Home / Romansa / Suamiku Perwira Ojek / Bab 2 Bom Waktu

Share

Bab 2 Bom Waktu

Author: Fei Adhista
last update publish date: 2026-03-12 23:26:47

Matahari baru saja naik saat Gilang duduk di meja makan. Pria brewok itu masih mengenakan kaos hitam longgar dan celana training. Aroma kopi hitam mengepul di hadapannya, tapi sorot matanya tetap kosong, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca apapun.

“Mas...” Suara Naya terdengar dari dapur, riang tapi mengusik. “Hari ini kerja lagi?”

Gilang mendongak sebentar. Hanya sekilas. “Hmm.”

“Hari apa sih hari ini?” Naya duduk di seberangnya, menyodorkan piring berisi roti panggang dan telur dadar. “Oh iya, Senin. Ya pantes. Kamu kan cuma pulang Sabtu-Minggu doang.”

Gilang tidak menjawab. Ia menggigit roti pelan, seakan sedang mengunyah waktu.

“Apa karena kamu lebih suka dengan gadis gadis SBCD, dan nggak suka tinggal di sini? Setiap Sabtu Minggu pulang, lain hari kamu selalu di sana?" tanya Naya, kali ini nadanya berubah. “Atau... karena aku?”

Gilang menatapnya datar. “Aku kerja, Naya.”

“Aku juga tahu kamu kerja. Tapi kita udah nikah, Mas. Udah sebulan. Tapi kerasa kayak kita cuma kos bareng.” Naya mendengus, lalu menyilangkan tangan. “Kamu itu ngilang lima hari seminggu, pulang-pulang diem. Pagi-pagi langsung cabut.”

Gilang meletakkan garpu. “Jadi sekarang aku salah?”

“Aku cuma pengen kamu bersikap, setidaknya suami lah! Gitu loh. Bukan cuma cowok asing yang kebetulan serumah.”

Gilang menatap Naya, lama. Tatapannya tajam tapi tanpa emosi. “Aku nggak pernah minta nikah. Kamu juga tahu itu.”

Kalimat itu seperti cambuk. Wajah Naya langsung memerah, entah marah atau malu.

“Ya, dan aku juga nggak minta dijebak di depan wartawan dengan bilang kamu pacarku! Itu satu-satunya aku menyelamatkanmu. Jika tidak, kamu akan dilaporkan ke polisi. Tapi semua udah terjadi. Sekarang kita harus hadapi bareng.”

Gilang menyandarkan punggung ke kursi. Ia terlihat kelelahan, tapi bukan karena fisik. “Aku udah hadapi. Aku pulang tiap minggu, kan?”

“Tiap minggu tapi kayak batu. Nggak pernah ngobrol. Nggak pernah cerita. Bahkan...” Naya menyipitkan mata, menunjuk dagunya. “Cukur rambut, jambang, sama kumis aja nggak sempat? Kamu kelihatan kayak baru pulang dari hutan. Dari awal kita bertemu aku itu pengen lihat wajahmu yang asli tanpa jambang dan brewok pun gak pernah kamu ijinkan."

Gilang mendesah. Perlahan, ia berdiri dari kursi, membawa cangkir kopinya.

“Kalau penampilanku ganggu, kamu bisa tutup mata.”

“Mas!”

Ia tak membalas lagi. Langkahnya menjauh ke arah pintu, mengambil jaket dari gantungan.

“Aku pergi.”

“Kerja?”

“Kalau bukan, masa aku mau kabur?”

Naya diam. Hanya napasnya yang berat terdengar. Gilang membuka pintu dan menoleh sesaat.

“Aku nggak suka debat pagi-pagi.”

Naya tetap duduk di kursinya hingga roti panggang di piring mulai dingin.

Ia menatap pintu yang sudah tertutup dan tiba-tiba merasa rumah itu terlalu sunyi.

***

Malamnya, musik keras mengguncang ruangan SBCD.

Lampu strobo menari di langit-langit. Dentuman bass membuat lantai bergetar.

Naya berdiri di dekat bar bersama dua temannya. Gaun hitam elegan membungkus tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi. Riasannya jauh berbeda dari wajah polos yang biasa dilihat Gilang di rumah.

Ia sebenarnya tidak suka tempat seperti ini. Namun malam ini ia datang dengan satu tujuan.

Ketika matanya menyapu ruangan, ia langsung menemukan pria itu.

Gilang.

Duduk di sudut VIP dengan hoodie gelap dan topi hitam dan di sampingnya ada seorang wanita cantik yang terlalu dekat.

Naya menatap pemandangan itu beberapa detik. Dadanya terasa panas.

Jadi benar. Suaminya yang selalu pulang larut malam ternyata memang menghabiskan waktu di tempat seperti ini.

Bibir Naya melengkung tipis.

"Baiklah. Kalau begitu aku juga tidak perlu bersikap baik."

Ia melangkah menuju seorang pria asing yang duduk sendirian tidak jauh dari sana.

“Halo,” sapa Naya dengan senyum manis.

Pria itu terlihat kaget sekaligus senang.

Beberapa detik kemudian Naya sudah menggandeng tangannya menuju lantai dansa.

Di sudut VIP, Gilang membeku.

Ia tidak menyangka akan melihat Naya di tempat ini.

Apalagi melihatnya tersenyum kepada pria lain.

Tangannya mengencang di gelas kosong yang ia pegang.

Seorang wanita berdandan glamor duduk di sampingnya. Tubuh semampai, rambut bergelombang keemasan, dengan senyum genit yang kadang terlalu berani. Namanya Vela—rekannya dalam tugas, tapi cukup dikenal sebagai perempuan yang suka bermain api dengan pria di SBCD. Semua itu hanya penyamaran.

"Aku nggak ngerti kenapa kamu selalu pasang wajah beku gitu, Lang," bisik Vela sambil mencondongkan tubuh, satu tangannya menggenggam lengan Gilang. "Kalau kamu terus jutek begini, jangan salahin aku kalau kita dianggap pasangan beneran."

Gilang tidak menggubris. Tatapannya menembus kerumunan, sampai akhirnya... ia membeku.

"Itu Naya. Wanita yang terpaksa aku nikahi atas perintah komandan."

Naya pun akhirnya melihat Gilang. Tatapan mereka bertaut. Tapi bukannya terkejut atau menyapa... Naya tersenyum tipis, senyum sarkastik dan menusuk.

Gilang mencengkeram gelasnya. Urat di rahangnya menegang. Matanya sempat melirik Vela yang masih menempel di sisinya. Tapi detik berikutnya, ia kembali fokus ke arah Naya yang kini terlihat menari pelan bersama si pria asing.

Samar-samar, suara terdengar di telinga Gilang dari earphone kecil di balik hoodie-nya.

"Gilang, tetap fokus. Jangan bikin keributan. Kau lagi di bawah pengawasan langsung. Tapi... ya ampun, itu istrimu, ya?"

Gilang mengepalkan tinjunya di balik meja. Meski tidak mengharapkan pernikahan ini, tetap saja nama Gilang menjadi taruhannya.

Naya sengaja memalingkan muka saat mata mereka bertemu lagi. Ia tahu Gilang memperhatikannya. Dan ia juga tahu ini menyakitkan, tapi membebaskan. Ia sudah cukup muak dengan sikap dingin suaminya yang selama ini seperti hanya numpang KTP di rumah-nya.

Gilang bangkit dari duduknya, menarik lengan Vela untuk bersandar lebih dekat.

Tapi Naya? Ia cuma tersenyum sinis, lalu melangkah lebih dalam ke lantai dansa, menggandeng si pria tadi dengan berani.

Perang dingin di tempat panas dimulai.

Tapi dadanya mulai mengeras. Matanya mengikuti setiap gerak Naya yang kini mulai menggoda pria di depannya, seolah ingin menampar harga diri yang selama ini ia tahan untuk tidak diperlihatkan.

“Fokus, Lang,” suara Vela rendah di dekat telinganya. “Jangan bawa perasaan di tempat kayak gini.”

“Aku tenang.”

“Kau kelihatan kayak bom waktu.”

Gilang meneguk isi gelasnya, kosong, lalu menaruhnya dengan suara thak di atas meja kaca. Ia menarik napas pelan, dalam, seperti menahan peluru yang mengarah ke kepalanya sendiri.

Di lantai dansa, Naya menempelkan tubuh ke pria itu. Bukan sensual. Tapi provokatif. Mata mereka sesekali bertaut. Dan setiap tatapan itu terasa seperti peluru yang tertanam langsung ke dalam ego Gilang.

“Kau mau aku buat pengalihan?” tanya Vela. Senyum tipisnya berubah tajam, seolah siap menggoda balik.

“Jangan. Fokus di target. Mereka muncul malam ini.”

“Kalau kau terus ngelihatin istrimu, kita bisa ketahuan. Bukannya kamu terpaksa nikah, abaikan saja dia," desis Vela, sedikit terdorong karena Gilang tanpa sadar maju satu langkah.

Telinga Gilang menangkap suara kecil dari earpiece-nya.

“Tim tiga konfirmasi. Target bergerak ke lantai dua. Kode merah. Siap eksekusi bila perlu.”

Sial. Fokusnya harus kembali ke misi. Tapi tubuhnya kaku. Gilang melihat Naya menyentuh dada pria itu. Sekilas, cepat. Tapi cukup untuk membuat penglihatannya menggelap setengah detik.

Ia menarik hoodie lebih dalam, berbalik. “Aku naik. Cover bawah.”

“Sendirian?” Vela menyipit. “Kau gak stabil.”

“Aku gak pernah gak stabil, dan aku selesaiin tugas.” Nada Gilang serendah raungan mesin tua dingin dan tak bisa dibantah.

Gilang melangkah cepat menuju tangga samping. Namun sebelum menghilang dari pandangan lantai dansa, ia sempat menoleh. Naya menatapnya. Mereka bertemu mata sekali lagi.

Tatapan Naya menusuk. Tapi kali ini, ada luka samar di balik senyum sinisnya.

Gilang menghilang ke lantai dua.

Sementara di bawah, Vela berdiri, mengamati Naya dalam diam. Ia bukan wanita sentimental, tapi instingnya tajam. Ia tahu, ini bukan sekadar kecemburuan. Ada yang retak di balik penyamaran pria itu. Dan ketika seorang Gilang dingin, cermat, dan tidak pernah goyah mulai hilang kendali karena seorang istri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 88

    Bu Marina kembali memperhatikan kartu kecil di tangannya.Kartu itu sederhana.Tidak ada logo.Tidak ada nama pemilik rumah.Hanya sebuah alamat lengkap yang ditulis rapi."Unik juga," gumam Marina pelan."Biasanya kartu seperti ini mencantumkan nama."Naya tersenyum kecil."Saya juga baru sadar.""Mungkin memang sengaja tidak dicetak."Pak Harun kembali menginjak pedal gas.Mobil perlahan mendekati gerbang kawasan elite itu.Palang otomatis hampir terbuka.Namun tepat saat itu...Ponsel Marina berdering.Getarannya memecah suasana hening di dalam mobil.Marina melihat layar ponselnya.Ekspresinya langsung berubah."Pak Harun.""Ya, Bu?""Tolong berhenti sebentar."Mobil kembali menepi.Marina segera mengangkat panggilan itu."Ya?"Suara di seberang terdengar terburu-buru.Marina yang semula tenang perlahan mengernyit."Apa?"Beberapa detik kemudian matanya membesar."Apa?!"Naya, Tari dan Risa spontan saling berpandangan.Marina berdiri sedikit dari sandarannya."Nikah?""...""Sudah

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 87

    Matahari mulai condong ke barat.Setelah mengobrol cukup lama, Naya akhirnya berdiri.Ia menggenggam tangan Risa yang sejak tadi masih asyik bermain bersama Gea."Risa.""Hm?""Kita pulang."Wajah Risa langsung berubah."Hah?""Cepat banget?"Gea ikut memasang wajah sedih."Besok main lagi ya."Risa langsung memeluk Gea."Iya.""Nanti aku datang lagi."Marina tersenyum melihat tingkah keduanya.Saat Naya hendak berpamitan, Marina ikut berdiri."Kalau begitu, saya antar."Naya buru-buru menggeleng."Jangan, Bu. Saya tidak enak merepotkan.""Bukan merepotkan."Marina tersenyum lembut."Sekalian saya ingin tahu rumah kalian."Naya tertawa kecil."Masalahnya...""Saya sendiri juga belum pernah ke sana."Marina berkedip."Belum pernah?"Naya mengangguk malu."Itu rumah yang disiapkan suami saya.""Saya baru akan melihatnya hari ini."Marina tersenyum geli."Berarti kita sama-sama penasaran."Belum sempat Naya menjawab, Risa sudah berlari memeluk kaki Marina."Eyang ikut, ya..."Marina meng

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 86

    Ruang keluarga kembali tenang.Seorang pelayan datang membawakan teh hangat, kopi, dan aneka kue tradisional.Marina mempersilakan Naya duduk di sofa yang berhadapan dengannya.Sementara itu, Risa sudah kembali ceria.Ia duduk di atas karpet bersama Gea, sibuk menyusun balok-balok kayu sambil sesekali tertawa.Tatapan Marina tidak lepas dari anak kecil itu.Senyumnya begitu lembut."Anak itu..." ucapnya pelan.Naya ikut menoleh ke arah putrinya."Dia sangat ceria."Marina mengangguk."Dua hari ini rumah saya jadi jauh lebih hidup."Naya tersenyum tipis."Maaf kalau merepotkan.""Justru tidak."Marina menggeleng pelan."Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara anak kecil memenuhi rumah ini."Tatapannya kembali mengikuti tingkah Risa yang kini sedang berdebat kecil dengan Gea soal bentuk balok.Tiba-tiba Marina tertawa kecil."Semakin saya lihat...""Semakin anak itu mengingatkan saya pada seseorang."Naya menoleh."Siapa, Bu?""Putra saya."Naya tampak sedikit terkejut.Marina t

