LOGINSetelah perutnya kenyang, Gilang menyandarkan punggungnya, lalu mengambil ponsel yang ada di meja. Ia menggeser kursinya sedikit ke depan dan menyodorkan ponsel itu ke arah Risa.
“Sekarang, telepon mamamu.”Risa yang sedang minum langsung berhenti. Ia menatap ponsel itu. Lalu menatap Gilang. Kemudian kembali minum. Seolah tidak terjadi apa-apa.Gilang pun hanya menghela napas pelan “Risa.”“Hmm.”“Telepon.”“Tidak.”Jawaban itu kePagi itu suasana rumah besar tidak sehangat biasanya.Udara terasa tegang.Dan sumbernya hanya satu orang.Ia berdiri di ruang tengah, masih mengenakan pakaian kerja sederhana. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tegas.Di hadapannya, Eyang Wulan duduk dengan elegan.Namun jelas tidak senang.“Mulai hari ini kamu bekerja di rumah sakit eyang,” ucap Eyang Wulan tanpa basa-basi.Naya tidak langsung menjawab.“Rumah sakit kita,” lanjutnya. “Semua sudah eyang siapkan.”Naya menghela napas pelan.“Aku tidak minta disiapkan.”Eyang Wulan menatap tajam.“Kamu tidak punya pilihan.”“Kenapa tidak?”“Karena izin praktikmu bisa dicabut kapan saja.”Sunyi.Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada tinggi.Namun cukup untuk menekan.Naya menatap lurus.“Aku tetap bekerja. Tapi aku ingin seperti dokter lain pada umumnya. Aku tidak mau jabatan, eyang.”Eyang Wulan mengernyit.“Maksud kamu?”“Aku mau di UGD.”Jawaban itu langsung membuat suasana berubah.“Tidak,” potong Eyang tegas.“Kamu tidak dididik
Malam itu meja makan terasa hangat.duduk santai bersama dan .Suasana cukup tenang.Sesekali Vian makan dengan rapi, sementara Eyang Marsiy masih mengawasi Gilang seperti sedang menginterogasi tersangka.“Makannya pelan,” tegur Eyang.Gilang mengangkat alis.“Aku makan, bukan lomba.”“Kelihatannya seperti lomba kabur.”Gilang hampir tersedak.“Eyang ini semua dihubungkan ke kabur.”Belum sempat suasana berlanjut ponsel di sampingnya bergetar.Nama yang sama.Risa.Gilang melirik sekilas.Lalu mengabaikan.Ia kembali makan.Namun, getaran itu tidak berhenti.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Eyang Marsiy mulai menatap curiga.“Itu siapa?”“Spam,” jawab Gilang santai.Getaran lagi.Eyang langsung menyikut lengannya.“Diangkat. Siapa tahu penting.”Gilang mendesah pelan.Dengan malas, ia mengambil ponsel dan mengangkatnya.“Halo—”“PAPA!!”Suara nyaring langsung memekakkan telinga.Gilang refleks menjauhkan ponsel.Eyang Marsiy langsung melotot.“Siapa itu?!”Gilang menutup mikrofon sebentar
Di halaman sekolah sore itu, suasana mulai lengang.Beberapa anak sudah pulang, sebagian masih duduk menunggu jemputan. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil, Risa duduk dengan kaki diayun-ayunkan tanpa henti.Di sebelahnya, Vian duduk tegak. Buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang seperti tidak terganggu oleh apa pun di dunia ini.Risa melirik. Lalu melirik lagi. Lalu akhirnya tidak tahan.“Hari ini aku bahagia.” Tidak ada jawaban.Vian hanya membalik halaman.Risa mendekat sedikit. “Aku benar-benar bahagia.” Vian tetap diam.Risa menyipitkan mata. “Kamu dengar tidak sih?”Vian akhirnya melirik sekilas. “Dengar.”Lalu kembali ke bukunya.Risa mendengus.“Hari ini aku berhasil. Aku bawa papa ke sekolah. Semua orang lihat.”Vian hanya mengangguk kecil. “Iya.”Risa langsung menoleh penuh semangat.“Iya? Cuma iya?”“Mau aku tepuk tangan?” jawab Vian datar.Risa langsung memutar mata.“Kamu ini ya. Tidak seru.”Ia kembali bersandar, tapi hanya beberapa detik.Lalu mulai lagi.
