Share

Hanya Prank?

Penulis: Anggrek Bulan
last update Terakhir Diperbarui: 2022-04-27 20:13:53

Suamiku Simpanan Tante-tante 5

Hanya Prank?

"Dek, kamu ngapain dengan ponselku itu?"

Aku tentu saja langsung panik saat ini, ketika aku sedang melamun malah ternyata Mas Saleh saat ini sudah terbangun.

"I-ini tadi ponsel kamu terus berbunyi, Mas. Jadi Kuambil saja, siapa tahu ada hal penting yang ingin dibicarakan," jawabku dengan sedikit gugup, karena takut bercampur dengan kaget saat ini.

Mas Saleh pun wajahnya saat ini nampak tegang, entah kenapa. Kini dia sudah bangkit dari tidur dan menuju ke arahku.

Dengan segera dia pun merebut ponsel itu dari tanganku, sama saat dulu ketika aku menanyakan tentang kunci ponselnya.

"Kenapa tak langsung kau berikan padaku ponsel itu? Kenapa malah kamu terus memandangnya? Kamu ingin membuka kuncinya?"

Mas Saleh memberondong banyak pertanyaan padaku, tetapi matanya tak berpaling sekali pun dari benda pipih kesayangannya itu.

"Tadi aku sudah mencoba membangunkan kamu, Mas. Tapi kamu tak juga bangun. Dan, nomer yang sama dengan foto profil seorang tante cantik itu terus-terusan menghubungi kamu, jadi terpaksa deh aku menerima panggilan itu," jawabku dengan sedikit berbohong.

Tadi memang aku berencana untuk membangunkan Mas Saleh tetapi aku mengurungkan niat itu. Tapi agar suamiku itu tak marah, maka kali ini aku pun berbohong.

"Kenapa kamu menerima panggilan ini sih, Dek? Seharusnya kamu itu memberikan ponsel ini padaku bukan malah dengan lancang menerimanya sendiri! Sekarang katakan, apa yang tadi sempat kalian berdua perbincangkan?"

Wajah Mas Saleh kini terlihat garang dan geram, tapi aku masih bisa melihat jika suamiku itu tetap mencoba menekan emosinya. Rupanya hal ini amat mengusik pikirannya.

"Ya karena dia terus menghubungi kamu, Mas. Aku kan sudah bilang jika dia itu terus menghubungimu dan aku takut jika ada sebuah kepentingan gitu, Mas," ucapku dengan sebenarnya.

"Lalu apa yang kalian bicarakan?!" Mas Saleh kali ini terlihat dingin, sepertinya saat ini dia memang amat penasaran dengan percakapanku tadi.

"Wanita itu lah yang terus berkata aneh-aneh, Mas. Sepetinya dia sangat rindu padamu. Tapi ketika aku baru saja berucap kata HALO, eh dia malah langsung menutup panggilan itu. Sungguh nggak berakhlak!" ucapku sedikit kesal.

Wajah Mas Saleh seketika itu berubah lagi, kali ini dia terlihat lebih rileks dan tak tegang lagi seperti tadi. Kemudian dia menyunggingkan sebuah senyum, tapi tanpa berucap sepatah kata sama sekali.

"Emangnya siapa sih dia itu, Mas? Tante cantik siapa sih? Kok malem-malem begini menghubungi kamu? Dan juga dari kata-katanya itu, kayaknya kok kamu itu dekat sekali dengan dia sih?"

Karena dia dari tadi Mas Saleh hanya diam saja, maka aku pun menanyakan hal itu. Toh nyatanya suamiku tak marah ketika mengetahui aku memegang ponselnya dan juga menerima panggilan itu.

"Hahaha ... kamu itu sedang kena prank, Dek. Itu adalah temanku juga, itu si Ari namanya dia itu jahil banget orangnya."

Secara tak terduga Mas Saleh malah tertawa terbahak-bahak saat ini. Dia malah merangkul pundakku tetapi dengan cepat memasukkan ponselnya itu ke saku.

"Prank? Nggak deh kayaknya! Memangnya temanmu si Ari itu wanita, Mas?" tanyaku masih bingung juga.

"Nggak dong, manna mungkin sih saat ini aku punya teman cewek, nggak lah. Semua temanku itu cowok, kamu tahu kan jika aku itu selalu menjaga perasaan kamu? Jadi saat ini aku nggak punya teman cewek kok." Mas Saleh berucap untuk meyakinkan.

"Lalu ... apa dia bisa menirukan suara wanita? Karena aku yakin jika yang tadi sedang bertelepon denganku adalah seorang perempuan. Dan dia itu sepertinya sangat dekat sekali denganmu loh!"

Ku tegaskan kata-kata itu, karena firasatku pun mengatakan jika saat ini suamiku itu tetap telah menyembunyikan sesuatu.

