MasukKarena sang kakak memilih untuk hidup biasa, Clara Putri Bastian terpaksa menggantikan posisinya. Dia pun dituntut untuk mempelajari bisnis keluarga dan menikahi pria yang dijodohkan untuknya. Hanya saja, pria itu mendadak membatalkan pernikahannya! Saat Clara putus asa, Yordan, sang sahabat pun menawarkan bantuan untuk menjadi pengantin pengganti. Lantas, bagaimana kelanjutan kisah Clara dan Yordan? Terlebih, mereka berdua berasal dari latar belakang yang sungguh berbeda.....
Lihat lebih banyak“Uncle… aku harap kau mau menerimaku. Aku akan melakukan pekerjaan apa saja asalkan kau memberiku tumpangan.”
Di lantai tiga puluh unit apartemen mewah Złota 44, Ivony Anindita, 24 tahun tengah berdiri mematung di atas karpet Persia yang terasa terlalu empuk untuk kaki kasarnya yang kelelahan.
Di hadapannya, sebuah pintu kayu jati masif setinggi tiga meter berdiri angkuh, memisahkan koridor apartemen dengan ruang kerja pribadi sang pemilik.
Kepala Ivony menunduk, menatap koper kabin kecil yang roda-rodanya masih basah oleh air hujan. Koper itu adalah seluruh hidupnya sekarang. Tidak ada lagi rumah untuk dia tinggali sebab ayah angkatnya telah menikah lagi dan menjual rumah tersebut untuk keperluan mewah istri barunya.
Pria itu, Damian Alendra, 35 tahun tampak tidak bergeming. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi wiski berwarna amber memantulkan cahaya kota.
“Tumpangan?” ucap Damian dengan suara baritonnya “Kau menempuh jarak ratusan kilometer hanya untuk meminta tumpangan, Ivony?”
Ivony menelan ludah, berusaha mengusir rasa terhina yang merayap naik ke tenggorokannya. “Aku tidak punya tempat lain. Papa... dia sudah mengusirku.”
“Lalu kenapa kau berpikir aku akan peduli?” Damian memutar gelas di tangannya, hingga membiarkan es batu berdenting pelan.
“Hanya karena kakakku mengadopsimu dua puluh tahun yang lalu, bukan berarti aku mewarisi tanggung jawab atas hidupmu. Aku bukan panti asuhan, Ivony. Dan aku jelas bukan pria baik hati yang suka menampung orang asing.”
“Ta-tapi… tapi aku keponakanmu,” ucapnya lirih.
Damian terkekeh rendah. “Hukum tidak berlaku di ruangan ini. Di sini, yang ada hanya logika dan transaksi. Apa yang bisa kau berikan padaku? Kau bilang akan melakukan pekerjaan apa saja? Aku punya tim pembersih profesional yang datang setiap pagi. Aku punya sekretaris yang jauh lebih kompeten darimu. Jadi, katakan padaku, pekerjaan apa yang kau maksud?”
Ivony merasa wajahnya memanas. Ia merasa telanjang di bawah tatapan tak kasat mata pria itu. Ia membayangkan dirinya kembali ke jalanan, tidur di stasiun pusat di antara para tunawisma dan udara yang membeku. Rasa takut itu jauh lebih besar daripada rasa malunya.
“Aku bisa memasak,” ucap Ivony lirih. “Aku bisa menjaga privasimu. Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya butuh sudut kecil untuk tidur sampai aku mendapatkan pekerjaan tetap di sini.”
“Kota ini tidak ramah bagi pendatang tanpa dokumen kerja yang jelas, Ivony. Kau hanya akan menjadi beban.” Damian akhirnya bergerak, namun bukan untuk berbalik.
Ia justru meneguk wiskinya hingga tandas. “Pulanglah. Aku akan membelikanmu tiket pesawat kelas ekonomi untuk besok pagi.”
“Aku tidak bisa pulang!” Ivony berteriak, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
“Rumah itu sudah bukan milikku. Papa menjualnya sebulan setelah Mama meninggal. Dia bahkan tidak menyisakan satu pun foto Mama untukku. Jika aku kembali, aku hanya akan menjadi beban bagi orang-orang yang membenciku.”
Ivony melangkah maju, untuk mendekati meja kerja Damian yang terbuat dari marmer hitam. Ia lalu mencengkeram pinggiran meja itu seolah-olah itu adalah pelampung di tengah samudra.
