Masuk"Udah yuk kita masuk ke kamar aja dan kita harus istirahat!" Clara yang tidak mau membuat suaminya sakit hati, dia memilih menggandeng lengan suaminya.
"Baru menikah beberapa jam tapi sudah menjadi pembangkang sama orang tua, apa ini ajaran darimu!" Soni menatap tajam kearah Yordan, dia seperti sedang menyindir menantu yang tidak di harapkannya.Clara menghela napas dengan panjang dan menghembuskan dengan pelan, dia benar-benar tidak mengerti dengan pikiran orang tuanya. Orang tuanya selalu saja merendahkan seseorang yang menurut Clara baik, padahal selama ini Yordan memang bersikap baik padanya.Yordan hanya bisa menundukkan kepalanya dan merasa sangat hina saat berada dalam bagian keluarga Bastian. Yordan sadar akan dirinya yang sangat miskin, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi begitu saja.Clara malas menanggapi apa yang akan di katakan oleh kedua orang tuanya, dia lebih memilih pergi dan menuntun suaminya menuju kamarnya yang berada dilantai atas.Kini hanya ada Haris dan kedua orang tuanya, sepertinya orang tuanya sudah malas melihat anak sulungnya itu."Kau sebaiknya pergi saja dari sini, saya tidak mau melihat anak dan istrimu!" Tanpa di sadari, Soni mengusir anak sulungnya sendiri.Apa Haris sakit hati dengan perkataan ayah kandungnya? Sangat, sangat sakit hati dengan perkataan ayah kandungnya apa lagi saat ini dirinya di usir lagi.Entah sudah berapa kali Haris di usir secara terang-terangan seperti ini, tapi dia sadar jika dirinya memang tidak pantas menjadi anak sulung keluarga Bastian.Karena pemikiran Haris dan kedua orang tuanya sangat berbeda, Haris hanya ingin menjadi pria yang rendah hati dan bertanggung jawab dengan keluarga kecilnya.Namun, berbeda dengan kedua orang tuanya Haris yang saat ini selalu menyombongkan harta dan tahta."Aku akan pergi setelah mengatakan ini," ucap Haris yang mencoba menguatkan dirinya didepan kedua orang tuanya."Tak perlu ada yang di bicarakan lagi," balas Sonya selaku ibu kandungnya Haris, bahkan wanita paruh baya itu sudah bangun dari duduknya dan hendak melangkah pergi.Soni selaku suami dari Sonya juga mengikuti hal yang sama, tapi langkah mereka terhenti karena Haris mengatakan sesuatu yang membuat mereka sedikit syok."Tarra selingkuh dibelakamg Clara dan dia tidak mencintai gadis manja seperti Clara, dan saat ini Tarra sudah menikahi selingkuhannya yang bernama Yolla," kata Haris sambil menjelaskan apa yang sudah dia tau beberapa akhir ini.Karena Haris sangat mencintai dan menyayangi adiknya, Clara. Jadi Haris mencari tau apa Tarra benar-benar menginginkan adiknya untuk menjadi istrinya, tapi ternyata salah. Tarra tidak mencintai Clara dan dia mencintai Yolla, entah mengapa hatinya Haris senang sangat mengetahui jika Tarra tidak berniat serius pada adiknya.Namun, Haris juga sedih dengan Clara yang pasti sangat mengharapkan Tarra untuk menjadi suaminya. Haris sebenarnya memang tidak pernah senang jika adiknya menikah dengan Tarra, tapi ternyata Tuhan mendengar keluh kesahnya selama ini.Walaupun Haris akan menjadi bahan kebencian kedua orang tuanya karena membiarkan pernikahan itu terjadi, itu tidak membuat Haris merasa bersalah pada orang tuanya."Saat ini kau adalah kesalahannya kenapa adikmu yang menikah dengan pria lain!" tegas Soni."Benar, kau memang kakak yang tidak pernah becus mengurus adikmu sendiri!" Sonya mengatakan itu dengan nada tinggi.Kini pasangan suami-istri paruh baya itu melangkah pergi dan meninggalkan Haris sendirian disana, dan Haris hanya bisa menatap sedih pada orang tuanya yang benar-benar pergi meninggalkan dirinya sendirian."Aku tidak pernah menyesali pernikahan Clara dan Yordan, aku harap mereka benar-benar jodoh," gumam Haris sambil tersenyum manis, walaupun hatinya sedang sakit setelah di perlakukan tidak baik oleh kedua orang tuanya sendiri.Haris akhirnya pergi dari rumah orang tuanya, dia juga tidak sempat berpamitan langsung pada adik dan adik iparnya. Namun, Haris menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada sang adik bahwa dirinya pulang.'Aku yakin jika Clara bisa bahagia dengan Yordan,' batin Haris setelah masuk kedalam mobilnya dan langsung mengemudi menuju rumahnya.Saat ini di dalam kamar tidurnya Clara. Clara dan Yordan terlihat sangat canggung, walaupun mereka bersahabat sangat baik tapi saat ini statusnya adalah suami-istri.Clara dan Yordan