LOGIN"Rendy?!" mataku melotot menatap laki-laki yang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu. "Kurang ajar kamu, ya! Datang-datang main tendang pintu toko orang! Kamu pikir ini lapak milik nenek moyangmu?!"
Rendy tidak memedulikan semprotanku. Pandangan mata lelaki bersetelan jas murah itu tertuju lurus pada bundel dokumen di atas meja kasir, lalu beralih ke sosok Arlan yang berdiri menjulang di sampingku. Wajah Rendy memerah padam, menyiratkan perpaduan antara dengki dan amarah yang meledak-ledak.
"Aku tanya sekali lagi, Maya! Siapa pria ini?!" bentak Rendy seraya melangkah maju, dengan pipi mengembang bulat menyerupai siluman kodok setiap kali emosinya memuncak. "Kamu menolak pinjaman bantuan dari perusahaanku minggu lalu, tapi sekarang kamu malah berduaan sama pria asing? Kamu jual diri demi melunasi utang toko tua ini, hah?!"
Ya ampun, bibir siluman kodok satu ini benar-benar minta ditabok pakai loyang kue nastar panas!
Dulu, saat masih berpacaran, aku pikir sikap posesif Rendy adalah bentuk rasa sayang. Namun setelah tahu dia diam-diam menjual data resep rahasia keluargaku ke perusahaan kompetitor demi mendapat kenaikan jabatan, aku sadar dia hanyalah seekor parasit beracun berwujud manusia. Dan sekarang, spesies siluman kodok ini berani-beraninya menginjakkan kaki di sini dengan tuduhan murahan.
"Jaga mulutmu, Rendy!" pekikku, melangkah maju menyambar celemek kain di meja kasir. "Kamu yang membocorkan masalah keuangan toko ini ke Paman Hendra, 'kan?! Jangan pura-pura jadi pahlawan kesiangan!"
Sebelum Rendy sempat membalas, sebuah suara dingin memotong perdebatan kami.
"Rian," panggil Arlan tanpa mengalihkan pandangannya dari Rendy.
"Siap, Pak Arlan," sahut Rian yang sigap berdiri membentengi meja.
Arlan mengambil sebotol cairan pembersih tangan dari sakunya, meneteskan tiga tetes ke telapak tangan, lalu menggosokkannya dengan gerakan memutar yang sangat presisi sesuai petunjuk standar medis.
"Tolong ukur jarak berdiri pria ini dari saya," titip Arlan datar. "Dia berada di radius kurang dari dua meter tanpa masker, dan frekuensi napasnya yang tidak teratur berpotensi menyebarkan droplet kecemasan di area steril ini."
Aku melongo. Droplet kecemasan?! Demi apa ada istilah konyol kayak begitu?!
Rendy yang merasa diremehkan kian naik pitam. Urat-urat di lehernya menegang. "Heh, Pak Tua sok kaya! Kamu tidak tahu siapa aku?! Aku Rendy, Manajer Pemasaran Utama di Synergy Group! Kalau kamu pikir bisa main-main di wilayah ini, kamu salah besar!"
Arlan mengangkat sebelah alisnya. Tatapannya sangat tenang, mirip seorang profesor yang sedang mengamati spesies mikroba di bawah mikroskop.
"Synergy Group?" gumam Arlan pelan, lalu menoleh pada Rian. "Bukannya perusahaan anak cabang yang laporan keuangannya baru saja kita tolak auditnya kemarin sore karena dugaan penggelembungan dana?"
Wajah Rendy mendadak pucat pasi. Suaranya tercekat di kerongkongan. "Ka... kamu..."
"Nama saya Arlan Devan," potong Arlan dingin, melangkah satu meter mendekati Rendy tetapi tetap menjaga jarak aman satu setengah meter. "Dan wanita yang baru saja kamu bentak ini adalah calon istri sah saya. Jika kamu melangkah satu sentimeter lagi mendekatinya, saya tidak hanya akan menuntutmu atas tindakan perusakan properti dan pencemaran nama baik, tetapi juga memastikan kariermu di dunia korporat selesai sebelum matahari terbenam."
Ancaman itu diucapkan tanpa nada tinggi, tanpa emosi berlebih, tetapi dampaknya seperti ledakan bom atom di dalam toko.
Rendy tersentak mundur. Matanya membelalak menatap Arlan penuh ketakutan. Dia jelas tahu nama Devan Corp bukan cuma gertakan sambal. Satu sentilan jari Arlan cukup untuk membuat perusahaan tempat Rendy bekerja gulung tikar dalam hitungan hari.
"Maya..." Rendy menatapku dengan napas memburu, berusaha mencari celah. "Kamu pasti dijebak! Pria ini cuma memanfaatkanmu! Mana ada CEO kaya mau menikah sama gadis toko kue kalau tidak ada udang di balik batu?!"
"Udang atau paus sekalipun, itu bukan urusanmu lagi, siluman kodok!" semprotku puas. "Sekarang angkat kakimu dari toko ibuku sebelum aku siram pakai air rebusan mie panas!"
