แชร์

Bab 41

ผู้เขียน: Fei Adhista
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-14 20:28:26

Di halaman sekolah sore itu, suasana mulai lengang.

Beberapa anak sudah pulang, sebagian masih duduk menunggu jemputan. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil, Risa duduk dengan kaki diayun-ayunkan tanpa henti.

Di sebelahnya, Vian duduk tegak. Buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang seperti tidak terganggu oleh apa pun di dunia ini.

Risa melirik. Lalu melirik lagi. Lalu akhirnya tidak tahan.

“Hari ini aku bahagia.” Tidak ada jawaban.

Vian hanya membalik halaman.

Risa mendekat sedikit
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 42

    Malam itu meja makan terasa hangat.duduk santai bersama dan .Suasana cukup tenang.Sesekali Vian makan dengan rapi, sementara Eyang Marsiy masih mengawasi Gilang seperti sedang menginterogasi tersangka.“Makannya pelan,” tegur Eyang.Gilang mengangkat alis.“Aku makan, bukan lomba.”“Kelihatannya seperti lomba kabur.”Gilang hampir tersedak.“Eyang ini semua dihubungkan ke kabur.”Belum sempat suasana berlanjut ponsel di sampingnya bergetar.Nama yang sama.Risa.Gilang melirik sekilas.Lalu mengabaikan.Ia kembali makan.Namun, getaran itu tidak berhenti.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Eyang Marsiy mulai menatap curiga.“Itu siapa?”“Spam,” jawab Gilang santai.Getaran lagi.Eyang langsung menyikut lengannya.“Diangkat. Siapa tahu penting.”Gilang mendesah pelan.Dengan malas, ia mengambil ponsel dan mengangkatnya.“Halo—”“PAPA!!”Suara nyaring langsung memekakkan telinga.Gilang refleks menjauhkan ponsel.Eyang Marsiy langsung melotot.“Siapa itu?!”Gilang menutup mikrofon sebentar

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 41

    Di halaman sekolah sore itu, suasana mulai lengang.Beberapa anak sudah pulang, sebagian masih duduk menunggu jemputan. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil, Risa duduk dengan kaki diayun-ayunkan tanpa henti.Di sebelahnya, Vian duduk tegak. Buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang seperti tidak terganggu oleh apa pun di dunia ini.Risa melirik. Lalu melirik lagi. Lalu akhirnya tidak tahan.“Hari ini aku bahagia.” Tidak ada jawaban.Vian hanya membalik halaman.Risa mendekat sedikit. “Aku benar-benar bahagia.” Vian tetap diam.Risa menyipitkan mata. “Kamu dengar tidak sih?”Vian akhirnya melirik sekilas. “Dengar.”Lalu kembali ke bukunya.Risa mendengus.“Hari ini aku berhasil. Aku bawa papa ke sekolah. Semua orang lihat.”Vian hanya mengangguk kecil. “Iya.”Risa langsung menoleh penuh semangat.“Iya? Cuma iya?”“Mau aku tepuk tangan?” jawab Vian datar.Risa langsung memutar mata.“Kamu ini ya. Tidak seru.”Ia kembali bersandar, tapi hanya beberapa detik.Lalu mulai lagi.

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 40

    Gilang berjalan menuju ruang BP dengan langkah yang tetap tenang, seolah tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan pagi itu.Padahal di dalam kepalanya, ia hanya ingin satu hal. Tidak bertemu siapa pun yang bisa mengenalnya.Namun semesta sepertinya punya rencana lain. Baru saja ia melewati koridor utama, langkahnya terhenti.Di ujung lorong, seorang anak laki-laki berdiri.Vian.Gilang sempat diam satu detik.Anak itu berdiri dengan sikap yang sangat mirip dirinya. Tenang, kaku, dan tidak banyak ekspresi. Tapi matanya langsung fokus begitu melihat Gilang.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.Lalu Vian melangkah mendekat.Tidak berlari. Tidak juga ragu.Hanya mendekat dengan langkah pasti.Gilang yang awalnya ingin menghindar justru tidak sempat bergerak ke mana-mana.“Papa,” suara Vian terdengar datar, tapi ada sesuatu yang halus di dalamnya.Gilang akhirnya tersenyum kecil. Dan tanpa banyak kata, ia meraih putra angkatnya dan memeluknya.Vian tidak langsung membalas p