duduk di sofa yang sama dan jaraknya agak dekat, mereka berdua benar-benar canggung sedari tadi."Clara, kalau kamu mau istirahat ya istirahat aja. Aku bisa tidur di sofa ini," ucap Yordan yang membuka suaranya dari kecanggungan dan keheningan didalam kamar istrinya."Masa kakak tidur di sofa, tidur di ranjang aja dan aku tidur di sofa," balas Clara tanpa menatap kearah suaminya."Hehehe, kita sudah menikah dan kamu memanggilku kakak? Hehe, lucu." Yordan mengalihkan pembicaraan dan tertawanya juga seperti masih ada kecanggungan antara dirinya dan sang istri.Sejenak, Clara menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan dia benar-benar canggung sekali. Clara juga bingung mau memanggil Yordan apa, haruskah memanggil dengan sebutan sayang? Cinta? Suami? Astaga, Clara sedikit frustasi dengan pembahasan ini.Clara mengerjap kedua matanya dan mencoba memikirkan pembicaraan lain agar tidak membahas ini, tapi otaknya terasa sangat beku dan ingin sekali dirinya langsung tidur saja tanpa harus menatap kearah suaminya."Hei, kamu kenapa?" Yordan paham dengan diamnya sang istri, pasti saat ini istrinya sedang bingung menanggapi apa yang baru saja menjadi pembahasan mereka."Tidak apa-apa!" Clara hanya geleng-geleng kepalanya, dia tidak mungkin berkata jujur pada suaminya saat ini.Waktu terus-menerus berputar, dan saat ini sudah malam. Kedua pengantin baru itu tidak turun untuk makan malam, karena mereka masih nyaman berada didalam mimpinya masing-masing.Semenjak pembahasan panggilan antara Clara dan Yordan, mereka langsung memutuskan untuk istirahat. Clara istirahat diatas kasurnya dan Yordan istirahat di sofa, walaupun Yordan tidur di sofa tapi sofa itu sangat empuk seperti kasur.Jam kembali berdetak dan tidak membuat dentingan jam itu mengusik kedua insan yang baru saja menikah. Sepertinya hari ini Clara dan Yordan benar-benar lelah."Lapar," gumam Clara setelah beberapa jam dia tertidur pulas.Perlahan-lahan Clara membuka matanya dan melirik kearah sekitar, dia menatap seorang pria sedang tidur di sofa dengan sangat nyenyak."Pasti tidak nyaman," ucap Clara yang mencoba bangun dari baringnya.Saat Clara sudah berubah posisi menjadi duduk diatas kasur, kini Clara menatap jam dinding dan disana sudah menunjukkan pukul 12 malam."Astaga, sudah tengah malam!" Clara sedikit terkejut saat melihat jam dinding yang ada didalam kamarnya.Clara bangun dari duduknya dan mengambil selimut tebalnya untuk menutupi tubuh sang suami. Clara sudah berdiri didepan sofa dan mulai menyelimuti suaminya yang sedari tadi tidur dengan sangat nyaman."Aku tau, pasti orang tuaku sudah menyakiti hatimu. Maafkan orang tuaku," gumam Clara yang ingin sekali mengecup kening suaminya.Lima tahun berlalu. Rumah tangga Clara dan Yordan semakin hari semakin bahagia, mereka tidak menyangka hari ini adalah hari pertama anak pertamanya masuk sekolah taman kanak-kanak. Namun, sang anak sudah sangat pandai berbicara, anak mereka sangat cerewet sekali, hehehe."Ma!" Elizabeth Yora Bastian mulai berlari menghampiri kamar orang tuanya setelah dirinya sudah menggunakan seragam sekolah dan tas ransel yang sudah digendongnya. "Mama, lama banget." Yora menunjukkan ekspresi kesal, tapi ia tidak benar-benar kesal, kekesalan yang begitu imut bagi anak seusianya.Clara dan Yordan menghampiri anaknya yang sudah siap pergi ke sekolah. Clara membungkukkan badannya dan mengecup kening Yora, begitu juga dengan Yordan."Papa, papa antar aku ke sekolah, kan?" Yora menatap ayahnya dengan penuh harapan, ia berharap jika hari pertamanya sekolah diantar oleh sang ayah juga.Yordan terdiam dan menatap Clara."Papa, aku tanya papa loh!" Suara Yora begitu gemas.Terdengar suara langkah kaki yang s
Di saat Tarra dan Yolla merasakan penyesalan, di sisi lain ada Clara dan Yordan yang selalu merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang selalu datang bertubi-tubi membuat pasangan suami istri itu selalu bersyukur dan berterima kasih pada sang pencipta."Sayang, aku bahagia sekali saat ibu dan ayah sudah merestui kamu dan mulai bersikap baik padamu." Clara memeluk erat tubuh suaminya.Posisi Clara dan Yordan saling berhadapan, mereka sedang menatap keluar jendela dari dalam kamar, tapi Clara memeluk tubuh Yordan dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu, dada yang selalu membuat Clara tenang dan nyaman."Aku lebih bahagia karena mertuaku mengizinkan ibuku tinggal di sini juga." Yordan mengecup kening istrinya dengan lembut."Ternyata kebahagiaan selalu datang di waktu yang tepat," ungkap Clara yang tidak sengaja meneteskan air matanya.Saat Soni dan Sonya izinkan Dewi tinggal bersama mereka, akhirnya Yordan memutuskan untuk membawa Dewi ke rumah mewah ini, rumah yang sudah menjadi sa
