MasukHari yang cukup cerah. Jalanan jakarta mulai ramai, dengan lalu lalang orang dengan aktivitasnya masing-masing. Begitu pun dengan Azura yang sedang mengendarai mobilnya menuju kampus. Dia ada kelas pagi hari ini, fokusnya melayang pada kejadian tadi malam, helaan nafas berat terdengar.
"Gue harus ceritain soal perjodohan ini kedua curut. Siapa tau kan mereka bisa bantu gue," gumam Azura. Mereka pasti kaget setelah mendengar kabar ini. Apalagi kalau mereka tau kalau yang dijodohkan dengannya Dosen killernya sendiri. Membayangkan wajah cengo keduanya membuat senyuman Azura terbentuk. Beberapa menit dia sudah sampai, menghampiri kedua sahabatnya yang ada di kelas. Azura menepukan pundak kedua temannya. "Gue mau cerita sama lo berdua." Mereka tersentak di tempat, manatap tajam Azura. Sedangkan pelakunya hanya menyengir tidak jelas. "Astaghfirullah, Zura bisa copot jantung gue. Lo Ngagetin aja ada apa sih?" Azura menarik kedua sahabatnya. Supaya tidak ada yang mendengar, apa yang akan dia bicarakan kepada kedua sahabatnya. "Kalian pasti kaget dengernya. Gue harap lo berdua bisa bantuin gue. Masa gue dijodohin sama Ayah gue? Gue gatau harus gimana lagi. Lo pada kan pinter nih, bisakan bantu gue cari cara buat nolak perjodohan ini. Bisa gila gue kalau semua itu terjadi," ucapnya tanpa ada cela untuk kedua sahabatnya potong. Keduanya terdiam belum paham sampai Rena melirik Melisa. Pasti akan ada toa masjid yang terdengar di sini. Azura menutup telinganya, waspada. "Apa?! Di jodohin?! Kedua teman Azura tersentak di tempat. Mereka cukup kaget dengan apa yang disampaikan Azura. Kenapa bisa Ayah-nya sangat tega menjodohkan anaknya. "Bokap Lo pikir ini zaman Siti Nurbaya? Lagian udah gak zaman maksa anak buat nerima perjodohan. Ga habis pikir gue, bisa-bisanya bokap Lo jodohin ke orang enggak dikenal." Rena menggelengkan kepala merasa tidak percaya. "Cowonya kaya gimana sih, lo udah tau belum? Awas aja kalau bokap lo salah milih calon mantu. Harus kaya Si Pak Damian lah maksimal," Ucap Melisa siapa cowo yang dijodohkan dengan Azura. Tebakan Melisa memang benar. Tapi, mereka belum tahu. Azura hanya bisa menatap lesu kedua sahabatnya. "Gue juga maunya nikah sama cowo yang sayang sama gue. Kalau kek gini bisa gila gue ngadepin Dosen killer tiap hari. No! semuanya gaada dalam list hidup gue. Gue harus gimana?" "Hah, apa lu bilang? Dosen killer! Jadi lo dijodohin sama pak Damian? omongan gue bener tadi?" ucap heboh Melisa, saat mendengar ucapan Azura. Azura hanya bisa menganggukkan kepala mengiyakan. Kalau seperti ini sahabatnya itu pasti akan mendukung keputusan Ayahnya itu. Azura sangat frustrasi sekarang. "Lo sih Zur. Kata gue juga apa jangan terlalu benci nanti malah suka. Lah sekarang malah jadi calon suami, harus banyakin bersyukur lo dijodohin sama dia." Melisa orang pertama yang menyetujui perjodohanny. Tuhkan, bener apa yang dikatakan Azura. Dia hanya bisa menunduk lesu dilipatan tangannya. sedangkan Rena hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah Melisa yang sangat mengegumi Dosennya itu. "Diem lu Melisa! Lo harus sabar Zur. Gue yakin ini yang terbaik buat lo, tapi gimana nasib hubungan lo sama dia? Apa dia udah tau?" tanya Rena penasaran. Helaan nafas terdengar. Ini yang membuat pusing Azura. "Dia baru ngabarin gue semalam. Lo tau sendiri gimana dia Ren, sibuk sama urusannya sendiri. Mungkin gue gak bakal ngasih tahu dulu. Gue belum siap Ren," lesu Azura sambil menangkupkan kepala di meja. "Sudah gue duga, yaudah gapapa nanti aja ngasih tau dianya pelan-pelan." Rena mengelus pundak Azura. "Azura, lo dipanggil Pak Damian disuruh keruangannya," ucap salah satu teman kelasnya. Memotong pembicaraan mereka. "Wah, sana Zur udah dipanggil sama calon suami lo." Melisa menyenggol bahu Azura dengan tatapan menggodanya. Azura menatap kesal Melisa. Namun tidak segera bergerak dari duduknya. Apa lagi ini. Muak rasanya melihat wajah datar dosen killernya itu. Tapi, ini juga kesempatan buat dia supaya tugasnya bisa diterima. Dengan berat hati Azura beranjak menuju ruangan dosennya itu. "Gue ke ruangan pak Damian dulu ya. Sekalian mau nyerahin tugas yang kemarin, doain mudah-mudahan si killer itu berubah pikiran." "Pasti di terima. Kan, sama calon istri sendiri," celetukan pelan Melisa. tidak ditanggapi oleh Azura. Rena menepuk pundak Melisa, "Lo tuh ya gaboleh kek gitu kasian si Azura udah kesel gitu sama lo," ucap Rena menghentikan tindakan usil temannya itu. Melisa hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya. * Azura tiba di depan ruangan Damian. Dia menahan nafas sebentar sebelum mengetuk pintu di depannya. Hatinya banyak berdoa akan apa yang dosennya itu sampaikan. "Bisa jantungan gue kalo terus kayak gini," gumam Azura. Azura mengetuk pintu. "Masuk." Suara khas dosennya terdengar. Segera Azura membuka pintu, bergegas masuk. "Mana tugas kamu yang kemarin?" tanya sang dosen dengan tampang arrogannya. Azura mendengar ucapan pria itu seketika termangu di tempat tidak langsung memberikan tugasnya. Tanpa basa basi pria itu berkata pada Azura. Melihat gadis itu saja tidak. Hanya pokus pada laptop di hadapannya. Tanpa disadari Azura pria itu meliriknya. "Gaada yang hilang uang disini, buat apa kamu nunduk terus?" Tanpa mendengarkan celetukan dari Damian, Azura segera menyodorkan tugas yang dia pegang dari tadi. "Maaf Pak, saya cukup kaget atas pernyataan bapak tadi. Saya ucapkan terimakasih karena bapak sudah mau menerima tugas saya." Senyuman di mukanya tidak bisa dihilangkan. Rasa senang dalam hatinya ternyata tidak butuh waktu lama tugasnya bisa diterima. Netranya tidak sengaja menatap mata indah dosennya. Memang tampan dosennya ini. Kalau saja sikap arrogannya bisa diubah mungkin dirinya tidak akan sekesal ini kalau berhadapan dengannya. Pria itu mendekat, mata Azura mengedip lucu. Posisinya sangat dekat mungkin beberapa senti lagi, hidung mereka bisa menempel. "Terima tawaran itu, maka saya akan bebaskan kamu." Azura sangat mengerti apa yang dosennya itu katakan. Dia cukup pintar untuk menganalisa pernyataan itu, dan kemauan dosen itu tidak akan ia terima begitu saja. "Kenapa bapak bersikeras. Mengharuskan saya untuk menerima perjodohan itu pak? Apa jangan-jangan bapak suka sama saya," tuding Azura berkata dengan pedenya. Suara tawa pelan terdengar. Membuat gadis itu terpaku, akan ketampanan dosennya itu. Bisa ketawa juga dosen killernya itu. "Masi muda udah pikun, kamu bukan type saya." Damian mengulangi perkataannya semalam, untuk mengingatkan gadis itu. "Bunda saya ingin bertemu dengan kamu. Sore ini jangan terlambat." Azura masih diposisi yang sama. Apa katanya tadi Bundanya ingin bertemu? Bisa bener gila kalau semuanya kejadian. Mereka terdiam ditempat. Deringan ponsel memecahkan kesunyian antara keduanya. Terlihat Damian melirik kearah Azura, dia bisa melihat wajah