Beranda / Romansa / Suamiku Selalu Ingin Bercerai / Bab 6 Mengikat Dia di Sisinya

Share

Bab 6 Mengikat Dia di Sisinya

Penulis: Fachra. L
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-03 23:19:08

Dia hanya berakting untuk mendapatkan simpati seseorang. Menunjukkan seberapa lemahnya dia, lalu berharap seseorang akan iba padanya.

Tentu saja. Kelicikan keluarganya sudah mendarah daging dalam tubuh wanita itu juga.

Itu yang ada di kepala Davis saat ini, saat dia sedang mengikuti mobil ambulan yang membawa Aria.

Dia juga sengaja memanggil ambulan dari rumah sakit kota agar wanita itu tidak bisa lari dari perceraiannya. Itu akan menjadi urusan Aditya apakah dia akan menahannya atau tidak.

Tiba di pelataran rumah sakit, semua orang sangat buru-buru menurunkannya.

Davis hanya menyandar di body mobilnya, menyeringai, menertawakan akting Aria yang cukup baik.

Sebelum mereka membawa Aria masuk ke ruang gawat darurat, seorang dokter yang baru keluar dari arah dalam tiba-tiba berlari ke brankar Aria.

“Aria?” ucapnya panik.

“Anda kenal pasien ini, Dok?”

Dokter itu langsung mengangguk cepat. “Ya, dia pasienku. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tolong, cepat bawa masuk!”

Kondisinya sangat mengkhawatirkan?

Kalimat itu terulang sendiri di kepala Davis.

Tidak mungkin. Wanita licik sepertinya, selain hanya bisa menipu orang, apalagi yang bisa ia lakukan?

Lalu, apa maksud perkataan Aria tadi saat ia mengatakan tidak pernah menyesal atas apa yang sudah ia lakukan padanya?

Memang apa yang pernah ia lakukan? Pasti tidak lebih dari bagian untuk menipunya lagi.

Tapi pada akhirnya, sudah satu jam sejak Davis melihat perawat membawa Aria masuk tadi, dia tidak juga pergi dari sana.

Nyatanya, sepenggal kata Aria benar-benar mengusiknya.

Setelah Dokter Herlambang keluar, buru-buru dia menegak, datang padanya. “Bagaimana keadaannya?”

“Apa Anda keluarga pasien?”

“Bukan. Saya temannya.”

Dokter Herlambang menatapnya sesaat, ekspresinya netral. "Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi mengenai pasien tanpa izin darinya sendiri."

Davis mendecakkan lidah, menduga jawaban itu akan keluar dari mulut dokter tersebut. "Dengar, saya yang membawanya ke sini. Setidaknya beri saya sedikit informasi. Dia pura-pura atau memang benar-benar sakit?"

Dokter Herlambang tetap tidak menunjukkan reaksi berlebihan. "Saya tidak bisa membocorkan kondisi medis pasien tanpa persetujuannya," ulangnya dengan tenang. "Namun, jika Anda benar-benar peduli, saya menyarankan Anda menunggu sampai pasien sadar."

Davis mendengus, jelas-jelas tidak menyukai jawaban itu.

Namun, sebelum ia bisa membalas, seorang perawat menghampiri dan mengabarkan bahwa Aria sudah sadar. Dokter Herlambang segera melangkah masuk ke ruangan, meninggalkan Davis yang masih berdiri dengan keraguan.

Aria membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya menjadi jelas. Cahaya putih dari lampu di atasnya terasa menyilaukan, membuatnya mengerjap pelan.

"Di mana aku?" gumamnya lemah. Kepalanya terasa berat, seakan ada beban yang menghimpitnya.

"Dengar, Aria." Suara Dokter Herlambang terdengar lembut namun tegas. "Kamu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Kamu ingat apa yang terjadi sebelumnya?"

Aria mengerutkan kening, mencoba mengingat. Ia ingat sedang berjalan, lalu ... kemudian apa? Ada sesuatu yang terasa mengganggu pikirannya, tapi ia tidak bisa menggapainya.

"Aku ...." Ia menelan ludah. "Aku tidak ingat."

