LOGINRabu malam, pukul 19.00 WIB. Setelah seluruh jam operasional Toko Kue Lestari ditutup, suara mesin oven dan denting loyang akhirnya berhenti. Laras sudah membersihkan meja produksi, menyimpan bahan yang masih bisa digunakan, dan mencatat stok untuk esok pagi. Ibu Rahmi duduk di kursi rodanya di ruang keluarga lantai dua, sementara aku membantu menata hidangan makan malam di meja kayu.Malam itu kami makan sederhana, sup ayam hangat, tahu goreng, tumis buncis, dan sambal terasi buatan Laras. Arlan duduk di sampingku dengan kemeja putih tanpa jas. Ia datang setelah rapat direksi dan masih menyimpan ponselnya di saku, tetapi sejak duduk ia tidak sekali pun membuka layar. Sesekali ia menawarkan bantuan mengambil lauk untuk Ibu, sesuatu yang dulu mungkin akan ia serahkan sepenuhnya kepada Pak Joko atau staf rumah tangga.“Nak Arlan, coba supnya,” kata Ibu sambil menggeser mangkuk saji ke dekatnya. “Laras membantu Ibu menyiapkan bumbu tadi sore. Ibu hanya mengarahkan dari kursi. Jangan prot
Rabu pagi, pukul 09.30 WIB. Sehari setelah Dewan Komisaris menetapkan keputusan berdasarkan laporan akhir audit independen, aku datang ke kantor kepolisian bersama Arlan dan seorang pendamping hukum perusahaan. Kami diminta hadir untuk menerima penjelasan perkembangan penyidikan atas penyerangan ruko serta dugaan pengambilan eksemplar arsip resmi Devan Corp. Aku membawa salinan tanda terima penyerahan CCTV dan daftar barang bukti yang sebelumnya kuberikan kepada penyidik.Di ruang konsultasi, seorang penyidik membuka berkas perkara di hadapan kami. Ia menjelaskan bahwa penanganan kasus sudah berkembang sejak Jumat. Sebelum penangkapan dilakukan, penyidik telah menetapkan Rendy dan Sandra sebagai tersangka berdasarkan bukti awal yang dinilai cukup. Setelah surat perintah penangkapan diperlihatkan dan keduanya dibawa untuk diperiksa, penyidik melanjutkan pencocokan bukti. Atas pertimbangan risiko memengaruhi saksi dan mengganggu pemeriksaan, surat perintah penahanan masing-masing kemudi
Selasa sore, pukul 16.00 WIB. Empat belas hari kerja telah berlalu sejak Tim Pemeriksaan Independen mulai bekerja setelah dibentuk oleh Dewan Komisaris. Selama rentang waktu itu, Toko Kue Lestari tetap beroperasi dengan pengawasan yang lebih ketat, sementara Arlan menjalankan tugas CEO tanpa ikut menentukan keputusan pengadaan yang berkaitan dengan usahaku. Hari ini, laporan akhir tim pemeriksa akhirnya diserahkan kepada sekretariat Dewan Komisaris.Aku duduk di ruang rapat kecil yang bersebelahan dengan ruang kerja CEO. Kehadiranku bukan untuk ikut menentukan keputusan dewan, melainkan sebagai pemilik vendor yang menjadi salah satu objek pemeriksaan. Di atas meja terdapat salinan ringkasan hasil audit yang boleh kubaca, sedangkan dokumen lengkap tetap berada dalam penguasaan sekretariat. Arlan duduk di sampingku. Ia tidak menyentuh berkas itu sebelum Rian menjelaskan asal dan statusnya.“Pak Arlan, Bu Maya,” kata Rian dengan nada formal. “Sekretariat Dewan Komisaris telah menerima la
Sabtu siang, pukul 13.00 WIB. Setelah pesanan pelanggan pagi selesai diproses dan sebagian dus untuk resepsi esok hari dipindahkan ke ruang penyimpanan, suasana Toko Kue Lestari kembali tenang. Cahaya matahari menembus jendela lantai dua dan jatuh di atas meja kayu ruang keluarga. Dari halaman samping terdengar suara siulan Pak Joko yang sesekali terputus oleh bunyi sikat pel bergesekan dengan lantai teras.Aku duduk berhadapan dengan Arlan sambil menikmati teh melati hangat. Pak Joko sengaja memilih bekerja di luar agar kami bisa beristirahat sejenak. Sesekali ia melongok ke arah jendela, memastikan semuanya aman, lalu kembali bersiul dengan nada yang terdengar seperti lagu yang lupa bagian tengahnya.“Pak Joko sepertinya belum bisa melepaskan sikat pelnya,” kataku sambil tersenyum.Arlan melirik ke halaman. “Setelah kejadian kemarin, dia merasa perlu memastikan semua perlengkapan kebersihan berada dalam kondisi siap pakai.”“Kamu membiarkannya membawa sikat pel seperti perlengkapan
Sabtu pagi, pukul 08.30 WIB. Udara di sekitar Toko Kue Lestari terasa sejuk setelah gerimis tipis membasahi halaman samping. Sejak subuh, dapur utama sudah ramai oleh denting loyang, bunyi oven, dan aroma mentega Wijsman yang berpadu dengan kayu manis serta vanila. Pesanan kudapan untuk sebuah resepsi pernikahan yang harus dikirim besok pagi membuat semua orang bergerak lebih cepat, tetapi aku tidak ingin kecepatan mengalahkan ketelitian.Aku mengenakan apron katun krem dengan rambut terikat rapi. Di meja produksi, beberapa toples nastar dan kastengel sudah disusun berdasarkan nomor batch. Aku memeriksa label, tanggal produksi, dan catatan bahan satu per satu. Di dekat meja kasir, Ibu Rahmi duduk di kursi rodanya sambil menikmati teh melati hangat. Wajahnya tampak lebih segar setelah cukup beristirahat, meski aku tetap meminta Laras memastikan bel panggil dan obat Ibu berada dalam jangkauan.“Laras, tolong cocokkan lagi nomor batch pada dus yang akan dikirim besok dengan lembar produk
Jumat sore, pukul 16.00 WIB. Setelah Nyonya Sofia berpamitan dari ruko, Arlan harus kembali ke Gedung Devan Corp untuk menyelesaikan beberapa urusan yang tertunda. Aku memilih tetap di Toko Kue Lestari. Ibu baru saja beristirahat setelah percakapan panjang siang tadi, sementara Laras perlu memastikan pesanan akhir pekan tidak terbengkalai. Kami sepakat Arlan akan mengabariku begitu menerima perkembangan resmi dari kantor.Aku sedang merapikan catatan stok di meja dekat dapur ketika ponselku bergetar. Nama Arlan muncul di layar. Begitu kuangkat, suaranya terdengar lebih tenang daripada pagi tadi, meskipun ada bunyi ketikan dan gesekan kertas di latar belakang.“Kamu sedang sibuk, Maya?” tanyanya.“Baru selesai mencocokkan label batch. Ibu sedang istirahat. Ada perkembangan di kantor?”“Ada catatan pendahuluan dari Tim Pemeriksaan Independen. Saya ingin kamu mendengarnya langsung, supaya tidak ada kabar yang terpotong.”Tak lama kemudian, Arlan mengaktifkan pengeras suara. Suara Rian te







