LOGIN"Aku pikir kau hanya akan diam saja sepanjang makan malam tadi, Aluna," kata Nael. Suara beratnya memecah keheningan kabin mobil yang melaju di atas aspal basah Paris. Pria itu menatap lurus ke jalanan, namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Padahal enam puluh menit sebelum kita sampai, kau ngotot memintaku membatalkan semuanya."
Aluna meremas jemarinya di atas pangkuan. Ia menoleh sedikit, menatap profil samping Nael dengan raut wajah penuh kesopanan.
"Saya hanya mencoba menjal
Pagi berembun di Bandara Le Bourget menyambut empat penumpang yang melangkah melintasi karpet merah menuju tangga jet pribadi berwarna hitam berkilau milik keluarga San Diego. Deru halus mesin turbofan yang mulai memanas menggetarkan udara dingin di landasan pacu eksklusif tersebut.Aluna melangkah dengan jemari yang mencengkeram erat tali tas tangannya. Setiap incinya memancarkan profesionalisme yang dingin—mantel wol krem terpotong rapi, rambut disanggul modern, dan ekspresi wajah yang tak dapat dibaca. Namun di balik gaun sutranya, jantung Aluna berdegup seperti dentang lonceng peringatan.Di dalam kabin jet pribadi bertaraf kelas satu itu, aroma kulit premium, kayu mahoni, dan wewangian lembut memenuhi ruang bertekanan udara tersebut. Suasana kabin yang amat lapang justru terasa sempit dan menghempit bagi Aluna."Duduklah di sampingku, Nael," suara Aghata bergema manja seraya meletakkan tas jinjing kulit buaya miliknya di atas meja lipat mahon
Denting lembut sendok teh berdenting menabrak cangkir porselen di sebuah kafe remang di kawasan Le Marais. Malam musim gugur menyelimuti kota Paris dengan hawa dingin yang menusuk, tetapi interior kafe yang didominasi ornamen kayu dan lampu-lampu berpendar hangat memberikan rasa nyaman yang kontras.Namun, kehangatan itu sama sekali tak menyentuh Aluna.Wanita itu duduk terpaku di sudut ruangan, jemarinya melingkari cangkir chamomile yang perlahan mulai kehilangan uap panasnya. Matanya menatap kosong ke arah genangan teh, hanyut dalam pusaran pikiran yang menyesakkan. Bayangan tentang penerbangan besok pagi ke Grasse—bersama Nael, Aghata, dan Rafael dalam satu jet pribadi—membuat rongga dadanya terasa serasa dihimpit batu besar."Sayang... kamu melamun lagi?"Sentuhan lembut pada punggung tangannya mengejutkan Aluna. Ia tersentak pelan, mendongak dan mendapati manik mata cokelat hangat milik Rafael yang menatapnya penuh kekhawatiran d
Sinar matahari pagi musim gugur menerobos masuk melalui celah tirai penthouse. Sorot cahayanya menyinari sosok Aluna yang tengah berdiri di depan cermin meja rias. Pantulan di cermin itu tak lagi menampilkan wanita rapuh yang gemetar ketakutan semalam.Aluna memoleskan lipstik berwarna maroon gelap ke bibirnya. Sebuah warna tegas dan berani yang jarang sekali ia gunakan di hari kerja. Hatinya telah membeku, membentuk perisai baru yang ia rancang khusus untuk melindungi dirinya. Ia harus kebal dari pesona mematikan Nael San Diego.Lima tahun sudah ia memendam cinta sepihak yang menyiksa pada pria dingin itu. Cinta buta yang membuatnya bersedia menjadi istri rahasia di atas kertas. Mulai hari ini, ia bertekad hanya akan menjadi mesin pencatat yang efisien. Seorang sekretaris eksekutif tanpa hati yang tak menuntut apa-apa dari suaminya.Ketika Aluna melangkah keluar menuju ruang makan, Nael sudah duduk di ujung meja marmer. Pria itu menatap Aluna dari balik pinggiran cangkir kopinya. Mat
Perjalanan pulang di dalam kabin Maybach dari Place des Vosges menuju kawasan Passy malam itu berlalu tanpa satu pun pertukaran kata. Keheningan yang membentang di antara Aluna dan Nael terasa jauh lebih pekat dan menyiksa daripada malam-malam sebelumnya.Pendar lampu jalanan kota Paris yang berkelebat masuk melalui kaca jendela mobil sesekali menyorot raut wajah Nael. Pria itu duduk bersandar dengan sangat tenang, memejamkan matanya separuh seolah pertarungan psikologis di meja makan tadi hanyalah hiburan ringan baginya.Di sisi lain, Aluna masih berjuang keras menata ritme napasnya yang berantakan. Jemarinya bertaut erat di atas pangkuan, menahan getaran sisa kepanikan yang nyaris melumpuhkan kewarasannya saat Nael mengklaim dirinya secara tersirat di hadapan Rafael.Setibanya di penthouse, udara dingin musim gugur menyambut mereka begitu pintu lift terbuka. Suasana apartemen mewah berlantai marmer itu sepi dan luas, sangat kontras dengan badai yang tengah ber
Dunia Aluna seolah berhenti berputar. Udara di dalam ruang kerja CEO yang megah itu mendadak tersedot habis, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk lurus hingga ke sumsum tulang belakangnya."Apakah ada masalah dengan instruksiku, Aluna?" tanya Nael dengan nada rendah. Pria itu menyandarkan punggungnya pada tepi meja, memandangi wajah istrinya yang sepucat kertas manila."T-Tidak, Tuan Nael," jawab Aluna dengan suara serak yang nyaris pecah. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha membasahi tenggorokannya yang serasa diisi pasir panas. "Saya akan segera menghubungi pihak restoran."Nael menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak terlihat. "Bagus. Pastikan reservasi itu atas nama pribadiku. Dan sampaikan pada pemuda itu, jangan sampai ia mengecewakan seleraku malam ini."Begitu Nael berbalik dan melangkah masuk kembali ke ruang kerja utamanya, lutut Aluna serasa berubah menjadi jeli. Ia menjatuhkan diri di atas kursi kerjanya dengan napas memburu.Tangan Aluna gemetar hebat saat m
Ting.Denting bel lift berbunyi nyaring, memecah ketegangan pekat yang sejak tadi merantai kaku udara di dalam sangkar baja tersebut. Pintu perlahan bergeser terbuka, menampilkan hiruk-pikuk lobi utama gedung San Diego Corp yang terang benderang.Ini adalah lantai dasar, tempat Rafael harus melangkah keluar untuk tujuan makan siangnya. Namun, kaki pemuda jangkung itu tampak terpaku ke lantai lift selama beberapa detik yang terasa menyiksa.Manik mata cokelat Rafael tak bisa lepas dari jemari kokoh Nael yang masih bertengger dengan begitu posesif di atas bahu Aluna. Rahang pemuda Italia itu mengeras tipis, menahan sebuah gejolak emosi asing yang membakar dadanya."Permisi, Tuan San Diego, Ibu Aluna," pamit Rafael dengan suara bariton yang mendadak terdengar lebih kaku dari sebelumnya. Ia menunduk hormat, menelan bulat-bulat harga dirinya sebelum melangkah keluar dari dalam lift.Sebelum pintu lift kembali tertutup, Rafael menyempatkan diri







