Masuk
Aku duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan tangan mengepal di atas pangkuanku. Udara di ruangan ini terasa dingin, mungkin karena pendingin ruangan atau mungkin karena hatiku sendiri yang semakin membeku.
Di depanku, seorang perawat berjalan melewati lorong, menyerahkan amplop hasil tes kepada pasien lain. Aku menelan ludah, menunggu namaku dipanggil. Jantungku berdegup kencang, meskipun di dalam hati aku tahu jawabannya mungkin masih sama. “Aria?” Suara perawat itu terdengar lembut, tapi tetap saja membuatku tersentak. Aku bangkit, mengambil amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. “Terima kasih,” ucapku, sebelum kembali duduk. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum membuka kertas di dalamnya. Aku sudah melalui ini berkali-kali, tapi entah kenapa kali ini rasanya lebih menyesakkan. Perlahan, aku membuka lembaran hasilnya. Mataku langsung tertuju pada bagian yang paling penting. Negatif. Lagi. Dunia di sekitarku seakan memudar. Suara-suara samar dari pasien lain di ruang tunggu berubah menjadi dengungan latar yang tak berarti. Aku menggigit bibir, menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam dadaku. Tiana—Ibuku, buru-buru merebut kertas itu dari tanganku. Matanya melotot, itu seperti akan keluar dari kelopaknya. “Apa? Negative lagi?!” Suaranya begitu tinggi di depan banyak orang, itu seperti sedang menelan jangiku mentah-mentah. “Bagaimana ada orang yang begitu tidak berguna sepertimu?” Lagi, dia membentakku tanpa tahu malu. Aku hanya menunduk. Rasanya telingaku sudah menebal. “Maaf,” ucapku lirih. “Tiga tahun kau menikah dengan Aditya, tapi sampai sekarang kau belum hamil juga? Apa susahnya, sih?” Susah sekali, Bu … andaikan kau tahu itu. Bahkan meskipun usia pernikahan kami puluhan tahun, jika Aditya tidak pernah menyentuhku, bagaimana aku bisa hamil? Selama perjalanan, aku hanya diam, menyandarkan kepala ke sisi. Ucapan Aditya tiga tahun lalu masih begitu jelas di kepalaku. “Berani sekali keluarga Ginanjar menipuku! Meskipun aku menikahimu, aku bersumpah seumur hidupmu kau akan mati dalam kesepian!” Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah berlalu tiga tahun sejak Aditya mengatakan itu di depan mataku, rasa sakitnya masih sama. “Jika memang kamu tidak bisa hamil, setidaknya cari wanita lain yang bisa mengandung anak untukmu. Setidaknya Aditya akan mengingat kebaikanmu.” Suara Ibuku rendah, tapi terasa tajam sampai menusuk telinga. Aku merasa seseorang sedang meremas-remas jantungku di telapak tangan mereka. Sakit. Aahh …. Aku mendesis pelan, menggigit bibir bawahku lebih kuat. Rasa sakit ini, rasa sakit yang sama yang selalu menyerangku. Seperti ada ribuan paku yang menusuk-nusuk kepalaku. Aku tahu ada yang salah dengan tubuhku, tapi semakin ke sini, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Aku tidak tahan …. “Aria, kau dengar, tidak?” “Aku … aku akan memikirkannya nanti.” Untunglah mobil berhenti. Aku segera melompat turun, masuk kehalaman rumahku. Ah, mungkin lebih tepatnya rumah Aditya. Langkahku mulai goyah. Dunia seperti berputar dalam pandanganku. Sedikit lagi. Kuseret kaki ini sekuat tenaga. Jari-jariku mencengkeram apa pun yang bisa aku pegang. Ada obat yang sudah diresepkan Dokter Herlambang di meja kamar. Sebisa mungkin aku harus menelan obat itu sebelum kesadaranku lenyap. Tapi ini sakit sekali …. Tolong …. …… TING! Ponselku …. Suara dering tadi membangunkanku. Mataku mengerjap pelan. Masih ada rasa berat di kepalaku saat aku mencoba menegak. Apa