Dokter Herlambang menghela napas kecil. Ia sudah menduga hal ini. "Kamu mengalami mimisan hebat sebelum pingsan. Itu bukan pertama kalinya, kan?"

Aria membisu. Setelah beberapa detik, ia mengangguk pelan.

Dokter Herlambang mengamati wajahnya dengan saksama sebelum melanjutkan, "Aria, aku harus bicara jujur padamu. Kondisimu memburuk lebih cepat dari yang seharusnya. Aku sudah menyarankan pemeriksaan lebih lanjut sebelumnya, tapi kamu menolak. Sekarang, aku tidak bisa membiarkan kamu mengabaikannya lagi."

Aria menundukkan kepala, menggigit bibir bawahnya. Dalam hati, ia sudah tahu. Sudah lama ia merasakan tubuhnya semakin lemah, pikirannya semakin sering kosong. Ia hanya tidak ingin mengakuinya.

Dokter Herlambang melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, "Jika kamu tidak segera mendapat penanganan yang tepat, aku khawatir waktumu tidak akan lama lagi."

Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dadanya. Aria menggenggam selimut di atas tubuhnya, jari-jarinya bergetar halus.

Ia tidak takut mati. Tidak lagi. Yang ia takutkan adalah ... pada akhirnya, ia akan lenyap dari dunia ini tanpa seorang pun yang mengingatnya.

Di luar ruangan, Davis berdiri diam. Ia tidak masuk, hanya mendengar percakapan dari celah pintu yang sedikit terbuka.

Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa tidak nyaman.

Ia tidak percaya akan merasa kasihan pada Aria. Tapi melihat wajah pucat itu, mendengar kata-kata dokter tadi ....

Davis mulai bertanya-tanya.

Benarkah perempuan itu hanya pura-pura?

Atau selama ini, ia dan Aditya telah membenci seseorang yang sebenarnya sedang sek4rat perlahan? 

…..

Seharusnya sudah tidak ada lagi yang ia kerjakan sekarang. Seharusnya dia bisa kembali ke penthouse-nya, melepas lelah, dan berendam di dalam Jacuzzi.

Namun, Aditya merasa tubuhnya tidak ingin melakukan apa-apa. Sudah satu jam ini dia hanya memandangi layar ponselnya.

Jika mati, ia akan menyalakannya lagi, lalu mematikannya lagi, dan menyalakannya lagi. Begitu terus sampai sekarang.

Seperti ada sesuatu yang hilang.

Tidak ada lagi pesan yang muncul setiap sore, menanyakan apa dia pulang atau tidak. Sudah lama juga tidak ada bekal makan siang yang sampai ke mejanya.

Rindu? Tidak, tidak mungkin dia rindu. Ini hanya masalah kebiasaan saja yang tiba-tiba lenyap. Hanya masalah waktu sampai dia terbiasa.

Seseorang mengetuk pintunya. Daun pintu itu didorong dengan malas. Sepasang kaki panjang muncul dari sana.

Melihat wajah Davis, Aditya hanya mendengkus tipis.

“Aku pikir kau sudah pulang tadi,” ucapnya basa-basi. Dia menarik kursi di depan meja Aditya, duduk di sana, menghela napas berat. “Kau bisa membantuku? Aku memerlukan sedikit otoritasmu.”

“Untuk apa?” Aditya bertanya dengan malas, meletakkan ponselnya ke atas meja dan menyandar.

“Mendapatkan informasi data pasien di rumah sakit kota.” Dia tahu, meskipun dia sendiri tidak bisa mendapatkan informasi tadi, tapi Aditya bisa mendapatkannya.

“Data siapa yang ingin kau dapatkan?”

“Aria.”

Aditya tertawa samar. “Waktu itu kau yang selalu bertanya mengenai perceraian kami, sekarang kau yang sibuk mencari informasinya.”

“Aku tidak sengaja melihatnya di perbatasan. Aku keluar menemuinya, tapi dia pingsan. Aku membawa dia ke rumah sakit kota, dan dokter merahasiakan informasinya. Aku sangat yakin, kali ini pun, dia juga sedang menyusun skema untuk menipumu dan berharap kau akan bersimpati padanya.”

