Home / Romansa / Suamiku Selalu Ingin Bercerai / Bab 4 Jangan Coba-coba! (POV Aditya)

Share

Bab 4 Jangan Coba-coba! (POV Aditya)

Author: Fachra. L
last update Last Updated: 2025-09-18 20:47:11

Aku duduk di pojok bar, menyesap wh!skey dengan satu tangan sambil mendengarkan suara gelak tawa di sekelilingku. Davis dan dua temanku yang lain sibuk berceloteh, sesekali menyinggung tentang perceraianku seolah itu hanyalah urusan remeh. Aku tidak menyanggah, tidak membenarkan, hanya mengangkat gelasku tanpa ekspresi.

"Jadi, kapan kau akan menyelesaikan semuanya?" Davis bertanya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, nada suaranya terdengar malas, seakan jengah karena aku belum juga menyelesaikan urusan dengan Aria. "Yessy akan segera kembali ke tanah air, bukan? Apa kau ingin menyia-nyiakan dia begitu saja?"

Yessy.

Aku menggerakkan gelas di tanganku, memperhatikan pantulan lampu neon yang membias di permukaannya. Yessy adalah sesuatu yang nyata—sesuatu yang selalu bisa kupercayai. Tidak seperti Aria.

"Jangan bilang kau masih mempertimbangkan untuk membatalkan perceraian." Salah satu temanku menimpali, suaranya setengah mengejek.

Aku mendengus pelan. "Aku tidak akan menj!lat ludahku sendiri. Dia sudah menyetujui perceraian ini.”

"Tapi belum sah." Davis mengingatkanku, ekspresinya berubah lebih serius. "Aku tidak percaya pada Aria atau keluarganya. Mereka itu licik. Selama mereka belum benar-benar kehilanganmu, mereka pasti akan mencari cara untuk mempertahankan pernikahan ini."

Aku diam. Davis tidak salah.

Aria dan keluarganya memang seperti lintah yang terus melekat pada sesuatu yang bisa mereka manfaatkan. Aku melihat itu selama tiga tahun terakhir. Aria tidak lebih dari alat bagi keluarganya untuk memperpanjang eksistensi mereka.

Dia berpura-pura patuh, berpura-pura diam, berpura-pura tidak menginginkan apa pun, tapi aku tahu—pada akhirnya, dia akan melakukan sesuatu untuk mempertahankan statusnya sebagai istriku.

Sebuah getaran di sakuku menarik perhatianku. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka pesan singkat yang masuk.

[Aku sudah pergi dari rumahmu. Tapi aku berjanji akan menemuimu di balai catatan sipil tiga hari lagi. Aku tidak akan melarikan diri. Kau tidak perlu khawatir tentang itu]

Tanganku mencengkeram ponsel lebih erat.

Khawatir?

Aku tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di dalamnya. Pesan ini … persis seperti yang kuduga. Ini caranya untuk membuatku lengah, memberi ilusi seolah dia tidak berusaha mempertahankan pernikahan ini. Aku tidak bodoh. Aria pasti sedang menyusun sesuatu.

Aku bangkit dari kursi. "Aku pulang."

"Serius? Kita baru saja mulai."

Aku mengabaikan protes mereka, melempar beberapa lembar uang ke atas meja sebelum berjalan keluar. Hujan baru saja turun, aroma tanah basah bercampur dengan bau aspal memenuhi udara saat aku masuk ke dalam mobil.

Aku menyusuri jalanan dengan kecepatan lebih dari batas normal, jemariku mengetuk-ngetuk setir dengan tidak sabar. Aku tahu Aria. Dia selalu bertahan, selalu mencoba menenangkan situasi, selalu berusaha terlihat tenang di depanku. Ini pasti hanya permainan lain.

Namun begitu aku tiba di rumah, sesuatu yang tidak biasa menyambutku.

Rumah itu … sunyi.

Aku melangkah masuk, menyapu pandangan ke sekeliling. Sofa yang biasa ia duduki saat membaca tidak lagi memiliki bantalnya. Vas bunga di meja ruang tamu kosong. Aku berjalan lebih jauh, ke dapur, ke ruang makan, lalu ke kamarnya.

Kosong.

Lemari terbuka. Tidak ada satu pun pakaiannya tersisa. Tidak ada sepatu, tidak ada tas, tidak ada tanda bahwa seseorang pernah tinggal di sana.

Seolah … dia benar-benar telah pergi.

Aku berdiri di tengah ruangan yang terasa terlalu luas, terlalu sepi. Jemariku mengepal.

Aria.

Apa yang sebenarnya kau rencanakan?

Waktu berlalu ….

