Home / Rumah Tangga / Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta / BAB 3: GAUN MALAM DAN AKSI MESRA MENDADAK

Share

BAB 3: GAUN MALAM DAN AKSI MESRA MENDADAK

Author: Dominus
last update publish date: 2026-10-02 11:56:35

Melalui pantulan kaca depan toko, aku melihat Rendy di dalam mobilnya memegang ponsel. Pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap meledak karena menahan cemburu. Dengusan napasku terlepas samar. Jika bukan karena keadaan darurat, mana sudi aku membiarkan patung es di belakangku ini memegang pinggangku seenak jidat.

Begitu mobil Rendy melesat pergi, Arlan langsung melepaskan rangkulannya. Dia menyemprotkan cairan steril saku ke telapak tangannya seraya mengembaskan napas panjang.

"SOP Lampiran D terlaksana," kata Arlan dingin. "Ancaman intelijen pertama berhasil diminimalisir."

Aku menepuk-nepuk bajuku dengan sengit. "Lain kali kalau mau peluk bilang dulu! Katanya ada pasal larangan kontak fisik tanpa SOP satu hari sebelumnya?!"

"Itu termasuk klausul keadaan darurat," sahutnya datar, seolah baru membaca pasal lalu lintas.

Suara klakson mobil yang bernada halus terdengar dari luar. Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pria paruh baya berseragam rapi dengan senyum sangat ramah.

"Selamat siang, Pak Arlan," sapa pria itu seraya membungkuk hormat, lalu menatapku dan Ibu dengan binar hangat. "Ibu Rahmi dan Nyonya Maya, ya? Perkenalkan, saya Joko. Sopir pribadi sekaligus penanggung jawab rumah Pak Arlan."

Nyonya Maya?! Batin menjerit heboh. Ya ampun, panggilan 'Nyonya' bikin umurku berasa melonjak dua puluh tahun mirip ibu-ibu ketua arisan!

"Aduh, Pak Joko... panggil Maya atau Mbak Maya saja," bisikku canggung. "Panggilan Nyonya bikin kepalaku berat seperti ketiban mahkota besi."

Pak Joko terkekeh pelan. "Waduh, tidak berani, Nyonya Maya. Kalau Pak Arlan mendengar saya memanggil Mbak tanpa label resmi, bisa kena pasal potongan gaji SOP Lampiran F saya."

Senyum Pak Joko yang tulus. Berbeda dari Arlan yang dingin dan Rian yang kaku, Pak Joko memancarkan kehangatan seorang paman yang penyabar.

"Pak Joko, pastikan Ibu Rahmi diantar ke Rumah Sakit Medika menggunakan ambulans privat tim medis kita," titah Arlan formal. "Semua perawatan VVIP sudah disiapkan."

Ibu yang memegangi dadanya mendadak membelalak kaget. "Aduh, Nak Arlan... tidak usah repot-repot, ya. Biaya perawatan VVIP pasti mahal sekali. Kami ini orang biasa, tidak akan sanggup bayarnyas"

"Semua tagihan medis sudah dialokasikan ke dana sosial korporasi, Ibu Rahmi," potong Arlan cepat tanpa kompromi. "Menolak fasilitas kesehatan berstandar SOP perusahaan hanya akan menurunkan efisiensi kesembuhan Anda sebesar empat puluh persen."

Ibu melongo kaget, kehabisan kata-kata menatap calon menantunya yang bicara mirip mesin hitung otomatis.

"Siap, Pak Arlan," jawab Pak Joko cekatan, lalu berbisik pelan padaku saat membantuku membawakan tas Ibu. “Nyonya Maya tenang saja, Pak Arlan ini bicaranya memang kaku mirip mesin kasir rusak, tapi hatinya Baik. Cuma ya itu... mirip kulkas tiga pintu."

Bibirku refleks mengulas senyum. Paling tidak, ada satu manusia normal di lingkungan Arlan nantinya.