kesal dari gadis itu. Mungkin sekarang rasa tidak suka terhadap dosennya berkali lipat. Dalam benaknya siapakah yang menelepon gadis itu. "Saya akan hubungi nanti. Maaf, kalau sekarang saya ada keperluan yang tidak bisa saya tunda. Soal perjodohan itu, saya akan berusaha negosiasi dengan Ayah saya, jangan harap saya menerima gitu saja. Ouh iya, saya harap bapak tidak membawa urusan pribadi ke kampus. Karena itu sangat tidak profesional. Saya permisi," ucap Azura. Gadis itu keluar dengan cepatnya. Tanpa mendengar jawaban dari dosennya itu. Sedangkan Damian hanya melihat gerak gerik gadis itu. Tidak ada rasa kesal sedikit pun atas ucapan anak didiknya. Jam kelas Azura sudah berakhir, mereka bertiga beriringan menuju parkiran dengan senandra gurau. Mekera berpisah di parkiran menuju rumahnya masing-masingPagi sudah mulai menyapa. Di sebuah bandara terdapat banyak orang yang berlalu lalang akan aktivitasnya masing-masing. Mereka jalan cepat seolah di buru oleh waktu. Salah satu pesawat disana ada yang baru mendarat dengan mulus dilapangan bandara. Seorang pria tengah mendorong dua koper di tangannya dengan mulut yang tidak bisa diam. "Gila banget punya bos, bisanya nyusahin mulu. Kalau bukan gara-gara dia bos, udah gue buang koper dia ke rawa-rawa. Seenak udel nyuruh-nyuruh gue," ucapnya dengan helaan nafas beratnya. Sedangkan atasannya dengan santai jalan di depannya tanpa menghiraukan keluhan asistennya itu. "Ini semua gara-gara lo, Reno. Cupu banget jadi orang untung si Azura kaga mutusin gue. Kalau sampe itu terjadi gue gantung lo di pohon toge." Tanpa menoleh dia berucap membuat sang asisten yang ada di belakangnya melebarkan mata tidak menyangka. "Lah, napa lo malah nyalahin gue? Salah sendiri selingkuh di tempat umum ya ketauan lah. Punya otak tuh pake bos, jangan dipake pas
Langit sudah makin gelap, lampu mulai terang di are perumahan. Di dalam kamar bernuansa biru terdapat sepasang suami istri yang masih terlelap di kasir yang sama. Mereka sudah menghabiskan beberapa jam tertidur dengan posisi yang lumayan intim itu. Sampai suara ketukan pintu, mulai mengusik tidur lelap seorang gadis disana. Badannya mulai merasakan beban berat diperutnya. Dahinya mengerut sesaat, sampai matanya tiba-tiba membola. Saat melihat Dosennya ada di depannya tengah tertidur di pelukannya. Niat hati ingin teriak pun, dia urungkan saat melihat wajah lelah dari pria itu. "Kenapa dia sampai ada disini, tunggu kayanya gue ngelupain sesuatu deh." Azura mengingat sesuatu yang mebuatnya kembali melebarkan matanya. Dia ingat saat menahan Damian untuk tetap ada di sisinya. Membuatnya malu seketika. "Aaaa, malu banget gue. Masa iya gue harus pura-pura lupa sama apa yang udah gue lakuin ke dia? Tapi di pikir-pikir ganteng juga nih cowo kalau aja sikapnya gak kaya monster mungkin.." uc
Di ruangan bernuansa biru terdapat seorang gadis tengah terisak di kasur. Sudah beberapa saat ia berada disana di habiskan dengan tangisan. Hatinya benar-benar sakit mendapatkan tamparan dari cinta pertamanya untuk yang pertama kalinya. Dadanya sakit membuat isakan pilu itu terdengar menyayat hati. "Kenapa sesakit ini?" tanyanya entah kesiapa, tangannya memukul dadanya yang lumayan sesak. Tanpa gadis itu sadari ia tidak sendiri disana, ada seorang pria yang tengah melihat dirinya disudut kamar dengan pandangan sulit di artikan. Dia sejak tadi disana mengikuti Azura dan hanya terdiam membiarkan gadis itu meluapkan emosinya dengan tangisannya. Pria itu mendekat ke arah sang gadis, dia tidak bisa membiarkan gadis itu menyakiti dirinya sendiri. Dia melangkah dengan cukup pelan dan secara spontan menghentikan pergerakan tangan Azura yang masih memukul dadanya. Tindakan itu membuat gadis yang tadinya tidak berhenti seketika menghentikan gerakan tangannya. Dengan mata menatap ke arah pria
