INICIAR SESIÓNMalam sebelum kami mendaftarkan pernikahan, teman-teman mengajak kami memainkan permainan “Kotak Misteri Kehidupan”. Mereka semua bilang, permainan ini adalah cara yang paling adil. Namun saat membuka kotakku, hanya ada selembar kartu tipis bertuliskan …. [Terima kasih telah berpartisipasi] Ruangan menjadi hening. Seseorang bahkan tidak mampu menahan tawanya. Tunanganku, Timo, mengusap kepalaku sambil berkata, “Keberuntunganmu memang selalu seburuk ini.” Edwin, sahabat masa kecilku, juga berbisik pelan, “Tersenyumlah sedikit. Jangan sampai orang mengira kamu tidak bisa menerima kekalahan.” Dalam putaran yang sama, Maya justru mendapatkan hadiah utama yang langka. Di dalam kotaknya terdapat kalung berlian pink yang dipilih sendiri oleh Timo, voucher perjalanan berdua ke pulau impian yang sudah 3 tahun kudambakan, serta kartu ucapan dari Edwin yang bertuliskan …. [Mulai sekarang, kami semua akan selalu melindungimu] Aku ikut tersenyum, lalu memasukkan kembali kartu milikku ke dalam kotak kosong itu. Namanya juga undian. Semua memang bergantung pada keberuntungan …. Sampai akhirnya … ketika pergi ke toilet, aku mendengar MC sedang memastikan daftar penerima hadiah di ruang istirahat. “Tuan Howart, tadi hadiahnya tidak tertukar, kan? Hadiah utama untuk Nona Piere, sedangkan hadiah hiburan untuk Nona Molt.” Timo hanya menjawab singkat, “Ya.”
Ver másKetika pintu bus tertutup, Timo berlari mengejar beberapa langkah. Edwin juga ikut mengejar. Namun, bus itu tetap melaju meninggalkan mereka ….Aku duduk di dekat jendela tanpa menoleh ke belakang.Di luar jendela, sosok mereka berdua semakin lama semakin mengecil. Seperti foto lama yang perlahan memudar tersapu air hujan.Aku menunduk dan membuka kotak anting mutiara.Kedua mutiara itu masih ada. Hanya saja, salah satunya memiliki goresan tipis di permukaannya.Aku menyentuh goresan itu perlahan … dadaku masih terasa sakit. Namun, rasa sakit itu masih bisa kutanggung.Pada akhirnya, setiap orang harus belajar melangkah maju sambil membawa luka masing-masing.Asal tidak terus berdiri di tempat yang sama, membiarkan pisau yang sama berulang kali menggores luka lama.Ketika aku tiba di Kota Kingswell, hari sudah gelap.Seorang rekan kerja dari perusahaan baruku datang menjemput. Seorang gadis berwajah bulat bernama Vini.Begitu melihatku menyeret koper, dia langsung berlari menghampiri d
Aku menaiki bus paling pagi menuju Kota Kingswell.Bus itu sudah cukup tua, dengan kursi yang agak keras. Angin dingin menyusup melalui celah jendelanya.Namun saat duduk di dekat jendela, aku justru merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Di dalam tasku tersimpan surat penerimaan kerja yang baru.Aku diterima sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan kebudayaan di Kota Kingswell.Gajinya memang tidak terlalu tinggi. Namun, cukup untuk menghidupi diriku sendiri.Dan yang lebih penting, di sana tidak ada seorang pun yang mengenal Timo ataupun Edwin. Tidak akan ada lagi yang menyuruhku bersikap murah hati ketika hatiku sedang terluka.Ketika bus meninggalkan kota, hujan akhirnya berhenti. Sinar matahari menembus celah-celah awan.Aku memandangi pemandangan di luar jendela dan tiba-tiba teringat sesuatu dari masa lalu.Dulu Timo pernah bertanya kepadaku, “Freya, kenapa kamu mudah merasa puas?”Saat itu, dia baru saja membelikanku segelas susu kedelai hangat.
Edwin berhasil menemui mantan pengelola gedung apartemenku di lantai bawah tempat tinggalku.Aku sudah mengakhiri kontrak sewaku ….Pemiliknya mengatakan bahwa aku pergi sebelum fajar, hanya membawa satu koper.Edwin berdiri di dalam apartemen yang kini kosong melompong.Di balkon, dia melihat sebelah kaus kaki putih yang masih tergantung dan belum sempat diambil. Kaus kaki kecil itu bergoyang tertiup angin.Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.Dulu aku selalu berjalan mengikuti mereka dari belakang. Timo berjalan sangat cepat, sehingga aku harus berlari-lari kecil untuk mengejarnya.Edwin yang tidak tega melihatku biasanya akan berhenti dan menungguku. Saat itu aku selalu tersenyum sambil memanggilnya, “Kak Edwin, kamu memang yang terbaik!”Namun, kemudian Maya hadir dalam kehidupan kami.Dia mudah menangis, takut kegelapan, sering gemetar ketakutan, dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak merasa aman.Sejak saat itu, semua orang mulai mengatakan hal yang sama
Ruang belakang hotel sudah kacau balau ….Timo memerintahkan orang-orang untuk menggeledah seluruh ruang rias. Maya terus menangis. Dia menangis begitu lama hingga suaranya menjadi serak.“Timo, aku benar-benar tidak mengambilnya. Kenapa Kak Freya terus mencurigaiku?”Dulu setiap kali Maya menangis seperti itu, hati Timo pasti langsung luluh. Namun hari ini, dia hanya berdiri di depan cermin rias dan menatap Maya dengan dingin.“Aku tanya untuk terakhir kalinya. Di mana anting itu?”Tangisan Maya mendadak terhenti. Edwin mengerutkan kening.“Timo, jangan menakut-nakutinya. Maya itu penakut.”Timo tiba-tiba tertawa sinis, “Dia penakut?”Dia mengambil buku susunan acara pernikahan dari atas meja, lalu melemparkannya dengan keras ke dada Edwin.“Penakut sampai berani mengubah pernikahan Freya menjadi acara yang berpusat pada dirinya sendiri, memakai barang peninggalan ibu Freya untuk merekam video, hingga membuat Freya meminta maaf kepadanya di ruang belakang?”Edwin terdorong setengah la


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.