Share

Bab 144

Author: Sri Pulungan
last update Last Updated: 2025-08-23 12:26:31

Rafa masuk ke halaman rumah besar keluarga Mahendra dengan langkah gontai. Mobilnya berhenti, namun ia lama duduk diam di balik kemudi, menunduk, matanya sembab. Akhirnya ia keluar juga, menyeret langkah berat masuk ke ruang tamu.

Ny. Prameswari yang sedang duduk membaca majalah langsung berdiri. Tn. Mahendra yang baru saja turun dari lantai atas menghentikan langkahnya begitu melihat Rafa masuk sendirian.

NY. PRAMESWARI (kaget, bingung): “Rafa…? Kenapa kamu sendiri? Mana Danis?”

Rafa terdiam. Ia menunduk, bahunya bergetar halus. Tangannya mengepal di sisi tubuh, mencoba menahan guncangan emosinya.

Tn. Mahendra maju selangkah, suaranya tegas tapi sarat kekhawatiran.

TN. MAHENDRA: “Rafa… jawab Papa. Mana Danis?”

Rafa mengangkat wajahnya perlahan, mata merah basah. Senyumnya hambar, senyum yang dipaksakan di atas luka yang dalam.

RAFA (parau, terbata): “Danis… tinggal di rumah Arfan, Pa, Ma. Mulai hari ini… dia tidak tinggal sama kita lagi.”

Ny. Prameswari sontak menutup mulutnya, wajah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 158

    Pintu kamar Nafeeza baru saja ditutup dokter, memberi tanda jelas agar tidak ada lagi yang masuk.Rafa berdiri di depan pintu dengan rahang mengeras, masih memeluk Danis erat. Ny. Prameswari di sampingnya, wajahnya penuh api amarah.Sementara itu, Arfan dan Ny. Yuliana berdiri beberapa langkah di seberang, tampak tak mau mengalah.NY. PRAMESWARI (menyembur, tajam): “Yuliana! Kau tega sekali! Nafeeza hampir hancur karena mulutmu. Kau tidak pernah berhenti membuatnya menderita, bahkan sekarang ketika dia baru sadar!”NY. YULIANA (menyeringai sinis): “Aku hanya bicara kebenaran. Kalau kalian tidak suka, itu masalah kalian. Tapi aku tidak akan membiarkan Feeza terus diracuni oleh kebohongan keluarga kalian!”RAFA (meledak, suaranya serak penuh amarah): “Kebohongan?! Kau yang memutar balik semuanya! Kau yang usir Nafeeza saat dia hamil Danis, sekarang kau pura-pura jadi penyelamat? Tidak tahu malu kau, Yuliana!”Arfan maju, menatap Rafa dengan dingin.ARFAN (tegas, menekan): “Jaga bicaramu

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 157

    Rafa berdiri kaku, matanya memerah menahan air. Hatinya berteriak ingin segera merebut Nafeeza dari genggaman Arfan, tapi pikirannya berusaha jernih. Tiba-tiba, satu nama muncul di kepalanya.RAFA (dalam hati, tersadar): “Danis… hanya dia yang bisa menyentuh hati Feeza.”Rafa segera menoleh ke arah pintu, hendak bergegas mencari Danis. Namun belum sempat ia melangkah, suara langkah kecil terdengar di koridor.Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun masuk, wajahnya polos tapi matanya tampak kebingungan.DANIS: “Mama…”Nafeeza langsung menoleh, tubuhnya refleks bergerak meski masih lemah. Air matanya menetes deras.NAFEEZA (lirih, penuh rindu): “Danis… Anakku…”Ia hendak meraih, tapi langkah Danis terhenti ketika Ny. Yuliana berdiri di belakangnya, tangannya menepuk bahu bocah itu lembut namun menekan.NY. YULIANA (halus tapi menjerat): “Ingat, Nak… kalau Mama Feeza mau sembuh, kamu harus dengarkan kata Mama Nenek, ya.”Danis mengangguk kecil, wajahnya bingung tapi seperti sudah terp