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Aditya. Tatapannya serius, tapi tidak ada ekspresi yang terbaca.

“Keluarlah! Aku yang akan mencaritahunya sendiri.”

Aditya mengemudi pelan. Jalan yang ia tuju bukan ke rumahnya, melainkan rumah yang ia beli untuk ditinggali Aria. Rumah sederhana yang berada lebih jauh dari perusahaannya.

Dari halaman, dia bisa melihat gelapnya rumah itu. Debu di teras dan permukaan kaca jendela juga kian menebal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, tapi Aditya masih merasa ada sesuatu yang hidup di dalam sana.

Matahari hampir tenggelam ketika Aditya membuka pintu rumahnya. Langit di luar berpendar jingga keemasan, menciptakan bayangan panjang di lantai saat ia melangkah masuk.

Suasana di dalam terasa hampa.

Ia melepas jasnya, melemparkannya asal ke sandaran sofa, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.

Sepanjang perjalanan, hanya ada suara langkah kakinya yang menggema di lantai dingin. Tak ada suara lain—tak ada bunyi langkah ringan, tak ada suara seseorang yang biasanya menyapanya dengan ragu.

Aditya meneguk air dalam diam, kemudian bersandar di meja dapur. Matanya melirik ke ruang tengah. Tirai masih terbuka, membiarkan sisa cahaya senja masuk ke dalam, mewarnai ruangan dengan semburat keemasan yang suram.

Sofa di sudut sana tampak rapi, bantal-bantal tersusun sempurna. Tak ada selimut tipis yang biasanya dibiarkan berantakan di sana. Di meja, tak ada secangkir teh hangat yang kadang-kadang lupa dihabiskan.

Bahkan aroma samar yang biasanya memenuhi rumah ini—wangi teh chamomile dan sesuatu yang lembut—sudah menghilang sepenuhnya.

Ia menoleh ke arah kamar Aria. Sunyi. Tak ada lampu yang menyala, tak ada suara pintu kamar terbuka.

Rumah ini selalu kosong, tapi tidak pernah terasa sekosong ini.

Aditya mendengus pelan, menggelengkan kepala. Ia tidak mengerti mengapa hal-hal kecil itu tiba-tiba terasa begitu mencolok.

Bukankah ini yang seharusnya ia inginkan?

Seharusnya ia lega, bukan?

Namun, saat ia berjalan melewati ruang tamu, bayangan samar melintas dalam pikirannya—sekelebat sosok yang pernah berdiri di sana, dengan mata yang selalu penuh sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Aditya mengalihkan pandangannya, lalu menyalakan lampu. Seketika, kegelapan itu buyar.

Ia tidak ingin memikirkannya lagi.

Bukankah Aria selalu membawa bekal makan siang untuknya? Seharusnya ada bahan makanan yang masih bisa ia gunakan.

Aditya kembali ke dapur, membuka lemari es. Masih ada telur, ayam, dan beberapa bahan lain yang tidak banyak. Tapi dia tidak tahu harus memasak apa. Sedangkan sudah sejak pagi dia tidak makan.

Di laci lemari, ada banyak mie instant. Rasanya hanya itu yang paling mudah ia buat.

Semua bumbu sudah ia tuang ke piring. Air pun akan mendidih.

Aditya memungut semua sampahnya, memasukkan ke tong sampah. Namun sebelum semua sampahnya jatuh, gerakannya tertahan di tengah-tengah.

Sampah itu penuh. Bukan dengan sesuatu yang lain, melainkan hanya sampah dari bungkus mie instant.

Ekspresi Aditya kembali suram. Dia dengan gerakan kesal nekat membongkar sampah tersebut, tapi memang tidak ada yang ia temukan selain hanya bungkus mie. Sisanya, hanya kantong teh.

Aditya menendang tong sampah itu dengan kesal, membuat semua isinya berserakan di lantai. 

Si4lan!

Apa yang dilakukan wanita itu? Apa dia hanya makan mie instant? Kenapa dia tidak mengambil bahan makanan yang ia simpan?

“Tuan.” Seorang pria datang dari luar. Melihat kekacauan di bawah kaki Aditya, dia hanya melirik tanpa berani berkomentar.