ini? Kenapa ada darah saat aku mengusap hidungku? Ini … ini sangat banyak! Hampir menodai setengah dari bantal yang aku tiduri. Apa yang terjadi? Tiba-tiba sudah malam. Berapa lama aku pingsan? “Aria, jika kau mulai mimisan, cepat datanglah padaku, ya?” Ucapan Dokter Herlambang waktu itu …? Ya, aku mengingatnya. Apa artinya penyakitku semakin parah? Kuraih ponsel di sisi bantalku, kunyalakan layarnya. [Jangan lakukan apa pun] [Aku tidak akan pulang malam ini] Dua pesan itu dikirim Aditya barusan. Aku hanya bisa menghela napas, meletakkan kembali ponselku. Memang apa yang bisa aku harapkan? Aditya hampir tidak pernah pulang setelah kami menikah. Rumah ini, selain aku, tidak ada siapa pun di sini. Aditya benar-benar mewujudkan sumpahnya padaku. ….. Aku duduk di atas kursi pemeriksaan, meremas jemariku sendiri. Cahaya putih di ruangan ini terasa terlalu terang, menusuk mata. Aku berusaha mengatur napas, tapi kepalaku masih terasa berat sejak tadi pagi. Mungkin aku harus terbiasa—karena aku tahu ini tidak akan membaik. Pintu terbuka. Dokter Herlambang melangkah masuk, membawa sebuah map cokelat di tangannya. Pria berusia lima puluhan itu selalu terlihat tenang, tapi kali ini ada sorot khawatir di matanya. Dia menutup pintu, kemudian berbalik menatapku sebelum akhirnya duduk di kursinya. "Aria," panggilnya pelan. Aku bisa merasakan sesuatu yang tidak beres hanya dari cara dia mengucapkan namaku. Aku mengangguk sedikit, mencoba tersenyum, seolah itu bisa membuat suasana lebih ringan. "Bagaimana hasilnya, Dok?" Dia menghela napas panjang, membuka map, dan memperhatikan hasil tes labku. Aku bisa mendengar jarum jam berdetak di ruangan ini, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat. "Kondisimu memburuk," katanya. "Tekanan hematoma di otakmu meningkat. Jika ini dibiarkan, risikonya semakin besar." Aku sudah menduga ini, tapi tetap saja ... mendengar kepastian itu langsung dari mulutnya terasa seperti pukulan yang menghantam dadaku. "Aku masih bisa bertahan, kan?" Aku memaksakan tawa kecil. "Maksudku ... aku masih baik-baik saja, hanya sedikit sakit kepala dan pusing. Tidak separah yang dokter bayangkan." Dokter Herlambang menutup mapnya perlahan, lalu menatapku lekat-lekat. "Aria, ini bukan soal 'masih bisa bertahan' atau tidak." Suaranya lebih serius kali ini. "Setiap kali kamu menunda operasi, kamu sedang mengambil risiko. Kondisi ini bisa berubah dari 'masih bisa bertahan' menjadi koma dalam hitungan hari. Bahkan hitungan jam." Jantungku mencelos. Aku mengalihkan pandangan, menatap lantai. Aku tahu ini serius. Aku tahu dia tidak bercanda. Tapi ... operasi itu bukan sesuatu yang bisa kulakukan begitu saja. Aku menggigit bibir. "Operasi itu ... butuh biaya yang tidak sedikit, Dok." Suaraku terdengar lebih lirih dari yang kuinginkan. "Dan aku ...." Aku tidak sanggup melanjutkan kalimat itu. Dokter Herlambang terdiam sejenak, lalu bersandar di kursinya. "Aria, aku tahu kamu punya banyak hal yang kamu pikirkan. Tapi nyawamu yang jadi taruhannya di sini. Aku sudah mencoba menunda ini selama mungkin, tapi sekarang aku tidak bisa lagi membiarkanmu terus begini." Aku mengepalkan tangan. Nyawaku yang jadi taruhannya? Seolah-olah aku tidak sadar akan hal itu. Seolah-olah aku tidak terjaga setiap malam, bertanya-tanya berapa lama lagi aku bisa bertahan sebelum akhirnya tubuhku menyerah. Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu. "Aku ... akan mencari cara," bisikku. "Aku akan mencari uangnya, Dok." "Aria—" "Aku akan baik-baik saja," potongku, memaksa senyum. "Aku masih bisa menahannya." Dokter Herlambang mengusap wajahnya, tampak frustrasi. "Aria, ini bukan soal seberapa kuat kamu bertahan. Ini soal fakta medis. Aku tidak ingin suatu hari nanti aku menerima kabar bahwa kamu ditemukan pingsan di jalan, atau lebih buruk ...." Aku menegakkan punggung, menolak membiarkan tubuhku terlihat lemah. "Aku mengerti, Dok. Tapi aku tidak punya pilihan lain." Dia terdiam lama sebelum akhirnya berdiri. "Aku akan memberikan resep obat sementara untuk mengurangi tekanan di kepalamu. Tapi ini tidak akan menyembuhkanmu, hanya mengulur waktu. Aku ingin kamu berjanji padaku, Aria—jangan menunda ini terlalu lama." Aku menggigit bibir, lalu mengangguk pelan. Dokter Herlambang menghela napas, kemudian menulis sesuatu di resepnya. "Kamu keras kepala," gumamnya. "Tapi aku harap keras kepalamu tidak membuatmu menyesal nanti." Aku tidak menjawab. Karena aku tahu, jauh di lubuk hatiku ... aku juga takut. Sangat takut. ***Lorong rumah sakit itu berbau antiseptik dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.Aria berjalan perlahan, langkahnya hampir tidak bersuara di atas lantai yang mengilap. Jam dinding berdetak pelan, terlalu jelas di antara keheningan yang menggantung.Nama Jordan Hale tertera di papan kecil di samping pintu.Ia berhenti di sana lebih lama dari yang perlu. Tangannya terangkat, lalu turun lagi, seolah mengetuk pintu itu bisa mengubah apa pun. Akhirnya, Aria mendorongnya perlahan.Ruangan itu terang, tapi terasa kosong.Jordan terbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang tampak utuh. Selang infus terpasang rapi. Monitor di sampingnya berdetak stabil, ritmenya tenang, hampir menenangkan … jika bukan karena kenyataan bahwa itu satu-satunya tanda kehidupan yang tersisa.Aria melangkah mendekat.Wajah Jordan pucat, jauh berbeda dari pria yang ia kenal lewat cerita Aditya—pemilik bar yang riuh, yang selalu tertawa keras, yang katanya tidak pernah bisa diam.Sekarang, ia sunyi. Terlalu sun
Ruang kunjungan itu tidak berubah.Kaca pemisah. Telepon hitam. Kursi besi yang dingin.Namun saat Aditya masuk dari sisi lain, langkahnya sedikit lebih cepat dari kemarin. Wajahnya langsung berubah begitu melihat Aria—senyum itu muncul terlalu cepat, terlalu rapi, seolah sudah ia latih sebelum pintu dibuka.“Hey,” katanya, suaranya terdengar lebih ringan dari seharusnya.Aria membalas senyum itu. Sama cepatnya. Sama terkontrol. Ia mengangkat gagang telepon dan duduk tegak, bahunya lurus, seolah tubuhnya tidak menyimpan apa pun selain ketenangan.“Kau kelihatan … lebih baik,” kata Aria.“Selama aku bisa melihatmu, aku akan selalu lebih baik.” Senyum Aditya semakin melebar.Ucapan itu menyengat hati Aria—tapi di depannya, ia tetap membalas senyum itu.Aria melihatnya, dan tahu kalimat itu tidak sepenuhnya benar.Ada bayangan lelah di bawah mata Aditya yang tidak ada kemarin. Ada kekakuan tipis di bahunya saat ia duduk, seperti seseorang yang tidurnya tidak pernah benar-benar dalam. Tap
Pagi datang dengan cara yang tidak sopan.Cahaya matahari menembus celah tirai kamar hotel, jatuh tepat di mata Aria. Ia terbangun bukan karena cukup istirahat, melainkan karena tubuhnya menyerah untuk tetap terjaga.Kepalanya terasa berat, seperti diisi sesuatu yang tidak sepenuhnya mimpi dan tidak sepenuhnya nyata.Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring.Langit-langit kamar itu asing. Terlalu putih. Terlalu bersih. Dan kesadaran datang perlahan—menghantam satu per satu.Penjara.Aditya.Nama Jordan.Kata vegetatif.Perutnya bergejolak pelan.Aria duduk, menurunkan kakinya ke lantai. Gerakannya lambat, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya sepakat dengan keputusan untuk bangun. Saat ia berdiri, ada sensasi tidak nyaman yang tiba-tiba menjalar—ringan, tapi cukup untuk membuatnya berhenti sejenak dan memejamkan mata.Ia menarik napas dalam-dalam.Gelombang mual yang datang tanpa peringatan, lalu surut sebelum sempat benar-benar muncul.Aria menuju kamar mandi, menyalakan keran, membasuh w
