로그인"Matikan mikrofon pria itu sekarang," pangkas Reno dingin seraya melangkah mantap membelah kerumunan ballroom.
Gema suara tegap Reno memotong pidato Dion di atas panggung utama, membekukan riuh rendah ratusan tamu VIP dan awak media. Shena berdiri mematung di samping meja sampanye. Matanya melebar tak percaya melihat mantan suaminya—pria yang semalam dibuang bagaikan cacing tanah—kini berdiri tegap dibalut jas hitam mewah custom-made buatan penjahit terbaik Eropa. Reno memancarkan aura dominasi mutlak yang membendung seluruh ruangan. "R-Reno?!" jerit Shena dengan nada tertahan, cengkeraman jarinya pada gaun merah mewahnya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana mungkin... dari mana kamu mencuri pakaian itu?!" Di sisi panggung, Dion menyapu keringat dingin di dahinya seraya mengepalkan tangan. Tatapan matanya yang panik berbenturan langsung dengan mata elang milik Reno. "Pengawal! Usir sampah ini!" teriak Dion melalui mikrofon, berusaha menguasai kembali panggung kemenangannya. "Dia hanya penipu yang mencoba mengacaukan pesta sukses Wijaya Group!" Namun, empat pengawal berbadan tegap yang mencoba mendekat justru dihentikan hanya dengan satu lambaian tangan dari Albert. Aura intimidasi dari tim pengawal Elric Group membuat sekuriti hotel terpaku di tempat. Vanya melangkah maju menyamai posisi Reno, mengulas senyuman anggun yang mematikan di bawah sorotan lampu kristal. "Kamu masih berani bicara tentang kesuksesan, Dion?" cibir Vanya halus namun menusuk. "Setelah semua intrik busuk yang kamu rancang semalam di Suite 808?" "Jangan asal bual, Vanya!" potong Dion panik seraya menudingkan jarinya. "Kamu bersenggama dengan pria miskin ini lalu menuduhku?!" "Simpan retorika murahmu untuk polisi, Dion," sela Reno datar. Reno merogoh camcorder hitam kecil dari dalam saku jasnya lalu menyerahkannya pada Albert. Dalam hitungan detik, Albert menghubungkan perangkat tersebut ke sistem pemancar nirkabel ballroom. BZZT! BZZT! Layar proyektor LED raksasa berukuran puluhan meter di belakang panggung mendadak berkedip kasar. Tampilan presentasi saham Wijaya Group terputus seketika, berganti dengan rekaman video jernih beresolusi tinggi. ["Untung asisten pribadinya bisa dibeli mahal buat memasukkan obat ke minumannya... Sekali foto-foto jebakan itu tersebar besok, Adijaya Group tidak punya pilihan selain menyerahkan saham proyek lima puluh triliun itu pada Tuan Dion!"] Di dalam layar raksasa itu, wajah Dion terpampang jelas sedang memutar botol obat perangsang saraf di depan kamera camcorder. Seluruh isi ballroom seketika meledak dalam kekacauan. Ratusan kamera pers menyala tak henti-henti, mengarahkan blitz langsung ke wajah Dion yang kini memucat pasi bagaikan mayat. Para investor asing dan pejabat VIP menatap Dion dengan pandangan jijik dan murka. "K-Kamu... kamu meretas sistem proyektor hotel?!" gagap Dion, kakinya gemetar mundur dua langkah hingga menabrak podium. Karina di sudut panggung hampir memuntahkan wine yang diminumnya, wajahnya memerah menahan rasa malu yang luar biasa. "Dion! Apa-apaan video busuk itu?!" "Bohong! Itu rekayasa AI! Video itu palsu!" teriak Dion gila, suaranya melengking melintasi mikrofon. "Pria sampah ini mengedit videonya untuk menjatuhkan namaku!" Reno melangkah naik ke tangga panggung, langkah kakinya terdengar begitu berat dan berwibawa di atas karpet merah. "Teknologi Elric Group tidak butuh rekayasa untuk meremukkan musuh yang dangkal sepertimu," ucap Reno dengan suara menekan yang membekukan darah Dion. "Persetan dengan Elric Group! Kamu hanya mantan suami sampah yang iri pada kekayaanku!" jerit Dion histeris, tawa gilanya pecah seraya menunjuk Reno. "Aku pemilik tempat ini! Kumpulkan seluruh sekuriti! Tembak pria ini!" BRAK! Pintu ganda mahoni ballroom didobrak hingga menghantam dinding secara kasar. Selusin polisi bersenjata lengkap berompi taktis menerobos masuk dengan langkah memburu, menarik perhatian seluruh ruangan yang sedang histeris. Dion tertawa kencang melihat kedatangan mereka, merasa mendapat angin segar. "Bagus! Polisi sudah datang! Tangkap bajingan berjas hitam itu! Dia peretas dan penipu!" Namun, barisan polisi itu tidak melirik Reno sedikit pun. Pasukan bersenjata tersebut justru bergerak secepat kilat mengepung panggung utama dan mengunci posisi Dion dari segala sisi. Seorang perwira polisi melangkah maju, mencabut borgol besi dari sabuknya, lalu menatap Dion dengan pandangan dingin. "Saudara Dion, angkat tanganmu dan jangan bergerak!" gertak perwira polisi itu tegas."Albert, kunci seluruh jalur keluar dari pelabuhan ini dan amankan semua dokumen haram milik mereka," perintah Reno dengan nada rendah yang terdengar dingin di tengah desing angin laut. Hanya dalam hitungan detik, tiga unit mobil serba hitam membelah kegelapan malam Dermaga Empat. Deru mesin yang halus dan pendar lampu sorot dari kendaraan berkelas itu menyinari tumpukan pasir serta puluhan anggota klan Naga Hitam yang masih bersujud pasrah. Albert melangkah keluar dari mobil barisan depan dengan setelan jas hitam yang rapi tanpa kerutan sedikit pun. Pria kepercayaan Klan Elric itu berjalan tenang menembus jajaran mafia yang gemetaran di atas tanah, lalu membungkuk hormat di hadapan Reno dan Vanya. "Tuan Muda, Nona Vanya, seluruh area pelabuhan sudah sepenuhnya dalam kendali tim keamanan pusat," lapor Albert seraya memegang peranti tipis di tangannya. Vanya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan dominasi berkelas. Sebagai wanita yang sejak
"Bicara sekarang atau klan Naga Hitam akan hilang dari peta kota ini sebelum fajar menyingsing!" ancam Reno dengan nada dingin. Keheningan malam di Dermaga Empat seketika terasa makin membeku. Bos Naga Hitam merinding hebat di atas tanah berdebu, menempelkan dahinya makin dalam ke tanah yang dingin. Seluruh anggota klan mafia yang berlutut di sekelilingnya ikut menahan napas, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. "Saya... saya akan mengaku semuanya, Yang Mulia!" seru Bos Naga Hitam dengan suara bergetar ketakutan, takut keterlambatannya memicu amarah sang penguasa. "Katakan siapa dalang di balik serangan malam ini," pangkas Reno seraya mengambil satu langkah mendekat, memberikan tekanan aura yang luar biasa berat. "Bos Group Nusantara yang membayar kami!" teriak sang ketua mafia tanpa berani menyembunyikan satu detail pun. Jawaban spontan itu berembus bagai angin beracun yang menyapu seluruh arena proyek. Van
