Matahari baru saja naik saat Gilang duduk di meja makan. Pria brewok itu masih mengenakan kaos hitam longgar dan celana training. Aroma kopi hitam mengepul di hadapannya, tapi sorot matanya tetap kosong, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca apapun. “Mas...” Suara Naya terdengar dari dapur, riang tapi mengusik. “Hari ini kerja lagi?” Gilang mendongak sebentar. Hanya sekilas. “Hmm.” “Hari apa sih hari ini?” Naya duduk di seberangnya, menyodorkan piring berisi roti panggang dan telur dadar. “Oh iya, Senin. Ya pantes. Kamu kan cuma pulang Sabtu-Minggu doang.” Gilang tidak menjawab. Ia menggigit roti pelan, seakan sedang mengunyah waktu. “Apa karena kamu lebih suka dengan gadis gadis SBCD, dan nggak suka tinggal di sini? Setiap Sabtu Minggu pulang, lain hari kamu selalu di sana?" tanya Naya, kali ini nadanya berubah. “Atau... karena aku?” Gilang menatapnya datar. “Aku kerja, Naya.” “Aku juga tahu kamu kerja. Tapi kita udah nikah, Mas. Udah sebulan. Tapi kerasa kayak kita c
Last Updated : 2026-03-12 Read more