“Bicara!” perintahnya keras. Emosinya pada setumpuk bungkus mie instant tadi masih belum mereda.

“Maaf, saya tidak bisa mendapat informasi yang Anda inginkan. Pihak rumah sakit berkata jika semua data mengenai istri Anda disimpan oleh Dokter Herlambang sendiri. Saya sudah menemui dokter itu, dan dia bersikeras menahan sesuai permintaan pasien.”

“Dan ….” Orang itu menahan ucapannya sebentar. “Istri Anda sudah tidak ada di rumah sakit itu. Dia sudah pergi.”

“Jadi dia sungguh ingin bermain-main denganku?” Aditya menyeringai, melonggarkan dasinya. Sorot matanya berubah tajam dan licik.

Lihat saja. Aku pasti akan menemukan dan mengikat dia di sisiku sampai perceraian ini selesai.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 114 Mustahil

    Lampu-lampu hotel menyala terlalu terang bagi mata Aria.Pintu mobil tertutup di belakang mereka dengan bunyi yang pelan, nyaris sopan. Davis berjalan sedikit di depan, Norton di samping Aria, seolah keduanya tahu—jika ia dibiarkan sendiri bahkan satu menit saja, tubuhnya mungkin akan menyerah.Lobi hotel itu luas, bersih, dan dingin. Marmer mengilap memantulkan bayangan langkah kaki mereka. Tidak ada suara selain denting halus dari resepsionis dan bisik pendingin ruangan.Aria berjalan tanpa benar-benar melihat.Tangannya masih dingin. Dadanya masih terasa sesak, seolah udara Baltimore belum sepenuhnya masuk ke paru-parunya sejak ia berdiri di balik kaca penjara itu.Aditya diborgol, tapi mulunya masih tersenyum dan mengatakan, ‘Aku baik-baik saja’.Kebohongan paling lembut yang pernah ia dengar.Lift bergerak naik. Angka-angka menyala satu per satu. Tidak ada percakapan.Begitu pintu kamar terbuka, Davis mempersilakan mereka masuk.“Aku sengaja menyewa kamar yang lebih besar, karena

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 113 Kembali Untuk Membawanya Pulang

    Janji itu menggantung di udara.Aria sendiri tidak tahu dari mana kekuatan itu datang—kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutnya, penuh keyakinan, seolah dunia akan tunduk hanya karena ia mengatakannya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak akan meninggalkan Aditya di tempat ini.Aditya menatapnya lama.“Aria,” ucapnya pelan.Namanya terdengar berbeda di ruang itu. Lebih berat. Lebih dalam. Seolah satu-satunya hal yang masih ia miliki.“Aku tidak ingin kau—”Kalimat itu terhenti.Bukan karena ia kehabisan kata, tapi karena ia tahu: apa pun yang ia ucapkan sekarang tidak akan menghentikannya.Aria menggeleng pelan, cepat. “Jangan,” katanya lirih. “Jangan hentikan aku, karena apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu di sini lebih lama.”Aditya menutup mata sejenak. “Tapi kau tidak tahu, yang kau hadapi itu—““Apa? Siapa?” tanyanya tergesa karena panik. “Jika aku tidak tahu, maka jelaskan padaku, apa yang terjadi sebenarnya?”Aditya diam senejak, seperti sedang menimbang setia

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 112 Menghancurkan Dirinya Sendiri

    Tangis Aria runtuh.Bukan jatuh perlahan—tapi ambruk, seperti sesuatu yang akhirnya dilepaskan setelah terlalu lama ditahan. Bahunya bergetar hebat, napasnya tersendat, dan suara yang keluar darinya pecah menjadi isak-isak kasar yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?” Suaranya patah, serak, hampir tak terdengar.“Jangan bilang begitu…,” suaranya patah, serak, hampir tak terdengar. “Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?”Ia menggeleng, kuat-kuat, seolah ingin menolak kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.“Kenapa kamu tidak pulang?” Dan pertanyaan itu keluar seperti luka yang disobek ulang. “Aku menunggumu. Aku menunggu setiap hari. Aku mencarimu ke mana-mana—”Suaranya naik, lalu pecah lagi di tengah kalimat.“Aku pikir kau pergi. Aku pikir aku kehilanganmu.”Air mata mengalir tanpa henti, membasahi pipinya, jatuh ke tangan yang kini gemetar di atas meja. Aria memukul dadanya sendiri sekali, pelan, frustrasi—seperti ingin menghentika

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 111 Jangan Menangis, Aria ....

