Share

Bab 3

Author: Anonima
Talia bergerak sangat cepat.

Setelah memperbaiki beberapa kesalahan mendasar dalam surat perjanjian cerai yang sebelumnya diberikan Elian, dia langsung membawa dokumen yang sudah diperbaiki itu kepadaku.

Tanpa ragu sedikit pun, aku langsung menandatanganinya.

Setelah itu, aku segera naik taksi menuju perusahaan Elian. Aku sudah tidak ingin mempertahankan pernikahan yang menjijikkan dan kacau ini lagi.

Ketika satpam di pintu masuk melihatku, ekspresinya sedikit berubah. Kemudian, dia berkata kepadaku dengan nada serba salah, "Nyonya, bukannya saya sengaja mempersulit Anda. Pak Elian sudah berpesan beberapa hari ini, kalau Anda datang mencarinya, Anda nggak boleh diizinkan masuk."

Aku berdiri terpaku di depan pintu.

Setelah tersadar, aku malah tertawa.

Suamiku membangun perusahaan dengan uang investasiku. Namun setelah dia sukses, orang pertama yang dia singkirkan malah aku.

Aku menahan kepahitan dan amarah dalam hati, lalu berkata dengan tenang, "Kalau begitu, kasih tahu dia. Aku bukan datang untuk ganggu dia. Aku hanya ingin dia menandatangani surat perjanjian cerai."

Satpam itu tidak berani mengabaikanku dan segera menghubungi orang di dalam.

Aku berdiri di depan pintu selama dua jam penuh. Saat tubuhku hampir kehilangan seluruh tenaga, barulah seseorang datang memberi tahu bahwa aku boleh masuk.

Namun ketika akhirnya aku mengerahkan sisa kesabaranku dan berjalan masuk ke kantor Elian, aku baru menyadari bahwa orang yang duduk di kursi direktur utama bukanlah Elian.

Melainkan Yara.

Saat itu juga, aku mengerti kenapa satpam di bawah tadi menatapku dengan penuh rasa iba. Istri mana yang tidak patut dikasihani kalau sampai selingkuhan suaminya sudah berani menginjak-injak harga dirinya seperti ini?

"Di mana Elian?"

Yara yang duduk di kursi itu tertawa. Dia bersandar dengan angkuh dan menatapku penuh kemenangan.

"Gimana, Kak Selina? Jangan-jangan kamu mengira, setelah kamu mengejarnya sampai ke sini, Kak Elian masih bakal ingat sama cinta lama kalian?"

"Seharusnya sekarang kamu sudah sadar. Satu-satunya orang yang Kak Elian cintai sekarang cuma aku. Bahkan kalau aku meminta bulan di langit, dia pasti bakal ambilin untukku. Kalau kamu tahu diri, seharusnya kamu pergi dari sini dengan merangkak."

Melihat Yara yang begitu pongah karena merasa telah menang, tiba-tiba aku tidak mengerti bagaimana Elian, seorang lulusan universitas ternama dengan prestasi akademis luar biasa, bisa menyukai wanita serendah dan semembosankan ini.

Mungkin semakin tua seseorang, seleranya memang semakin buruk.

Aku mengabaikan semua ucapan provokatifnya. Dengan tenang, aku mengeluarkan surat perjanjian cerai yang kubawa, lalu berkata sambil menahan emosi yang hampir meledak.

"Seperti yang kamu inginkan, aku memang datang untuk cerai sama dia."

"Selamat, ya. Akhirnya kamu mendapatkan barang bekasku. Nggak nyangka kamu punya hobi ibegini, suka pakai barang bekas orang lain."

Aku mengejeknya tanpa menahan diri sedikit pun, karena sekarang aku sudah tidak peduli lagi apakah Elian akan memihaknya atau berdiri di sisiku. Sejak anakku meninggal, aku sudah tidak lagi menaruh harapan apa pun kepada suamiku.

Namun baru saja aku selesai berbicara, seorang pria yang sangat kukenal tiba-tiba mendorong pintu dan masuk dengan penuh amarah.

Pintu dibanting begitu keras hingga menimbulkan suara menggelegar, membuat aku dan Yara sama-sama terkejut. Begitu melihat Elian datang, Yara langsung menyambutnya dengan gembira dan menerjang ke dalam pelukannya. Kemudian, dia mulai mengadu dengan suara penuh kesedihan.

"Kak Elian, aku juga nggak tahu kenapa Kak Selina tiba-tiba berubah seperti ini dan mulai memakiku. Aku benar-benar nggak ...."