Dua hari sudah aku mencarinya ke mana-mana, tapi orang-orang suruhanku tidak juga menemukan keberadaan wanita s!alan itu.

Breng sek!

Berani sekali dia kabur dari perceraian ini! Jika aku sampai menemukannya, aku pasti akan mengikatnya hingga perceraian ini sah.

Tanganku mengepal, memukul kaca jendela ruanganku dengan keras.

Seseorang membuka pintu, suara Davis terdengar dari belakang punggungku.

“Lihat? Sudah kubilang, kan … dia itu tidak sepolos wajahnya! Kau seperti tidak mendengar pepatah saja. Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya. Suluruh keluarganya itu licik! Susah payah mereka mengatur untuk menjebakmu bersama anak mereka, mana mungkin mereka membiarkan kau mengakhirinya?”

Aku meremat telapak tanganku lebih kuat, hingga rasanya aku ingin mematahkan kukuku sendiri.

“Seharusnya kau dengarkan aku sejak awal, Aditya. Mereka itu hama! Semakin dipelihara, semakin menjadi-jadi. Sekarang tunggu saja! Pasti setelah ini akan ada kabar dari Aria yang mengatakan bahwa dia ingin pembagian aset secara adil.”

“Mereka itu sudah tidak punya malu!” cibirnya lagi. “Jika cara licik agar kau menikahi anak mereka saja sudah mereka lakukan, apa ada batasan untuk mempertahankan pernikahan kalian? Tidak ada! Yang ada, mereka hanya akan mencari cara bagaimana terus bertahan di posisi nyaman mereka saat ini.”

Awas saja jika sampai besok dia tidak muncul!

…..

Hujan turun deras siang itu. Butiran air menghantam kap mobil dengan suara monoton yang mengisi keheningan di dalamnya. Aku menatap lurus ke arah gedung biro catatan sipil yang tampak kusam di balik jendela yang basah oleh rintikan hujan.

Sudah dua hari penuh aku mencari keberadaan Aria. Dua hari penuh aku membayangkan berbagai kemungkinan, mempersiapkan segala cara untuk menghadapi usahanya mempertahankan pernikahan ini. Namun, kenyataannya justru jauh dari apa yang kubayangkan.

Aria telah tiba lebih dulu.

Aku melihatnya dari balik kaca jendela mobil. Dia berdiri di dekat pintu masuk, tubuhnya dibalut mantel tipis yang terlihat terlalu besar untuk badannya yang kurus. Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat wajahnya yang pucat, lingkaran hitam di bawah matanya, serta pundaknya yang ringkih, seolah sedikit saja angin bertiup, dia akan roboh.

Aku mengepalkan jemariku di atas paha, merasakan ketidaknyamanan yang samar di dadaku.

Lambat laun, aku keluar dari mobil, membiarkan hujan yang masih gerimis membasahi ujung jasku. Langkahku mantap menuju ke arahnya, tapi Aria hanya menoleh sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya.

Tidak ada harapan di matanya. Tidak ada air mata. Tidak ada ketakutan.

Dia hanya diam.

Aku tidak tahu kenapa, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa ada sesuatu yang tidak benar.

Tanpa sepatah kata, kami melangkah masuk ke dalam gedung. Petugas menyambut kami dengan pandangan biasa, menyerahkan dokumen yang harus kami tanda tangani.

Aku menunggu.

Aku menunggu dia mengatakan sesuatu. Aku menunggu dia menatapku, memohon padaku, bertanya apakah aku benar-benar ingin ini.

Tapi dia tidak melakukan apa-apa.

Tanpa ragu, tanpa jeda, tanpa pertanyaan, Aria meraih pena dan menandatangani surat perceraian kami.

Tanganku yang menggenggam pena seketika terasa kaku.

Aku menatap tanda tangannya yang terukir rapi di atas kertas, lalu menoleh ke arahnya. Aria menundukkan kepala, jemarinya yang kurus mengepal di atas pangkuannya, seolah menahan sesuatu—rasa sakit, mungkin? Tapi dia tetap tidak mengatakan apa pun.

Bukankah dia mencintaiku?

Bukankah selama ini dia bertahan karena dia tidak ingin kehilangan aku?

Lalu kenapa? Kenapa dia membiarkannya terjadi begitu mudah?

Aku tidak bisa memahami ini.

Tanpa sadar, aku menggertakkan gigi, lalu menorehkan tanda tanganku di sebelah namanya.

Aria benar-benar membiarkanku pergi.

Dia baru saja berdiri dari kursinya ketika tanganku terulur, menahan pergelangan tangannya sebelum dia bisa melangkah pergi.

Aria menoleh perlahan, matanya yang sendu menatapku dengan sorot datar, seolah yang baru saja kami lakukan hanyalah sebuah transaksi biasa. Seolah pernikahan kami yang bertahun-tahun ini tidak memiliki arti apa pun baginya.

Aku menatapnya dengan dingin. "Jangan berpikir kau bisa menghilang begitu saja, Aria."

Dia tidak bereaksi, tidak berusaha menarik tangannya.

Aku melanjutkan, "Masih ada masa tunggu satu bulan sebelum perceraian ini benar-benar sah. Aku ingin memastikan kau datang kembali ke sini sesuai tanggal yang ditentukan." Aku mengamati wajahnya, mencoba mencari celah di balik ketenangan itu. "Aku tidak mau mendengar alasan apa pun nanti."

Aria masih diam, hanya mengedipkan matanya sekali sebelum menarik napas pelan.

"Aku akan datang," katanya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar. "Kau tidak perlu khawatir akan kehadiranku di sini satu bulan lagi."

Aku menyipitkan mata, mencoba membaca maksud tersembunyi dari perkataannya.

"Tidak ada yang bisa kau rencanakan, Aria," ucapku, kali ini lebih rendah, lebih menekan. "Kalau kau berpikir bisa melakukan sesuatu selama satu bulan ini, aku peringatkan, jangan coba-coba."

Aria hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah kulihat darinya sebelumnya.

"Aku tidak berencana melakukan apa pun, Aditya." Dia menghela napas kecil, lalu menatap tanganku yang masih mencengkeram pergelangan tangannya. "Bisakah kau melepaskan?"

Aku menahan diri sesaat, sebelum akhirnya melepas genggamanku.

Aria tidak langsung pergi. Dia menatapku untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang. Seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan—sesuatu yang menggantung di ujung bibirnya—tapi akhirnya dia hanya mengangguk kecil sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Aku tetap berdiri di tempatku, mendengar suara langkah kakinya yang ringan perlahan menjauh.

Dan entah kenapa, perasaan tidak nyaman kembali menyusup ke dalam dadaku.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 114 Mustahil

    Lampu-lampu hotel menyala terlalu terang bagi mata Aria.Pintu mobil tertutup di belakang mereka dengan bunyi yang pelan, nyaris sopan. Davis berjalan sedikit di depan, Norton di samping Aria, seolah keduanya tahu—jika ia dibiarkan sendiri bahkan satu menit saja, tubuhnya mungkin akan menyerah.Lobi hotel itu luas, bersih, dan dingin. Marmer mengilap memantulkan bayangan langkah kaki mereka. Tidak ada suara selain denting halus dari resepsionis dan bisik pendingin ruangan.Aria berjalan tanpa benar-benar melihat.Tangannya masih dingin. Dadanya masih terasa sesak, seolah udara Baltimore belum sepenuhnya masuk ke paru-parunya sejak ia berdiri di balik kaca penjara itu.Aditya diborgol, tapi mulunya masih tersenyum dan mengatakan, ‘Aku baik-baik saja’.Kebohongan paling lembut yang pernah ia dengar.Lift bergerak naik. Angka-angka menyala satu per satu. Tidak ada percakapan.Begitu pintu kamar terbuka, Davis mempersilakan mereka masuk.“Aku sengaja menyewa kamar yang lebih besar, karena

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 113 Kembali Untuk Membawanya Pulang

    Janji itu menggantung di udara.Aria sendiri tidak tahu dari mana kekuatan itu datang—kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutnya, penuh keyakinan, seolah dunia akan tunduk hanya karena ia mengatakannya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak akan meninggalkan Aditya di tempat ini.Aditya menatapnya lama.“Aria,” ucapnya pelan.Namanya terdengar berbeda di ruang itu. Lebih berat. Lebih dalam. Seolah satu-satunya hal yang masih ia miliki.“Aku tidak ingin kau—”Kalimat itu terhenti.Bukan karena ia kehabisan kata, tapi karena ia tahu: apa pun yang ia ucapkan sekarang tidak akan menghentikannya.Aria menggeleng pelan, cepat. “Jangan,” katanya lirih. “Jangan hentikan aku, karena apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu di sini lebih lama.”Aditya menutup mata sejenak. “Tapi kau tidak tahu, yang kau hadapi itu—““Apa? Siapa?” tanyanya tergesa karena panik. “Jika aku tidak tahu, maka jelaskan padaku, apa yang terjadi sebenarnya?”Aditya diam senejak, seperti sedang menimbang setia

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 112 Menghancurkan Dirinya Sendiri