Rian maju selangkah dengan tubuh kekarnya, mengisyaratkan pintu keluar. Dengan wajah menahan malu yang luar biasa, Rendy akhirnya melangkah mundur, menatapku dan Arlan dengan pandangan penuh dendam sebelum akhirnya terbirit-birit pergi meninggalkan area toko.
Aku mengembaskan napas lega yang amat panjang. Rasanya seperti baru saja mengusir hama tanaman dari pekarangan rumah. Namun, kelegaanku tidak bertahan lebih dari tiga detik.
"Penyemprotan disinfektan area pintu harus segera dilakukan," ujar Arlan santai, membetulkan posisi jam tangan mewahnya. Lalu matanya kembali menatapku intens. "Kita lanjutkan pembahasan kontrak kita, Maya."
"Tunggu dulu," aku menyilangkan tangan di dada, menatap pria kaku di depanku ini dengan dahi berkerut. "Soal pasal-pasal absurd tadi... aku tetap tidak setuju! Kenapa harus ada denda sepuluh miliar kalau rahasia ini bocor? Dan kenapa harus ada aturan dilarang kontak fisik tanpa SOP?!"
"Karena pernikahan ini berisiko tinggi," jawab Arlan tenang. "Grup oposisi di Dewan Komisaris saya sedang mencari celah sekecil apa pun untuk menjatuhkan saya. Jika mereka tahu pernikahan ini hanya kontrak kerja sama, hak veto kepemimpinan saya akan dicabut. Dan mengenai pasal kontak fisik..."
Arlan mendekat setapak. Aroma parfum woody yang mahal dan menyegarkan mendadak memenuhi indra penciumanku.
"...saya memiliki tingkat ketidaknyamanan yang tinggi terhadap sentuhan fisik tanpa inkubasi emosional yang jelas," lanjutnya kaku. "Kecuali di depan umum demi kepentingan drama publik."
"Drama publik?!" pekikku.
"Benar. Dan drama itu dimulai hari ini," Arlan melirik jam tangannya. "SOP Pasal 15 Lampiran C menyebutkan, Calon istri wajib berpindah tempat tinggal ke kediaman Pihak Pertama maksimal tiga jam setelah kesepakatan diajukan, demi meminimalisir ancaman intelijen dari pihak kompetitor seperti mantan kekasihmu tadi."
"Apa?! Pindah hari ini?!" mataku hampir melompat keluar dari kelopaknya. "Kamu gila?! Ibuku sedang sakit, dan toko ini harus tetap buka!"
"Tante Rahmi akan dirawat oleh tim medis pribadi saya di rumah sakit rujukan terbaik mulai sore ini," potong Arlan seolah sudah memperhitungkan segalanya hingga detail terkecil. "Dan toko ini akan dijaga oleh tim keamanan terlatih. Kamu punya waktu empat puluh lima menit untuk mengepak barang-barangmu."
Aku berdiri mematung di tengah toko kue. Kepalaku serasa mau pecah membayangkan hidup dalam satu atap bersama pria kaku, paranoid, dan penuh aturan konyol ini.
Namun saat aku hendak memprotes keras, dari luar jendela toko, aku menangkap bayangan seseorang sedang mengarahkan lensa kamera tersembunyi ke arah kami. Rendy belum benar-benar pergi siluman kodok itu sedang mengintai dari balik mobilnya.
Arlan yang menyadari arah pandanganku mendadak mengikis jarak di antara kami. Tanpa peringatan, tangan jangkungnya merengkuh pinggangku, menarik tubuhku merapat ke dadanya yang tegap, lalu berbisik tepat di samping telingaku dengan suaranya yang berat.
"Senyum, Maya. Siluman kodokmu sedang mengambil foto. Mari kita beri dia pertunjukan awal."
