Se connecterSabtu siang, pukul 13.00 WIB. Setelah pesanan pelanggan pagi selesai diproses dan sebagian dus untuk resepsi esok hari dipindahkan ke ruang penyimpanan, suasana Toko Kue Lestari kembali tenang. Cahaya matahari menembus jendela lantai dua dan jatuh di atas meja kayu ruang keluarga. Dari halaman samping terdengar suara siulan Pak Joko yang sesekali terputus oleh bunyi sikat pel bergesekan dengan lantai teras.Aku duduk berhadapan dengan Arlan sambil menikmati teh melati hangat. Pak Joko sengaja memilih bekerja di luar agar kami bisa beristirahat sejenak. Sesekali ia melongok ke arah jendela, memastikan semuanya aman, lalu kembali bersiul dengan nada yang terdengar seperti lagu yang lupa bagian tengahnya.“Pak Joko sepertinya belum bisa melepaskan sikat pelnya,” kataku sambil tersenyum.Arlan melirik ke halaman. “Setelah kejadian kemarin, dia merasa perlu memastikan semua perlengkapan kebersihan berada dalam kondisi siap pakai.”“Kamu membiarkannya membawa sikat pel seperti perlengkapan
Sabtu pagi, pukul 08.30 WIB. Udara di sekitar Toko Kue Lestari terasa sejuk setelah gerimis tipis membasahi halaman samping. Sejak subuh, dapur utama sudah ramai oleh denting loyang, bunyi oven, dan aroma mentega Wijsman yang berpadu dengan kayu manis serta vanila. Pesanan kudapan untuk sebuah resepsi pernikahan yang harus dikirim besok pagi membuat semua orang bergerak lebih cepat, tetapi aku tidak ingin kecepatan mengalahkan ketelitian.Aku mengenakan apron katun krem dengan rambut terikat rapi. Di meja produksi, beberapa toples nastar dan kastengel sudah disusun berdasarkan nomor batch. Aku memeriksa label, tanggal produksi, dan catatan bahan satu per satu. Di dekat meja kasir, Ibu Rahmi duduk di kursi rodanya sambil menikmati teh melati hangat. Wajahnya tampak lebih segar setelah cukup beristirahat, meski aku tetap meminta Laras memastikan bel panggil dan obat Ibu berada dalam jangkauan.“Laras, tolong cocokkan lagi nomor batch pada dus yang akan dikirim besok dengan lembar produk
Jumat sore, pukul 16.00 WIB. Setelah Nyonya Sofia berpamitan dari ruko, Arlan harus kembali ke Gedung Devan Corp untuk menyelesaikan beberapa urusan yang tertunda. Aku memilih tetap di Toko Kue Lestari. Ibu baru saja beristirahat setelah percakapan panjang siang tadi, sementara Laras perlu memastikan pesanan akhir pekan tidak terbengkalai. Kami sepakat Arlan akan mengabariku begitu menerima perkembangan resmi dari kantor.Aku sedang merapikan catatan stok di meja dekat dapur ketika ponselku bergetar. Nama Arlan muncul di layar. Begitu kuangkat, suaranya terdengar lebih tenang daripada pagi tadi, meskipun ada bunyi ketikan dan gesekan kertas di latar belakang.“Kamu sedang sibuk, Maya?” tanyanya.“Baru selesai mencocokkan label batch. Ibu sedang istirahat. Ada perkembangan di kantor?”“Ada catatan pendahuluan dari Tim Pemeriksaan Independen. Saya ingin kamu mendengarnya langsung, supaya tidak ada kabar yang terpotong.”Tak lama kemudian, Arlan mengaktifkan pengeras suara. Suara Rian te
Jumat siang, pukul 14.00 WIB. Setelah menyerahkan salinan rekaman ruko dan dokumen pendukung kepada pihak yang berwenang, aku kembali ke Toko Kue Lestari bersama Arlan. Tubuhku masih terasa lelah setelah melewati malam tanpa tidur cukup. Namun, aroma nastar yang baru keluar dari oven dan suara Laras menata nampan membuat suasana ruko terasa sedikit lebih akrab.Ibu Rahmi duduk di kursi rodanya di ruang keluarga lantai dasar. Laras sedang memeriksa daftar pesanan di meja dekat dapur. Begitu melihat kami masuk, Ibu tersenyum lega.“Sudah pulang, May? Bagaimana urusan di kantor?”Aku menghampirinya dan mencium punggung tangannya. “Masih dalam proses, Bu. Polisi sedang memeriksa orang-orang yang membuat keributan semalam. Di kantor juga masih ada pemeriksaan independen, jadi belum semuanya selesai.”Ibu mengangguk pelan. “Yang penting kalian selamat. Ibu sempat khawatir ketika mendengar suara ribut tadi malam.”“Maaf membuat Ibu cemas,” ujar Arlan. Ia menundukkan kepala sedikit. “Kami sud
Jumat pagi, pukul 09.00 WIB. Aku kembali berada di Gedung Devan Corp bersama Arlan dan Rian. Tidur yang hanya sebentar membuat mataku terasa berat, tetapi kabar dari penyidik sejak dini hari membuatku tidak ingin jauh dari perkembangan perkara. Nyonya Sofia sudah menunggu di koridor lantai eksekutif. Wajahnya tampak lebih tenang daripada malam sebelumnya, meskipun garis tegang di sekitar matanya belum hilang. Sejak map arsip ditemukan dalam penguasaan Sandra pada rapat dewan, bagian hukum telah menyerahkan catatan akses, inventaris, dan keterangan terkait kepada penyidik. Temuan semalam mengenai aliran dana dan komunikasi Hendra menjadi tambahan bagi pemeriksaan yang sudah berjalan, bukan satu-satunya dasar tindakan hari ini.“Apakah Ibu sudah menerima pemberitahuan dari sekretariat dewan?” tanya Arlan.Nyonya Sofia mengangguk. “Sekretariat menyampaikan bahwa tim pemeriksaan independen sudah mengirimkan catatan pendahuluan. Pemeriksaan mereka masih berjalan dalam tenggat empat belas h
Jumat dini hari, pukul 01.30 WIB. Suasana kantor Kepolisian Sektor setempat terasa dingin di bawah lampu neon yang menyala terang. Di luar ruang pemeriksaan, aku duduk berdampingan dengan Arlan. Rian berada di kursi seberang sambil membuka catatan internal untuk memastikan setiap informasi yang disampaikan penyidik dapat diteruskan kepada bagian hukum Devan Corp. Pak Joko berdiri dekat dispenser, memegang secangkir kopi yang sudah hampir habis.Malam yang panjang belum benar-benar berakhir. Beberapa jam lalu, aku melihat sendiri bagaimana Pak Joko menghentikan lima pria yang mencoba menerobos ruko. Sekarang, kelima orang itu sedang dimintai keterangan secara terpisah. Paman Hendra juga berada di ruang pemeriksaan lain. Petugas medis telah memeriksa para pria yang terjatuh dan memastikan mereka dapat menjalani pemeriksaan tanpa harus dibawa ke rumah sakit.Aku menggenggam ponselku. Di layar masih tersimpan foto kondisi pintu depan. Salinan rekaman kamera keamanan juga sudah disiapkan u







