucap Raya sambil merangkul Nabila. Nabila mengantarkan Raya pulang ke kosannya dengan mobilnya, setelah itu dia bergegas pulang ke rumah karena ingin meminta maaf kepada Bima karena telah menamparnya. Sesampai dirumah.. Nabila melihat Bima belum datang, dia mandi dan memakai lingerie seksi miliknya, Nabila menyemprotkan parfum kesukaan Bima dan merapikan tempat tidur tempat mereka bertempur. Nabila terus menunggu Bima datang, waktu menunjukan jam sebelah malam, dia mengantuk dan hampir tertidur. Setelah melihat jam, dia menelepon Bima tetapi tidak diangkat olehnya. Nabila merasa sedih, dia takut Bima marah padanya, karena baru kali ini dia menampar Bima dan bereaksi terlalu berlebihan karena takut ketahuan oleh orang lain bahwa mereka memiliki hubungan suami-istri. Pintu rumah terbuka, Nabila bangun dari duduk nya dan menghampiri Bima yang baru saja tiba. Nabila bergegas mengambil jas Bima untuk diletakan, Bima tidak berbicara apapun hanya membuka dasi kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Nabila berjalan bolak balik merasa Bima benar-benar marah padanya, tanpa Nabila sadari Bima sudah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut nya dengan handuk. Bima hanya memandang istrinya itu, dia tersenyum kecil melihat tingkah Nabila, akhirnya dia meneruskan pura-pura marah pada Nabila. Nabila akhirnya menyadari Bima ada dibelakangnya. "Bima? Sudah selesai mandinya, sini aku keringkan rambutnya." Ucap Nabila sambil menarik Bima untuk duduk disofa. Nabila duduk dihadapan Bima sambil mengusap rambut Bima dengan handuk kecil. Bima memandang kagum akan kecantikan istrinya itu, tetapi meskipun begitu bukanlah satu-satunya alasan dia memiliki rasa pada Nabila. Sebetulnya mereka berdua belum benar-benar menyatakan cinta satu sama lain, hanya menjalani pernikahan seperti suami istri pada umumnya. "Bima, maafin aku soal tadi ya. Aku hanya reflex kaget akan kedatangan Raya. Aku..." Ucap Nabila terhenti oleh Bima. "Kamu.. benar-benar ingin terus menerus menutupi hubungan kita?" Tanya Bima serius. "Aku.. bukan maksud aku begitu, sebenernya aku cuma gak mau berpengaruh sama kerjaan kamu. Bukannya gak nyaman kalau semua orang tahu?" Ucap Nabila. "Apa aku harus hamili kamu dulu biar kamu gak perlu perduli lagi omongan orang?" Ucap Bima. "Bima!" Ucap Nabila lembut. "Kenapa? Punya anak pun kamu gak mau?" Ucap Bima. "Bim, kok kamu tiba-tiba bicara kaya gini sih? Kita kan udah sepakat tentang semua ini." Ucap Nabila. "Baiklah. Terserah kamu." Ucap Bima lalu beranjak dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Nabila menghela nafas, memang sudah tiga tahun mereka menikah, tadinya tidak terpikirkan untuk memiliki anak tetapi orang tua yang juga selalu mendesak mereka untuk memberikan mereka cucu apalagi Bima anak tunggal dan pewaris perusahaan tentu saja harus memiliki anak untuk meneruskan perusahaannya yang besar itu. Nabila berpikir memang tidak akan pernah bisa terus menerus menyembunyikan hubungan mereka, dia mulai memikirkan, mungkin setelah Opening galeri di Chandra mall selesai dia akan fokus untuk memiliki anak dan tidak menyembunyikan hubungan mereka lagi. Nabila juga beranjak dari duduknya dan membaringkan tubuh nya disamping Bima yang masih membelakanginya. Selama menikah, baru kali ini Bima menghiraukannya. Entah mengapa Nabila merasa itu menyedihkan, perlahan air matanya jatuh dan dia tidak kuasa menangis sesegukan. Bima yang mendengar istrinya menangis langsung membalikan tubuhnya dengan khawatir. "Bil? Nabila? Kamu