Short
Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi

Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi

Por:  HesCompletado
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Capítulos
2vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Malam sebelum kami mendaftarkan pernikahan, teman-teman mengajak kami memainkan permainan “Kotak Misteri Kehidupan”. Mereka semua bilang, permainan ini adalah cara yang paling adil. Namun saat membuka kotakku, hanya ada selembar kartu tipis bertuliskan …. [Terima kasih telah berpartisipasi] Ruangan menjadi hening. Seseorang bahkan tidak mampu menahan tawanya. Tunanganku, Timo, mengusap kepalaku sambil berkata, “Keberuntunganmu memang selalu seburuk ini.” Edwin, sahabat masa kecilku, juga berbisik pelan, “Tersenyumlah sedikit. Jangan sampai orang mengira kamu tidak bisa menerima kekalahan.” Dalam putaran yang sama, Maya justru mendapatkan hadiah utama yang langka. Di dalam kotaknya terdapat kalung berlian pink yang dipilih sendiri oleh Timo, voucher perjalanan berdua ke pulau impian yang sudah 3 tahun kudambakan, serta kartu ucapan dari Edwin yang bertuliskan …. [Mulai sekarang, kami semua akan selalu melindungimu] Aku ikut tersenyum, lalu memasukkan kembali kartu milikku ke dalam kotak kosong itu. Namanya juga undian. Semua memang bergantung pada keberuntungan …. Sampai akhirnya … ketika pergi ke toilet, aku mendengar MC sedang memastikan daftar penerima hadiah di ruang istirahat. “Tuan Howart, tadi hadiahnya tidak tertukar, kan? Hadiah utama untuk Nona Piere, sedangkan hadiah hiburan untuk Nona Molt.” Timo hanya menjawab singkat, “Ya.”

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Edwin tertawa lalu menimpali, “Benar. Dia pasti akan mencari pembenaran sendiri untuk menerimanya.”

Aku berdiri di luar pintu. Tiba-tiba, ingatanku kembali ke malam saat aku berusia 18 tahun ….

Malam itu, aku menunggu pesta kembang api tepat tengah malam untuk merayakan kedewasaanku di tengah guyuran hujan.

Namun, Timo dan Edwin justru memayungkan satu-satunya payung yang mereka miliki untuk Maya.

Mereka menoleh kepadaku dan berkata, “Freya, rumahmu dekat. Lari sedikit saja pasti sudah sampai.”

Hari itu, aku pulang dalam keadaan basah kuyup. Namun, aku masih membela mereka dengan mengatakan bahwa diriku memang sedang tidak beruntung.

Akhirnya malam ini aku mengerti. Ternyata, sejak awal payung itu memang tidak pernah disiapkan untukku.

Karena itu, kali ini aku merobek kartu tersebut dan membatalkan janji pendaftaran pernikahan kami. Aku tidak mau lagi ikut dalam permainan keberuntungan yang sudah mereka atur ini.

....

Ketika aku kembali ke ruang VIP, Maya sedang dikerumuni orang-orang yang sibuk berfoto dengannya.

Kalung berlian pink itu menghiasi tulang selangkanya, tampak seperti setetes air mata yang dijaga dengan penuh kasih di telapak tangan seseorang.

Seseorang mulai menggoda, “Timo, hadiah spesial ini mewah sekali! Jika tidak tahu ceritanya, orang-orang pasti mengira yang akan kamu lamar malam ini adalah Maya!”

Mata Maya langsung memerah, “Jangan bilang begitu, nanti Kak Freya marah.”

Begitu dia berbicara, semua tatapan langsung tertuju kepadaku. Timo melihatku kembali. Alisnya sedikit bergerak.

“Kenapa berdiri di depan pintu? Orang yang tidak tahu bisa mengira ada yang menindasmu.”

Aku menatapnya dan tiba-tiba merasa semuanya sangat menggelikan.

Padahal dirikulah yang terluka. Namun, bahkan diamku saja seolah dianggap sebagai tindakan mencari masalah.

Karena itu, aku tetap berdiri tanpa bergerak.

Kening Timo sedikit berkerut.

Edwin lebih dulu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku.

Raut wajahnya lembut, dan setiap kali menatap seseorang, matanya seolah selalu menyiratkan senyuman.

Sebelum berusia 18 tahun, aku selalu mengira Edwin adalah orang yang paling tidak mungkin mempermalukanku di dunia ini.

Namun, saat ini dia sedikit membungkuk mendekatiku dan berkata dengan suara sangat pelan, “Freya, jangan mempermalukan Timo di saat seperti ini.”

Aku menatapnya, “Memangnya aku bilang apa?”

Edwin terdiam sejenak. Maya menggenggam kalungnya. Air matanya justru mengalir semakin deras.