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 39

    Di dalam mobil, suasana pagi itu terasa padat oleh orang-orang yang bahkan tidak menyangka akan ikut terseret dalam “misi sekolah” Risa.Risa duduk di sebelah Gilang di kursi belakang. Tubuhnya tegak, matanya menatap ke depan seperti sedang memikirkan strategi besar. Di kursi depan, Mbak Tari duduk di sebelah Pak Ahmad yang fokus menyetir sambil sesekali melirik kaca spion.Mobil melaju pelan di jalan kota yang mulai ramai.Gilang menoleh ke samping, menatap Risa dengan alis berkerut.“Risa, sebenarnya ada apa hari ini?”Risa tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang mempertimbangkan apakah ini informasi rahasia atau bukan. Setelah beberapa detik, ia akhirnya bicara.“Hari ini aku harus membawa orang tua ke sekolah.”Gilang langsung mengernyit. “Orang tua?”“Iya. Untuk memenuhi panggilan guru BP.”Suasana dalam mobil langsung sedikit berubah.Gilang menatapnya lebih serius. “Guru BP? Kamu kenapa lagi sampai dipanggil? Kamu bikin apa?”Risa menghela napas kecil, seperti orang yang sed

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 38

    Pagi itu masih terlalu dini.Jam baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit, tapi Risa sudah bangun dengan wajah kusut di depan lemari.Ia berdiri lama.Terlalu lama untuk anak seusianya.Lalu menghela napas.“…lupa.”Hari ini.Hari penting.Orang tua ke sekolah.Risa menutup mata sebentar.Lalu mulai menghitung dengan jari.“Kalau bawa Tante Clara… mama bisa kena ceramah.”“Kalau bawa Eyang… aku yang kena ceramah.”“Kalau Mbak Tari… Pak Ahmad… nanti ketahuan bukan orang tua beneran.”Ia berhenti.Menatap kosong.“…repot.”Beberapa detik kemudian, matanya berbinar.“Ketemu.”—Lima menit kemudian, rumah sudah heboh.Risa mandi dengan kecepatan luar biasa, bahkan air masih belum sempat hangat sempurna.Di dapur, Mbak Tari sedang menyiapkan sarapan.“Risa, kamu kenapa bangun pagi banget?” tanya Tari heran.Risa keluar sambil menyeka rambut.“Mbak Tari.”“Iya?”“Ganti baju.”Tari mengernyit.“…Hah?”Risa menunjuknya serius.“Hari ini kamu ikut aku.”Pak Ahmad yang sedang duduk minum teh l

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 37

    Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah.Di kursi belakang, Risa duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Wajahnya terlihat serius, tapi hanya beberapa detik.Setelah itu “Mbak Tari.”Tari yang duduk di depan langsung menoleh sedikit.“Iya, Nona Risa?”“Aku mau ketemu papaku.”Nada suaranya santai. Seolah baru saja bilang mau beli permen.Tari dan sopir di depan saling melirik.Sopirnya, Pak Ahmad mengangkat alis pelan.Tari berdehem kecil.“Papa yang mana, Nona Risa?”Risa langsung melirik tajam.“Ya papa aku lah, Mbak. Masa papa tetangga.”Pak Ahmad hampir tersedak.“Iya maksud Mbak Tari.” lanjut Tari hati-hati, “…yang kemarin itu?”Risa langsung mengangguk cepat.“Iya! Yang itu!”Tanpa basa-basi, Risa meraih tas kecilnya, lalu mengeluarkan ponsel.“Untung aku tinggalin di mobil. Kalau di sekolah pasti disita,” gumamnya.Ia langsung menekan nomor.Satu kali.Tidak diangkat.Risa mengerutkan kening.“Ini papa aku sibuk banget ya, baru juga punya anak langsung lupa.”Tari me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status