Setelah Ibu aman dalam pengawalan tim medis menuju rumah sakit, Arlan menyuruhku masuk ke dalam sedan mewahnya. Pak Joko meluncur membelah kemacetan kota.

"Kita mau ke mana?" tanyaku cemas. "Katanya aku punya waktu untuk kemas-kemas barang di rumah?"

"Jadwal bergeser," sahut Arlan tanpa berpaling dari layar gawainya. "Malam ini ada Gala Malam Tahunan Devan Corp. Seluruh jajaran komisaris dan media nasional akan hadir."

"Terus hubungannya sama aku apa?!"

"Kau akan hadir sebagai tunanganku," Arlan menoleh, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai. "Dan penampilanmu saat ini sangat tidak memenuhi standar etiket malam korporat."

Aku menunduk menatap kaos oblong kuning gading dan celana jeans belekku yang terkena noda adonan kue. Ya ampun, benar juga. Tapi cara bicaranya itu lho, bikin elusan dada berulang kali!

Tiga puluh menit kemudian, aku diseret masuk ke butik perancang busana ternama. Dalam hitungan jam, tim penata rias menyulap diriku habis-habisan. Kaos oblongku berganti gaun malam satin berwarna biru gelap yang elegan, menyingkap bahu dan melekat pas di tubuhku. Rambutku disanggul modern dengan riasan menawan.

Saat aku keluar dari kamar ganti menggunakan sepatu hak tinggi tujuh sentimeter, Arlan yang sedang membaca dokumen mendadak terdiam. Matanya menatapku lurus selama beberapa detik tanpa berkedip.

"Gimana?" tanyaku agak risih, membetulkan potongan gaun di bagian dada. "Aneh, ya? Rasanya seperti dibungkus karung beras mahal."

Arlan berdeham pelan, berpaling cepat membetulkan letak dasinya. "Cukup... memenuhi ambang batas kelayakan visual."

Dasar gengsi setinggi langit! Bilang cantik apa susahnya sih?! batin menjerit gemas.

Gedung Grand Ballroom Devan Corp sudah dipenuhi lautan manusia bersetelan mewah saat kami tiba. Kilatan lampu kamera wartawan langsung menyambar begitu Pak Joko membukakan pintu mobil untuk kami. Arlan mengulurkan siku lengannya padaku.

"SOP Pasal 14," bisik Arlan kaku saat kami melangkah di atas karpet merah. "Berjalan sejajar dengan kecepatan dua kilometer per jam, tersenyum simetris, dan jangan sekali-kali menginjak sepatu saya."

"Siap, Yang Mulia Kapten Kaku," balasku penuh sarkas di balik senyuman palsuku ke arah kamera.

Para wartawan mengerubungi kami, melontarkan pertanyaan bertubi-tubi tentang sosok wanita yang mendampingi sang CEO Devan Corp. Arlan menjawab diplomatis. Semuanya berjalan sesuai rencana kaku Arlan, sampai sebuah suara tinggi penuh provokasi memotong kerumunan.

"Palsu! Pernikahan ini cuma sandiwara murahan!"

Kerumunan terbelah. Rendy melangkah maju mengenakan pin peserta dari Synergy Group. Wajahnya merah padam, dan pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap menyemburkan racunnya di depan kamera.

"Pria ini memanfaatkan utang toko kue milik keluarga Maya untuk membeli hubungan rekayasa ini!" teriak Rendy lantang, menunjuk wajah Arlan. "Jangan percaya pada mereka! Ini cuma kesepakatan bisnis demi menyelamatkan kursi CEO Arlan Devan dari ancaman dewan komisaris!"

Gumam kaget dan bisik-bisik riuh seketika meledak di seluruh ruangan. Puluhan kamera wartawan kini menyorot tepat ke wajahku dan Arlan dengan lampu kilat yang membabi buta. Jantungku serasa berhenti berdetak. Mampus aku! Semuanya terbongkar di hari pertama!

