Share

Telepon

Author: Lana Smrti
last update publish date: 2026-11-03 23:02:46

Maya menelepon Bima setiap malam.

Pukul sembilan, sesudah anak-anak tidur dan Siska membereskan dapur, Maya duduk di teras belakang rumah Ibu dengan ponsel di tangan dan secangkir teh yang tidak pernah ia habiskan. Angin malam membawa aroma tanah dan daun mangga. Di kejauhan, suara pengajian bergema dari musala gang sebelah.

Malam pertama, tidak ada yang mengangkat.

Malam kedua, tidak ada yang mengangkat.

Malam ketiga, ponsel itu berdering sembilan kali sebelum masuk ke kotak suara, dan Maya me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Sumpah

    Sarwo tidak pernah mengunjungi makam istrinya di hari Kamis.Empat puluh tahun ia memilih hari lain, Senin pagi atau Minggu sore, hari-hari yang aman, ketika langit cerah dan tidak ada yang menunggunya di ujung jalan setapak. Tapi pagi itu, dengan embun masih menggantung di rumput dan kabut tipis menyelimuti pemakaman kecil di pinggir kampung, ia melangkah sendirian melewati gerbang bambu dan menyusuri jalan tanah yang sudah ia hafal sampai ke ujung.Nisan kayu itu sudah lapuk.Ia sendiri yang mengganti papannya tiga kali. Tulisannya sudah memudar dimakan hujan, tapi ia tidak butuh membacanya. Ia tahu nama yang tertera.Sumirah binti Karto.Ia berlutut di sampingnya, pelan, dengan lutut yang sudah berderit. Tongkatnya ia sandarkan ke pohon kamboja tua di sebelah. Dari saku sarungnya, ia mengeluarkan sebungkus kecil kelopak mawar dan melati yang ia petik tadi subuh, menaburkannya di atas gundukan tanah yang ditumbuhi rumput halus."Sum," katanya.Hening.Kabut bergeser pelan di antara

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Perlu Didengar

    Maya menyaksikan semuanya dari balik tirai.Maya terbangun saat ranjang di sampingnya kosong dan dingin, dan insting yang sudah ia pelajari sebulan terakhir langsung mengirim sengatan ke tulang belakangnya. Ia tidak menjerit. Tidak memanggil. Ia hanya bangkit dengan kaki gemetar, menyibak tirai jendela kamar, dan melihat suaminya berdiri di halaman dengan punggung menghadap rumah.Ia berbicara pada pagar.Bukan pada pagar. Pada seseorang di baliknya.Maya tidak sanggup mendengar kata-katanya dari jarak sejauh itu. Tapi ia melihat tangan terulur. Gerbang yang berderit membuka tanpa disentuh. Wajah Bima yang tertimpa cahaya biru pucat, ragu, lelah, hampir menyerah.Maya menutup mulutnya dengan tangan.Jangan melangkah, Mas. Jangan.Dan lalu, perlahan, ia menarik tangannya.Maya tidak bernapas sampai gerbang itu tertutup kembali.Maya menemuinya di teras.Fajar sedang naik pelan di balik atap-atap kompleks, mewarnai langit dengan jingga dan abu-abu yang lembut. Embun menempel di rumput l

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Tawaran

    Bima tidak tidur malam itu.Ia duduk di tepi ranjang kamar utama, memandangi punggung Maya yang meringkuk di bawah selimut, napasnya pelan dan teratur. Mereka tidak lagi mengikat tangan dengan kain batik malam ini. Mbah Sarwo bilang, setelah semua yang terjadi, ikatan semacam itu sudah tidak berguna. Yang tersisa bukan lagi tarikan fisik, tapi pilihan.Tiga hari.Kata-kata itu berputar di kepalanya seperti kipas rusak yang tidak mau berhenti. Jumat Kliwon. Dia bilang dia bersedia ikut.Ia menatap tangan kirinya.Cincin hitam di jari manisnya sudah menggali begitu dalam hingga tampak seperti bagian dari tulang. Ujung jarinya mati rasa. Sesekali, tanpa sebab, helai itu berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang berdetak di tempat yang salah.Aku bilang ya.Ia mengingatnya sekarang. Bukan semuanya, tapi cukup. Suara perempuan di kegelapan malam pertama. Rasa lelah yang begitu besar sampai ia ingin menyerah pada apa pun yang menawarkan istirahat. Dan satu kata, ringan, nyaris tanpa beban