Di sebuah kontrakan petak. Tarra dan Yolla sedang termenung di ruangan masing-masing. Tarra berada didalam kamar, dan Yolla berada di ruang tengah. Tarra menatap datar sebuah foto yang ada di ponselnya, foto dirinya bersama mantannya, Clara. Tarra meneteskan air matanya, ia teringat dengan semua prilaku buruknya pada sang mantan. Di sisi lain, Yolla juga seperti itu, ia menatap foto dirinya bersama mantannya, Yordan. Apakah Tarra dan Yolla menyesal? Ya. Penyesalan hadir pada Tarra dan Yolla, mereka sedang merenung atas semua yang terjadi dalam hidupnya, hidup yang begitu perih dan sangat memprihatikan."Dia sudah bahagia dengan suami dan anaknya," gumam Tarra yang sudah mengetahui sang mantan sudah memiliki anak. "Mungkin, jika aku menikah dengannya dan menjadi suaminya, aku akan bahagia." Tarra menangis tanpa suara, ia mulai mengusap air matanya dengan kasar. Lalu ia teringat orang tuanya, ia bergumam. "Jika aku kembali, apakah mereka akan menerimaku lagi?" Tarra sepertinya sudah lel
Setelah berhari-hari liburan keluarga, kini liburan itu sudah berakhir dan semuanya kembali pada aktivitasnya masing-masing. Saat ini Soni dan Sonya berada di toko roti milik Haris dan Elia yang bernama Shana's Cake. Haris dan Elia masih terus bersyukur dan terharu dengan apa yang terjadi dalam hidup mereka, mereka masih tidak menyangka dengan yang terjadi. Namun, seperti inilah rencana Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan."Mulai besok, ibu akan merenovasi ini." Sonya ingin merenovasi toko milik anak dan menantunya."Bu, tidak perlu." Elia merasa tidak ingin merepotkan mertuanya."Tidak apa, sekarang bilang pada ibu jika kalian membutuhkan sesuatu," ucap Sonya yang terus melangkahkan kakinya menuju kedalam dapur.Elia mengikuti langkah Sonya ke dapur, di sana Sonya memeluk erat tubuh Elia yang sedikit gemetar, gemetar karena masih tidak menyangka dengan semuanya."Elia, terima kasih, terima kasih sudah setia dan menjaga anakku." Sonya kembali
Dewi tidak ingin ikut campur dengan masalah keluarga besannya, ia lebih memilih membawa Shana dan Yora ke ruangan lain, dan terlebih dia tidak ingin anak seusia Shana mendengarkan tentang pembicaraan orang dewasa tersebut. Clara tersentuh dengan prilaku ibu mertuanya yang segera sigap dengan situasi yang ada, dan Clara selalu merasa bersalah pada mertuanya karena orang tuanya selalu memperlakukan suaminya dengan tidak baik. Namun, Clara yakin momen seperti ini akan selalu terjadi, walaupun harus lama menunggu. Apakah Soni dan Sonya akan menerima kehadiran Yordan dan Elia sebagai menantu mereka? Ya, jawabannya iya."Maafkan saya selama ini memperlakukan kalian dengan tidak baik," ungkap Sonya yang terdengar tulus, bahkan ia meneteskan air matanya, ia juga terus menatap menantunya satu persatu.Elia yang sangat cengeng langsung meneteskan air matanya, dan Haris mulai merangkul pundak istrinya dengan penuh haru. Haris juga meneteskan air matanya, ia selalu tidak menyangka dengan momen sa
Satu tahun berlalu. Sonya sempat menginginkan rencana liburan pada Soni, dan akhirnya liburannya terlaksana setelah satu tahun berlalu, karena mereka tidak ingin cucu kedua mereka berlibur saat masih bayi, mereka khawatir akan kesehatan, karena bayi mudah sakit jika pergi jauh."Akhirnya liburan keluarga." Clara senang dengan orang tuanya yang mengadakan liburan keluarga. Clara juga berharap tidak ada keributan apapun saat mereka berlibur.Liburan keluarga saat ini berada di luar kota. Soni dan Sonya menyewa villa untuk keluarga besar mereka, Sonya terlihat sangat bahagia, begitupun dengan Soni."Terima kasih sudah mengundang saya dalam acara keluarga ini," ucap Dewi yang merasa beruntung diajak berlibur dengan sang besan."Saya yang seharusnya berterima kasih padamu," kata Sonya.Seketika suasana di ruangan keluarga terasa sunyi, orang-orang yang ada di sana saling menatap satu sama lain.'Semoga tidak ada pertengkaran,' batin Haris yang selalu khawatir jika orang tuanya akan berbuat