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 156

    Ketegangan terasa menyesakkan. Nafeeza masih menutup wajahnya, tubuhnya bergetar. Ny. Prameswari menggenggam erat tangannya, sementara Tn. Mahendra berdiri di sisi lain, menjaga. Rafa hanya bisa menatap dengan mata berkaca, ingin mendekat tapi takut membuat keadaan semakin parah.Tiba-tiba pintu terbuka keras.BRAK!Ny. Yuliana masuk dengan langkah cepat, wajahnya memerah, napasnya terengah. Suaranya melengking, menusuk ruangan.NY. YULIANA (marah, membentak): “BERHENTI!!! Cukup sudah kebohongan ini!”Semua orang sontak menoleh. Nafeeza terperanjat, wajahnya pucat.NAFEEZA (ketakutan, gemetar): “Ma… Mama Yuli… apa maksudnya…?!”Ny. Yuliana berjalan mendekat, menunjuk Ny. Prameswari dengan tatapan tajam.NY. YULIANA (sinis, penuh tuduhan): “Jangan percaya kata-katanya, Feeza! Mereka ini hanya mau memisahkanmu dari Arfan. Mereka tega berbohong, mengaku mertuamu, padahal tidak pernah sekalipun ada di sisimu!”Ny. Prameswari berdiri, wajahnya memerah menahan amarah, tapi sorot matanya tet

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 155

    KORIDOR RUMAH SAKITLampu-lampu redup memantul di lantai putih. Rafa berdiri terpaku di luar ruang rawat Nafeeza. Dadanya sesak, wajahnya murung. Tangannya mengepal, sementara pikirannya berputar.RAFA (monolog, lirih, getir): “Andai aku tidak melibatkan Arfan sejak awal… pasti semua tidak akan jadi begini. Aku yang bodoh… aku sendiri yang menyerahkan istriku ke dalam pelukan kebohongan mereka.”Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini disertai tatapan penuh tekad.RAFA (monolog, tegas): “Cukup. Nasi memang sudah jadi bubur… tapi aku tidak akan diam. Aku harus lakukan sesuatu. Nafeeza harus sadar… bahwa Arfan hanya masa lalu, bayangan yang seharusnya terkubur.”Rafa mengusap wajahnya, lalu melangkah cepat. Kakinya membawanya ke arah ruangan bertuliskan:“DOKTER SPESIALIS SARAF”Ia mengetuk pelan, kemudian masuk.Seorang dokter paruh baya tengah duduk membaca berkas rekam medis Nafeeza. Rafa melangkah masuk dengan wajah penuh beban.RAFA (tegas, tapi bergetar): “Dokter… saya butuh bica

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 154

    Mobil ambulans meraung meninggalkan halaman, membawa Nafeeza yang terkulai pucat. Arfan duduk di dalam, mendekapnya erat. Danis ikut menangis, dipeluk Ny. Yuliana yang duduk di sampingnya.Rafa menatap kepergian mereka dengan dada yang terasa terbakar. Ia tidak berpikir panjang, segera berlari ke mobilnya dan membuntuti ke rumah sakit.***RUMAH SAKIT – IGDDokter dan perawat berlarian begitu ambulans tiba. Nafeeza segera ditangani, tubuhnya terhubung dengan oksigen, infus dipasang, monitor jantung berbunyi cepat. Arfan dan Ny. Yuliana ikut masuk, sementara Danis menempel pada pintu, wajahnya penuh air mata.Tak lama kemudian, Rafa muncul dengan napas terengah, langkahnya tergesa masuk.RAFA (keras, cemas): “Mana Feeza?! Bagaimana keadaan istriku?!”Sekejap ruangan hening. Arfan berdiri, langsung menghadang.NY. Yuliana (dingin, menahan emosi): “Kau tidak boleh di sini! Kau bukan siapa-siapa lagi untuknya!”Rafa menatap Ny. Yuliana dengan tatapan tajam, matanya merah penuh luka.RAFA

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 153

    Rafa berdiri terpaku. Nafeeza masih mendekap Arfan dengan wajah penuh darah.Air mata Nafeeza menetes deras, dan dengan suara yang bergetar penuh kebencian, ia menoleh ke arah Rafa.NAFEEZA (menangis, terisak, tapi tegas): “Dengar baik-baik, Rafa… jangan harap aku akan jatuh cinta padamu. Walaupun hanya kau pria terakhir di dunia ini… aku tidak akan pernah menyukaimu!”Suara Nafeeza pecah, menusuk jantung Rafa.NAFEEZA (melanjutkan, penuh luka): “Cintaku hanya untuk Arfan… hanya dia satu-satunya pria yang kuinginkan. Kau tidak akan pernah bisa menggantikannya!”Kata-kata itu menggema di ruang tamu. Sunyi sesaat, hanya terdengar isak Nafeeza.Rafa terdiam. Tubuhnya serasa kehilangan tenaga. Matanya berkaca-kaca, rahangnya mengeras menahan tangis yang hampir pecah.RAFA (lirih, suaranya patah): “Feeza… kau benar-benar tidak ingat aku…”Ia menunduk, genggamannya di udara gemetar. Pandangan matanya hampa, seakan dunia runtuh seketika. Luka di dadanya jauh lebih dalam daripada luka di waja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status