“Mama pernah bilang padaku...” Ivony mengatur napasnya yang tersengal. “Dia bilang, kalau terjadi sesuatu padanya, aku harus mencari 'adik kecilnya' di sini. Dia bilang kau adalah orang yang paling keras kepala yang pernah dia kenal, tapi kau tidak pernah melupakan janji.”
Hening. Detik jam dinding seolah berhenti berdetak. Damian lalu meletakkan gelas kosongnya ke atas meja dengan dentuman pelan namun tegas.
“Mama memberikan amanah padaku,” lanjut Ivony dengan suara nyaris berbisik. “Dia meninggalkan surat di kotak depositnya. Surat yang ditujukan untukmu, Uncle.”
Untuk pertama kalinya sejak Ivony memasuki ruangan itu, Damian memutar tubuhnya. Ia pun berbalik dengan perlahan, menampakkan wajah dengan garis rahang tajam dan sepasang mata kelabu yang seolah bisa menembus tulang rusuk Ivony.
Damian berjalan mendekat lalu berhenti tepat di depan Ivony, menunduk sehingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Kau membawa surat itu?” tanya Damian dingin.
Ivony mengangguk lemah, lalu tangannya meraba saku jaketnya yang lembap. “Ada di sini. Mama memintaku memberikannya langsung padamu jika aku benar-benar terdesak.”
Damian menatap mata Ivony yang sembap untuk waktu yang lama. Ada kilatan emosi yang tidak terbaca di balik mata kelabunya, sesuatu yang menyerupai kemarahan, namun juga penyesalan yang dalam.
Ia merampas surat lusuh itu dari tangan Ivony, membacanya sekilas, lalu meremasnya dalam kepalan tangan.
“Kakakku selalu tahu cara mengikat leherku, bahkan dari dalam kubur sekalipun,” desis Damian.
Ia pun melangkah mundur, lalu menyandarkan pinggulnya di meja kerja sambil melipat tangan di dada. Matanya kembali menyapu sosok Ivony yang tampak hancur, basah, dan menyedihkan.
“Baiklah, Ivony. Aku akan menampungmu,” ujar Damian dingin.
Lega luar biasa menyelimuti Ivony, namun itu hanya bertahan sesaat sebelum Damian melanjutkan kalimatnya dengan nada yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Tapi ingat satu hal. Tidak ada yang gratis di dunia ini, terutama di rumahku. Kau akan tinggal di sini, tapi kau harus membayar 'sewa' itu dengan cara yang aku tentukan.”
Kemudian menatap lekat wajah Ivony. “Dan percayalah, kau mungkin akan lebih memilih tidur di jalanan daripada memenuhi permintaanku nanti.”
Lima tahun berlalu. Rumah tangga Clara dan Yordan semakin hari semakin bahagia, mereka tidak menyangka hari ini adalah hari pertama anak pertamanya masuk sekolah taman kanak-kanak. Namun, sang anak sudah sangat pandai berbicara, anak mereka sangat cerewet sekali, hehehe."Ma!" Elizabeth Yora Bastian mulai berlari menghampiri kamar orang tuanya setelah dirinya sudah menggunakan seragam sekolah dan tas ransel yang sudah digendongnya. "Mama, lama banget." Yora menunjukkan ekspresi kesal, tapi ia tidak benar-benar kesal, kekesalan yang begitu imut bagi anak seusianya.Clara dan Yordan menghampiri anaknya yang sudah siap pergi ke sekolah. Clara membungkukkan badannya dan mengecup kening Yora, begitu juga dengan Yordan."Papa, papa antar aku ke sekolah, kan?" Yora menatap ayahnya dengan penuh harapan, ia berharap jika hari pertamanya sekolah diantar oleh sang ayah juga.Yordan terdiam dan menatap Clara."Papa, aku tanya papa loh!" Suara Yora begitu gemas.Terdengar suara langkah kaki yang s
