Share

Bab 2

Penulis: Anonima
Elian tertegun. Aku melihat dia mengacak-acak rambutnya. Itu adalah kebiasaannya setiap kali mulai tidak sabar.

Benar saja, detik berikutnya dia berkata dengan suara dingin, "Baiklah, Selina. Aku mau lihat gimana kamu bisa hidup tanpa aku yang menafkahimu."

Dia membanting pintu dan pergi, seolah tidak pernah pulang ke rumah ini.

Udara terasa begitu mencekam dan membeku, sama seperti hatiku yang kini hanya menyisakan kehampaan. Aku akhirnya kehilangan seluruh tenaga dan jatuh terduduk di lantai.

Pria yang dulunya kukira akan menemaniku seumur hidup, ternyata pada akhirnya hanya meninggalkan kekacauan dalam rumah tangga yang selama ini tampak indah dari luar.

Gerak Elian ternyata cukup cepat. Aku baru saja naik taksi dan tiba di rumah sakit ketika dia mengirimkan surat perjanjian cerai ke emailku, disertai sebuah pesan singkat.

[ Sudah lama aku merasa jijik sama kamu. Cepat tanda tangani. Setidaknya aku masih bisa menyisakan sedikit harga diri untukmu. ]

Sementara saat ini, sebentar lagi aku berbaring di meja operasi yang dingin untuk mengakhiri kehidupan anak kami.

"Bu Selina, mohon segera buat keputusan." Suara dokter yang mendesak terdengar di telingaku.

Aku mematikan layar ponsel dan membiarkan diriku tenggelam dalam kegelapan tanpa batas.

Seluruh operasi itu terasa seperti mimpi.

Ketika aku terbangun, Talia sudah membawakan surat perjanjian cerai yang telah dicetak untukku. Talia adalah sahabat terbaikku sejak kuliah. Sekarang dia sudah menjadi pengacara terkenal di bidangnya.

Begitu melihat keadaanku, Talia langsung naik pitam.

"Surat perjanjian cerai ini sama sekali nggak jelas dan berantakan. Rasanya seperti dibuat mendadak tanpa dipikirkan matang-matang. Isinya penuh dengan klausul yang merugikanmu. Sekarang suamimu sudah bikin kamu sampai begini, tapi kamu malah bilang mau tandatangani surat ini tanpa peduli sama kerugiannya? Selina, kamu sudah bodoh, ya?"

Rasa sakit setelah operasi masih menyelimuti tubuhku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berpura-pura sudah merelakan semuanya.

"Kalau aku menghabiskan waktu untuk berurusan dengan orang seperti dia, bukankah aku cuma akan membuat diriku sendiri semakin lelah?"

Melihat kondisiku yang begitu lemah, sorot mata Talia dipenuhi rasa iba yang tak bisa disembunyikan.

Tiba-tiba aku teringat saat terakhir kali aku masuk ruang operasi karena penyakit lambung. Waktu itu, hanya Talia yang menemaniku dari awal hingga akhir. Sementara suamiku saat itu sedang berlibur ke Hawaii bersama sekretaris mudanya.

Mereka mengenakan pakaian pantai yang seksi dan memamerkan kehidupan mereka yang bahagia dan indah di media sosial setiap saat.

Sedangkan aku hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit, tersiksa oleh rasa sakit hingga setengah mati, seperti serangga menjijikkan di selokan yang diam-diam mengintip kebahagiaan mereka.

Saat itulah, aku tiba-tiba mengerti. Ternyata sejak awal hingga akhir, akulah orang luar itu. Sedari dulu, aku sudah tersingkir dari kehidupan Elian.

Seprai di bawah bantalku sudah basah kuyup. Namun, aku tahu air mata itu bukan lagi air mata kesedihan, melainkan keputusasaan.

Pada akhirnya, Talia hanya bisa menghela napas tak berdaya, "Aku mengerti, Selina."

"Aku akan berusaha semaksimal mungkin mengurus semuanya sesuai keinginanmu. Tapi sebelum itu, kamu harus janji sama aku untuk jaga kesehatanmu baik-baik."