"Buang semua senjata kalian dan berlutut sekarang juga!" raung Bos Naga Hitam dengan suara parau yang gemetar hebat, menghentakkan kakinya ke atas tanah berdebu. Jeritan panik dari sang pimpinan memecah keheningan malam dan menghancurkan seluruh keberanian puluhan anggota klan Naga Hitam. Satu per satu preman yang tadinya beringas kini saling pandang dengan raut wajah pucat pasi. Mereka dapat merasakan teror yang memancar dari mata pimpinan mereka—sosok kejam yang tak pernah sekali pun memperlihatkan kelemahan di hadapan siapa pun. CRANG! BRANG! Pipa besi tebal, parang tajam, dan rantai berkarat dijatuhkan bertubi-tubi ke atas tanah proyek. Dentang besi yang menghantam pasir kusam terdengar bagaikan lonceng kematian bagi kesombongan klan mafia tersebut. Empat puluh lima pria bertubuh tegap itu berlutut serempak, menundukkan kepala mereka rapat-rapat menghadap tanah berdebu. Arena proyek yang beberapa menit lalu dipenuhi aura pertempuran kini mendadak berubah menjadi medan ketundu
"Bos, kenapa malah memanggil kuli bajingan ini dengan nama begitu?!" jerit dua preman di barisan terdepan dengan wajah penuh emosi. Jeritan konyol itu memotong ratapan ketakutan Bos Naga Hitam yang masih bergema kaku di udara. Tanpa memahami teror mematikan yang sedang membayangi nyawa mereka, kedua preman berbadan tegap itu justru mengangkat balok besi tebal tinggi-tinggi. Mereka menyunggingkan senyum licik, bertekad membuktikan diri di depan pimpinan mereka dengan cara menghabisi Reno. "Biar kami seret kepala mandor ini ke hadapanmu, Bos!" teriak salah satu preman seraya melompat maju mendobrak barisan. "Jangan melangkah lagi, Bodoh!" raung Bos Naga Hitam dengan mata memerah dan urat leher yang menegang hampir putus. Keheningan malam yang tegang berganti menjadi panggung kepanikan liar saat sang pimpinan mafia melihat dua anak buahnya nekat menerobos batas kematian. Napas Bos Naga Hitam memburu begitu cepat, dibakar ketakutan bahwa tindakan dua orang idiot itu akan memicu pem
"Jangan cuma berdiri dan tercengang seperti patung, serang mereka bersamaan!" raung Bos Naga Hitam dengan suara garang yang pecah karena panik. Sisa puluhan preman yang tadinya ragu-ragu mendadak tersentak bangkit. Darah merembes dari sela-sela pakaian para rekan mereka yang tergeletak, membakar rasa takut menjadi kemarahan liar di mata para anggota klan mafia itu. Mereka mengepung Reno dan Vanya dari segala arah, merapatkan lingkaran kematian dengan pipa besi dan parang yang terangkat tinggi. Vanya menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju, napasnya tersengal pelan di tengah deru ketegangan. Melihat sorot mata Reno yang tetap setenang telaga di tengah kepungan musuh membuat dadanya bergetar hebat. Ada rasa hangat sekaligus perih yang menjalar di dalam jiwanya melihat pria itu berdiri tanpa gentar sedikit pun demi dirinya. "Rendy, tangan kirimu terluka," bisik Vanya dengan nada suara yang tertahan oleh rasa cema
"Kalian bertiga, kepung dari belakang dan habisi mandor sialan itu sekarang!" teriak seorang pria bertubuh kekar dengan luka parut di dahi. Jeritan murka itu memecah keheningan mencekam pasca tumbangnya gelombang pertama. Dua puluh preman klan Naga Hitam melangkah maju secara bersamaan, membuat pijakan tanah berdebu gemetar hebat di bawah sepatu mereka. Kilatan parang dan rantai besi yang beradu memancarkan bahaya mematikan di bawah temaram lampu jip. Vanya mengambil napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan degup jantung yang berpacu kencang. Bukannya gentar, wanita itu justru makin mengencangkan cengkeramannya pada batangan besi di tangannya, siap bertarung mati-matian. "Rendy, jangan biarkan mereka memisahkan kita!" seru Vanya dengan suara bergetar namun sarat akan keteguhan. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun telapak tangan yang menyentuhmu, Vanya," balas Reno seraya melangkah maju menghadap kerumunan. Suara rendah pria itu membawa kehangatan magis yang






