Se connecter"Atas nama hukum, Saudara Dion, Anda resmi kami tahan atas dugaan tindak pidana pencucian uang dan penipuan keuangan terstruktur!"
Suara logam borgol yang mengunci pergelangan tangan Dion menggelegar di seluruh ballroom mewah, memotong keheningan mencekam. Puluhan blitz kamera wartawan menyambar tanpa ampun, mengabadikan wajah pucat pasi Dion di atas panggung utama. Pria yang selama ini membanggakan jaringan bisnisnya sekaligus menjadi selingkuhan Shena itu terbelalak tak percaya. Mahkota kesombongan yang ia bangun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Dion meronta histeris saat dua personel polisi mencengkeram kedua bahunya. Wajahnya yang semula congkak kini merah padam. "Bohoooong! Ini jebakan! Polisi, tangkap bajingan di sana itu!" teriak Dion dengan suara serak, menunjuk lurus ke arah Reno—kakak angkat yang selalu ia hina—yang berdiri tenang di samping Vanya Adijaya. Shena, yang berdiri gemetar dengan gaun malam mewahnya, ikut melangkah maju seraya menuding Reno secara histeris. Air matanya merusak riasan tebal di wajahnya. "Dia benar! Reno cuma mantan pengangguran sampah yang meretas sistem untuk menjebak kami! Dia tidak punya apa-apa!" jerit Shena, berusaha meyakinkan para tamu undangan yang menatapnya dengan pandangan jijik. Reno bahkan tidak berkedip. Pria itu hanya merapikan ujung jas hitam kustomnya yang terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Sorot matanya begitu dingin, memancarkan dominasi mutlak seorang penguasa yang sedang menyaksikan serangga kecil menggeliat sebelum diinjak. "Meretas?" Vanya bersuara, nada dinginnya menusuk hingga ke tulang rusuk semua orang di ruangan itu. "Sistem keuanganmu terlalu sampah untuk diretas, Dion. Kamu sendiri yang menggali kuburanmu dan menumbal aset Wijaya Group demi gengsi semu." Sebelum Dion sempat membalas, sesosok pria berjas abu-abu—Albert, Kepala Tim Hukum Utama Elric Group—melangkah maju membawa koper perak berisi berkas tebal. "Izin menyela, Komandan," ujar Albert seraya menyerahkan berkas bersampul segel merah kepada perwira polisi pimpinan operasi. "Ini adalah seluruh rekam jejak transaksi bodong, pengalihan dana ilegal, dan bukti pencucian uang yang dilakukan Dion dengan menjaminkan aset Wijaya Group secara ilegal." Para wartawan langsung berebutan mengambil foto salinan dokumen yang dibagikan oleh asisten Albert. Suara jepretan kamera beradu dengan bisik-bisik ketakutan para investor yang menyadari bahwa uang mereka telah lenyap di tangan Dion. Dion jatuh berlutut di atas panggung, kedua kakinya lemas kehilangan seluruh daya. Shena menatap berkas di tangan polisi dengan mata membelalak sempurna. Dadanya naik turun tidak teratur saat menyadari nama Dion tercantum sebagai tersangka utama yang telah menjadikan perusahaan milik keluarganya sebagai jaminan utang bodong. Shena beralih menatap Reno, mencari secercah belas kasihan atau setidaknya kepura-puraan di mata mantan suaminya itu. Namun, yang ditemukannya hanyalah sepasang tatapan kelam Reno yang asing, pekat, dan tak tersentuh. Apakah ini benar-benar pria miskin yang selama tiga tahun ini memasakkan sup dan membawakan payung untuknya? Reno melangkah satu garis lebih dekat ke tepi panggung, menatap Dion yang tertunduk hina di bawah kakinya. "Sejak awal, kamu hanyalah tikus kecil yang sibuk memamerkan keju curian, Dion," bisik Reno datar, cukup tajam untuk terdengar melalui mikrofon panggung. Vanya menyertai langkah Reno, menyilangkan jarinya di selipan jari Reno dengan keanggunan seorang ratu yang mendampingi rajanya. Sentuhan itu tegas, memamerkan kemesraan yang meremukkan sisa gengsi Shena hingga tak berbekas. "Dan sekarang, saatnya tikus itu masuk ke dalam sangkar besi," tambah Vanya dengan senyum tipis penuh kemenangan. Hati Shena berdenyut nyeri luar biasa, seolah diremas oleh jemari besi yang tak terlihat. Pemandangan Reno yang begitu agung di samping wanita paling berkuasa di kota itu membakar jiwanya dengan rasa penyesalan yang mulai merayap pelan. Polisi mulai menarik tubuh Dion secara paksa untuk diseret turun dari panggung. Tangisan histeris Karina—ibu dari Shena—pecah di barisan depan tamu undangan saat melihat calon menantu yang ia agung-agungkan sekaligus tumpuan modal Wijaya Group itu diperlakukan bagaikan penjahat kelas berat. Namun, sebelum petugas sempat membawa Dion melintasi ambang pintu ballroom... DUAAMMM! Pintu kayu ek raksasa pintu utama ballroom itu didobrak paksa hingga terhempas menghantam dinding marmer! Sepuluh pria berseragam taktis hijau gelap dengan baret hitam dan sepatu lars militer melangkah masuk dengan derap langkah menggelegar yang menggetarkan lantai kristal. Di barisan paling depan, seorang perwira senior berwajah besi memegang map baja berlogo segel khusus darurat negara. Seluruh ruangan mendadak membeku, ketegangan melonjak mencapai puncaknya. Perwira baret hitam itu mengangkat tangannya, menghentikan gerak polisi seraya berteriak memecah udara."Mustahil! Buka pintunya sekarang juga!" jerit Sandy dengan napas memburu. Sandy menendang pintu kabin helikopter yang terkunci rapat dari dalam dengan sekuat tenaganya. Keringat dingin mengalir deras membasahi kemeja mewahnya yang kini kusut. "Maafkan saya, Tuan, seluruh kendali listrik mati total," sahut sang pilot dengan wajah pucat pasrah. Suara deru langkah kaki tegap mengepung seluruh sudut helipad dalam sekejap. Sandy menempelkan wajahnya ke kaca pintu, memandang ke luar dengan mata melotot ketakutan. Dari balik kegelapan atap gedung, belasan pria berseragam hitam melangkah maju secara serentak. Gerakan mereka begitu presisi, cepat, dan senyap bagaikan kelompok militer terlatih. Senjata otomatis di tangan mereka membidik tepat ke arah kabin helikopter yang tak berdaya. Rasa takut yang mencekam merambat pelan dari ujung kaki hingga ke kepala Sandy. Ini bukan petugas pemerintah biasa. Ini adalah Pasukan Khusus Elric, unit pengawal pribadi paling ditakuti di dunia bisnis inte
"Tahan mereka semua dan jangan biarkan siapa pun mendekat!" jerit Sandy dengan suara melengking panik. Sandy mendorong dua pengawal pribadinya ke arah barisan petugas yang baru saja mendobrak pintu kaca. Kepanikan membakar habis sisa harga dirinya. Tanpa memedulikan jeritan para stafnya, Sandy menyambar koper hitam berisi paspor dan dokumen aset luar negeri. Ia berlari kencang menuju pintu rahasia yang tersamar di balik rak buku jati ruang kerjanya. Pintu baja itu terbuka, memperlihatkan lorong khusus yang terhubung langsung ke lift eksekutif menuju atap gedung. Langkah kakinya berdenting keras menghantam lantai marmer. Rasa takut menggerogoti dadanya bagaikan ribuan jarum yang menusuk bersamaan. Ia merasa seperti seekor binatang buruan yang tersudut di dalam sarangnya sendiri. "Sialan! Bagaimana mungkin seorang pria kusam yang menyamar jadi mandor proyek punya kuasa menghancurkan perusahaanku dalam semalam?!" umpat Sandy seraya menekan tombol lift dengan brutal. Dinding kaca tra