“Kak Freya, bagaimana jika kalung ini kukembalikan padamu? Seharusnya aku memang tidak menerimanya.”

Saat tangannya menyentuh kalung itu … Timo segera angkat bicara.

“Pakai saja.”

Timo menoleh padaku, “Siapa yang mendapatkannya, dialah pemiliknya.”

Aku tersenyum tipis.

Ruangan itu seketika hening. Tatapan Timo menjadi semakin dingin.

Edwin mengerutkan kening, “Freya, ini cuma permainan. Apa kamu harus membuat suasananya jadi seburuk ini?”

Setelah itu, dia berdiri melindungi Maya. Nada suaranya masih terdengar lembut, tetapi setiap katanya terasa seperti sisi tumpul pisau yang menekan tenggorokanku.

“Sejak kecil Maya selalu merasa tidak aman. Sekarang akhirnya dia bisa bahagia. Apa kamu tidak bisa mengalah sedikit saja?”

Lagi-lagi kalimat itu ….

Tanpa sadar, aku pun menoleh ke arah Maya.

Dia bersembunyi di samping Timo. Masih ada air mata di sudut matanya, tetapi tatapan yang dilemparkannya padaku seolah menyiratkan senyum kemenangan.

Detik berikutnya, Timo bangkit dan berjalan menghampiriku. Dari tubuhnya tercium aroma cedarwood yang dingin dan lembut. Parfum itu adalah pilihanku.

Dulu aku bilang aroma itu cocok untuknya. Sejuk, bersih, dan elegan. Namun, dia justru menganggap aromanya terlalu ringan.

Belakangan, Maya mengatakan bahwa dia menyukai parfum itu. Sejak saat itu, Timo memakainya selama 3 tahun.

Dia mengangkat tangan dan hendak mengusap kepalaku seperti biasa. Namun, aku memiringkan kepala untuk menghindar.

Seseorang di ruangan itu terdengar menarik napas kaget.

Tatapan Timo akhirnya menggelap, “Besok aku akan menemanimu mencoba gaun pengantin.”

Aku mendongak menatapnya, “Kamu masih ingat?”

Dia menatapku seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

“Memangnya aku pernah melupakan janji yang kubuat padamu?”

Tepat saat itu, Maya terbatuk pelan. Timo langsung menoleh.

“Ada apa?”

Maya menggeleng, “Tidak apa-apa. Leherku cuma sedikit gatal. Mungkin karena belum terbiasa memakai kalung ini.”

Timo mengambil jas yang tergeletak di sofa, lalu menyampirkannya ke bahu Maya.

Edwin memperhatikan ekspresi wajahku, kemudian menghela napas.

“Freya, jangan terus-terusan mempersoalkannya. Besok, orang yang akan dinikahi Timo itu kamu. Maya hanya kami anggap sebagai adik sendiri.”

Aku menatapnya.

“Memangnya seorang adik pantas menerima kalung berlian pink yang dipilih sendiri oleh tunangan orang lain?”

Senyum di wajah Edwin perlahan memudar, “Haruskah kamu bicara seperti itu?”

Timo menoleh ke arahku. Suaranya rendah dan dingin.

“Freya, cukup. Jangan keterlaluan.”

Tiba-tiba, aku tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.

Dalam permainan yang sudah mereka atur ini, bahkan setelah dipermalukan aku masih harus tersenyum dan berkata bahwa keberuntunganku memang buruk sekali.

Ketika pesta berakhir, Timo mengantar Maya ke rumah sakit. Ada sedikit kemerahan di lehernya.

Sementara itu, Edwin tetap tinggal untuk mengantarku pulang.

Saat sampai di pintu keluar, dia melepaskan syalnya dan melingkarkan di leherku.

“Tadi anginnya kencang. Jangan sampai masuk angin.”

Aku menunduk memandangi syal itu.

Dia memang selalu seperti ini. Setiap kali hampir benar-benar kehilangan harapan, dia akan memberiku sedikit kelembutan, tepat pada saat aku sangat membutuhkannya.

Namun sedetik kemudian, dia kembali mendorongku ke posisi semula.

Dan benar saja ….

Setelah selesai merapikan syal di leherku dia berkata, “Freya, jangan terlalu memasukkan kejadian hari ini ke dalam hati. Kamu tahu sendiri Timo bagaimana. Mulutnya memang dingin, tetapi hatinya tidak.”

“Besok dia akan menemanimu mencoba gaun pengantin. Lusa, dia akan pergi bersamamu untuk mendaftarkan pernikahan kalian. Kamu sudah menang. Jadi, jangan lagi berebut hal-hal kecil seperti ini dengan Maya.”

Aku menatapnya, “Apa yang sudah kumenangkan?”

Edwin tertegun sesaat.

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Karena bahkan dia sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
10 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status