LOGINAku baru saja duduk dan bersulang dengan temanku, tiba-tiba meja di depan kami dihantam hingga terbalik. Segerombolan orang mengelilingi kami sambil membawa ponsel, menunjuk-nunjuk dan berkomentar sinis. "Dasar nggak tahu malu, suaminya bekerja keras di rumah, kamu malah bersenang-senang di luar?" "Dasar pelakor! Kami harus menghajarmu hari ini!" "Masih melotot? Mau menakut-nakuti siapa? Hancurkan saja semuanya! KIta harus membela keadilan!" Segerombolan orang itu seperti orang gila, menghancurkan semua yang bisa dihancurkan. Bahkan ada yang mengambil kursi dan memukul kepala temanku hingga berdarah. Aku melindungi temanku di belakang, mengambil ponsel untuk menghubungi polisi dan memberitahu pengacaraku. "Kalau Ben mau main kasar, langsung urus saja proses cerainya. Jangan biarkan dia dapat sepeser pun."
View More“Sayang, jangan pergi. Maaf karena tadi Abang emosi. Abang berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Laki-laki yang berstatus suami Silvia itu mencoba menenangkan istrinya yang sedang tergugu menangis sambil memangku lututnya dilantai. Selalu seperti itu. Pria itu selalu lepas kendali jika amarahnya sedang memuncak.
Dia tidak segan-segannya mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan sampai mengucapkan kata talak. Dan setelah itu dia akan membujuk wanita yang sudah dinikahinya dua tahun lalu itu.
“Apa maksud Abang tidak akan mengulanginya? Abang sudah mengucapkan kata cerai di depan Ibu,” ucap Silvia tergugu.
Dia sudah merasa putus asa menghadapi sikap suaminya yang kasar. Hal yang paling menyakitkan adalah saat suaminya mengucapkan kata talak dan mengusirnya.
Ditambah lagi dengan mertuanya yang tidak pernah menghargai keberadaan Silvia. Ingin rasanya dia mundur dari pernikahannya yang baru seumur jagung. Tapi dia selalu meyakinkan hatinya bahwa tidak ada rumah tangga yang tidak ada cobaannya.
Sesaat Pazel memikirkan sebuah cara agar dia tidak jadi bercerai dengan istrinya.
Kemudian dia ingat kalau tamannya pernah bercerita bahwa dia sudah mengucapkan talak untuk istrinya, tapi karena dia masih sayang pada istrinya dia tidak jadi menceraikan istrinya. Dia segera melakukan kewajibannya sebagai suami untuk membatalkan perceraian itu, karena masih dalam masa idah. Dia pun segera memberitahu Silvia akan hal itu.
“Sayang. Abang pernah dengar, kalau kita melakukan kewajiban kita sebagai suami istri, cerainya akan batal,” ucap Pazel dengan memegang kedua tangan Silvia.
Tapi tangis Silvia semakin menjadi. “Aku tidak mau diduakan Bang. Aku tidak mau dikhianati.”
Melihat tangis Silvia yang semakin menjadi, Pazel tersenyum kecil sambil mengelus kepala istrinya.
“Abang tidak menduakan kamu. Kamu jangan banyak pikiran. Lihat tubuhmu sudah kurus kering. Mulai sekarang kamu harus banyak makan dan jangan banyak pikiran, ok?” bujuk Pazel
“Lagi pula, kenapa kamu bisa berpikiran kalau Abang selingkuh. Ibu itu hanya salah bicara, kamu malah menanggapinya serius. Sekarang, hapus air mata kamu ya, Sayang? Abang gak mau lihat kamu kayak begini. Sekarang kamu mandi, ya. Abang mandiin ya, Sayang.”
Melihat keseriusan Pazel, akhirnya Silvia luluh juga, baginya pernikahan itu sakral, tidak untuk main-main. Selagi bisa dia akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, mereka melanjutkan ritual pembatalan perceraian.
Mereka melakukan kewajiban mereka malam itu sebagai pasangan suami istri yang sah.
Perasaan sedihnya berubah menjadi bahagia. Dia sangat mencintai suaminya. Wanita cantik dengan lesung pipi itu menatap suaminya yang tertidur pulas setelah menyelesaikan ritual malam yang indah itu.
Ditatapnya wajah tampan suaminya yang sedang terbang ke alam mimpi. Hidung mancung, kulit putih bersih tanpa ada bulu di wajahnya. Wajah inilah yang dulu membuat dia meninggalkan pekerjaan yang baru dirintisnya sebagai seorang desainer muda.