Arlan masih menatapku dengan wajah lempeng tanpa dosa, seolah baru saja menyelesaikan presentasi laporan keuangan bulanan, bukan mengusir ibu kandungnya sendiri dari penthouse.Arlan menggeser piring pancake-nya yang sudah bersih, lalu meraih ponselnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ponsel di dalam saku rokku bergetar menyuarakan denting notifikasi perbankan.Aku merogoh saku, membuka kunci layar, dan seketika mataku membelalak lebar. Sebuah transferan dana masuk dalam jumlah yang sangat fantastis cukup untuk membayar cicilan operasional toko kueku selama tiga bulan ke depan."Arlan... ini uang apa?" tanyaku terbata-bata, menatap angka nol berderet di layar ponselku dengan pandangan tak percaya."Bonus insentif KPI," jawab Arlan tenang, merapikan letak jam tangan peraknya. "Berdasarkan SOP Rumah Tangga Devan Pasal Empat Ayat Dua, pencapaian Indikator Kinerja Utama yang melebihi target dalam situasi krisis berhak menerima insentif tunai
Pertanyaan itu jelas sebuah tes berkelas. Nyonya Sofia ingin membuktikan apakah aku benar-benar memperhatikan detail kebiasaan Arlan atau sekadar formalitas.Sebelum Arlan sempat membacakan pasal-pasal SOP lainnya yang mungkin membuat ibunya makin emosi, aku dengan cepat melangkah keluar dari balik punggung lebarnya."Mohon tunggu sebentar, Ibu," ucapku dengan senyuman paling ramah dan sopan.Aku segera melangkah cepat menuju pantry dapur lantai satu. Sebagai seorang pembuat kue profesional yang terbiasa mengukur suhu lelehan cokelat dan ketepatan adonan hingga tingkat gram dan derajat terkecil, menyeduh teh dengan presisi tinggi bukanlah hal sulit. Bagi seorang baker, akurasi suhu adalah makanan sehari-hari.Aku menyalakan teko pemanas digital di pantry, mengatur suhunya tepat di angka delapan puluh lima derajat Celsius, lalu menyeduh daun teh Earl Grey pilihan. Tepat dalam waktu tiga menit empat puluh detik, aku kembali ke meja makan sambil membawa cangkir porselen putih berisi teh
Keheningan di ruang makan lantai satu mendadak terasa begitu pekat. Pak Joko asisten rumah tangga Arlan baru saja mundur dua langkah setelah menata piring-piring di meja, ikut tertegun melihat kehadiran Nyonya Sofia yang mendadak. Nyonya Sofia masih menatap putranya dengan mata membelalak lebar, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku di pukul setengah tujuh pagi ini.Aku sendiri masih berdiri kaku di balik punggung lebar Arlan. Tanganku meremas pinggiran rok formal yang kukenakan, sementara jantungku berdesir hebat menyaksikan pria kaku yang gila SOP ini begitu sigap melindungiku dari tatapan menghakimi ibunya.Arlan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan tenang, ia mengisyaratkan Pak Joko untuk kembali ke area belakang, lalu mengeluarkan ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Usapan jarinya dengan cepat membuka sebuah dokumen PDF bertajuk resmi."Ibu, mohon maaf jika saya harus memotong alur interogasi pagi ini," ucap Arlan dat
Pusing dan kantukku mendadak hilang tanpa sisa. Aku berdiri dari kasur, mengabaikan perih di tumitku. "Arlan, apa maksudnya? Toko kue Ibu punya kontrak bulanan dengan distributor terigu dan mentega di kota ini. Kalau diputus malam ini, besok toko kami tidak bisa beroperasi!"Arlan mengisyaratkan aku tenang dengan mengangkat tangannya. Wajahnya tetap datar. "Bicaralah dengan tenang, Rian," ujar Arlan pada ponselnya yang dipasang mode speaker. "Jelaskan urutan kejadiannya."Suara Rian terdengar panik. "Pak Arlan, setengah jam lalu Rendy mendatangi gudang PT Boga Nusantara. Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk memborong seluruh stok tepung dan mentega pesanan Toko Kue Maya. Pemilik gudang tergiur dan berniat membatalkan pengiriman subuh besok."Darahku tersirap. Rendy benar-benar licik! Dia tahu Toko Kue Ibu punya pesanan ratusan kotak kue untuk katering besok siang. Jika bahan baku batal dikirim subuh nanti, toko kami kena denda penalti dan nama baik yang dibangun Ibu bertahun-tahu
Kilatan lampu kamera jurnalis meledak di sekitar kami, mengabadikan momen spontan yang pasti menjadi berita utama esok pagi. Di hadapan kami, Rendy berdiri mematung. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini pucat pasi dengan bibir mengap bagai Kodok kehabisan pasokan oksigen."Tuduhan tidak berdasar dari pihak Synergy Group ini membuktikan betapa frustrasinya pesaing bisnis kami," suara Arlan menggema tenang menguasai deretan mikrofon. "Saya dan Maya tidak membutuhkan pembuktian di atas lembar hukum untuk menunjukkan komitmen kami. Selamat malam."Tanpa memberi ruang pertanyaan bagi jurnalis, Arlan melingkarkan jemarinya di pinggangku, menuntunku melangkah memasuki Grand Ballroom. Suasana di dalam sangat megah dengan lampu gantung kristal dan alunan musik klasik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi tujuh sentimeter mendadak oleng.Glek!Tubuhku hampir terjungkal jika Arlan tidak sigap menahan siku lenganku."Jaga keseimbanganmu," tegurnya
Melalui pantulan kaca depan toko, aku melihat Rendy di dalam mobilnya memegang ponsel. Pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap meledak karena menahan cemburu. Dengusan napasku terlepas samar. Jika bukan karena keadaan darurat, mana sudi aku membiarkan patung es di belakangku ini memegang pinggangku seenak jidat.Begitu mobil Rendy melesat pergi, Arlan langsung melepaskan rangkulannya. Dia menyemprotkan cairan steril saku ke telapak tangannya seraya mengembaskan napas panjang."SOP Lampiran D terlaksana," kata Arlan dingin. "Ancaman intelijen pertama berhasil diminimalisir."Aku menepuk-nepuk bajuku dengan sengit. "Lain kali kalau mau peluk bilang dulu! Katanya ada pasal larangan kontak fisik tanpa SOP satu hari sebelumnya?!""Itu termasuk klausul keadaan darurat," sahutnya datar, seolah baru membaca pasal lalu lintas.Suara klakson mobil yang bernada halus terdengar dari luar. Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pri