"Ya memang jelas sekali yang berbicara di telepon bersama kamu itu ya perempuan tulen, Dek. Namanya Mbak Retno. Wanita ini adalah pemilik warung kopi dua puluh empat jam, letaknya tak jauh dari tempat kerjaku dan kami pun sering nongkrong di sana. Gitu, Dek," jelas Mas Saleh masih sambil tersenyum.

"Aku ... masih kurang yakin dengan ucapan kamu itu, Mas. Apa kamu punya hubungan dengan pemilik warung kopi itu?" Aku memang saat ini malah bingung dengan ucapan Mas Saleh yang menurutku terlalu berbelit.

"Begini, Dek. Kamu hapus dulu deh negatif thinking itu padaku, agar kamu nggak bingung gitu. Ari ini memang terkenal jail, Dek. Ketika dia sedang sift malam seperti ini, dia akan menganggu teman lainnya termasuk aku. Dia akan meminta Mbak Retno untuk menelepon. Tujuannya sih hanya untuk usil aja sih, Dek. Jika ada yang berantem dengan istrinya, maka mereka tentu akan senang dan jadi bahan candaan, hahaha!"

Kucoba untuk mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Mas Saleh itu. Apa iya ada teman yang usil hingga seperti itu? Tetapi tadi kudengar suara si wanita sangat lancar, rasanya bukan seperti sebuah sandiwara deh. Tetapi apa mungkin juga karena aku ini sedang berpikir negatif, jadi apa yang diucapkan oleh Mas Saleh terasa salah semua.

"Oh iya, Mas. Tetapi kenapa nama kontraknya tidak Ari? Dan kenapa foto profil nya begitu?" Aku masih saja mengejar Mas Saleh, karena masih ada yang mengganjal ternyata.

"Ya ... buat lucu-lucuan saja sih. Ayo lah, Dek. Kamu jangan terus curiga sama aku, tak mungkin aku ini bermain api di belakang kamu. Jika aku melakukan tak itu, berarti aku adalah seorang lelaki yang bodoh, karena menyia-nyiakan seorang wanita hebat sepertimu. Tak ada wanita di dunia ini yang sempurna seperti kamu. Sudah cantik, baik, kalem, sabar sudah pokoknya kamu paket lengkap deh, Dek. Jadi jangan pernah berpikir jika aku akan mencari wanita lain."

Aku hanya terdiam dengan ucapan Mas Saleh itu. Kurasa aku tak sebaik yang diucapkannya. Selama ini dia pun tak pernah memujiku secara berlebihan seperti ini, tentu saja akhirnya aku makin curiga saja. Tetapi jika belum ada bukti nyata, aku tentu tak bisa menuduhnya, bisa saja memang apa yang tadi diucapkan oleh suamiku menang benar adanya.

"Oke deh, Mas. Aku akan mencoba mempercayai kamu hari ini. Tetapi aku minta dong berapa nomer kunci layar ponsel kamu itu. Tenang saja nggak akan aku apa-apaan kok, Mas, tetapi hanya kami menghalau perasaan curiga padamu saja."

Mumpung saat ini sedang pas waktunya, aku pun kembali menanyakan hal ini. Nyatanya wajah Mas Saleh kini kembali berubah, dan dia pun terdiam sesaat.

"Sekalian aku minta nomornya si Ari itu, Mas. Aku mau bilang sama dia, jika ssndiwaranya itu bagus banget nih," tukasku lagi karena suamiku itu juga masih terdiam.

Oek Oek Oek

"Mama!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku Simpanan Tante-tante    Ending

    EndingBab 1182 tahun kemudian.Pasca perceraian Mega dan Saleh, tidak ada yang menempati rumah kontrakan mereka sebelumnya. Mega memilih untuk tinggal di perumahan sederhana yang berada dekat dengan toko edelweis. Wanita yang kini single parent tersebut terlihat sedang menyiapkan keperluan sekolah anaknya."Kevin, Nak. Ayo segera, nanti kamu terlambat kalau mau nonton TV terus," ujarnya sambil menata bekal yang dia masukkan ke dalam tas sang anak. "Ibu, besok ulang tahunku." Dibanding dengan memberitahu, Kevin terdengar lebih seperti anak yang sedang merengek. "Oh, ya?!" Mega terlihat terkejut. "Masa, sih? Bukannya minggu depan, ya?" Melihat reaksi ibunya, Kevin memberenggut kesal. Tampaknya anak itu kecewa karena dia pikir sang Ibu sudah mempersiapkan sesuatu untuk hari kelahirannya besok. Dia berjalan dengan bahu yang terkulai lemas menuju ibunya, mengulurkan tangan untuk mengambil tas. "Ya udah, deh," bisiknya.Mega diam-diam tersenyum geli. "Wah, Nak. Gimana, nih? Besok bang

