LOGINPagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata.
"Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri mingguTiga hari setelah kedatangan Broto, nggak ada kejadian aneh apa pun. Nggak ada pesan misterius, nggak ada tamu tak diundang. Justru itu yang bikin Alena makin nggak tenang."Kayak nunggu badai," katanya suatu malam, waktu dia dan Raka lagi makan malam berdua di kamar—kebiasaan yang udah jadi rutinitas mereka belakangan ini."Mungkin emang lagi nyusun strategi," jawab Raka, nyuil ayam di piringnya tanpa nafsu makan yang jelas. "Orang kayak dia nggak gerak sembarangan."Alena ngangguk pelan. Dia udah coba fokus ke kerjaan, ke urusan rumah tangga sehari-hari, tapi pikirannya terus aja balik ke percakapan sama Broto. Pion di papan yang lebih besar."Eh," katanya tiba-tiba, "kamu masih inget nggak, dulu waktu kita tanda tangan kontrak, kamu bilang nggak mau ada perasaan pribadi ikut campur?"Raka ngangkat alis, agak bingung arah pembicaraan tiba-tiba pindah. "Inget. Kenapa?""Cuma mikir aja," Alena senyum kecil, "gimana kita sekarang."Raka taruh sendoknya, natap Alena lama. "Kalau boleh j
Dua hari setelah malam pengakuan Pak Pradipta, semuanya kelihatan tenang. Terlalu tenang, menurut Alena.Dia lagi di dapur, bikin teh sendiri—kebiasaan baru sejak beberapa minggu terakhir, karena entah kenapa itu bikin dia lebih tenang mikir—waktu Nadia masuk dengan wajah aneh. Bukan panik kayak biasanya. Lebih ke... bingung."Kak, ada tamu. Katanya mau ketemu Ayah, tapi Ayah lagi di kantor.""Tamu siapa?""Nggak mau kasih tau nama depannya. Cuma bilang... 'teman lama'."Sesuatu di cara Nadia ngomong bikin Alena langsung waspada. Dia taruh cangkirnya, jalan ke ruang tamu.Pria itu berdiri deket jendela, mbelakangin pintu masuk. Jas abu-abu, rapi, umur mungkin sekitar enam puluhan tapi masih keliatan bugar. Waktu dia noleh, Alena langsung tau siapa ini—meski belum pernah ketemu langsung.Wajahnya sama kayak di foto lama yang pernah ditunjukkan Om Hartono."Kau pasti Alena," katanya, senyumnya sopan, tapi ada sesu
Ruang kerja Pak Pradipta gelap kecuali lampu meja yang menyala redup. Raka dan Alena duduk di kursi tamu, sementara pria tua itu berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela yang menghadap kota.Sudah lima menit dia diam saja."Ayah?" Raka akhirnya memanggil.Pak Pradipta menghela napas panjang, tapi tidak langsung berbalik."Kalian tahu kenapa dulu aku dan ayah Alena bisa jadi rekan bisnis?" Dia bertanya, suaranya aneh—bukan nada berwibawa yang biasa dipakai di rapat direksi. "Bukan cuma soal keuntungan. Kami berteman. Teman baik, sebenarnya. Sebelum semua kekacauan itu."Alena menegakkan duduknya. Ini bukan sesuatu yang pernah diceritakan padanya."Dua puluh tahun lalu, wijaya—ayahmu—dia yang menyelamatkan bisnisku waktu aku baru mulai. Aku hampir bangkrut sebelum sempat besar. Dia pinjamkan modal tanpa jaminan apa pun. Cuma percaya."Pak Pradipta akhirnya berbalik. Matanya berkaca-kaca, hal yang tidak pernah dilihat Raka sebelumnya dari ayahnya sendiri."Terus apa yang terja
Pagi itu, Raka mengumpulkan semua pihak yang bisa dipercaya di ruang kerja pribadinya—Pak Handoko dan dua anak buahnya, serta seorang kenalan lama Raka yang kebetulan bekerja sebagai perwira polisi, Komisaris Wibowo, yang bersedia membantu secara tidak resmi sebelum kasus ini dilaporkan penuh."Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Komisaris Wibowo, menatap peta lokasi gudang yang sudah ditandai Pak Handoko semalam. "Kalau memang ada penyanderaan, tindakan gegabah bisa membahayakan korban. Saya bisa bantu urus izin operasi kecil, tapi harus cepat dan senyap.""Berapa lama itu bisa diurus?" tanya Raka."Dengan koneksi saya, mungkin sore ini bisa jalan. Tapi saya butuh alasan resmi untuk masuk tanpa membuat kecurigaan bocor ke pihak dalam yang mungkin terlibat."Alena, yang duduk di sudut ruangan sejak pagi, akhirnya angkat suara. "Bagaimana kalau alasannya laporan dugaan penyekapan dari warga sekitar? Tidak perlu menyebut nama Pradipta sama sekali di laporan awal."Komisaris Wibowo
Raka tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di meja kerja, memperbesar foto blur itu berkali-kali, mencoba mengenali bangunan di latar belakang."Ini gudang," katanya akhirnya, menunjuk bagian sudut foto yang nyaris tidak terlihat. "Lihat atapnya. Model seng bergelombang seperti ini biasanya dipakai gudang tua di kawasan industri pinggiran."Alena mendekat, memperhatikan detail yang ditunjuk Raka. "Kawasan industri mana?""Aku tidak yakin. Tapi Pak Handoko mungkin bisa membantu melacaknya. Dia lebih berpengalaman soal hal semacam ini."Raka langsung menghubungi Pak Handoko meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pria itu menjawab tanpa terdengar terganggu, seolah sudah terbiasa dihubungi di jam-jam aneh."Kirim fotonya, Pak Raka. Saya coba analisis."***Kabar berikutnya datang keesokan siang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Pak Handoko berhasil mempersempit lokasi ke sebuah kawasan pergudangan tua di daerah Cakung, berdasarkan analisis bayangan dan sudut bangunan di foto
Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata."Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu."Alena bangun, duduk di sisi ranjang. "Ada hasil?""Alamat rumahnya di catatan HR sudah tidak berpenghuni. Tetangga bilang keluarganya pindah mendadak, sekitar waktu yang sama dengan pengunduran dirinya.""Pindah mendadak, tanpa jejak?" Alena merasa perutnya mual mendengar itu. "Itu bukan kepindahan biasa.""Aku setuju." Raka menutup laptopnya, menatap Alena serius. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau benar dia 'dibungkam' seperti kata pesan semalam, menc







