LOGIN“Jadi sebelum menjadi manusia, aku pernah menjadi salah satu dari kalian?” tanya Adrian sambil menatap mata raksasa di balik retakan langit. “Benar,” jawab entitas itu. “Namun ingatanmu telah dikunci sejak kelahiranmu.” Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau aku pernah menjadi seperti kalian, kenapa aku dilahirkan sebagai manusia?” tanya Adrian. Entitas itu tertawa pelan. “Karena kau memilih untuk meninggalkan dunia purba,” jawabnya. Adrian terdiam. “Aku yang memilih?” tanya Adrian. “Benar,” jawab entitas tersebut. “Kau menolak menjadi penguasa dan memilih kehidupan manusia.” Adrian menatap kedua tangannya. “Jadi semua kekuatan ini bukan sesuatu yang baru bagiku?” tanya Adrian. “Tidak,” jawab entitas itu. “Kekuatan tersebut adalah bagian dari dirimu sejak awal.” [MEMORI TERLARANG TERDETEKSI.] [SEGEL KEHIDUPAN SEBELUMNYA: TERBUKA 3%.] Adrian tiba-tiba merasakan sakit hebat di kepalanya. “Argh!” seru Adrian sambil berlutut. Alya berlari mendekat. “Adrian, apa ya
“Jadi mereka adalah para penguasa yang lahir sebelum dunia manusia?” tanya Adrian sambil menatap puluhan retakan hitam di langit. “Benar,” jawab inti pertama melalui pikirannya. “Mereka bukan pasukan biasa, Adrian.” Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau begitu, aku akan menghentikan mereka sebelum mereka menyentuh dunia manusia,” ujar Adrian. Penguasa Purba tertawa. “Kau terlalu percaya diri,” ujar Penguasa Purba. Adrian menatapnya tajam. “Aku tidak percaya diri,” jawab Adrian. “Aku hanya tidak punya alasan untuk mundur.” Retakan pertama terbuka. Sosok tinggi dengan enam mata keluar dari dalamnya. Tubuhnya diselimuti kabut hitam, sementara setiap langkahnya membuat ruang di sekitarnya bergetar. [ENTITAS PURBA TERDETEKSI.] [TINGKAT ANCAMAN: TIDAK TERUKUR.] Adrian mengangkat pedangnya. “Berapa banyak yang akan datang?” tanya Adrian. “Dua belas,” jawab inti pertama. Adrian terdiam. “Dua belas penguasa?” tanya Adrian. “Benar,” jawab inti pertama. Adrian menarik
“Jadi kau adalah inti pertama yang selama ini berada di dalam tubuh ibuku?” tanya Adrian sambil menatap cahaya putih yang berdenyut di dalam dadanya. “Benar, Adrian,” jawab suara inti pertama. Adrian mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kenapa kau masuk ke dalam tubuhku?” tanya Adrian. “Aku tidak masuk ke dalam tubuhmu,” jawab inti pertama. “Kau yang membuka jalan kepadaku.” Adrian terdiam. “Aku tidak pernah membukanya,” ujar Adrian. “Ketika kau menggunakan kehendak bebasmu, batas antara inti pertama dan inti kedua menjadi lemah,” jawab inti pertama. Adrian menatap dadanya. “Apakah kau ingin mengambil tubuhku?” tanya Adrian. “Aku tidak membutuhkan tubuhmu,” jawab inti pertama. Adrian mengerutkan kening. “Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Adrian. “Aku ingin kembali kepada pemilik pertamaku,” jawab inti pertama. Adrian langsung menatap istana. “Ibu,” ujar Adrian. “Benar,” jawab inti pertama. Adrian menghela napas lega. “Kalau begitu, kembalilah kepada ibu,” ujar Adrian.
“Adrian, jangan mendekat!” teriak ibunya dari kejauhan. Adrian berdiri di tengah ruang antar-dunia. Langit putih yang sebelumnya tenang kini berubah gelap. Bayangan raksasa bergerak di balik awan, sementara tanah bergetar di bawah kakinya. “Ibu, aku datang untuk membawamu pulang,” ujar Adrian sambil menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Bukan aku yang harus kau selamatkan sekarang,” jawab ibunya dengan suara panik. Adrian mengerutkan kening. “Lalu siapa yang harus kuselamatkan?” tanya Adrian. Ibunya terdiam. Bayangan raksasa semakin dekat. “Dirimu sendiri,” jawab ibunya akhirnya. [PERINGATAN KRITIS.] [INTI PERTAMA MENGALAMI AKTIVASI.] [SINKRONISASI DENGAN INTI KEDUA: 31%.] Adrian merasakan panas menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh. “Kenapa tubuhku bereaksi seperti ini?” tanya Adrian. Penjaga berjubah hitam yang berdiri di depan istana menjawab. “Karena inti pertama mengenali pemilik berikutnya,” ujar penjaga tersebut. Adrian menatapnya tajam. “Pemilik berikutnya?” tany
“Ibu mengatakan seseorang sudah menungguku di sisinya,” ujar Adrian sambil menatap gerbang antar-dunia yang berputar di hadapannya. Suara tawa dari balik gerbang semakin jelas. Adrian merasakan inti purba di dalam dadanya berdenyut keras, seolah mengenali keberadaan seseorang di seberang sana. “Jangan masuk sebelum kau mengetahui siapa yang menunggumu,” ujar Kaelvar memperingatkan. Adrian menoleh. “Kalau orang itu bersama ibuku, aku justru harus pergi,” jawab Adrian. Kaelvar menggeleng. “Tempat itu bukan dunia yang bisa kau masuki sesuka hati,” ujar Kaelvar. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Aku sudah terlalu lama membiarkan orang lain menentukan jalan hidupku,” ujar Adrian. “Kali ini aku yang menentukan.” Alya melangkah mendekat. “Adrian, aku ikut denganmu,” ujar Alya. Adrian menatap Alya. “Tempat itu mungkin sangat berbahaya,” ujar Adrian. “Aku tahu,” jawab Alya. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian.” Adrian terdiam sesaat. “Baik,” ujar Adr
“Inti pertama ada di dalam tubuh ibuku?” tanya Adrian sambil menatap sosok berjubah putih itu dengan wajah tak percaya. Sosok tersebut mengangguk. “Benar, Adrian,” jawab sosok itu. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau begitu, kenapa selama ini semua orang mengatakan inti purba berada di tubuhku?” tanya Adrian. “Karena inti yang berada di tubuhmu hanyalah pecahan kedua,” jawab sosok tersebut. Adrian terdiam. “Pecahan kedua?” tanya Adrian. “Ya,” jawab sosok itu. “Inti pertama berada dalam tubuh ibumu sejak sebelum kau lahir.” Adrian merasakan dadanya sesak. “Lalu kenapa ibu memberikan kehendaknya kepadaku?” tanya Adrian. Sosok itu memandang Adrian dengan tatapan serius. “Karena ibumu tahu inti pertama akan memburumu setelah kau lahir,” jawabnya. Adrian mengepalkan tangan. “Siapa yang memburu ibu?” tanya Adrian. “Penguasa purba,” jawab sosok itu. Penguasa purba yang terluka langsung menatap sosok tersebut. “Jangan membuka rahasia itu!” bentak penguasa purba. A







