Share

Bab 5 Sampai Sah

Author: Fachra. L
last update Last Updated: 2025-09-18 20:53:37

Lima hari setelah aku menandatangani surat perceraian, suara Tiana menerobos masuk ke dalam telingaku dengan kemarahan yang tak tertahankan.

"Apa maksudmu menceraikan Aditya diam-diam?! Kau pikir bisa lari dari tanggung jawabmu, hah?"

Aku menekan ponsel lebih erat ke telinga, berusaha menahan napas yang mulai berat. Tubuhku masih terasa nyeri setelah bekerja sejak pagi, menjadi buruh cuci di pusat pencucian di desa kecil ini demi membayar uang sewa kos kamar dan makan sehari-hari. Tapi tentu saja, itu bukan sesuatu yang penting bagi Tiana.

"Aku tidak lari," jawabku lirih, suara yang hampir tak terdengar dibandingkan nada tinggi yang Ibu gunakan. "Aku hanya—"

"Diam!" bentaknya, memotong kalimatku tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan. "Aku sudah mencari ke rumah Aditya, tapi kau tidak ada! Kau pikir bisa bersembunyi dariku? Kau sengaja, ya? Kau tidak mau aku tahu soal perceraian ini, hah?!"

Tanganku bergetar, tidak hanya karena kelelahan, tetapi juga karena kata-kata Ibu yang selalu seperti pisau tajam, menguliti perasaan dan meninggalkan luka yang tidak akan pernah sembuh.

Aku menatap lantai tempat tempat pencucian ini, mengabaikan pakaian yang seharusnya aku angkat dari mesin cuci.

"Ibu ...." Aku mencoba bicara lagi, tapi Tiana tidak memberiku kesempatan.

"Kau pikir setelah diceraikan Aditya, kau bisa bebas begitu saja?!" lanjutnya, suaranya penuh kebencian. "Kau dengarkan aku baik-baik, Aria! Aku sudah mengatur pernikahanmu dengan Tuan Sunandar."

Jantungku berhenti berdetak sejenak.

"Apa?" Suaraku bergetar.

"Kau dengar aku! Tuan Sunandar sudah setuju untuk menikahimu. Mahar sudah diberikan, jadi kau tidak bisa menolak! Kau pikir kau siapa? Kau bukan siapa-siapa, Aria! Kau hanya beban yang seharusnya sudah kuhapus sejak dulu kalau saja kau tidak berguna untukku!"

Aku merasa seolah ada sesuatu yang menghantam dadaku. Bukan karena kata-kata itu asing—tidak, aku sudah mendengarnya sejak kecil. Aku tahu aku tidak pernah dianggap lebih dari sekadar aset bagi Tiana. Tapi tetap saja, hatiku selalu berharap ... walaupun aku tahu itu sia-sia.

"Ibu ...." Napasku terputus, suaraku lirih seperti bisikan. "Aku tidak mau lakukan ini."

Demi apa pun, aku tidak akan sudi menikahi pria tua yang bahkan pantas kusebut Kakek daripada suami. Istri dan cucunya sudah di mana-mana, berserakan entah berapa jumlahnya. Hanya karena dia pria kaya, lantas Tiana memberikanku pada pria tua itu dengan suka rela?

Tiana mendecakkan lidahnya dengan kesal. "Aku tidak peduli apa yang kau mau! Pulang sekarang juga! Aku tidak mau mendengar alasanmu!"

Air mataku menetes, jatuh ke punggung tanganku yang pucat. Aku tahu aku tidak punya tempat untuk meminta pertolongan. Tidak ada siapa pun yang bisa membantuku.

Aku lelah. Aku sangat lelah.

Tubuhku sudah tidak kuat bekerja, kesehatanku semakin buruk. Aku sering melupakan sesuatu, bahkan pagi tadi, aku tidak ingat apakah sudah makan atau belum. Tapi sekarang, bukan hanya tubuhku yang kelelahan.

Hatiku pun begitu.

"Ibu ...." Aku menarik napas gemetar. "Aku tidak mau."

"Kau berani melawan aku?" suara Tiana terdengar semakin mengancam. “Dengar Aria! Aku adalah orang yang melahirkanmu! Kau berhutang nyawa padaku! Apa yang kau lakukan, tidak akan pernah sebanding dengan itu.”

“Jika aku mengembalikan nyawa ini, apa hutangku padamu akan lunas?”

“Apa yang kau bicarakan? Jangan mengatakan hal bodoh, Aria!”

Aku menarik napas panjang, memejamkan mataku sesaat. Sebelum akhirnya … aku mengangguk.

“Baiklah, aku akan setuju dengan pernikahan itu. Akhir bulan nanti adalah batas selesainya masa tunggu, setelah itu perceraianku dengan Aditya akan sah. Di hari itu, jemputlah aku di makam Ayah. Kau bisa membawaku pulang saat itu.”

“Kau tidak membohongiku, kan?” Suaranya keras, meragukan ucapanku.

“Untuk apa aku membohongimu? Aku sudah lelah lari dari orang-orang di sekitarku. Kau bisa memegang ucapanku, kau pasti mendapatkanku di sana nanti.”

Aku menutup sambungan itu, menghela napas panjang dan berat.

Hujan masih enggan berhenti sampai jam kerjaku usai.

Aku menggunakan mantel untuk mendekap tubuhku, menerobos hujan demi tiba di kamar kos lebih cepat.

Sebelum aku melupakan percakapan tadi, aku menulis semuanya di buku catatan, mencatat tanggalnya juga.

Setelah aku melupakan banyak hal, aku mulai terbiasa mencatat apa yang harus aku lakukan setiap hari, dan janji apa yang harus aku tepati. Hanya ini satu-satunya cara untuk membantuku mengingat. Bahkan aku juga menulis alamat kos ini, jika sewaktu-waktu aku lupa jalan pulang dan membawanya ke mana-mana.

Hujan sudah cukup reda setelahnya.

Aku kembali melangkah keluar, mencari makanan yang sekiranya bisa mengganjal perutku malam ini.

Tidak tahu dari mana, tiba-tiba sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi dari arah belakangku, membuat genangan air menyembur dan mengguyur seluruh badanku.

Mobil itu berhenti, kupikir akan meminta maaf. Tapi yang keluar malah pria yang aku kenali. Davis.

Dia mendekat, seringai di wajahnya seperti sedang mengolok-olok diriku.

“Jadi rupanya di sini kau bersembunyi?”

Aku tidak bersembunyi, aku memang tidak memiliki tempat tinggal.

“Aria … Aria. Tidak kusangka kau menyusun skema yang luar biasa seperti ini. Kau berlari seolah kau menerima semuanya begitu saja, tapi yang sebenarnya kau inginkan adalah agar Aditya mencarimu, kan? Kau berpikir Aditya akan merasa simpati padamu dan mencabut gugatannya?”

Sungguh, aku tidak ingin berdebat lagi. Terserah apa yang ingin mereka katakan.

“Davis, jika tidak ada hal penting yang kau sampaikan, aku pergi dulu.”

Aku berbalik untuk meninggalkannya, tapi dia tiba-tiba mencekal lenganku. Tubuhku goyah, keseimbanganku hilang, dan aku jatuh ke atas aspal basah.

Davis tertawa melihatku. “Aria, jika kau ingin pura-pura lemah, percayalah, kau hanya membuat dirimu semakin menji jikkan! Aku hanya memegang lenganmu, tapi kau sudah menjatuhkan dirimu sampai seperti itu. Kenapa? Ingin menarik perhatian dari orang-orang di sini?”

Aku berdiri dengan susah payah, menahan rasa sakit di kepalaku yang mulai berdenyut.

“Davis, aku tidak tahu kenapa kau begitu membenciku. Tapi apa pun itu, aku tidak akan pernah menyesal atas apa yang sudah kulakukan padamu di masa lalu.”

“Kau ingin tahu kenapa aku membencimu? Itu karena keluargamu telah menipu keluargaku habis-habisan. Kau benar-benar keturunan penipu sejati! Jika bukan karena Aditya, aku pun akan menjadi melarat sepertimu. Cukup keluargaku yang menjadi korban, aku tidak akan membiarkan temanku atau pun Yessy menjadi korbanmu selanjutnya.”

Dia mendekat, matanya menusuk langsung padaku. “Dengar ini, Aria! Ke mana pun kau pergi, kau tidak akan pernah lepas dariku. Keluargamu akan bangkrut, kan? Aku pastikan kalian akan menderita tanpa ada satu pun yang mau membantu kalian.”

Aku mengulas senyum tipis dan mengangguk. “Jika itu bisa memuaskan rasa dendammu, maka lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jangan khawatir, aku tidak akan ke mana-mana. Aku tidak memiliki banyak uang untuk kabur, jadi kau tidak akan susah mencariku. Aku pasti datang untuk membuat perceraianku dengan Aditya menjadi sah.”

Setelah mengatakan itu, aku berbalik untuk menghindarinya lagi. Tapi … bumi terasa berputar. Kakiku seperti sedang berpijak di atas lantai berlumut. Pandanganku buram.

Aku berusaha menggapai dinding pertokoan, menyandar di sana.

Sebuah cairan ken tal menetes dari hidungku. Da rah. Tidak, kenapa sangat banyak?

Pandanganku semakin buram, semakin lama semakin tidak jelas, sampai akhirnya … hanya kegelapan yang bisa aku tangkap.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 110 Kehancuran yang Tumbuh di Rahim Anakku

    Pagi itu, Ava tidak sempat sampai ke meja makan.Rasa mual datang begitu saja—keras, mendadak—seperti gelombang yang menghantam lambungnya tanpa aba-aba. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berbalik cepat, nyaris tersandung di lorong sebelum akhirnya berlutut di depan wastafel kamar mandi.Tidak banyak yang keluar. Hanya air liur, sedikit asam, dan sensasi pusing yang membuat kepalanya terasa ringan—terlalu ringan, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya terikat pada lantai.“Ava?”Suara ibunya terdengar dari balik pintu. Cemas. Terburu-buru.“Ava, sayang?”Ia tidak menjawab. Tidak karena tak mau, tapi karena tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya menekan dahi ke pinggir wastafel, memejamkan mata, bernapas pendek-pendek, mencoba menunggu dunia berhenti berputar.Ketika pintu akhirnya terbuka, Isla sudah berdiri di sana dengan wajah yang langsung berubah pucat.“Kita ke rumah sakit,” katanya tegas. Tidak menunggu bantahan.“Aku cuma pusing,” Ava be

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 109 BESOK

    Aria sudah sadar sejak pagi.Bukan benar-benar terjaga—lebih seperti terombang-ambing di antara tidur dan bangun. Tubuhnya lemah, kepalanya terasa berat, dan setiap kali matanya terbuka, dunia di sekelilingnya selalu tampak sedikit kabur.Namun ada satu hal yang selalu sama.“Ponselku…” suaranya lirih setiap kali ia membuka mata. “Norton, ada kabar?”Norton akan mendekat. Selalu dengan ekspresi yang sama—hati-hati, penuh harap yang ditahan. Ia akan mengecek layar ponsel, lalu menggeleng pelan.“Belum ada, Nyonya.”Dan Aria akan mengangguk. Tidak marah. Tidak kecewa secara terbuka. Hanya menutup mata kembali, seolah mengumpulkan tenaga untuk menunggu lagi.Waktu terasa berjalan aneh hari itu.Lambat. Terlalu lambat.Janji Davis terngiang terus di kepalanya. Aku akan membawanya kembali padamu. Tapi pagi berlalu tanpa kabar. Siang merambat dengan sunyi yang menyesakkan.Setiap kali Aria tertidur, Norton duduk tidak jauh darinya, ponsel di tangan, nyaris tidak berkedip. Setiap kali lay

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 108 Sampai Waktu Itu Tiba

    Abram tidak tidur malam itu.Lampu ruang kerjanya masih menyala ketika rumah lain telah lama tenggelam dalam gelap. Di atas meja kayu tua, beberapa berkas terbuka rapi—laporan, catatan singkat, nama-nama yang tidak ingin ia baca terlalu lama.Di sudut meja, ponselnya tergeletak diam. Tidak berdering. Tidak bergetar. Seolah ikut memahami bahwa malam ini, tak ada kabar baik yang pantas datang.Abram duduk dengan punggung sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Usianya terasa berat di persendian, tapi bukan itu yang membuat napasnya sesak. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih pelan, tapi jauh lebih melelahkan.Keputusan.Ia telah membuat terlalu banyak keputusan sepanjang hidupnya. Untuk perusahaan. Untuk keluarga. Untuk orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Tapi tak satu pun yang terasa seberat ini—keputusan yang ia buat diam-diam, tanpa persetujuan siapa pun.Mengubur jejak seseorang.Bukan untuk menyakiti Aria. Hanya … untuk membeli waktu.Abram memejam

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 107 Dia Harus Tahu!

    Lampu di langit-langit menyala tanpa ampun. Terang, putih, dan dingin. Tidak pernah benar-benar padam, hanya meredup sebentar sebelum kembali menyilaukan, seolah waktu di tempat itu menolak memberi jeda.Aditya duduk bersandar pada dinding sel. Punggungnya terasa kaku, tulang lehernya nyeri karena posisi tidur yang tak pernah nyaman. Bau logam, lembap, dan sesuatu yang terlalu lama terkurung menyusup ke napasnya.Di sini, waktu bukan garis lurus—ia pecah, melambat, lalu menghilang begitu saja.‘Dia baik-baik saja.’Itu yang Davis katakan. Tapi Aditya tahu. Terlalu mengenal pria itu untuk tidak menangkap keraguan yang diselipkan di antara jeda napasnya. Ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang sengaja tidak diucapkan.Dan itu tentang Aria.Jari Aditya mengepal perlahan.Baik-baik saja versi siapa?Aria tidak pernah benar-benar “baik-baik saja” jika dia tidak di sisinya. Apalagi setelah semua yang terjadi. Setelah Martha. Setelah hari-hari panjang menunggu yang tidak pernah dijelask

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 106 Tidak Sanggup Kehilangan

    Sejak pemakaman Martha, keheningan seolah menetap dan menolak pergi.Ia duduk di sofa ruang keluarga, memeluk bantal kecil yang sejak tadi tidak benar-benar ia sadari keberadaannya. Matanya sembab, tapi air mata sudah lama berhenti jatuh. Yang tersisa hanyalah rasa nyeri tumpul, seperti luka yang tak lagi berdarah tapi belum sembuh.Martha telah pergi.Dan Aditya … tidak pulang.Janji itu masih terngiang jelas di kepalanya.‘Aku tidak akan lama.’Aditya mengucapkannya malam itu, sambil menggenggam tangannya dengan erat—terlalu erat untuk seseorang yang berkata akan segera kembali.Aria ingat ia sempat menatap wajah suaminya lama, merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi memilih diam. Ia terlalu lelah untuk bertanya.Sekarang, sudah tiga hari berlalu.Ponsel Aria kembali menyala di tangannya. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab.Nomor Aditya tidak aktif.Ia sudah mencoba berkali-kali—pagi, siang, malam—bahkan di jam-jam tidak masuk akal k

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 105 Aku Pasti Akan Menjemputmu!

    Klinik itu masih sepi ketika Ava datang. Bau antiseptik menyambutnya, dingin dan bersih, kontras dengan dadanya yang terasa sesak sejak pagi. Ia duduk di salah satu kursi tunggu, jemarinya saling mengait di pangkuan, gelisah tanpa sadar.Isla keluar dari ruang praktik beberapa menit kemudian. Melihat Ava di sana, langkahnya melambat. “Kenapa tidak bilang kalau kau mau datang?” tanyanya lembut, meski ada kekhawatiran yang jelas di matanya.“Aku hanya … ingin bicara,” jawab Ava pelan.Isla mengajaknya masuk ke ruangannya. Begitu pintu tertutup, Ava menunduk, seolah lantai lebih aman untuk ditatap daripada wajah ibunya sendiri.“Bu,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar tipis. “Bagaimana kalau … kita salah? Bagaimana kalau Ayah terlalu jauh dan mereka menahan Aditya tanpa alasan yang benar?”Isla tidak langsung menjawab. Ia duduk berhadapan dengan putrinya, menautkan pandangan mereka dengan tenang—terlalu tenang untuk kegelisahan yang Ava rasakan.“Kami tidak menahannya, Ava,” kata Isla p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status