Gilang berjalan menuju ruang BP dengan langkah yang tetap tenang, seolah tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan pagi itu.Padahal di dalam kepalanya, ia hanya ingin satu hal. Tidak bertemu siapa pun yang bisa mengenalnya.Namun semesta sepertinya punya rencana lain. Baru saja ia melewati koridor utama, langkahnya terhenti.Di ujung lorong, seorang anak laki-laki berdiri.Vian.Gilang sempat diam satu detik.Anak itu berdiri dengan sikap yang sangat mirip dirinya. Tenang, kaku, dan tidak banyak ekspresi. Tapi matanya langsung fokus begitu melihat Gilang.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.Lalu Vian melangkah mendekat.Tidak berlari. Tidak juga ragu.Hanya mendekat dengan langkah pasti.Gilang yang awalnya ingin menghindar justru tidak sempat bergerak ke mana-mana.“Papa,” suara Vian terdengar datar, tapi ada sesuatu yang halus di dalamnya.Gilang akhirnya tersenyum kecil. Dan tanpa banyak kata, ia meraih putra angkatnya dan memeluknya.Vian tidak langsung membalas p
Di dalam mobil, suasana pagi itu terasa padat oleh orang-orang yang bahkan tidak menyangka akan ikut terseret dalam “misi sekolah” Risa.Risa duduk di sebelah Gilang di kursi belakang. Tubuhnya tegak, matanya menatap ke depan seperti sedang memikirkan strategi besar. Di kursi depan, Mbak Tari duduk di sebelah Pak Ahmad yang fokus menyetir sambil sesekali melirik kaca spion.Mobil melaju pelan di jalan kota yang mulai ramai.Gilang menoleh ke samping, menatap Risa dengan alis berkerut.“Risa, sebenarnya ada apa hari ini?”Risa tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang mempertimbangkan apakah ini informasi rahasia atau bukan. Setelah beberapa detik, ia akhirnya bicara.“Hari ini aku harus membawa orang tua ke sekolah.”Gilang langsung mengernyit. “Orang tua?”“Iya. Untuk memenuhi panggilan guru BP.”Suasana dalam mobil langsung sedikit berubah.Gilang menatapnya lebih serius. “Guru BP? Kamu kenapa lagi sampai dipanggil? Kamu bikin apa?”Risa menghela napas kecil, seperti orang yang sed
Pagi itu masih terlalu dini.Jam baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit, tapi Risa sudah bangun dengan wajah kusut di depan lemari.Ia berdiri lama.Terlalu lama untuk anak seusianya.Lalu menghela napas.“…lupa.”Hari ini.Hari penting.Orang tua ke sekolah.Risa menutup mata sebentar.Lalu mulai menghitung dengan jari.“Kalau bawa Tante Clara… mama bisa kena ceramah.”“Kalau bawa Eyang… aku yang kena ceramah.”“Kalau Mbak Tari… Pak Ahmad… nanti ketahuan bukan orang tua beneran.”Ia berhenti.Menatap kosong.“…repot.”Beberapa detik kemudian, matanya berbinar.“Ketemu.”—Lima menit kemudian, rumah sudah heboh.Risa mandi dengan kecepatan luar biasa, bahkan air masih belum sempat hangat sempurna.Di dapur, Mbak Tari sedang menyiapkan sarapan.“Risa, kamu kenapa bangun pagi banget?” tanya Tari heran.Risa keluar sambil menyeka rambut.“Mbak Tari.”“Iya?”“Ganti baju.”Tari mengernyit.“…Hah?”Risa menunjuknya serius.“Hari ini kamu ikut aku.”Pak Ahmad yang sedang duduk minum teh l