Namun, Arlan tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

Secara mendadak, Arlan memutar tubuhku. Tangan kirinya merengkuh pinggangku kencang, menepis jarak di antara kami hingga dadaku menempel pas di jas mewahnya. Tangan kanannya merayap lembut ke tengkukku, menengadahkan wajahku, dan Arlan mendaratkan kecupan hangat yang sangat dalam di pipi kiriku persis di hadapan puluhan kamera yang terus menyala.

Suara jepretan kamera makin histeris. Aku mematung kaku dengan mata membelalak lebar, sementara Rendy berdiri mematung dengan mulut mengap lebar bagai kodok kehabisan napas.

Arlan melepaskan ciumannya perlahan, menatap mataku yang syok berat, lalu berbisik dengan nada sangat dingin yang hanya bisa didengar olehku.

"Tahan napasmu, Maya. Ini improvisasi SOP di luar kontrak."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 8: Insentif KPI dan Panggilan Darurat

    Arlan masih menatapku dengan wajah lempeng tanpa dosa, seolah baru saja menyelesaikan presentasi laporan keuangan bulanan, bukan mengusir ibu kandungnya sendiri dari penthouse.Arlan menggeser piring pancake-nya yang sudah bersih, lalu meraih ponselnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ponsel di dalam saku rokku bergetar menyuarakan denting notifikasi perbankan.Aku merogoh saku, membuka kunci layar, dan seketika mataku membelalak lebar. Sebuah transferan dana masuk dalam jumlah yang sangat fantastis cukup untuk membayar cicilan operasional toko kueku selama tiga bulan ke depan."Arlan... ini uang apa?" tanyaku terbata-bata, menatap angka nol berderet di layar ponselku dengan pandangan tak percaya."Bonus insentif KPI," jawab Arlan tenang, merapikan letak jam tangan peraknya. "Berdasarkan SOP Rumah Tangga Devan Pasal Empat Ayat Dua, pencapaian Indikator Kinerja Utama yang melebihi target dalam situasi krisis berhak menerima insentif tunai

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 7: Ujian Teh dan Biaya Kenyamanan

    Pertanyaan itu jelas sebuah tes berkelas. Nyonya Sofia ingin membuktikan apakah aku benar-benar memperhatikan detail kebiasaan Arlan atau sekadar formalitas.Sebelum Arlan sempat membacakan pasal-pasal SOP lainnya yang mungkin membuat ibunya makin emosi, aku dengan cepat melangkah keluar dari balik punggung lebarnya."Mohon tunggu sebentar, Ibu," ucapku dengan senyuman paling ramah dan sopan.Aku segera melangkah cepat menuju pantry dapur lantai satu. Sebagai seorang pembuat kue profesional yang terbiasa mengukur suhu lelehan cokelat dan ketepatan adonan hingga tingkat gram dan derajat terkecil, menyeduh teh dengan presisi tinggi bukanlah hal sulit. Bagi seorang baker, akurasi suhu adalah makanan sehari-hari.Aku menyalakan teko pemanas digital di pantry, mengatur suhunya tepat di angka delapan puluh lima derajat Celsius, lalu menyeduh daun teh Earl Grey pilihan. Tepat dalam waktu tiga menit empat puluh detik, aku kembali ke meja makan sambil membawa cangkir porselen putih berisi teh

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 6: SOP Meja Makan Nyonya Sofia

    Keheningan di ruang makan lantai satu mendadak terasa begitu pekat. Pak Joko asisten rumah tangga Arlan baru saja mundur dua langkah setelah menata piring-piring di meja, ikut tertegun melihat kehadiran Nyonya Sofia yang mendadak. Nyonya Sofia masih menatap putranya dengan mata membelalak lebar, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku di pukul setengah tujuh pagi ini.Aku sendiri masih berdiri kaku di balik punggung lebar Arlan. Tanganku meremas pinggiran rok formal yang kukenakan, sementara jantungku berdesir hebat menyaksikan pria kaku yang gila SOP ini begitu sigap melindungiku dari tatapan menghakimi ibunya.Arlan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan tenang, ia mengisyaratkan Pak Joko untuk kembali ke area belakang, lalu mengeluarkan ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Usapan jarinya dengan cepat membuka sebuah dokumen PDF bertajuk resmi."Ibu, mohon maaf jika saya harus memotong alur interogasi pagi ini," ucap Arlan dat

