Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 15. Suami Istri

Share

Bab 15. Suami Istri

Author: Liani April
last update Huling Na-update: 2026-01-11 10:00:32

Setelah teriakan itu pecah di dalam mobil, tak ada lagi suara yang tersisa.

Liora membuang wajahnya ke arah jendela, menolak menatap Kairan. Dadanya naik turun, amarah bercampur sesak masih menekan kuat. Jika ia menoleh sekarang, ia takut akan kembali menangis. Atau justru mengatakan sesuatu yang lebih melukai.

Perjalanan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu jalan berbaris tanpa arti. Tidak ada musik, tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang kali ini tid
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku Duda Bisu   Extra Part : Kairan (Bagian 1)

    Kairan ditugaskan selama tiga hari tiga malam ke luar kota untuk menghadiri meeting akbar yang diadakan kantor pusat. Para kepala cabang dari berbagai daerah akan berkumpul di sana, membahas arah perusahaan dan keputusan-keputusan penting yang tak bisa diwakilkan.Bukan tugas itu yang menjadi masalah bagi Kairan.Yang memberatkan langkahnya justru meninggalkan Liora seorang diri di rumah, dalam kondisi hamil. Pikiran itu membuatnya tidak tenang sejak menerima jadwal keberangkatan.Beruntung, Liora menyetujui usulnya untuk tinggal sementara di rumah Oma selama Kairan pergi. Setidaknya, Kairan tahu istrinya tidak benar-benar sendirian.Pagi itu, ia sendiri yang mengantarkan Liora ke rumah Oma.Begitu tiba, wajah Liora langsung berubah cerah saat melihat kamar lama Kairan. Kamar masa mudanya yang masih terawat. Ada rasa nostalgia di sana, dan entah kenapa, Liora terlihat begitu menyukainya.Kairan menciumi wajah istrinya berkali-kali, seolah me

  • Suamiku Duda Bisu   Extra Part : Niro (Bagian 2)

    “Ada apa, Niro? Kamu kelihatan aneh hari ini.”Pertanyaan itu datang begitu saja, di sela kesibukan kafe yang tak pernah benar-benar sepi. Niro yang sedang membersihkan mesin kopi hanya mengangkat wajah sekilas, lalu segera memasang topeng cerianya. Topeng yang sudah sangat ia kuasai selama bertahun-tahun.Ia bukan tipe yang mudah membuka diri. Apalagi pada rekan kerja yang hubungannya sebatas satu shift dan obrolan ringan di balik meja bar.“Aku hanya sedang berpikir,” jawabnya santai. “Gimana kalau hari ini aku bagi-bagi latte gratis?”Rekannya mengernyit, lalu tertawa kecil. “Tumben baik.”Niro ikut tersenyum. “Hari ini, kan, ulang tahunku.”Ia tahu alasan itu ampuh. Dan benar saja, rekannya langsung menepuk dahinya sendiri.“Oh iya! Selamat ulang tahun, Bro. Umur berapa sekarang?”“Tiga puluh tiga,” jawab Niro ringan, meski angka itu terasa ganjil di lidahnya. Terlalu dewasa untuk bersikap ceroboh, terlalu muda untuk benar-

  • Suamiku Duda Bisu   Extra Part : Niro (Bagian 1)

    Meski sejak awal Niro telah sesumbar mengatakan ia tahu ke mana harus membawa foto pernikahan Kairan dan Anais, pagi itu justru ia mengurungkan niatnya.Mobilnya terparkir di pinggir jalan, mesin sudah mati, sementara foto berbingkai besar itu tergeletak diam di jok belakang.Niro menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun.Ia tahu, satu-satunya tempat yang pantas bagi foto itu hanyalah rumah keluarga Anais. Bukan rumah Kairan, bukan pula rumahnya sendiri. Namun, mengetahui ke mana harus pergi tidak serta-merta membuat langkahnya ringan.Bagaimana ia harus menjelaskan semuanya pada keluarga Anais?Sejak perpisahannya dengan Anais, yang kemudian berujung pada pernikahan perempuan itu dengan Kairan, Niro tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah tersebut.Pertemuan terakhir mereka hanyalah di pemakaman Anais, dalam suasana duka yang terlalu pekat untuk menyisakan ruang bagi percakapan apa pun.Tak ada sapaan, tak ada penj