Di saat Tarra dan Yolla merasakan penyesalan, di sisi lain ada Clara dan Yordan yang selalu merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang selalu datang bertubi-tubi membuat pasangan suami istri itu selalu bersyukur dan berterima kasih pada sang pencipta."Sayang, aku bahagia sekali saat ibu dan ayah sudah merestui kamu dan mulai bersikap baik padamu." Clara memeluk erat tubuh suaminya.Posisi Clara dan Yordan saling berhadapan, mereka sedang menatap keluar jendela dari dalam kamar, tapi Clara memeluk tubuh Yordan dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu, dada yang selalu membuat Clara tenang dan nyaman."Aku lebih bahagia karena mertuaku mengizinkan ibuku tinggal di sini juga." Yordan mengecup kening istrinya dengan lembut."Ternyata kebahagiaan selalu datang di waktu yang tepat," ungkap Clara yang tidak sengaja meneteskan air matanya.Saat Soni dan Sonya izinkan Dewi tinggal bersama mereka, akhirnya Yordan memutuskan untuk membawa Dewi ke rumah mewah ini, rumah yang sudah menjadi sa
Di sebuah kontrakan petak. Tarra dan Yolla sedang termenung di ruangan masing-masing. Tarra berada didalam kamar, dan Yolla berada di ruang tengah. Tarra menatap datar sebuah foto yang ada di ponselnya, foto dirinya bersama mantannya, Clara. Tarra meneteskan air matanya, ia teringat dengan semua prilaku buruknya pada sang mantan. Di sisi lain, Yolla juga seperti itu, ia menatap foto dirinya bersama mantannya, Yordan. Apakah Tarra dan Yolla menyesal? Ya. Penyesalan hadir pada Tarra dan Yolla, mereka sedang merenung atas semua yang terjadi dalam hidupnya, hidup yang begitu perih dan sangat memprihatikan."Dia sudah bahagia dengan suami dan anaknya," gumam Tarra yang sudah mengetahui sang mantan sudah memiliki anak. "Mungkin, jika aku menikah dengannya dan menjadi suaminya, aku akan bahagia." Tarra menangis tanpa suara, ia mulai mengusap air matanya dengan kasar. Lalu ia teringat orang tuanya, ia bergumam. "Jika aku kembali, apakah mereka akan menerimaku lagi?" Tarra sepertinya sudah lel
Setelah berhari-hari liburan keluarga, kini liburan itu sudah berakhir dan semuanya kembali pada aktivitasnya masing-masing. Saat ini Soni dan Sonya berada di toko roti milik Haris dan Elia yang bernama Shana's Cake. Haris dan Elia masih terus bersyukur dan terharu dengan apa yang terjadi dalam hidup mereka, mereka masih tidak menyangka dengan yang terjadi. Namun, seperti inilah rencana Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan."Mulai besok, ibu akan merenovasi ini." Sonya ingin merenovasi toko milik anak dan menantunya."Bu, tidak perlu." Elia merasa tidak ingin merepotkan mertuanya."Tidak apa, sekarang bilang pada ibu jika kalian membutuhkan sesuatu," ucap Sonya yang terus melangkahkan kakinya menuju kedalam dapur.Elia mengikuti langkah Sonya ke dapur, di sana Sonya memeluk erat tubuh Elia yang sedikit gemetar, gemetar karena masih tidak menyangka dengan semuanya."Elia, terima kasih, terima kasih sudah setia dan menjaga anakku." Sonya kembali
Dewi tidak ingin ikut campur dengan masalah keluarga besannya, ia lebih memilih membawa Shana dan Yora ke ruangan lain, dan terlebih dia tidak ingin anak seusia Shana mendengarkan tentang pembicaraan orang dewasa tersebut. Clara tersentuh dengan prilaku ibu mertuanya yang segera sigap dengan situas
Satu tahun berlalu. Sonya sempat menginginkan rencana liburan pada Soni, dan akhirnya liburannya terlaksana setelah satu tahun berlalu, karena mereka tidak ingin cucu kedua mereka berlibur saat masih bayi, mereka khawatir akan kesehatan, karena bayi mudah sakit jika pergi jauh."Akhirnya liburan ke
Clara mengulas senyum dan berkata. "Elizabeth Yora Bastian," jawabnya."Nama yang bagus," ujar Haris."Namanya cocok sekali dengan bayinya," sahut Elia.Yordan mengulas senyum, ia membelai rambut panjang istrinya, lalu mengecup kening sang istri."Sayang, nama anak kita pakai nama keluargaku enggak
Sembilan bulan kemudian...Perut Clara sudah membesar, ia tidak sabar menantikan anak pertamanya lahir ke dunia, ia ingin menjadi sosok ibu yang baik untuk anaknya, dan istri yang menurut untuk suaminya."Ternyata Clara benar-benar memiliki anak dari Yordan." Sonya masih belum menyangka anak bungsu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan