Mag-log inSetelah selesai dari pekerjaan, Hendra menyempatkan diri untuk melihat Putri anaknya. Setelah sampai, Putri sedang asik memainkan kakinya sambil menahan dagu dengan tangan, dan tangan satunya sibuk menggambar, membuat Hendra tersenyum saat memperhatikannya.
Hendra pun mengetuk pintu yang setengah terbuka itu. Membuat Pak Budi yang ada di dalam lekas membuka pintunya. “Ehh, Dra. Mau jemput ya, sini masuk dulu,” sapa Pak Budi sambil mengajaknya masuk terlebih dulu. Hendra memperhatikan penampilannya, merasa pakaiannya kotor Hendra menggeleng pelan. “Nggak Pak, saya gak enak. Baju saya kotor,” jawabnya. Putri yang sedang asik menggambar, langsung berdiri begitu melihat Ayahnya datang. “Ayah!” teriaknya sambil berhambur hendak memeluk sang Ayah. Hendra langsung berjongkok, sambil menahan Putri dan berkata.“Ayah, masih kotor bajunya sayang,” ujarnya sambil mengusap kepala sang anak membuat Putri sedikit cemberut. Bu Hanum yang baru keluar dari kamar mandi lekas menyapa Hendra dan menawarinya mampir terlebih dulu. “Masuk dulu, Dra,” ucapnya menawari Hendra, Pak Budi langsung menimpali.“Udah di tawari, Num, dia nya aja nggak mau,” ucapnya dengan sedikit candaan. Setelah berbincang beberapa saat, Hendra menatap Putri sambil mengusap pipinya lembut. “Yakin, masih mau sama Tante Hanum?” tanya Hendra mencoba meyakinkan kembali Putri. Putri mengangguk sambil berkata.“Iyaa, Ayah. Boleh kan?” jawabnya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. Hendra mengangguk, tapi disisi lain dia merasa tak enak dengan Pak Budi dan Bu Hanum. Karena itu atas permintaan dari Bu Hanum sendiri, Hendra hanya membiarkan nya saja selama anaknya yaitu Putri, nyaman saat bersama mereka. Di tengah perjalanan Hendra, kehabisan bensi motor, hingga akhirnya dia terpaksa mendorong motornya hingga menemukan SPBU terdekat. “Haduh, pake habis bensin segala lagi,” gumam Hendra sambil mendorong motornya di sore itu. Di tengah-tengah dia sedang mendorong motornya... Tin! Tin! suara klakson mobil di belakang membuatnya terlonjak kaget. Begitu menoleh ke arah belakang, Hendra langsung mengenali mobilnya itu. “Bu Kanaya?” ucapnya nyaris tak bersuara. Mobil itu berhenti tepat di depan Hendra, dan motornya. Kanaya turun dengan anggun ke sambil melangkah maju ke arah Hendra yang sedang mematung. “Kenapa motormu didorong?” tanya Kanaya datar, tatapannya menusuk, membuat Hendra langsung merasa kering tenggorokannya. Hendra menggaruk tengkuknya canggung. “I-iya, Bu… bensinnya habis.” Kanaya menghela napas pelan, lalu melirik motornya yang kusam. “Kau bahkan tidak bisa memastikan kendaraanmu cukup untuk pulang. Bagaimana bisa aku percaya, kau mampu menjaga masa depan Putri?” Hendra tercekat. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada jarum. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Kanaya lalu menoleh sekilas ke arah sopirnya. “Panggilkan orang SPBU, biar mereka urus motor ini. Hendra ikut denganku.” “Bu, tapi—” Hendra berusaha menolak, tapi tatapan dingin Kanaya langsung membuat suaranya lenyap di kerongkongan. “Tidak ada ‘tapi’.” Kanaya memotong cepat, nadanya tegas tanpa ruang perdebatan. Ia berjalan melewati Hendra, lalu membuka pintu belakang mobilnya sendiri. “Masuk.” Hendra hanya bisa menatap motor tuanya yang ditinggalkan, lalu menghela napas berat. Dengan langkah ragu ia masuk ke dalam mobil. Aroma interior yang mewah kontras dengan tubuhnya yang berdebu penuh