Dengan wajah pucat, aku mengangguk. Aku berusaha keras memaksakan senyum di wajahku yang kaku. Aku benar-benar berterima kasih atas perhatian Talia kepadaku.

Karena dia membuatku sadar bahwa bahkan seseorang yang bukan keluargaku saja bisa memperlakukanku ribuan, bahkan puluhan ribu kali lebih baik daripada suamiku yang hanya menyandang status kosong.

Aku membuka layar ponsel. Hal pertama yang kulihat adalah unggahan terbaru Yara di media sosial.

[ Cincin berlian kecil yang sudah jelek dan usang ternyata memang nggak ada istimewanya. Kak Elian beliin aku yang lebih besar. Senangnya! ]

Cincin dalam foto itu memancarkan kilauan yang terasa begitu menusuk mataku.

Aku menahan rasa mual dan tidak nyaman, lalu meninggalkan sebuah komentar di unggahannya.

[ Kalau begitu, semoga kalian segera dikaruniai anak dan hidup bahagia bersama sampai tua. ]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 10

    Talia sampai tercengang melihat semua yang kulakukan. Dia sendiri tidak menyangka sahabatnya yang dahulu hanya tahu mengalah kini bisa bertindak setegas ini.Aku menjual seluruh saham Grup Sudarma yang kumiliki dan mendapatkan total 120 miliar.Talia mengerucutkan bibir seraya berkomentar, "Nggak kusangka 20% sahamnya cuma bernilai segini."Aku menghiburnya, "Bukan sahamnya yang nggak berharga, tapi Elian sendiri yang nggak berharga. Jadi, perusahaannya ikut kehilangan nilai."Video mesra itu ditemukan oleh asistennya di folder pribadi milik Elian. Sekarang, dia juga sudah mengundurkan diri dari Grup Sudarma.Aku merasa sedikit bersalah dan ingin memberinya sejumlah uang sebagai kompensasi, tetapi asisten itu berkata kepadaku, "Kak Selina, kalau dulu bukan karena kamu, aku pasti sudah nggak punya jalan untuk bertahan di industri ini. Kamu tahu sendiri sebesar apa dampak sebuah skandal terhadap karier seseorang.""Jadi, aku melakukan semua ini untukmu dengan sukarela. Lagi pula, aku sud

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 9

    Kerumunan seketika gempar."Astaga, siapa itu? Nggak tahu malu sekali! Kenapa video seperti ini malah diputar di acara peluncuran produk perusahaan?""Kamu masih belum sadar? Pemeran pria dalam video itu adalah orang yang sedang berdiri di atas panggung.""Astaga! Direktur utama Grup Sudarma yang terhormat ternyata melakukan perbuatan memalukan begini. Gadis dalam video itu jelas-jelas bukan istrinya. Sudah selingkuh, malah berani pamer sampai di depan istri sahnya. Benar-benar nggak tahu malu.""Benar. Aku juga dengar dulu waktu perusahaan keluarganya mengalami krisis, istrinya yang mengeluarkan uang untuk membantu mereka melewati masa sulit. Nggak kusangka dia malah ngelakuin hal begini di belakang istrinya. Benar-benar lebih buruk daripada binatang."....Suara pembicaraan orang-orang terus terdengar tanpa henti.Setiap ucapan mereka seolah menusuk tepat ke jantung Elian.Dia berteriak ke arah belakang panggung dengan histeris, "Matikan! Cepat matikan! Siapa yang berani mutar video