kenapa?" Tanya Bima khawatir. "Aku.. aku sedih aja selama menikah baru kali ini kamu tidur membelakangi aku dan cuekin aku gitu aja. Padahal aku udah dandan cantik buat kamu. Heeeeee..." Ucap Nabila sambil menangis. Bima tersenyum kecil lalu memeluk istrinya itu, Nabila yang begitu galak diluar sana tetapi begitu manja dan lemah ketika berduaan dengannya didalam rumah. "Yaudah.. maafin aku yah. Aku yang salah, maaf yah." Ucap Bima lalu mencium kening Nabila. "Kamu jangan marah lagi yah, ternyata aku gak tahan kalau kamu marah meskipun cuma semenit." Ucap Nabila tersedu. "Iya sayang, maaf aku gak akan marah dan bikin kamu nangis lagi yah." Ucap Bima sambil menghapus air mata Nabila. "Bim..." Panggil Nabila dengan lembut. "Hmm?" Jawab Bima. "Aku.. aku cinta sama kamu Bim." Ucap Nabila lalu mencium bibir Bima dengan lembut. Bima sontak merasa tersentuh dan bahagia dalam dirinya karena selama menikah baru kali ini Nabila bilang bahwa dia mencintai Bima. "Bil, aku juga cinta banget sama kamu." Ucap Bima dengan memandang tajam wajah istrinya itu. Mereka berciuman dengan lembut, lalu berpelukan. "Bim.. kamu mau gak?" Tanya Nabila. "Aku mau, bahkan setiap saat kalau dekat kamu aku selalu mau. Tapi aku gak mau kamu kelelahan, karena aku sulit berhenti kalau sudah bercinta sama kamu sayang. Kamu sudah banyak lembur akhir-akhir ini, kita istirahat saja yah." Ucap Bima dengan lembut. "Makasih ya sayang, aku juga ketagihan kalau sudah bercinta sama kamu." Ucap Nabila sambil tersenyum nakal. "Dasar kamu nih." Ucap Bima sambil membelai rambut Nabila dengan lembut. "Besok kamu bisa kan datang ke rumah orang tuaku? Ibu nanyain terus kita belum datang kesana." Ucap Nabila. "Iyah besok kita kesana yah." Ucap Bima. Mereka memutuskan untuk mengunjungi orang tua Nabila, sebelum berangkat mereka berbelanja untuk dijadikan buah tangan untuk ibu dan ayah Nabila. Mereka belanja di Chen Mall, memilih beberapa makanan ringan dan suplemen kesehatan untuk orang tuanya. Saat melewati beberapa toko, Nabila terhenti di toko lingerie, dia tersenyum pada Bima. "Sayang.. aku mau beli beberapa lingerie dulu boleh?" Tanya Nabila lembut. "Tentu boleh sayang, toh ini buat aku nikmati juga kan." Ucap Bima sambil tersenyum manis. Nabila dan Bima masuk ke dalam toko dan memilih beberapa pakaian malam seksi itu, Nabila meminta Bima memilih yang mana yang dia suka, tetapi Bima menyuruh Nabila membeli semua. Nabila tersenyum malu, akhirnya mereka menuju kasir untuk membayar. "Bu Nabila? Pak Bima?" ...Hari pertama Nabila kembali masuk kerja, sekarang Nabila dan Bima berangkat kerja bersama. Tentu saja dikantor sudah riuh dengan gosip Nabila yang hamil dan diantarkan oleh Bima, karena Ririn yang menceritakan semua itu. Saat Nabila dan Bima masuk, semua mata tertuju pada mereka. Semua orang sangat heran ada apa sebenarnya diantara mereka, bukankah selama ini mereka selalu perang dingin.Nabila dan Bima masuk ke ruangan mereka masing-masing, Raya mengikuti Nabila masuk ke ruangan Nabila."Bu Bil? Gosip panas banget Bu Bil. Tapi kenapa ini tentang Bu Bil?" Ucap Raya."Gosip apa lagi si Raya?" Tanya Nabila sambil tersenyum, tapi dalam hatinya ingin tertawa karena sudah tau apa yang digosipkan."Ririn pagi-pagi sudah heboh, bilang ketemu Bu Nabila dan pak Bima di dokter kandungan. Bahkan bilang Bu Nabila lagi cek up kandungan dan pak Bima mengelus perut Bu Bil." Ucap Raya."Oh itu, itu bukan gosip kok. Itu fakta." Ucap Nabila sambil fokus pada komputer nya."Hah? Apa? Fakta?" Ucap Raya.