Lampu-lampu hotel menyala terlalu terang bagi mata Aria.Pintu mobil tertutup di belakang mereka dengan bunyi yang pelan, nyaris sopan. Davis berjalan sedikit di depan, Norton di samping Aria, seolah keduanya tahu—jika ia dibiarkan sendiri bahkan satu menit saja, tubuhnya mungkin akan menyerah.Lobi hotel itu luas, bersih, dan dingin. Marmer mengilap memantulkan bayangan langkah kaki mereka. Tidak ada suara selain denting halus dari resepsionis dan bisik pendingin ruangan.Aria berjalan tanpa benar-benar melihat.Tangannya masih dingin. Dadanya masih terasa sesak, seolah udara Baltimore belum sepenuhnya masuk ke paru-parunya sejak ia berdiri di balik kaca penjara itu.Aditya diborgol, tapi mulunya masih tersenyum dan mengatakan, ‘Aku baik-baik saja’.Kebohongan paling lembut yang pernah ia dengar.Lift bergerak naik. Angka-angka menyala satu per satu. Tidak ada percakapan.Begitu pintu kamar terbuka, Davis mempersilakan mereka masuk.“Aku sengaja menyewa kamar yang lebih besar, karena
Janji itu menggantung di udara.Aria sendiri tidak tahu dari mana kekuatan itu datang—kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutnya, penuh keyakinan, seolah dunia akan tunduk hanya karena ia mengatakannya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak akan meninggalkan Aditya di tempat ini.Aditya menatapnya lama.“Aria,” ucapnya pelan.Namanya terdengar berbeda di ruang itu. Lebih berat. Lebih dalam. Seolah satu-satunya hal yang masih ia miliki.“Aku tidak ingin kau—”Kalimat itu terhenti.Bukan karena ia kehabisan kata, tapi karena ia tahu: apa pun yang ia ucapkan sekarang tidak akan menghentikannya.Aria menggeleng pelan, cepat. “Jangan,” katanya lirih. “Jangan hentikan aku, karena apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu di sini lebih lama.”Aditya menutup mata sejenak. “Tapi kau tidak tahu, yang kau hadapi itu—““Apa? Siapa?” tanyanya tergesa karena panik. “Jika aku tidak tahu, maka jelaskan padaku, apa yang terjadi sebenarnya?”Aditya diam senejak, seperti sedang menimbang setia
Tangis Aria runtuh.Bukan jatuh perlahan—tapi ambruk, seperti sesuatu yang akhirnya dilepaskan setelah terlalu lama ditahan. Bahunya bergetar hebat, napasnya tersendat, dan suara yang keluar darinya pecah menjadi isak-isak kasar yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?” Suaranya patah, serak, hampir tak terdengar.“Jangan bilang begitu…,” suaranya patah, serak, hampir tak terdengar. “Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?”Ia menggeleng, kuat-kuat, seolah ingin menolak kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.“Kenapa kamu tidak pulang?” Dan pertanyaan itu keluar seperti luka yang disobek ulang. “Aku menunggumu. Aku menunggu setiap hari. Aku mencarimu ke mana-mana—”Suaranya naik, lalu pecah lagi di tengah kalimat.“Aku pikir kau pergi. Aku pikir aku kehilanganmu.”Air mata mengalir tanpa henti, membasahi pipinya, jatuh ke tangan yang kini gemetar di atas meja. Aria memukul dadanya sendiri sekali, pelan, frustrasi—seperti ingin menghentika