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Suara Laras

    Dia sendiri yang memilihku.Kalimat itu menggantung di lorong seperti asap setelah ledakan.Maya berdiri tegak, jantung menghantam tulang rusuk, dan menatap perempuan di depannya. Mbak Darmi. Perempuan pendiam yang selalu menunduk, yang menaruh nampan di depan pintu dan berbisik doa di dapur. Sekarang ia berdiri satu langkah darinya dengan senyum yang bukan senyumnya, bahu tegak, mata hitam dan terbuka lebar.Di belakang Maya, Bima menarik napas tajam.Mbah Sarwo mengangkat tongkat setengah jalan, lalu menurunkannya lagi. Maya merasakan tatapannya jatuh di punggungnya.Jangan marah.Jangan berjanji.Dengarkan.Maya menarik napas dalam-dalam, hingga paru-parunya terasa terbakar, dan menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuh."Aku dengar," kata Maya.Senyum itu bergeser sedikit."Aku dengar kamu," ulang Maya, suaranya bergetar tapi tidak mundur. "Silakan bicara. Aku nggak akan menyela."Mata hitam itu menyipit. Seolah mencari jebakan."Kamu bohong.""Aku belum bohong sekali pun padamu."

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Dirasuki

    Darmi tidak merasa sakit.Itu yang paling aneh. Ia selalu mengira kesurupan akan terasa seperti dipukul dari dalam, seperti diperkosa oleh sesuatu yang kasar dan jahat. Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya. Lembut. Dingin. Seperti masuk ke dalam air yang tenang, perlahan, dari ujung kaki sampai ke leher.Satu detik ia berdiri di lorong sambil memegang tasbih dan menatap Bu Heni yang menangis di dinding.Detik berikutnya, tasbih itu sudah jatuh dari tangannya.Ia tidak menjatuhkannya.Bu Maya, ia ingin memanggil. Tolong.Tapi bibirnya tersenyum, dan suara yang keluar bukan suaranya.Sekarang giliranku.Darmi mendapati dirinya berdiri di dalam sebuah ruangan.Bukan ruangan sungguhan. Lebih seperti kamar gelap tanpa dinding, tanpa langit-langit, dengan lantai yang dingin dan licin seperti marmer basah. Di kejauhan, ia melihat dua kotak cahaya kecil, seperti jendela. Dari sana, ia bisa melihat lorong rumah, wajah Bu Maya yang pucat, wajah Mbah Sarwo yang tegang.Matanya sendiri.Ia meny

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Ritual

    Bu Heni datang menjelang magrib dengan mukena terlipat di tas dan wajah seperti orang yang akan menjalani operasi.Maya membukakan pintu depan sendiri. Ia berdiri di teras sambil memeluk tas itu di dada, kacamata tebalnya berembun, tangannya gemetar. Di belakangnya, pagar melati yang menjulang setinggi bahu bergoyang pelan tanpa angin, kuntum-kuntum putihnya menoleh serentak ke arah mereka."Saya nggak yakin saya sanggup, Mbak Maya," bisiknya."Saya juga nggak yakin.""Tapi Mbah Sarwo bilang...""Saya tahu." Maya mengulurkan tangan, dan setelah ragu sesaat, ia menggenggamnya. Telapaknya basah dan dingin. "Kita cuma perlu datang dan berkata jujur."Ia menatap Maya lama."Bu Laras itu... dia dulu baik sekali," katanya pelan, suaranya mulai bergetar. "Saya nggak pernah memaafkan diri saya.""Mungkin itu yang dia tunggu."Mereka melangkah masuk bersama.Mbah Sarwo sudah menyiapkan semuanya sejak sore.Kamar tamu telah dibersihkan, sebisa mungkin. Bunga-bunga layu disapu, lilin-lilin melel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status