"Lepaskan seluruh dokumen kejahatan dan rekaman pengakuan itu ke media sekarang juga, Albert," bisik Reno seraya menatap layar tablet enkripsi di dalam kabin kedap suara Rolls-Royce. Di sampingnya, Vanya Adijaya tersenyum tipis seraya mengusap lembut pipinya yang baru saja ia kecup saat berada di Dermaga Empat. Keanggunan dingin sang Ratu Bisnis kini memancar sempurna di bawah pendar temaram lampu interior mobil mewah tersebut. "Hanya butuh sepuluh detik sampai reputasi busuk Group Nusantara hancur lebur di seluruh stasiun televisi," sahut Vanya dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan. Reno mengulas senyuman dingin, menikmati momen eksekusi yang sudah ia rancang dengan presisi tinggi. "Mereka mengira penyamaranku sebagai mandor proyek adalah sebuah kelemahan," ucap Reno pelan seraya membenarkan posisi kemejanya. "Padahal itu adalah umpan sempurna untuk menjebak mereka ke dalam jurang kehancuran." "Instruksi dilaksanakan, Yang Mulia," sahut Albert dari balik kemudi,
"Bohong! Kau pasti menggertakku!" raung pimpinan baru Group Nusantara dari seberang saluran gawai dengan nada histeris yang makin kacau. Suara teriakan itu mendadak tenggelam oleh deretan panggilan masuk dari para investor besar yang menghujani ponsel sang direktur. Reno mematikan panggilan secara sepihak tanpa memberi kesempatan lawan untuk melontarkan makian balasan. Ia melempar gawai retak itu ke tanah tepat di depan lutut Bos Naga Hitam yang masih berguncang ketakutan. "Singkirkan seluruh pasukannya dan pastikan mereka tidak pernah menginjakkan kaki di kawasan pantai ini lagi," kata Reno seraya menoleh ke arah Albert. "Baik, Tuan Muda. Semuanya akan dibersihkan tanpa menyisakan satu jejak pun," jawab Albert seraya memberi isyarat tangan kepada tim keamanan khusus Elric. Puluhan anggota klan mafia itu bergegas bangkit, menyeret rekan-rekan mereka yang terluka dengan tubuh gemetar tanpa berani menatap wajah sang pimpinan tertinggi. Pelabuhan Empat yang tadinya tegang kini mend
"Siapa kau sebenarnya dan di mana Bos Naga Hitam?!" bentak Direktur Baru Group Nusantara dengan nada panik yang berusaha ia tutupi. Suara berisik dari ruang kerja mewah di seberang telepon bergema samar menembus keheningan Dermaga Empat. Reno terkekeh dingin, mengusap serpihan debu di rompi kerjanya tanpa sedikit pun gestur terburu-buru. Pria di ujung telepon itu mendadak tercekat, mengenali aura intimidasi murni yang merayap menembus speaker gawai di genggamannya. "Kau mengirim lima puluh miliar rupiah hanya untuk merusak proyek kecil di dermaga ini," ujar Reno dengan suara datar. "Tidakkah kau tahu bahwa setiap rupiah dari uang haram itu kini berubah menjadi tali gantungan untuk lehermu sendiri?" lanjut Reno. Vanya melangkah mendekat, berdiri sejajar di samping Reno dengan senyum anggun yang memancarkan dominasi mutlak. Ia menyentuh jemari Reno secara alami, lalu mendekatkan bibirnya ke mikrofon gawai. "Kau menggantikan posisi Dion hanya untuk mengulangi kebodohan yang sama d
"Albert, kunci seluruh jalur keluar dari pelabuhan ini dan amankan semua dokumen haram milik mereka," perintah Reno dengan nada rendah yang terdengar dingin di tengah desing angin laut. Hanya dalam hitungan detik, tiga unit mobil serba hitam membelah kegelapan malam Dermaga Empat. Deru mesin yang halus dan pendar lampu sorot dari kendaraan berkelas itu menyinari tumpukan pasir serta puluhan anggota klan Naga Hitam yang masih bersujud pasrah. Albert melangkah keluar dari mobil barisan depan dengan setelan jas hitam yang rapi tanpa kerutan sedikit pun. Pria kepercayaan Klan Elric itu berjalan tenang menembus jajaran mafia yang gemetaran di atas tanah, lalu membungkuk hormat di hadapan Reno dan Vanya. "Tuan Muda, Nona Vanya, seluruh area pelabuhan sudah sepenuhnya dalam kendali tim keamanan pusat," lapor Albert seraya memegang peranti tipis di tangannya. Vanya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan dominasi berkelas. Sebagai wanita yang sejak