Pandangannya seketika dialihkan ke laci meja riasnya, karena dia mendengar suara getar dari tempat tersebut. Dia turun dari ranjang dan membuka laci meja riasnya. Ternyata benar. Di sana ada benda pipih milik suaminya. Ada satu panggilan tidak terjawab. Terdengar lagi ada notifikasi dari satu aplikasi
Matanya membulat membaca pesan dari aplikasi itu. Sayangnya dia tidak dapat membuka aplikasi tersebut. Namun dia sudah dapat membaca pesan itu dengan sangat jelas.
Pagi harinya Pazel bersiap untuk ke kantor. Dia terlihat tegang. Dia mencoba menyembunyikan raut wajah kehawatiran yang terlihat di wajahnya.
Namun Silvia dapat menangkap sinyal wajah suaminya. Untuk itulah pagi ini dia berdandan dengan rapi. Untuk suatu misi yang akan ia jalankan.
Seperti biasa Silvia menyiapkan sarapan di meja makan. Kali ini dia ikut sarapan tanpa banyak bicara dan menghiraukan mertuanya.
Mertua Silvia yang bernama Rohana hanya menatap anak dan menantunya secara bergantian. Kali ini dia menjaga agar mulutnya tidak bicara sembarangan dengan mengisi mulutnya dengan nasi goreng buatan Silvia tanpa henti.
Setelah sarapan, Pazel pamit untuk berangkat ke kantor. Dia tidak terlalu memperhatikan Silvia yang sudah berpakaian rapi, karena ingatannya sudah ada di tempat lain. Dia berjalan menuju ibunya dan mencium tangan ibunya, setelah itu dia mencium kening Silvia. Silvia pun tidak lupa untuk mencium punggung tangan suaminya sebelum berangkat bekerja. Itu dia lakukan setiap Pazel berangkat bekerja, agar rezeki suaminya selalu diberkahi dengan do’a darinya sebagai seorang istri.
“Apakah ini yang terakhir kalinya aku bisa mencium tanganmu, Bang? Karena aku sudah tidak merasakan kehangatan tanganmu yang dulu lagi. Mungkinkah ini suatu pertanda,” batin Silvia
Rohana yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Silvia merasa sedikit heran. Karena tidak biasanya Silvia berdandan rapi. Apalagi ini masih pagi.
“Biasanya jam seperti ini dia masih pakai daster. Kenapa hari ini dia rapi sekali? Mau ke mana dia? Apa dia akan meninggalkan rumah ini? Jika dia pergi, siapa yang akan mencucikan pakaianku dan Pazel? Siapa yang masak dan beres-beres rumah? Enak ada dia dirumah, pagi-pagi sudah ada sarapan, pakaian tinggal terima bersih. Kayak ada pembantu gratis. Dia juga gak banyak neko, kayak pembantu-pembantu kurang ajar itu. Untung mereka bekerja belum sebulan. Jadi aku gak perlu membayar mereka saat mereka berhenti,” gerutunya dalam hati. Wajah Bu Rohana menampakkan berbagai macam ekspresi. Kadang tersenyum, kadang bersungut seperti orang marah.
Setelah Pazel keluar, mertuanya yang selalu ikut campur urusan anak dan menantunya itu bertanya. “Kamu ga jadi pergi kan Silvia?” tanya Bu Rohana.
“Ngga, Ibu.”
“Alhamdulillah, tapi kamu mau ke mana pagi-pagi sudah rapi?”
“Aku mau ke pasar membeli bahan makanan kita Bu. Aku pamit ya Bu.” Silvia mencium tangan mertuanya dan menyambar tasnya yang ada di meja. Bergegas dia keluar, karena ojek Online yang dia pesan sudah menunggu.
Aku tertawa sinis, "Tante, dari omonganmu, sepertinya dua puluh miliar itu sangat kecil bagimu, ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kamu yang kasih saja?"Ibu itu langsung melambaikan tangannya."Nak, aku hanya kasih saran, kenapa malah menyeretku?"Ben menatapku tanpa berkedip dengan tatapan tajam.Lalu berkata tanpa malu, "Baiklah! Kalau kamu nggak masih kasih uangnya, aku akan menyebarkan semua aibmu di media sosial!""Biar semua orang tahu seperti apa kelakuanmu."Aku mengangkat bahu acuh tak acuh dan berkata, "Silakan saja, kita lihat publik akan berpihak ke siapa nantinya."Tiba-tiba, seseorang di kerumunan berteriak, "Eh, bukannya ini wanita kaya yang suaminya selingkuh itu?"Kerumunan yang tadinya mulai tenang kembali gaduh, semua orang mulai berbisik-bisik.Ben tidak tahan dengan keributan itu.Dia berteriak, "Diam! Semuanya diam!""Kalian semua nggak tahu apa-apa! Justru wanita ini yang mengkhianatiku! Kalian semua wanita murahan!"Usai bicara, dia terjatuh duduk di lantai lag
"Bukannya kamu benci dengan diriku? Kenapa mau cerita ini padaku?"Moren mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya dan memasukkannya ke tanganku.Wajahnya tampak lega, sambil tersenyum dia berkata, "Kalau aku bilang mau jadi orang baik, kamu percaya nggak?"Suara sirene polisi terdengar dari lantai bawah.Moren melambaikan tangan padaku, lalu berjalan menuruni tangga. Dia melanjutkan, "Kamu orang yang baik. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku tahu kamu orang baik. Orang baik harus dapat balasan yang baik.""Aku juga harus menuaikan tugasku sekarang. Kalau suatu saat aku keluar, semoga kamu mau menerimaku sebagai temanmu."Melihat Moren yang dibawa pergi, aku berteriak padanya, "Kamu nggak jahat! Sejak awal mengenalmu, kamu bukan orang jahat dimataku!"Moren menatapku dari balik jendela mobil polisi, memberikan senyuman ramah terakhirnya.Ponselku terus bergetar, panggilan masuk lagi."Sherly, cepat ke rumah sakit! Ben buat keributan di sini, dia nggak mau pergi."Ketika sampai di
Ketika aku terbangun, ayah Talita juga sudah tiba."Sherly! Aku lihat tidurmu lelap sekali, jadi sengaja nggak membangunkanmu. Nyenyak nggak tidurnya semalam?""Kelihatannya nyenyak ya, sampai dibangunkan saja susah."Aku mengusap wajahku dan mengangguk canggung."Semua berhenti bekerja dan keluar dulu, aku mau bicara berdua dengan Sherly."Setelah ruangan kosong, ayah Talita mengambil setumpuk berkas dari dalam tasnya.Tulisan di sampulnya tertulis jelas "Rekam Kecelakaan Mobil."Aku membuka berkas itu dengan tangan gemetaran.Awalnya aku syok, tetapi emosi itu perlahan berubah menjadi rasa benci yang sulit digambarkan dengan kata-kata.Ayah Talita menepuk bahuku dan mencoba menenangkan, "Orang tuamu adalah sahabatku yang ikut berjuang bersamaku. Waktu itu, kamu menyalahkanku karena nggak membantumu dan aku mengaku ada ego pribadiku.""Tapi, aku juga harus menghidupi keluargaku. Selama bertahun-tahun, akhirnya aku punya sedikit kekuasaan, aku pun mulai menyelidiki masalah ini.""Nak,
Petugas di lokasi dengan sigap mengambil tindakan penyelamatan.Dengan mata memerah dan sudut bibir berlumuran darah, Ben masih memohon, "Itu salah paham. Dengarkan penjelasanku."Aku melirik jam, lalu menepuk tangan dan berkata, "Aku nggak mau ikut campur dengan urusan kalian. Sekarang, kita bicarakan soal ganti rugi! Aku mau pulang makan malam."Pengacaraku segera bergerak sesuai isyaratku dan menyusun daftar kerugian hari ini."Berdasarkan perhitungan, total kerugian hari ini mencapai empat triliun."Semua orang yang mendengar angka itu terdiam membisu.Beberapa orang yang lebih cepat bereaksi langsung berlari ke hadapanku, membungkuk dan memohon.Aku tersenyum, sambil memandang mereka dan menjawab, "Hentikan! Aku nggak tertarik mendengar keluhan kalian, nggak ada negosiasi. Uang ganti rugi harus dibayar penuh, nggak boleh kurang sepeser pun."Mendengar jumlah itu, si streamer dan lainnya langsung terduduk lemas di lantai.Aku mendekatinya dan menepuk bahunya.Lalu mengambil ponseln












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews