Masuk"Kamu pikir saya serius mau ngajak nikah orang baru kenal beberapa jam?"Naya langsung tersedak.Wajahnya memerah.Entah kenapa ada sedikit rasa kesal yang muncul."Ya mana aku tahu!""Hm."Gilang mengangguk pelan.Naya langsung tersedak.Wajahnya memerah.Entah kenapa ada sedikit rasa kesal yang muncul."Ya mana aku tahu!""Hm."Gilang mengangguk pelan."Jadi kamu sempat mikir saya serius?""TIDAK!"Jawaban Naya terlalu cepat.Membuat Gilang akhirnya tertawa kecil.Dan itu membuat Naya semakin kesal."Kamu sengaja kan?""Mungkin.""Gilang!""Oke, oke."Pria itu mengangkat kedua tangan tanda menyerah."Tapi satu hal yang benar.""Apa?""Identitas baru kamu memang memudahkan sandiwara."Naya langsung mendengus."Tetap saja aku nggak mungkin menikah lagi.""Karena masih punya suami?""Iya."Jawaban itu keluar begitu saja.Tanpa berpikir.Namun entah kenapa membuat Gilang terdiam beberapa detik.Naya sendiri tidak menyadarinya.Ia hanya melipat tangan di dada."Meskipun aku marah sama di
Pintu lobby hotel terbuka otomatis. Risa melangkah masuk dengan wajah ditekuk. Tasnya ia tenteng, sementara kedua kakinya melangkah dengan penuh emosi. Sret. Tendang. Sret. Tendang lagi. "Papa jahat." Tendang. "Papa pembohong." Tendang. "Papa pengkhianat janji." Tendang lebih keras. Beberapa tamu hotel sampai melirik heran. Namun Risa sama sekali tidak peduli. Di belakangnya, Vela berjalan sambil memegangi dahi. Tepat saat Risa sedang menendang "angin yang bersalah karena membiarkan Papa pergi." Dan sekarang korbannya bertambah. Karena saat Risa sedang sibuk menghukum udara, dari arah pintu utama masuk rombongan keluarga Erwin. Mereka baru saja tiba. Masih rapi. Masih elegan. Masih penuh gengsi. Dan tepat di tengah jalur masuk berdiri seorang anak kecil yang sedang bertengkar dengan oksigen. "Hup!" Tendang. "Hya!" Tendang lagi. Salah satu tendangannya hampir mengenai ujung gaun seorang wanita paruh baya. Wanita itu langsung te
Tatapan Gilang dan Eyang Wulan bertemu di tengah ruangan.Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.Namun suasana terasa semakin menekan.Eyang Wulan akhirnya mendengus dingin."Bagus."Suaranya pelan."Ternyata kamu memang suaminya."Naya sempat menghela napas lega.Namun kelegaan itu hanya bertahan sesaat."Kalau begitu perceraian akan lebih mudah."Wajah Naya langsung berubah."Eyang!""Tidak ada yang perlu dibahas lagi."Eyang Wulan menatap Gilang tanpa sedikit pun rasa hormat."Kalian sudah delapan tahun berpisah.""Secara hukum mungkin masih suami istri.""Tapi secara kenyataan tidak."Naya mengepal kedua tangannya."Eyang nggak tahu apa yang terjadi.""Aku tahu cukup banyak."Eyang Wulan memotong cepat."Kamu sekarang hidup dengan identitas baru.""KTP baru.""Dokumen baru.""Semua sudah berbeda."Tatapannya beralih kepada Gilang."Kalau memang masih ada akal sehat, ceraikan Naya.""Setelah itu biarkan dia menikah dengan laki-laki yang mampu menjaganya."Ruangan kembali h
Pintu ruangan hotel terbuka lebar.Lampu kristal menggantung megah di atas kepala.Semua mata langsung tertuju pada Naya dan Gilang yang masuk berdampingan.Atau lebih tepatnya bergandengan.Tangan Naya masih melingkar di lengan Gilang meski jantungnya belum kembali normal sejak tadi.Sementara Gilang terlihat santai.Terlalu santai malah.Seolah memang terbiasa masuk ke acara keluarga seperti ini bersama istrinya.“Ya ampun, Naya!”“Iya, Yang.”Tatapan nenek itu lalu turun ke Gilang.Dan untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar berubah.Kaget.Menilai.Lalu bingung.“Ini…”Belum sempat Naya menjawab suara lain lebih dulu menyela.“Pacar bayaran ya?”Seorang wanita bergaun merah tersenyum tipis sambil menyilangkan tangan.Clara.Tatapannya dari atas sampai bawah jelas penuh penilaian.Naya langsung menarik napas kesal.“Bukan.”Ia menggenggam lengan Gilang lebih erat.“Ini suamiku.”Sunyi.Seketika seluruh ruangan terasa diam beberapa detik.Bahkan musik piano di sudut ruangan teras
Gilang berdiri diam di depan Naya.Tatapannya tenang.Terlalu tenang.Sementara Naya masih bicara pelan, seolah semua luka itu kembali terbuka malam ini.“Aku sempat stres setelah dia pergi,” ucap Naya lirih. “Eyang sampai bawa aku ke Jakarta buat nenangin aku.”Gilang tidak menyela.Namun di dalam kepalanya satu kalimat langsung muncul dingin.Bohong.Karena yang pergi waktu itu bukan dirinya.Naya yang menghilang.Naya yang meninggalkan rumah kecil mereka tanpa jejak.Dan saat Gilang kembali hanya sepucuk surat perpisahan seperti anak SMP yang sedang cinta monyet. yang tersisa hanya rumah kosong.Tidak ada Naya.Tidak ada penjelasan.Tidak ada kabar.Hanya kesunyian yang sampai sekarang masih ia ingat jelas.Namun wajah Gilang tidak berubah.Ia tetap mendengarkan.“Aku cari dia ke mana-mana,” lanjut Naya sambil tertawa kecil pahit. “Tapi aku nggak pernah nemu.”Tatapan Gilang turun samar.Mempelajari wajah perempuan di depannya.Dan itu yang membuat Gilang tetap diam sampai sekaran
Risa duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit sambil menggoyang-goyangkan kakinya.Wajahnya cemberut.Sangat cemberut.Ponselnya terus ia lihat setiap beberapa detik.“Papa lama banget sih…” gumamnya kesal.Satpam rumah sakit sampai melirik beberapa kali karena anak kecil itu dari tadi mondar-mandir sendiri sambil ngomel pelan.Lalu sebuah mobil hitam berhenti di depan lobby.Pintu terbuka. Seorang wanita turun dengan langkah cepat. Tinggi. Cantik. Dan terlalu percaya diri.Risa langsung menyipitkan mata. Ia kenal wajah itu. Pernah lihat. Bersama papanya.Dan seketika insting perang anak kecilnya aktif.Wanita itu mendekat.Tatapannya langsung menemukan Risa.“Hai Risa kita ketemu lagi?”Risa tidak langsung jawab.Ia malah melipat tangan.“Kenapa?”Wanita itu menghela napas kecil.“Papa kamu minta aku jemput.”Nah.