"Diam!"

Tidak seperti biasanya yang selalu bersikap lembut dan mesra kepada Yara, Elian tiba-tiba membentaknya dengan marah. Dia bahkan tidak memedulikan Yara yang sudah menangis tersedu-sedu di sampingnya. Dengan wajah merah padam karena marah, dia mengambil surat perjanjian cerai di atas meja.

"Selina, kamu bikin masalah apa sebenarnya?! Kamu benar-benar mau cerai denganku?!"

Berdiri terlalu lama membuat bibirku mulai pucat dan tenggorokanku terasa sangat kering. Namun anehnya, saat menghadapi Elian yang sedang mengamuk, aku justru merasa sangat lega.

"Iya. Bukannya ini yang kamu inginkan?"

Aku menjilat bibirku yang kering. Tidak ada sedikit pun gejolak emosi dalam suaraku. Namun, Elian yang berdiri di hadapanku tiba-tiba mulai panik.

"Sayang, kamu cuma bercanda sama aku, 'kan?"

"Surat perjanjian cerainya sudah ada di depanmu. Aku sudah minta pengacara untuk perbaiki beberapa kesalahan hukumnya. Untuk persyaratan lainnya, semuanya tetap mengikuti surat yang kamu kirim ke aku. Jadi, apa lagi yang bikin kamu nggak puas?"

Melihat sikap munafiknya sekarang, aku hanya merasa bingung.

"Aku nggak mau! Jangan marah-marah lagi sama aku, ya, Sayang? Kita jangan cerai."

Mungkin karena aku sudah terlalu sering dibohongi olehnya, saat ini aku malah merasa sorot mata Elian yang tampak begitu tulus itu begitu mengerikan.

Namun sayangnya, aku tidak akan tertipu olehnya lagi.

"Elian, nggak usah pura-pura. Kita pisah baik-baik saja, supaya setidaknya kita masih bisa menjaga harga diri masing-masing."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 10

    Talia sampai tercengang melihat semua yang kulakukan. Dia sendiri tidak menyangka sahabatnya yang dahulu hanya tahu mengalah kini bisa bertindak setegas ini.Aku menjual seluruh saham Grup Sudarma yang kumiliki dan mendapatkan total 120 miliar.Talia mengerucutkan bibir seraya berkomentar, "Nggak kusangka 20% sahamnya cuma bernilai segini."Aku menghiburnya, "Bukan sahamnya yang nggak berharga, tapi Elian sendiri yang nggak berharga. Jadi, perusahaannya ikut kehilangan nilai."Video mesra itu ditemukan oleh asistennya di folder pribadi milik Elian. Sekarang, dia juga sudah mengundurkan diri dari Grup Sudarma.Aku merasa sedikit bersalah dan ingin memberinya sejumlah uang sebagai kompensasi, tetapi asisten itu berkata kepadaku, "Kak Selina, kalau dulu bukan karena kamu, aku pasti sudah nggak punya jalan untuk bertahan di industri ini. Kamu tahu sendiri sebesar apa dampak sebuah skandal terhadap karier seseorang.""Jadi, aku melakukan semua ini untukmu dengan sukarela. Lagi pula, aku sud

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 9

    Kerumunan seketika gempar."Astaga, siapa itu? Nggak tahu malu sekali! Kenapa video seperti ini malah diputar di acara peluncuran produk perusahaan?""Kamu masih belum sadar? Pemeran pria dalam video itu adalah orang yang sedang berdiri di atas panggung.""Astaga! Direktur utama Grup Sudarma yang terhormat ternyata melakukan perbuatan memalukan begini. Gadis dalam video itu jelas-jelas bukan istrinya. Sudah selingkuh, malah berani pamer sampai di depan istri sahnya. Benar-benar nggak tahu malu.""Benar. Aku juga dengar dulu waktu perusahaan keluarganya mengalami krisis, istrinya yang mengeluarkan uang untuk membantu mereka melewati masa sulit. Nggak kusangka dia malah ngelakuin hal begini di belakang istrinya. Benar-benar lebih buruk daripada binatang."....Suara pembicaraan orang-orang terus terdengar tanpa henti.Setiap ucapan mereka seolah menusuk tepat ke jantung Elian.Dia berteriak ke arah belakang panggung dengan histeris, "Matikan! Cepat matikan! Siapa yang berani mutar video

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 8

    Talia memberitahuku bahwa jika Elian terus menolak bercerai, satu-satunya jalan yang bisa kutempuh adalah mengajukan gugatan cerai. Namun, syaratnya aku harus memiliki bukti bahwa hubungan kami sebagai suami istri memang sudah benar-benar retak.Foto-foto yang diunggah Yara di media sosial saja belum cukup untuk membuktikan bahwa rumah tangga kami telah hancur.Setelah mempertimbangkannya berulang kali, aku akhirnya menemui asisten Elian.Ketika pertama kali bekerja di Grup Sudarma, asisten itu pernah difitnah dan sengaja dijegal oleh seseorang hingga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan promosi.Aku membantunya membersihkan namanya dan membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Karena itu, dia selalu mengatakan bahwa dia berutang budi kepadaku dan bersedia membantuku seumur hidup.Sebenarnya, pada awalnya aku juga tidak tahu bahwa hubungan Yara dan Elian tidak sesederhana yang terlihat. Asisten itulah yang berkali-kali diam-diam memberikan petunjuk kepadaku hingga akhirnya aku mulai cur

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 7

    Saat keluar dari rumah sakit, Elian masih saja bersikeras berada di sisiku. Tanpa sungkan sedikit pun, Talia menyodorkan puluhan salinan surat perjanjian cerai yang sudah dicetak ke dalam pelukannya."Aku sudah mengedit ulang semuanya. Kalau pria berengsek sepertimu mau bercerai dengan Selina, jangan harap kamu bisa mengambil keuntungan sedikit pun."Elian memeluk tumpukan kertas yang berat itu dan menatap ke arah kami pergi dengan kebingungan.Baru setelah kami berjalan cukup jauh, dia tersadar dan buru-buru mengejar kami dengan langkah sempoyongan. Dia berusaha meraih tanganku. Namun, aku melepaskan tangannya dengan lugas.Aku bahkan tidak menggunakan tenaga, tetapi ekspresinya seakan-akan hancur, seperti ada sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia genggam lagi.Talia mencibir dari samping, "Laki-laki memang begitu. Mereka selalu baru sadar bahwa sesuatu seharusnya dihargai setelah kehilangannya. Makanya mereka nggak pantas mendapatkan cinta."Elian membuka mulut dengan susah payah,

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 6

    Aku dan Elian tidak bisa dibilang sebagai teman masa kecil. Kami pertama kali saling mengenal saat SMA. Kami bersekolah di tempat yang sama. Mungkin aku pernah mendengar namanya, tetapi aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung.Aku hanya tahu bahwa dia adalah anak orang kaya yang sangat terkenal di sekolah kami, seorang playboy yang selalu dikelilingi banyak gadis.Baru setelah kami masuk ke universitas yang sama, aku mulai mengenalnya lebih jauh.Semua bermula dalam sebuah pertunjukan perayaan kampus. Karena suatu kebetulan, aku dan dia ternyata bergabung dalam klub yang sama.Ketua klub berkata bahwa kami terlihat serasi, sama-sama berbakat dan berpenampilan menarik, jadi kenapa tidak tampil bersama saja?Begitulah, kami perlahan menjadi dekat tanpa disengaja.Latihan selama dua jam setiap malam menjadi tempat tumbuhnya perasaan di antara kami. Setiap kali memainkan biola, aku sering merasa detak jantungku ikut berpacu mengikuti irama.Belakangan, barulah aku menyadari bahw

  • Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi   Bab 5

    Elian terus merawatku di rumah sakit selama seminggu penuh. Bagaimanapun aku mengusirnya, dia tetap tidak mau pergi. Bahkan ketika Talia datang, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Elian.Karena secara hukum kami masih berstatus sebagai suami istri, dia tetap dianggap sebagai keluarga pasien. Dia benar-benar seperti plester yang menempel erat dan tidak bisa dilepaskan dariku.Saat aku mengira sudah tidak ada harapan untuk mengusirnya, Yara datang ke sini.Untuk pertama kalinya, aku merasa begitu senang melihat kemunculannya.Begitu melihat Elian dan aku tampak begitu mesra, Yara benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Barulah aku menyadari bahwa hanya dalam beberapa hari, dia sudah berubah dari seorang gadis muda yang cantik dan anggun menjadi wanita berwajah kusam dan tampak sangat kuyu.Namun, ada hal lain yang juga membuatku terkejut.Saat melihat kami seperti ini, memang ada kecemburuan yang terpancar dari matanya, tetapi yang lebih kentara justru rasa takut. Bahkan dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status