Di meja makan terdapat banyak berjenis makanan, tidak ada percakapan disana hanya ada keheningan. Mereka tidak ada yang memulai untuk sekedar makan. Membuat beberapa orang disana saling tatap seakan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Helaan nafas dari Kirana terdengar membuat mereka pokus padanya. "Sebenernya ada apa sih? Kenapa kalian diem aja kaya gitu, udah ayo makan. Masalah yang ada nanti lagi kita bahasnya." Wanita paruhbaya itu merasa kesal karena mereka hanya terdiam.Merasa canggung Azura pun menatap Ayah-nya dan ibu sambungnya yang masih terdiam. "Gapapa kok Bun, ayo makan semuanya." Azura berusaha mencairkan suasana namun tidak ada perubahan yang berarti. Gadis itu mengambil piring milik suaminya, dan menaruh nasi dengan beberapa lauk disana. Tentu saja dengan persetujuan dari Dosennya itu. Dia sesekali bertanya pada suaminya apa yang akan dimakan olehnya. "Pakai ini, Pak?" tanya Azura sekian kalinya, matanya tidak bisa disembunyikan jejak setelah menangis. Sedangka
"Ada apa sebenernya, Azura?"Suara tegas seorang pria paruhbaya terdengar membelah kesunyian di sana. Mereka berada di ruang belakang rumah Azura. Setelah beberapa saat hanya terdiam akhirnya suara sang ayah terdengar. sang Anak hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Dia cukup takut saat melihat tatapan tajam Ayahnya, ditambah dengan suara tegasnya. Membuat Azura tidak bisa berkutiksedikit pun. Sambil menautkan tangannya, Azura hanya terdiam tanpa menjawab ucapan dari Ayah-nya. Melihat respon putrinya yang hanya terdiam membuat Bima menghela nafas panjangnya. Dia benar-benar lelah sekarang, ditambah dengan tingkah putrinya itu. "Azura! jangan diem aja ada apa?" tanya Bima dengan nada rendahnya. Dia tidak bisa menekan anaknya yang sepertinya takut dengan suaranya tadi. Azura seketika mendongak kearah Ayah-nya. "Maaf, Ayah." Bukannya menjelaskan gadis itu malah meminta maaf kepada ayahnya. Membuat ayahnya seketika menghela nafas gusarnya. "Jadi benar kamu sama suamimu pisah ka
Di ruang makan terdapat beberapa orang tengah melahap makanannya tidak ada suara apapun kecuali dentingan sendok. Hal ini membuat kedua pria paruhbaya yang memang tidak tahu apa-apa pun menimbulkan tanda tanya besar dikepalanya. Ingin berbicara pun tidak bisa saat melihat aura wanita paruhbaya itu seperti mode senggol bacok. Setelah selesai makan mereka kumpul di ruang tamu, namun tidak ada yang memulai untuk berbicara. Mereka seakan menanti anaknya yang mengucapkan kesalahannya sendiri. Saat melihat keduanya hanya terdiam salah satu wanita paruhbaya itu menghela nafas beratnya. "Sebenernya ada apa sih?" tanya Devan karena merasa penasaran dengan apa yang sebenernya terjadi. Kepalanya di penuhi pertanyaan saat melihat tingkah mereka yang tidak biasa. Begitupun dengan Bima yang memang tidak tahu apa-apa. "Jelasin apa yang sebenernya terjadi Damian. Jangan diam aja kamu!" ucap Kirana kepada anaknya karena daritadi terdiam tidak ada suara. Mendengar hal itu Damian menatap ke arah bun







