Suasana di depan rumah semakin memanas. Rafa berdiri tegak dengan wajah penuh amarah yang ditahan. Para satpam masih menutup akses, sementara Ny. Prameswari mulai terisak karena tak tahan melihat putranya dihalangi untuk menjemput istri sahnya.Beberapa menit kemudian, suara sirine terdengar dari kejauhan. Dua mobil polisi berhenti di depan pagar rumah Arfan. Dari dalam, seorang perwira polisi turun dengan sikap tegas, membawa berkas perintah pengadilan yang sudah ditandatangani.POLISI (lantang, menunjukkan surat):“Ini surat perintah resmi dari pengadilan negeri. Atas dasar laporan dan dokumen sah, kami diperintahkan untuk mengevakuasi Ny. Nafeeza Mahendra dari kediaman ini dan menyerahkannya ke wali sah sekaligus suaminya, Tuan Rafa Mahendra.”Kepala keamanan menelan ludah, jelas bingung. Ia melirik ke arah rumah besar itu, menunggu instruksi.RAFA (dengan suara tegas, penuh tekanan): “Kalian dengar sendiri. Ini bukan perintahku, ini perintah hukum. Jika kalian tetap menghalangi, k
Sementara itu, jauh dari intrik gelap Yuliana dan Arfan, Rafa sedang menyiapkan dokumen-dokumen hukum. Mereka menghubungi pengacara terpercaya untuk memastikan proses membawa Nafeeza pulang bisa dilakukan secara sah, tanpa celah bagi pihak Arfan untuk menolak.RAFA (menatap pengacaranya dengan tegas): “Kita harus siap dengan semua dokumen, surat pernikahan, catatan medis. Tidak ada ruang untuk kesalahan.”PENGACARA (mengangguk, serius): “Tenang, Pak Rafa. Semua akan saya urus. Kalau perlu, kita ajukan permohonan ke pengadilan untuk membawa Bu Nafeeza pulang, sambil memastikan keamanan dan perawatannya di bawah pengawasan dokter saraf terbaik.”***Dua hari berlalu dengan cepat. Rafa tidak peduli harus mengeluarkan berapa banyak uang, asalkan Nafeeza mendapatkan perawatan terbaik dan ingatannya bisa pulih sepenuhnya. Ia bahkan menyewa tim dokter saraf spesialis yang terkenal, yang siap melakukan evaluasi intensif dan memantau pemulihan ingatan Nafeeza.RAFA (menatap dokter yang mendamp
Setelah kepergian keluarga Mahendra, Arfan mengusap bibirnya yang pecah, wajahnya penuh amarah yang dipendam.Ny. Yuliana melirik putranya dengan tajam, suaranya merendah tapi dingin menusuk.NY. YULIANA (serius, berbisik): “Fan… kau lihat sendiri tadi. Mereka tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat semua kebohongan kita terbongkar. Kau mau itu terjadi?”Arfan mendengus kasar, matanya berkaca-kaca menahan emosi.ARFAN (geram, menahan sakit): “Aku tidak akan biarkan itu, Ma. Feeza milikku. Aku tidak akan lepaskan dia, tidak sekarang, tidak pernah.”Ny. Yuliana melangkah lebih dekat, menatap putranya lurus, penuh tekanan.NY. YULIANA (dingin, menghujam):“Kalau begitu, dengar baik-baik kata Mama. Satu-satunya cara agar Feeza tetap di sisimu adalah… dia tidak boleh mengingat masa lalunya. Sekali pun. Ingatannya tentang Rafa harus hilang selamanya.”Arfan terdiam, matanya melebar, menelan ludah keras.ARFAN (lirih, bimbang): “Ma… maksud Mama… kita…?”Ny. Yuliana menyeringai tipis, suar
Pintu kamar Nafeeza baru saja ditutup dokter, memberi tanda jelas agar tidak ada lagi yang masuk.Rafa berdiri di depan pintu dengan rahang mengeras, masih memeluk Danis erat. Ny. Prameswari di sampingnya, wajahnya penuh api amarah.Sementara itu, Arfan dan Ny. Yuliana berdiri beberapa langkah di seberang, tampak tak mau mengalah.NY. PRAMESWARI (menyembur, tajam): “Yuliana! Kau tega sekali! Nafeeza hampir hancur karena mulutmu. Kau tidak pernah berhenti membuatnya menderita, bahkan sekarang ketika dia baru sadar!”NY. YULIANA (menyeringai sinis): “Aku hanya bicara kebenaran. Kalau kalian tidak suka, itu masalah kalian. Tapi aku tidak akan membiarkan Feeza terus diracuni oleh kebohongan keluarga kalian!”RAFA (meledak, suaranya serak penuh amarah): “Kebohongan?! Kau yang memutar balik semuanya! Kau yang usir Nafeeza saat dia hamil Danis, sekarang kau pura-pura jadi penyelamat? Tidak tahu malu kau, Yuliana!”Arfan maju, menatap Rafa dengan dingin.ARFAN (tegas, menekan): “Jaga bicaramu
Rafa berdiri kaku, matanya memerah menahan air. Hatinya berteriak ingin segera merebut Nafeeza dari genggaman Arfan, tapi pikirannya berusaha jernih. Tiba-tiba, satu nama muncul di kepalanya.RAFA (dalam hati, tersadar): “Danis… hanya dia yang bisa menyentuh hati Feeza.”Rafa segera menoleh ke arah pintu, hendak bergegas mencari Danis. Namun belum sempat ia melangkah, suara langkah kecil terdengar di koridor.Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun masuk, wajahnya polos tapi matanya tampak kebingungan.DANIS: “Mama…”Nafeeza langsung menoleh, tubuhnya refleks bergerak meski masih lemah. Air matanya menetes deras.NAFEEZA (lirih, penuh rindu): “Danis… Anakku…”Ia hendak meraih, tapi langkah Danis terhenti ketika Ny. Yuliana berdiri di belakangnya, tangannya menepuk bahu bocah itu lembut namun menekan.NY. YULIANA (halus tapi menjerat): “Ingat, Nak… kalau Mama Feeza mau sembuh, kamu harus dengarkan kata Mama Nenek, ya.”Danis mengangguk kecil, wajahnya bingung tapi seperti sudah terp
Ketegangan terasa menyesakkan. Nafeeza masih menutup wajahnya, tubuhnya bergetar. Ny. Prameswari menggenggam erat tangannya, sementara Tn. Mahendra berdiri di sisi lain, menjaga. Rafa hanya bisa menatap dengan mata berkaca, ingin mendekat tapi takut membuat keadaan semakin parah.Tiba-tiba pintu terbuka keras.BRAK!Ny. Yuliana masuk dengan langkah cepat, wajahnya memerah, napasnya terengah. Suaranya melengking, menusuk ruangan.NY. YULIANA (marah, membentak): “BERHENTI!!! Cukup sudah kebohongan ini!”Semua orang sontak menoleh. Nafeeza terperanjat, wajahnya pucat.NAFEEZA (ketakutan, gemetar): “Ma… Mama Yuli… apa maksudnya…?!”Ny. Yuliana berjalan mendekat, menunjuk Ny. Prameswari dengan tatapan tajam.NY. YULIANA (sinis, penuh tuduhan): “Jangan percaya kata-katanya, Feeza! Mereka ini hanya mau memisahkanmu dari Arfan. Mereka tega berbohong, mengaku mertuamu, padahal tidak pernah sekalipun ada di sisimu!”Ny. Prameswari berdiri, wajahnya memerah menahan amarah, tapi sorot matanya tet