    Aria tiba di Baltimore saat langit masih pucat. Bukan pagi yang cerah—hanya warna abu-abu yang menggantung rendah, seperti kota itu sendiri belum sepenuhnya terjaga. Pesawat mendarat dengan guncangan ringan, dan saat sabuk pengaman dilepas, Aria tetap duduk beberapa detik lebih lama dari penumpang lain. Tubuhnya masih lemah, tapi yang lebih berat adalah dadanya—terasa sesak sejak roda pesawat menyentuh landasan. Norton berdiri di sampingnya, sigap seperti biasa, meski sorot matanya tak pernah benar-benar tenang sejak mereka berangkat. Di luar bandara, udara dingin langsung menyergap. Aria menarik mantel lebih rapat, telapak tangannya dingin meski ia menggenggam tas kecil erat-erat, seolah di dalamnya ada sesuatu yang bisa menjaganya tetap utuh. Davis sudah menunggu. Ia berdiri tidak jauh dari pintu keluar, mengenakan mantel gelap, bahunya sedikit tegang. Begitu melihat Aria, ia melangkah mendekat—cepat, tapi ragu. Sejenak, Aria melihat kelegaan di wajahnya. Dan sesuatu yang lain

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 110 Kehancuran yang Tumbuh di Rahim Anakku

    Pagi itu, Ava tidak sempat sampai ke meja makan.Rasa mual datang begitu saja—keras, mendadak—seperti gelombang yang menghantam lambungnya tanpa aba-aba. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berbalik cepat, nyaris tersandung di lorong sebelum akhirnya berlutut di depan wastafel kamar mandi.Tidak banyak yang keluar. Hanya air liur, sedikit asam, dan sensasi pusing yang membuat kepalanya terasa ringan—terlalu ringan, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya terikat pada lantai.“Ava?”Suara ibunya terdengar dari balik pintu. Cemas. Terburu-buru.“Ava, sayang?”Ia tidak menjawab. Tidak karena tak mau, tapi karena tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya menekan dahi ke pinggir wastafel, memejamkan mata, bernapas pendek-pendek, mencoba menunggu dunia berhenti berputar.Ketika pintu akhirnya terbuka, Isla sudah berdiri di sana dengan wajah yang langsung berubah pucat.“Kita ke rumah sakit,” katanya tegas. Tidak menunggu bantahan.“Aku cuma pusing,” Ava be

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 109 BESOK

    Aria sudah sadar sejak pagi.Bukan benar-benar terjaga—lebih seperti terombang-ambing di antara tidur dan bangun. Tubuhnya lemah, kepalanya terasa berat, dan setiap kali matanya terbuka, dunia di sekelilingnya selalu tampak sedikit kabur.Namun ada satu hal yang selalu sama.“Ponselku…” suaranya lirih setiap kali ia membuka mata. “Norton, ada kabar?”Norton akan mendekat. Selalu dengan ekspresi yang sama—hati-hati, penuh harap yang ditahan. Ia akan mengecek layar ponsel, lalu menggeleng pelan.“Belum ada, Nyonya.”Dan Aria akan mengangguk. Tidak marah. Tidak kecewa secara terbuka. Hanya menutup mata kembali, seolah mengumpulkan tenaga untuk menunggu lagi.Waktu terasa berjalan aneh hari itu.Lambat. Terlalu lambat.Janji Davis terngiang terus di kepalanya. Aku akan membawanya kembali padamu. Tapi pagi berlalu tanpa kabar. Siang merambat dengan sunyi yang menyesakkan.Setiap kali Aria tertidur, Norton duduk tidak jauh darinya, ponsel di tangan, nyaris tidak berkedip. Setiap kali lay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status