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 101. Harus Kuat

    “Semua orang bersedih atas kehilangan bayi kalian. Terlebih kamu dan Kairan. Aku paham itu.”Niro tak berhenti bicara, seolah ia datang sebagai perwakilan suara Kairan. Kata-kata yang tak pernah benar-benar mampu disampaikan lelaki itu.“Liora, aku nggak membela siapa pun dalam hal ini. Tapi aku memohon atas nama Kairan, kamu harus lebih kuat. Jika Kairan saja nggak bisa membuatmu kuat, lalu siapa lagi yang bisa melakukannya selain kamu sendiri?”Sorot mata Niro tampak nanar. Padahal ini bukan masalahnya. Namun kepeduliannya begitu nyata, terhadap apa pun yang terjadi pada Liora maupun Kairan.Bukankah ia memang selalu seperti itu? Menjadi penengah bagi mereka berdua, seolah tak ada satu pun masalah rumah tangga Liora dan Kairan yang luput dari perhatiannya.“Aku mengerti kamu terluka karena kehilangan bayi kalian. Tapi ada seseorang yang jauh lebih terluka karena ia terus kehilangan sepanjang hidupnya.”Air mata Liora jatuh. Ia tahu maksud

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 100. Pola yang Sama

    Nyatanya, perjalanan ke resort itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Alih-alih meredakan luka, jarak antara Liora dan Kairan justru semakin merenggang.Mereka memutuskan pulang lebih awal. Malam terakhir di resort dihabiskan dengan saling membelakangi di atas ranjang, tanpa percakapan, tanpa sentuhan.Keesokan paginya, mereka pulang menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun dialog terucap. Keheningan menggantung begitu pekat di dalam kabin.Mata Kairan terlihat sembab. Ia menangis semalam. Tangisan yang selama ini ia tahan karena tak ingin tampak lemah di hadapan istrinya. Namun sekuat apa pun ia berusaha, Kairan tetap manusia yang tak kebal dari duka.Hari itu menjadi hari paling sunyi yang pernah mereka lalui sebagai suami istri.Satu-satunya kalimat yang keluar dari bibir Kairan hanyalah pertanyaan tentang tujuan mereka pulang. Ia tahu Liora belum sanggup kembali ke rumah besar itu. Belum sebelum ia bisa berdamai dengan kamar

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 99. Sampai Kapan?

    Keadaan Liora kembali kacau.Kamar bayi itu telah dibersihkan sampai tak menyisakan apa pun. Boks, pakaian mungil, mainan kecil, semuanya lenyap. Kairan sendiri yang membuangnya, melakukannya atas permintaan Liora, meski setiap langkah terasa seperti mencabut sesuatu dari dadanya.Namun kehilangan itu tak ikut pergi.Liora tetap menangis. Setiap hari. Setiap waktu. Seolah mereka kembali ke titik paling awal, saat dunia Liora runtuh dan yang tersisa hanyalah air mata. Ia terpuruk, tak melakukan apa pun selain menangis.Berhari-hari berlalu, dan Liora tak juga membaik.Kairan kembali mengambil cuti. Ia tak bisa meninggalkan Liora sendirian, tak meski hanya untuk beberapa jam. Perkataannya tempo hari bahwa ia baik-baik saja terbukti hanya kebohongan yang dipaksakan. Ia sama rapuhnya.Kairan kebingungan. Ia tak lagi tahu bagaimana menghadapi Liora yang kerap meracau di sela tangisnya. Tak ada nasihat yang bisa ia ucapkan. Tak ada solusi yang ter

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status