"Ardi??" Panggil Anya hingga membuyarkan lamunan Ardi."Iya Nya? Hmm.. lebih baik nanti kamu tunggu Bu Nabila saja yang menceritakan hal detailnya. Aku merasa tidak nyaman jika menceritakan privasi pak Bima. Aku tidak terbiasa untuk itu." Ucap Ardi."Luar biasa, kamu benar-benar berdedikasi tinggi. Sangat setia pada bos." Ucap Anya."Maaf ya Nya, aku hanya ingin memisahkan masalah pribadi dan pekerjaan. Kamu gak marah kan?" Ucap Ardi sambil merangkul tubuh Anya."Tidak, aku hanya kagum dengan kinerjamu. Aku juga penasaran kenapa kamu belum memiliki kekasih? Meskipun kamu itu terlalu serius bekerja kamu itu cukup tampan dan tubuh kamu bagus. Pasti banyak juga yang menyukaimu?" Ucap Ardi."Memang beberapa wanita ada yang mendekatiku, tetapi aku merasa tidak tertarik merasa kurang cocok. Setelah bertemu kamu, entah kenapa aku bisa seterbuka ini padamu." Ucap Ardi."Ucapan laki-laki semua sama." Ucap Anya sambil tertawa.Ardi bicara dalam hatinya (" bagaimana caranya agar kamu percaya pad
Pagi yang begitu cerah, Nabila masih tertidur dalam pelukan Bima tanpa pakaian hanya tertutup selimut.Bima yang terbangun lebih dulu mengelus rambut Nabila dan mencium keningnya.Nabila perlahan terbangun dan membuka matanya perlahan."Pagi sayang." Ucap Nabila tersenyum."Pagi sayangku." Ucap Bima lalu mengecup bibir Nabila."Rasanya nyenyak sekali bisa tidur dipeluk kamu lagi." Ucap Nabila semakin mempererat pelukannya pada tubuh Bima."Maaf yah harus terpisah beberapa waktu kemarin, bahkan aku tidak menemanimu saat cek up pertama anak kita." Ucap Bima."Sudah sayang minta maafnya, yang terpenting sekarang kita sudah bersama lagi." Ucap Nabila sambil mengelus wajah Bima."Setelah pulang nanti jangan ada yang ditutup-tutupi lagi, aku mau semua orang tau kamu adalah istriku. Satu-satunya istriku." Ucap Bima."Iya sayang." Ucap Nabila tersenyum bahagia."Hari ini kamu mau jalan-jalan kemana? Ayo kita nikmati babymoon disini." Ucap Bima."Hmmm.. aku ingin naik kapal pesiar, dan yah men
Mobil nya berasap dan rusak cukup parah membuat semua orang berkumpul dan memanggil ambulan untuk segera membawa Brian dan Bima ke RS. Luka benturan dikepala Brian sangat parah dan sebelah mata Bima terkena pecahan kaca. Dengar segera ambulan datang dan melakukan pertolongan pertama pada mereka lalu segera membawa mereka ke rumah sakit. Silvi yang mengetahuinya langsung berangkat ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan mereka berdua. Kecelakaan itu membuat Silvi ketakutan, dia tidak menyangka kecelakaan ini akan terjadi. Brian dan Bima sampai dirumah sakit dan langsung ditindak di IGD, mereka bersebelahan. Bima masih mengerang kesakitan karena sebelah matanya terkena pecahan kaca dan dokter memeriksa nya kemungkinan harus di operasi dan sepertinya mata sebelah kiri Bima tidak bisa melihat lagi karena rusak cukup parah. Brian yang setengah sadar mendengar hal itu, dengan lemah dia memanggil Bima. Silvi mengintip mereka dari luar dan tidak berani masuk kedalam. Keluarga Brian d
"Sial ! Aku minum wine yang salah." Ucap Silvi dalam hati."Silvi kamu baik-baik saja kan?" Tanya Brian lalu memapah Silvi untuk keluar dari bar."Antar aku ke kosanku Brian." Ucap Silvi."Baiklah." Ucap Brian.Brian mengantarkan Silvi ke kosannya, tidak jauh dari bar. Brian menggendong Silvi sampai ke kamarnya.Tubuh Silvi benar-benar bergejolak, bahkan melihat wajah Brian menjadi wajah Bima. Saat Brian menidurkannya ditempat tidur, Silvi menarik nya mendekati tubuhnya hingga menindih tubuh Silvi."Silvi? Kamu ngapain?" Ucap Brian."Bima, akhirnya kamu disini. Aku sangat menyukai kamu Bima." Ucap Silvi lalu mengecup bibir Brian."Silvi, kamu lihat baik-baik aku ini siapa!" Ucap Brian mencoba melepaskan pelukan Silvi.Tanpa menjawab apapun karena Silvi yang sedang bernafsu dia membalikan keadaan sekarang dia yang berada diatas Brian.Perlahan dia mengelus wajah Brian dan sampai ke dada Brian, tangannya menyelelusup masuk kedalam kaos Brian dan meraba tubuh Brian membuat Brian kegelian
Sesampainya di Swiss, Bima dijemput oleh travel yang disiapkan oleh hotel. Dia menginap di tempat yang sama dengan Nabila bahkan bersebelahan, itu semua sudah diatur oleh Anya.Di hotel, Bima langsung masuk ke kamarnya. Dia begitu takjub dengan keindahan lingkungan sekitar dan pemandangan yang sangat menakjubkan.Dia membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu keluar untuk menghirup udara segar dibalkon.Dia menarik nafas panjang, merasa bebannya lebih ringan. Tanpa dia sadari seseorang dari balkon sebelah memandangi nya dengan tajam, yah dia Nabila. Nabila juga sedang menikmati keindahan pemandangan dibalkon, tetapi tiba-tiba dia menyadari orang yang baru saja datang ke balkon samping adalah suaminya Bima.Nabila memandang tajam karena kaget, apa ini mimpi pikirnya. Bima kembali memandang nya dengan penuh kerinduan dan tersenyum manis pada Nabila."Sayang?" Panggil Bima."Ka..kamu ngapain disini Bim?" Ucap Nabila bingung."Menurut kamu untuk apa aku disini? Ya tentu saja menikmati p