keringat. Ia menunduk, merasa semakin kecil. Kanaya duduk di sampingnya, bersedekap tanpa banyak bicara. Sorot matanya dingin, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketegasannya—sesuatu yang Hendra belum bisa mengerti. Beberapa menit perjalanan sunyi, hingga akhirnya Kanaya membuka suara. “Malam ini, kau akan ikut denganku menemui orang tuaku. Aku sudah katakan tadi.” Ia melirik sekilas, tatapannya menusuk. “Dan aku tidak menerima penolakan.” Hendra menelan ludah. Tangannya mengepal di pangkuan, pikiran berputar liar. Pesan misterius semalam kembali terngiang di kepalanya: ‘Ada orang yang bisa memberi Putri hidup lebih baik daripada kamu.’ “Apa jangan-jangan...?” pikir Hendra setelah mengingat pesan semalam yang dia baca. “Arghh, tidak mungkin Bu Kanaya kan?” Hendra duduk, di dalam mobil menjadi serba salah, takut dirinya mengotori kursi yang dia duduki itu.“Kanaya, kamu dan suami mu. Apakah tidur satu kamar?” tanya Tuan Abraham. Kanaya dan Hendra saling bertatap muka lalu keduanya kembali menoleh ke arah tuan Abraham sambil mengangguk. Tuan Abraham hangat mangut-mangut saja sambil menyesap tehnya. “Aku minta, agar kalian segera memiliki keturunan. Itu syarat dariku jika kamu mau meneruskan usahaku,” lanjut tuan Abraham membuat Hendra dan Kanaya nyaris tersedak dengan ludah nya sendiri. “APA!” ucap keduanya. Tuan Abraham menoleh dengan alis terangkat. “Kenapa? Apa yang salah dengan itu. Bukan kah kalian sepasang suami istri? Kenapa terkejut mendengar itu?” ucap tuan Abraham. Kanaya menghela napas sejenak kemudian melirik ke arah Hendra sejenak. “Tidak secepat itu, Kakek. Semua nya perlu proses.” Tuan Abraham menyesap teh nya lebih dulu sebelum menjawab Kanaya. “Aku tunggu kabar dari kalian.” Setelah mengucapkan itu tuan Abraham pergi bersama asistennya. Meninggalkan Hendra dan Kanaya yang masih diam mematung. Kedu
Suasana kantor Kanaya seketika menjadi heboh, mendengar Ronald di berhentikan dari tempat itu membuat sebagian orang senang, dan sebagian lagi menyayangkannya. Tapi, Kanaya tak peduli dengan itu. Lalu kabar itu pun sampai ke telinga Hendra, yang tau dari asistennya yaitu Rania. Tentu kabar itu menbuat Hendra sangat terkejut. “Apa yang terjadi?” gumam Hendra sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran nya itu. “Apa yang di pikirkan Kanaya sebenarnya?” Saat Hendra sedang melamun, Pintu terbuka tanpa ketukan, muncul lah wanita yang tak lain adalah Kanaya yang berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam. “Kamu sudah mendengar kabar tentang di berhentikan nya, Ronald bukan?” ucap Kanaya sambil dudul di hadapannya. “Apa kau tak tahu, rahasia besar yang sudah di sembunyikan Ronald dan mantan istrimu?” lanjutnya lagi sambil bersidekap dada. Hendra mengerutkan kening, semakin tak mengerti apa maksud dari wanita yang menjadi istri pura-puranya itu. “Maksud mu apa? apa hubungannya
Di perjalanan, Hendra menyetir dengan fokus. Matanya sesekali melirik ke arah Kanaya yang wajahnya terlihat sangat kusut. “Sudah biarkan saja orang seperti dia, biar aku buktikan saja, kalau aku mampu menunjukan kemampuanku,” ucap Hendra berusaha membuat Kanaya tenang. Kanaya menghela nafas, lalu menoleh sekilas ke arah Hendra. “Aku akan memberhentikan dia sebagai direktur keuangan, aku tak peduli lagi dengan orang itu,” ujar Kanaya. Hendra hanya menghela nafas saat mendengarnya, kemudian ia diam dan tak ingin melanjutkan obrolannya. Singkatnya, mobil Kanaya sampai di cafe tujuan nya. Hendra memarkirkan mobil itu, dan keduanya segera turun dari mobil. Tak ada angin tak ada hujan, Kanaya mengalungkan lengannya di tangan Hendra. Hal itu membuat Hendra sedikit terkejut, kenapa Kanaya melakukannya. Saat Hendra hendak bertanya. Kanaya langsung mengajak nya berjalan tanpa memberi kesempatan Hendra berbicara. “Ada apa dengan dia? Tumben sekali,” batin Hendra. Saat kedua
Pagi harinya, Hendra membuka matanya perlahan. Dan bersiap, untuk membersihkan diri, ia membungkus lukanya dengan penutup khusus, setelah selesai membersihkan diri Hendra sudah terlihat rapih. Di luar suara Putri sudah terdengar, suaranya terdengar riang karena sedang di ajak bermain oleh seseorang yang tak lain adalah Kanaya. Begitu Hendra keluar, keduanya menoleh. Hendra langsung di sambut oleh anaknya yang berlari kecil ke arah Hendra. “Ayah! Aku di belikan ini oleh Mama cantik!” ujarnya dengan mata berbinar sambil menunjukan boneka beruang berwarna coklat. Hendra pun mensejajarkan tubuhnya dengan Putri. “Wahhh, bonekanya cantik, kaya Putri,” ucap Hendra sambil memuji sang anak. “Terus, Putri bilang apa sama mama cantik?” lanjutnya. Kanaya yang sedang duduk di sofa terlihat sudah rapih, ia menunggu giliran untuk berbicara. Di wajahnya jelas terukir sedikit senyuman meskipun samar, terlebih saat Putri menyebutnya Mama cantik. “Iyaa dong Ayah, Putri bilang 'Terimakasih' udah bel
Setelah kejadian terror itu. Hendra menjadi berpikir, siapa yang berani melakukan itu ke kediaman Kanaya? pikirnya. Hendra melihat ke arah Putri yang sedang tertidur pulas di sampingnya, sementara itu dirinya sedang sibuk dengan laptopnya di ruang santai dekat kamarnya dan kamar Kanaya. Rasa kantuk mulai menghinggapi usai dia menelan obat pereda nyeri dari dokter. Hendra menutup laptopnya, dan bersandar ke sofa tempat ia duduk bersama Putri. Mainan yang berantakan dan sisa makanan, belum sempat di bereskan sehingga, begitu Hendra terlelap tidur Kanaya pulang tanpa ia sadari. “Astaga, kenapa mereka tertidur disini?” ucapnya usai menaiki tangga terakhir. Kanaya berjalan mendekati keduanya, saat melihat sosok Putri, perasaannya menjadi hangat, dan tanpa sadar Kanaya menyunggingkan senyumnya. Matanya menyapu ruangan itu, sedikit berantakan. Pikirnya, akan tetapi entah ada dorongan apa, ia menyimpan tasnya di atas meja dekat laptop Hendra dan memunguti sampah lalu membereskan main
Hendra berdiri sambil menatap keluar jendela, infus masih terpasang di lengannya. Matanya terus memperhatikan ke arah luar, sesekali ia mencuri pandang ke arah Kanaya. “Ternyata, Kanaya orang yang baik hati, meskipun sedikit cuek dan terlihat tidak peduli,” gumamnya. Saat tatapan keduanya bertemu, Hendra segera memalingkan wajah sambil tersenyum tipis. Terlebih wajah Kanaya memang terlihat sangat ketus dan judes. Yaa, mungkin itu sudah menjadi karakternya. Pikir Hendra. Singkatnya, dua hari sudah Hendra berada di rumah sakit itu, perjalanan yang tadinya sebuah liburan bagi pasangan pengantin malah menjadi liburan yang kelam. Akan tetapi, karena kejadian itu membuat Hendra jadi tahu, sifat Kanaya sebenarnya sangatlah perhatian meskipun terkadang sikapnya sangat menyebalkan. “Apa kamu sudah siap?” tanya Kanaya sedikit berbeda dari sebelumnya. Terdengar lebih lembut di telinga Hendra. Tidak bisa tidak, melihat sikap Kanaya Hendra di buat tersenyum. Ia kemudian mengangguk sambil







