LOGINPutri Mahkota saat ini adalah kekasih gelap suaminya. Jika dugaan itu benar, ini bukan hanya sekadar romansa terlarang, melainkan skandal besar yang sanggup meruntuhkan segalanya. Jika kabar ini menyebar, reputasi keduanya dipastikan hancur tanpa sisa. Pantas saja mereka bermain begitu rapi selama ini.
Tunggu, jika itu semua benar, bukankah berarti Darius telah menyelingkuhinya di kehidupan pertama juga?!“Nyo-nyonya … apa ada masalah?” tanya Rere ragu-ragu merasakan perubah“A-aku akan berburu untuk makan siang kita.” Melepaskan diri dari suasana canggung diantara mereka, Darius segera pergi dan bersiap untuk berburu. Sebelum itu dia telah mengikat kuda mereka dan menemukan tempat teduh untuk Serena beristirahat.“Aku akan segera kembali,” ucap Darius sebelum benar-benar pergi.Serena menunggu dengan patuh di bawah pohon. Awalnya dia merasa enggan untuk ditinggal. Tinggal sendirian di hutan antah barantah tentu saja membuatnya cukup cemas. Namun, dia harus berada di tempat ini sampai beberapa minggu ke depan. Dia harus segera beradaptasi dan tidak terlalu merepotkan suaminya.Darius meninggalkan sebuah belati untuk Serena. Selama Darius pergi Serena hanya menggunakan belati itu untuk menggaruk tanah dan menggambar beberapa hal abstrak di tanah untuk mengalihkan rasa bosannya. Ditengah rasa bosan yang melandanya, Serena mendengar suara dari semak-semak yang tak jauh dari tempatnya duduk. Seketika Serena memasang sikap waspada.
Darius tidak bisa memikirkan apapun, hingga dia melihat sebuah salep di tangan Serena. Melihat kotak salep yang dikenali olehnya, hatinya seketika masam.Itu adalah salep yang dihadiahkan oleh Putra Mahkota. Apa istrinya membawanya kemana-mana? Apa benda itu begitu berharga hingga Serena begitu menyayanginya?Memikirkannya membuat perasaan Darius semakin masam dan masam.“Bukankah itu salep dari Putra Mahkota?”Darius jelas mengetahui jawabannya hanya dalam sekali lihat. Tapi tetap saja ia tak tahan untuk tidak bertanya langsung pada istrinya.“Benar. Cepat buka pakaianmu. Biarkan aku mengobati punggungmu.”Mengingat luka cambuk yang dialami Darius, Serena tak sabar untuk mengoleskan salepnya. Terakhir dia melihatnya, itu tampak cukup buruk.“Tidak perlu. Ini baik-baik saja.”Darius dengan cepat menolak. Darius cukup terharu dengan niat baik istrinya. Namun, ada rasa tidak nyaman ketika melihat kotak salep di ta
Jika saja Serena bersedia menatap Darius lima menit lebih lama tanpa mengedipkan mata, mungkin dia akan menyadari ketampanan suaminya lebih awal. Sayangnya Serena dulu memang bodoh. Terus membenci suaminya dan mengabaikan hal-hal bagus yang bisa saja ia dapatkan di kehidupan sebelumnya. Ia berakhir tragis karena kesalahannya sendiri.Memikirkan masalalu membuat Serena menghela napas berat. Ya, percuma menyesali apa yang telah berlalu. Kehidupan kedua ini mungkin jalan bagi Serena untuk memperbaiki segalanya. Terutama hubungannya dengan suaminya. Berjalan dengan penuh keyakinan, Serena mendekati suaminya yang telah memakai pakaiannya.Serena baru akan membuka mulutnya untuk menyapa Darius, namun suara lain mendahuluinya. Perutnya yang berbunyi nyaring terdengar jelas di telinga Darius. Pria itu segera menoleh dan mendapati Serena yang memegangi perutnya dengan wajah tertekuk. Serena merasa malu, tapi tak ingin menunjukkannya. Dia hanya bisa memasang wajah masam.
Langkah Darius dan Serena terhenti saat seseorang dengan seragam yang serupa dengan yang mereka kenakan berjalan mendekati mereka. Itu adalah seorang pria muda bertubuh kurus kecil yang tingginya hampir sama dengan Serena.“Siapa kalian?! Kenapa aku belum pernah melihat kalian sebelumnya?” Pria kecil itu menatap penuh selidik pada Darius dan Serena. Terutama Serena yang memiliki tubuh kecil yang sama sepertinya. Berpikir orang yang lebih kecil lebih mudah diintimidasi. Sedang Darius, sosoknya yang tinggi besar membuat pria kecil itu tak berani menatapnya lama-lama.“Bukankah kami yang harus bertanya seperti itu? Apa kau anak baru? Dimana etikamu ketika bicara pada senior?!” Darius maju, berbicara dengan mengeluarkan aura intimidasi yang kuat. Serena pikir usaha mereka telah berakhir sia-sia. Ia tak menyangka Darius akan menghadapi pria itu dengan sangat tenang. Dia bahkan mengembalikan kata-kata pria kecil itu dengan tatapan mengancam.Apa benar pria kecil
“Jika Anda memiliki rencana yang begitu bagus, kenapa tidak kabur lebih awal?” tanya Serena merasa heran. Ia telah mendengar seluruh rencana Darius. Meski belum pernah dicoba, tetapi Serena sudah yakin akan keberhasilannya. Rencana itu jelas dibuat dengan sangat teliti dan matang. Jika Darius melarikan diri lebih awal, pria itu pasti tidak perlu menderita penyiksaan. “Tidak. Mereka pasti akan langsung menyerang Braun, dimana kamu berada dan menjadikanmu tawanan. Aku tak bisa membahayakan keselamatanmu. Aku baru akan menjalankan rencanaku setelah memastikan kamu aman.”Serena mengedipkan matanya. Dia tak pernah memikirkannya. Rasa peduli Darius yang begitu besar menyentuh hatinya secara mendalam.“Jika Anda segera kabur, Anda tidak harus menanggung luka yang begitu banyak,” gumam Serena pelan. Merasa sayang melihat wajah suaminya yang dipenuhi bengkak dan memar. Melihat kepedulian istrinya, Darius tersenyum senang.“Tidak apa-apa.” Dariu
Wajah cantik istrinya yang tengah tersenyum manis membuat jiwa Darius seakan dibawa melayang tinggi. Darius tidak berkedip menatapnya. Di matanya, istrinya adalah wanita paling cantik di semesta.“Apa Anda mendengarkan saya?”Darius tersentak saat Serena kembali mendekatkan wajahnya sambil menyentuh punggung tangannya yang kini terasa hangat.“A-apa?” Darius tergagap. Sepertinya barusan jiwanya benar-benar hilang hingga dia tak mendengar apapun yang dikatakan istrinya.“Saya akan mencium Anda setiap hari. Sebagai gantinya, Anda tidak boleh meninggalkan saya apapun yang terjadi. Sekarang, mari sepakati ini!” Serena mengulurkan tangannya. Tatapannya yang lurus serta nada suaranya yang tegas tak memberikan lawan bicaranya tempat untuk menolak ataupun menawar.Darius sedikit tertegun. Tak menyangka Serena akan mengatakan sesuatu selugas ini. Ia kini tahu tujuan istrinya. Menukar ciuman dengan perlindungan, ide dari mana itu berasal?