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 5: AKUISISI KILAT PUKUL SEBELAS MALAM

    Pusing dan kantukku mendadak hilang tanpa sisa. Aku berdiri dari kasur, mengabaikan perih di tumitku. "Arlan, apa maksudnya? Toko kue Ibu punya kontrak bulanan dengan distributor terigu dan mentega di kota ini. Kalau diputus malam ini, besok toko kami tidak bisa beroperasi!"Arlan mengisyaratkan aku tenang dengan mengangkat tangannya. Wajahnya tetap datar. "Bicaralah dengan tenang, Rian," ujar Arlan pada ponselnya yang dipasang mode speaker. "Jelaskan urutan kejadiannya."Suara Rian terdengar panik. "Pak Arlan, setengah jam lalu Rendy mendatangi gudang PT Boga Nusantara. Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk memborong seluruh stok tepung dan mentega pesanan Toko Kue Maya. Pemilik gudang tergiur dan berniat membatalkan pengiriman subuh besok."Darahku tersirap. Rendy benar-benar licik! Dia tahu Toko Kue Ibu punya pesanan ratusan kotak kue untuk katering besok siang. Jika bahan baku batal dikirim subuh nanti, toko kami kena denda penalti dan nama baik yang dibangun Ibu bertahun-tahu

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 4: GARIS STERIL DAN TEH TANPA PASA

    Kilatan lampu kamera jurnalis meledak di sekitar kami, mengabadikan momen spontan yang pasti menjadi berita utama esok pagi. Di hadapan kami, Rendy berdiri mematung. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini pucat pasi dengan bibir mengap bagai Kodok kehabisan pasokan oksigen."Tuduhan tidak berdasar dari pihak Synergy Group ini membuktikan betapa frustrasinya pesaing bisnis kami," suara Arlan menggema tenang menguasai deretan mikrofon. "Saya dan Maya tidak membutuhkan pembuktian di atas lembar hukum untuk menunjukkan komitmen kami. Selamat malam."Tanpa memberi ruang pertanyaan bagi jurnalis, Arlan melingkarkan jemarinya di pinggangku, menuntunku melangkah memasuki Grand Ballroom. Suasana di dalam sangat megah dengan lampu gantung kristal dan alunan musik klasik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi tujuh sentimeter mendadak oleng.Glek!Tubuhku hampir terjungkal jika Arlan tidak sigap menahan siku lenganku."Jaga keseimbanganmu," tegurnya

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 3: GAUN MALAM DAN AKSI MESRA MENDADAK

    Melalui pantulan kaca depan toko, aku melihat Rendy di dalam mobilnya memegang ponsel. Pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap meledak karena menahan cemburu. Dengusan napasku terlepas samar. Jika bukan karena keadaan darurat, mana sudi aku membiarkan patung es di belakangku ini memegang pinggangku seenak jidat.Begitu mobil Rendy melesat pergi, Arlan langsung melepaskan rangkulannya. Dia menyemprotkan cairan steril saku ke telapak tangannya seraya mengembaskan napas panjang."SOP Lampiran D terlaksana," kata Arlan dingin. "Ancaman intelijen pertama berhasil diminimalisir."Aku menepuk-nepuk bajuku dengan sengit. "Lain kali kalau mau peluk bilang dulu! Katanya ada pasal larangan kontak fisik tanpa SOP satu hari sebelumnya?!""Itu termasuk klausul keadaan darurat," sahutnya datar, seolah baru membaca pasal lalu lintas.Suara klakson mobil yang bernada halus terdengar dari luar. Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status