"Rendy?!" mataku melotot menatap laki-laki yang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu. "Kurang ajar kamu, ya! Datang-datang main tendang pintu toko orang! Kamu pikir ini lapak milik nenek moyangmu?!"Rendy tidak memedulikan semprotanku. Pandangan mata lelaki bersetelan jas murah itu tertuju lurus pada bundel dokumen di atas meja kasir, lalu beralih ke sosok Arlan yang berdiri menjulang di sampingku. Wajah Rendy memerah padam, menyiratkan perpaduan antara dengki dan amarah yang meledak-ledak."Aku tanya sekali lagi, Maya! Siapa pria ini?!" bentak Rendy seraya melangkah maju, dengan pipi mengembang bulat menyerupai siluman kodok setiap kali emosinya memuncak. "Kamu menolak pinjaman bantuan dari perusahaanku minggu lalu, tapi sekarang kamu malah berduaan sama pria asing? Kamu jual diri demi melunasi utang toko tua ini, hah?!"Ya ampun, bibir siluman kodok satu ini benar-benar minta ditabok pakai loyang kue nastar panas!Dulu, saat masih berpacaran, aku pikir sikap posesif Rendy adala
Last Updated : 2026-10-02 Read more