    Tangis Aria runtuh.Bukan jatuh perlahan—tapi ambruk, seperti sesuatu yang akhirnya dilepaskan setelah terlalu lama ditahan. Bahunya bergetar hebat, napasnya tersendat, dan suara yang keluar darinya pecah menjadi isak-isak kasar yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?” Suaranya patah, serak, hampir tak terdengar.“Jangan bilang begitu…,” suaranya patah, serak, hampir tak terdengar. “Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?”Ia menggeleng, kuat-kuat, seolah ingin menolak kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.“Kenapa kamu tidak pulang?” Dan pertanyaan itu keluar seperti luka yang disobek ulang. “Aku menunggumu. Aku menunggu setiap hari. Aku mencarimu ke mana-mana—”Suaranya naik, lalu pecah lagi di tengah kalimat.“Aku pikir kau pergi. Aku pikir aku kehilanganmu.”Air mata mengalir tanpa henti, membasahi pipinya, jatuh ke tangan yang kini gemetar di atas meja. Aria memukul dadanya sendiri sekali, pelan, frustrasi—seperti ingin menghentika

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 111 Jangan Menangis, Aria ....

    Aria tiba di Baltimore saat langit masih pucat. Bukan pagi yang cerah—hanya warna abu-abu yang menggantung rendah, seperti kota itu sendiri belum sepenuhnya terjaga. Pesawat mendarat dengan guncangan ringan, dan saat sabuk pengaman dilepas, Aria tetap duduk beberapa detik lebih lama dari penumpang lain. Tubuhnya masih lemah, tapi yang lebih berat adalah dadanya—terasa sesak sejak roda pesawat menyentuh landasan. Norton berdiri di sampingnya, sigap seperti biasa, meski sorot matanya tak pernah benar-benar tenang sejak mereka berangkat. Di luar bandara, udara dingin langsung menyergap. Aria menarik mantel lebih rapat, telapak tangannya dingin meski ia menggenggam tas kecil erat-erat, seolah di dalamnya ada sesuatu yang bisa menjaganya tetap utuh. Davis sudah menunggu. Ia berdiri tidak jauh dari pintu keluar, mengenakan mantel gelap, bahunya sedikit tegang. Begitu melihat Aria, ia melangkah mendekat—cepat, tapi ragu. Sejenak, Aria melihat kelegaan di wajahnya. Dan sesuatu yang lain

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 110 Kehancuran yang Tumbuh di Rahim Anakku

    Pagi itu, Ava tidak sempat sampai ke meja makan.Rasa mual datang begitu saja—keras, mendadak—seperti gelombang yang menghantam lambungnya tanpa aba-aba. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berbalik cepat, nyaris tersandung di lorong sebelum akhirnya berlutut di depan wastafel kamar mandi.Tidak banyak yang keluar. Hanya air liur, sedikit asam, dan sensasi pusing yang membuat kepalanya terasa ringan—terlalu ringan, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya terikat pada lantai.“Ava?”Suara ibunya terdengar dari balik pintu. Cemas. Terburu-buru.“Ava, sayang?”Ia tidak menjawab. Tidak karena tak mau, tapi karena tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya menekan dahi ke pinggir wastafel, memejamkan mata, bernapas pendek-pendek, mencoba menunggu dunia berhenti berputar.Ketika pintu akhirnya terbuka, Isla sudah berdiri di sana dengan wajah yang langsung berubah pucat.“Kita ke rumah sakit,” katanya tegas. Tidak menunggu bantahan.“Aku cuma pusing,” Ava be

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 109 BESOK

    Aria sudah sadar sejak pagi.Bukan benar-benar terjaga—lebih seperti terombang-ambing di antara tidur dan bangun. Tubuhnya lemah, kepalanya terasa berat, dan setiap kali matanya terbuka, dunia di sekelilingnya selalu tampak sedikit kabur.Namun ada satu hal yang selalu sama.“Ponselku…” suaranya lirih setiap kali ia membuka mata. “Norton, ada kabar?”Norton akan mendekat. Selalu dengan ekspresi yang sama—hati-hati, penuh harap yang ditahan. Ia akan mengecek layar ponsel, lalu menggeleng pelan.“Belum ada, Nyonya.”Dan Aria akan mengangguk. Tidak marah. Tidak kecewa secara terbuka. Hanya menutup mata kembali, seolah mengumpulkan tenaga untuk menunggu lagi.Waktu terasa berjalan aneh hari itu.Lambat. Terlalu lambat.Janji Davis terngiang terus di kepalanya. Aku akan membawanya kembali padamu. Tapi pagi berlalu tanpa kabar. Siang merambat dengan sunyi yang menyesakkan.Setiap kali Aria tertidur, Norton duduk tidak jauh darinya, ponsel di tangan, nyaris tidak berkedip. Setiap kali lay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status