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 8

    Talia memberitahuku bahwa jika Elian terus menolak bercerai, satu-satunya jalan yang bisa kutempuh adalah mengajukan gugatan cerai. Namun, syaratnya aku harus memiliki bukti bahwa hubungan kami sebagai suami istri memang sudah benar-benar retak.Foto-foto yang diunggah Yara di media sosial saja belum cukup untuk membuktikan bahwa rumah tangga kami telah hancur.Setelah mempertimbangkannya berulang kali, aku akhirnya menemui asisten Elian.Ketika pertama kali bekerja di Grup Sudarma, asisten itu pernah difitnah dan sengaja dijegal oleh seseorang hingga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan promosi.Aku membantunya membersihkan namanya dan membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Karena itu, dia selalu mengatakan bahwa dia berutang budi kepadaku dan bersedia membantuku seumur hidup.Sebenarnya, pada awalnya aku juga tidak tahu bahwa hubungan Yara dan Elian tidak sesederhana yang terlihat. Asisten itulah yang berkali-kali diam-diam memberikan petunjuk kepadaku hingga akhirnya aku mulai cur

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 7

    Saat keluar dari rumah sakit, Elian masih saja bersikeras berada di sisiku. Tanpa sungkan sedikit pun, Talia menyodorkan puluhan salinan surat perjanjian cerai yang sudah dicetak ke dalam pelukannya."Aku sudah mengedit ulang semuanya. Kalau pria berengsek sepertimu mau bercerai dengan Selina, jangan harap kamu bisa mengambil keuntungan sedikit pun."Elian memeluk tumpukan kertas yang berat itu dan menatap ke arah kami pergi dengan kebingungan.Baru setelah kami berjalan cukup jauh, dia tersadar dan buru-buru mengejar kami dengan langkah sempoyongan. Dia berusaha meraih tanganku. Namun, aku melepaskan tangannya dengan lugas.Aku bahkan tidak menggunakan tenaga, tetapi ekspresinya seakan-akan hancur, seperti ada sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia genggam lagi.Talia mencibir dari samping, "Laki-laki memang begitu. Mereka selalu baru sadar bahwa sesuatu seharusnya dihargai setelah kehilangannya. Makanya mereka nggak pantas mendapatkan cinta."Elian membuka mulut dengan susah payah,

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 6

    Aku dan Elian tidak bisa dibilang sebagai teman masa kecil. Kami pertama kali saling mengenal saat SMA. Kami bersekolah di tempat yang sama. Mungkin aku pernah mendengar namanya, tetapi aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung.Aku hanya tahu bahwa dia adalah anak orang kaya yang sangat terkenal di sekolah kami, seorang playboy yang selalu dikelilingi banyak gadis.Baru setelah kami masuk ke universitas yang sama, aku mulai mengenalnya lebih jauh.Semua bermula dalam sebuah pertunjukan perayaan kampus. Karena suatu kebetulan, aku dan dia ternyata bergabung dalam klub yang sama.Ketua klub berkata bahwa kami terlihat serasi, sama-sama berbakat dan berpenampilan menarik, jadi kenapa tidak tampil bersama saja?Begitulah, kami perlahan menjadi dekat tanpa disengaja.Latihan selama dua jam setiap malam menjadi tempat tumbuhnya perasaan di antara kami. Setiap kali memainkan biola, aku sering merasa detak jantungku ikut berpacu mengikuti irama.Belakangan, barulah aku menyadari bahw

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 5

    Elian terus merawatku di rumah sakit selama seminggu penuh. Bagaimanapun aku mengusirnya, dia tetap tidak mau pergi. Bahkan ketika Talia datang, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Elian.Karena secara hukum kami masih berstatus sebagai suami istri, dia tetap dianggap sebagai keluarga pasien. Dia benar-benar seperti plester yang menempel erat dan tidak bisa dilepaskan dariku.Saat aku mengira sudah tidak ada harapan untuk mengusirnya, Yara datang ke sini.Untuk pertama kalinya, aku merasa begitu senang melihat kemunculannya.Begitu melihat Elian dan aku tampak begitu mesra, Yara benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Barulah aku menyadari bahwa hanya dalam beberapa hari, dia sudah berubah dari seorang gadis muda yang cantik dan anggun menjadi wanita berwajah kusam dan tampak sangat kuyu.Namun, ada hal lain yang juga membuatku terkejut.Saat melihat kami seperti ini, memang ada kecemburuan yang terpancar dari matanya, tetapi yang lebih kentara justru rasa takut. Bahkan dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status