Short
Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali

Menatap Jalan Pulang, Tak Pernah Kembali

By:  AnnaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku punya pacar yang posesifnya luar biasa. Tujuh tahun kami bersama, dan kalimat yang paling sering keluar dari mulut Wilda Malik selalu sama. "Pacarku ganteng banget, lho. Tahu, nggak? Kalau sampai ada yang tahu, habis kamu." "Sayangku seganteng ini, siapa pun pasti langsung klepek-klepek. Orang lain ngelirik kamu dikit aja, aku udah nggak terima." Makanya, dia tidak pernah sekali pun mengizinkan aku masuk ke lingkaran pertemanannya. Sampai suatu hari, lewat akun keduaku, aku tidak sengaja menemukan unggahannya. Tiga tahun. Lebih dari 600 postingan. Isinya cuma satu, momen-momen kebersamaannya dengan pria lain. Mereka berdua menyusuri Istana Awan Putih, memanjatkan doa di puncak gunung bersalju, berciuman di tengah jalanan Kota Samudra. Dan postingan terbarunya. Fotonya di tepi pantai. Dia dan pria itu berciuman, dikelilingi sorak-sorai dan teriakan teman-teman mereka yang heboh. Keterangannya berbunyi: [Mencintai seseorang, berarti nggak mampu menahan diri untuk memamerkannya kepada seluruh dunia.] Jemariku gemetar. Tanpa sepatah kata, aku keluar dari halaman itu dan langsung memesan tiket pesawat ke Kota Selatan. Ternyata, cinta tujuh tahun ... bisa benar-benar dilepaskan hanya dalam sekejap mata.

View More

Chapter 1

Bab 1

Tepat saat pesan konfirmasi tiket pesawat muncul di layar ponselku, Wilda menghubungiku melalui panggilan video.

Di balik layar, dia berdiri di depan jendela kaca hotel besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit.

Dia tersenyum lalu memanggilku, "Sayang, kok belum tidur?"

Seandainya aku tidak baru saja menuntaskan 600 unggahan itu, mungkin sapaan singkatnya masih sanggup meluluhkan hatiku.

Aku tidak segera menjawab.

Wilda, seperti biasa, berusaha menenangkanku. "Kangen aku, ya? Proyekku di sini udah mau selesai, kok. Paling tiga hari lagi aku balik. Nanti aku bawain oleh-oleh buat kamu ya."

"Kamu sendirian di hotel?" tanyaku.

Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Bahkan senyumnya justru terlihat lebih alami dari biasanya. "Iya, sendirian, dong. Bukannya aku udah janji, kalau lagi dinas nggak bakal ke mana-mana?"

Tepat ketika kalimat itu usai.

Dari seberang telepon, terdengar tawa seorang pria.

Senyum di wajah Wilda membeku sesaat.

Detik berikutnya, dia memiringkan kamera ke samping, lalu berkata dengan nada kesal yang dibuat-buat, "Kolegaku lagi rapat di sebelah, berisik banget. Nanti aku telepon lagi, ya."

Aku menatap layar yang telah menghitam. Jemariku terasa dingin hingga mati rasa.

Dulu, dia tidak pernah mengizinkanku memasuki lingkaran pertemanannya. Alasannya selalu sama, dia takut ada orang lain yang menginginkanku.

Makanya, setiap kali teman-temannya berkumpul, aku tidak hadir.

Acara tahunan kantornya, aku tidak datang.

Bahkan ketika sahabat karibnya menikah, dia hanya berkata, "Kamu tuh ganteng banget. Aku nggak rela kalau mereka melihatmu."

Mataku perlahan terasa perih. Tanpa mampu menahan diri, aku kembali membuka unggahannya melalui akun keduaku, menatap foto itu lekat-lekat.

Wilda mengenakan gaun putih. Angin laut menerbangkan helaian rambutnya. Dia mendongak, mengecup pria itu, dan tersenyum, layaknya seorang gadis yang akhirnya meraih apa yang selama ini dia impikan.

Padahal, tujuh tahun kami bersama, dan dia bahkan tidak pernah sudi mengunggah satu pun foto berdua denganku.

Dia berkata, "Sayang, aku cuma nggak mau orang lain ganggu kehidupan kita."

Dia berkata, "Hubungan itu urusan berdua. Nggak perlu dipamerin ke orang lain."

Dia berkata, "Aku posesif. Aku nggak mau orang lain tahu betapa istimewanya dirimu."

Dulu, aku memercayai semuanya.

Baru sekarang aku mengerti. Bukan dia tidak suka memamerkan, hanya saja yang tidak ingin dia pamerkan adalah aku.

Di bawah unggahan itu, seseorang menulis komentar: [Kak Wilda memang nggak pernah setengah-setengah. Dari awal jadian langsung go public, udah tiga tahun, ya?]

Wilda membalas: [Aku nggak tega kalau dia harus bersamaku tanpa status yang jelas.]

Aku menatap kalimat itu lama sekali.

Tujuh tahun lamanya, dia tidak pernah memberiku status apa pun.

Kami tinggal bersama, pernah memelihara seekor kucing, dan melewati suka duka berdua.

Namun, di seluruh unggahannya, tidak ada jejakku.

Teman-temannya pun tidak pernah mengetahui keberadaanku.

Cinta yang dia pamerkan kepada seluruh dunia, ternyata dia berikan kepada orang lain.

Dan aku hanyalah sehelai pakaian lama yang dia simpan rapat di dalam lemari, bersih, sunyi, siap dikenakan kapan pun dia menoleh kembali.

Ponselku bergetar sekali lagi. Pesan darinya.

[Sayang, tadi sinyalnya jelek.]

[Tidur, ya. Jangan mikir yang aneh-aneh.]

[Aku paling sayang sama kamu.]

Aku tidak membalas.

Aku membuka lemari, menyisihkan kemeja-kemejanya satu per satu. Di bagian paling dalam, tergantung kemeja putih yang kubeli tahun lalu.

Kemeja itu adalah kemeja yang kukenakan di hari ulang tahunnya, saat aku menunggunya pulang untuk makan malam bersama.

Malam itu dia tidak pulang. Alasannya, lembur mendadak.

Padahal di unggahannya, pada hari yang sama, dia dan pria itu tengah menikmati konser di gedung opera. Keterangannya berbunyi: [Apa pun yang dia suka, selalu kuingat.]

Aku mengambil kemeja tersebut, lalu membuangnya ke dalam tong sampah.

Lalu dokumen-dokumen, kartu bank, laptop, dan beberapa helai pakaian ganti.

Tujuh tahun lamanya, dan semua yang bisa kubawa ternyata begitu sedikit.

Sementara yang tidak bisa kubawa, tidak lagi ingin kumiliki.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status