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 85

    Gilang berangkat kerja, dan Naya bergegas ganti pakaian untuk menemui Risa. Taxi yang ditumpangi Naya perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi berukuran raksasa.Naya menatap ke luar jendela.Matanya perlahan membesar."Ini... alamatnya benar?"Sopir yang mengantarnya mengangguk."Benar, Dokter."Di depan gerbang berdiri beberapa petugas keamanan dengan seragam rapi.Begitu nama Naya disebut, gerbang otomatis terbuka perlahan.Mobil kembali melaju.Namun semakin masuk ke dalam, Naya justru semakin terdiam.Jalan menuju bangunan utama begitu panjang.Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang tertata sangat indah.Pohon-pohon besar berjajar rapi.Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah taman.Bahkan beberapa patung marmer menghiasi halaman yang luas.Naya tanpa sadar berbisik pelan."Astaga..."Rumah Eyang Wulan yang selama ini dianggapnya mewah...Mendadak terasa biasa saja.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.Seorang pelayan segera m

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 84

    Gilang melirik jam di pergelangan tangannya."Waktuku habis."Ia berdiri sambil mengambil topi satpam yang sejak tadi diletakkan di atas meja.Naya ikut berdiri."Mau berangkat?""Iya."Gilang mengenakan topinya, lalu mengambil tas ransel hitam yang tergantung di dekat pintu.Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu..."Gil..."Suara pelan itu membuat langkahnya berhenti.Gilang menoleh."Usia jauh lebih tua darimu! Panggil aku Mas atau panggilan sayang lebih bagus."Naya tampak berdiri sambil memainkan ujung bajunya.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu terlihat benar-benar canggung."Ada apa?"Naya menggaruk pelan pipinya."Itu...""Ya?""Aku mau jemput putriku hari ini."Gilang mengangguk."Iya.""Terus..."Naya kembali terdiam.Seolah sedang menyusun keberanian."Aku juga mau cari rumah kontrakan."Alis Gilang sedikit terangkat."Kontrakan?""Iya."Naya mengangguk pelan."Apartemen ini terlalu kecil.""Kalau putriku datang...""Masih ada pengasuhnya juga.""

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 83

    Pagi itu matahari baru saja muncul.Sinar keemasannya masuk melalui jendela apartemen.Naya masih menggeliat di atas ranjang ketika samar-samar terdengar suara pintu lemari ditutup.Ia membuka mata perlahan.Mengucek pelan.Lalu..."Hah?"Matanya langsung membulat.Di depan pintu kamar, Gilang sedang merapikan kerah seragam satpam berwarna biru tua.Lengkap dengan topi yang masih ia pegang di tangan.Naya spontan bangkit."Tunggu."Gilang menoleh."Sudah bangun?"Naya turun dari ranjang sambil terus menatap seragam itu.Langkahnya mendekat."Kamu... kerja di mana?"Gilang menjawab santai."Tempat biasa."Naya menggeleng."Bukan itu."Tangannya perlahan menunjuk emblem di lengan seragam Gilang."Itu...""Seragam perusahaan Eyang."Gilang melirik emblem itu sekilas."Iya."Naya langsung panik."Jangan.""Hm?""Jangan masuk kerja dulu.""Kenapa?""Eyang pasti marah kalau tahu kamu menikah sama aku.""Bisa-bisa kamu dipecat.""Bahkan mungkin..."Naya menggigit bibir."...dibikin susah."E

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 7 Tujuh Tahun kemudian

    Tujuh tahun berlalu.Langit di atas samudra tampak tenang, berbanding terbalik dengan suasana di dalam pesawat kelas bisnis itu.Anaya duduk di kursinya dengan mata terpejam. Wajahnya lebih dewasa sekarang lebih tenang, tapi juga menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Perjalan

  • Suamiku Perwira Ojek   Ruang Operasi

    Ruang bersalin itu terasa dingin bagi Anaya, meskipun tubuhnya basah oleh keringat dan darah. Lampu putih di langit-langit menyilaukan matanya yang setengah terbuka. Napasnya pendek. Tenaganya hampir habis.Anaya berusaha memfokuskan pandangan. Dunia di sekelilingnya berputar pelan, tetapi ia masih

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 5 Rumah Sepi

    Pelabuhan itu sunyi. Hanya suara ombak menghantam lambung kapal kargo yang memecah kesunyian. Lampu dermaga memantul di permukaan laut, membuat air tampak seperti lembaran logam hitam. Gilang berdiri di balik kontainer, headset kecil menempel di telinga. Baru kali ini dia kurang fokus dalam bekerj

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 4 Merasa dijebak

    Lampu-lampu neon berdansa liar di langit-langit SBCD, diskotik paling hits di jantung kota. Musik menghentak. Alkohol tumpah. Malam merayakan rahasia dan kebodohan. Di salah satu sudut ruangan yang penuh asap dan cahaya berkelip, seorang wanita muda duduk sendirian di depan meja bar. Gelas di tang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status