  • Suamiku Simpanan Tante-tante    Bab 117

    Bab 117Mega tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ari, teater diam beberapa saat. Di sisi lain Hilda meskipun merasa tidak enak dan ingin memarahi Ari yang ceritanya seperti itu, dia juga tidak bisa mengelak dengan rasa ingin tahu punya tentang perasaan Mega saat ini.Mega sendiri sudah cukup memikirkan hal ini sejak kemarin malam dia bertanya kepada dirinya sendiri tentang keputusan yang telah diambil dulu. Mungkinkah dirinya menyesal karena telah menerima oleh kembali dalam hidupnya? "Kalau terlalu berat buat dijawab, nggak perlu dijawab juga kok Mbak." Ari memberi pengertian karena hal yang dia tanyakan memang cukup sensitif."Akan terkesan bohong juga jika saya bilang baik-baik saja sekarang tapi Jika ditanya tentang penyesalan itu apa saya rasa nggak. Kalau dipikir-pikir memang menyakitkan karena telah dikhianati dua kali. Tapi di sisi lain aku merasa sudah melakukan hal yang tepat karena memberi kesempatan untuk seseorang bukan hal yang buruk." Mega tersenyum. "Aku merasa s

  • Suamiku Simpanan Tante-tante    Bab 116

    Bab 116Apakah Menyesal?Retno diantar pulang oleh Hilda dan Ari sedangkan Mega dan Saleh pulang ke rumahnya. Hal ini mengenai rumah tangga sepasang suami istri itu yang harus diselesaikan secara pribadi.Saat ini Retno Hilda berada di mobil Ari. Sambil menyetir lelaki itu bertanya, "Kapan kamu memanggil Mega? Kamu bilang nggak mau ngasih tahu dia lebih dulu."Hilda tampak murung, dia juga tidak menyangka bahwa dugaannya selama ini memang benar. "Aku cuma nggak mau Mbak Mega tahu dari orang lain, aku harus ngasih tahu dia karena dia yang paling berhak tahu tentang kelakuan suaminya." Dia melirik ke arah jok belakang di mana Retno berada. "Retno, aku minta maaf karena membiarkanmu menutup toko sendirian.""Ini bukan salah Mbak Hilda, kok. Lagian berkat mbak Hilda juga aku bisa selamat. Mas Ari saya benar-benar berterima kasih atas bantuannya yang tadi." Sekarang kondisi Retno jauh lebih membaik dia, tidak terlihat gemetaran seperti beberapa waktu yang lalu."Besok mungkin toko akan tut

  • Suamiku Simpanan Tante-tante    Bab 115

    Bab 115Tak Bisa BerkutikRetno bingung harus berkata apa. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa akan mendapatkan tawaran makan malam bersama dari Saleh. Dia masih pada dirimu waktu di depan pintu toko sebelum akhirnya tiba-tiba Saleh menarik tangannya. "Pak Saleh?! Apa yang Anda lakukan?" Dia mulai jadi takut sekarang dia melihat ke sekeliling mencoba untuk mencari pertolongan.Namun, entah mengapa mendadak suasana menjadi sepi dan orang-orang tidak peduli kepadanya. Retno mencoba untuk melepaskan diri dari genggaman Saleh tetapi lelaki itu justru semakin mengeratkan pegangannya."Pak Saleh, Apa yang anda lakukan?! Tolong lepaskan saya segera!" Ratna sedikit berteriak, tetapi dia justru mendatan4g berarti karena langkah lelaki itu demikian. Saleh menoleh dan menatap Retno dengan sorot mata tajam. "Ikut saja denganku atau kamu akan tahu akibatnya!""Tapi mau ke mana, Pak?! Saya harus segera pulang karena ibu pasti sedang menunggu saya."Retno masih berusaha untuk melepaskan diri s

  • Suamiku Simpanan Tante-tante    Bab 114

    Bab 114Saat ini saya sedang berada di toko titik dia melihat karyawannya yaitu Retno dan Hilda yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Semenjak dirinya menjadi pemilik toko edelweis kegiatan yang Saleh lakukan tidak jauh-jauh dengan mengamati memperhatikan sedangkan hampir keseluruhan mengenai barang produk dan pengeluaran serta pendapatan masing-masing mendapat bagiannya.Saat itu juga, Saleh merasa benar-benar menjadi seorang usahawan yang sukses. Berbeda saat Mega yang menjadi pemilik toko itu, wanita tersebut tidak bisa membiarkan tubuhnya berada dalam keadaan santai. Bagi kedua karyawan di toko edelweis, sikap Saleh yang seperti itu sudah menjadi kebiasaan bagi mereka dan tidak perlu mempermasalahkannya karena memang karyawan yang harus bekerja."Retno," panggil saya ketika Si empunya nama sedang menata letak manekin yang digantung di tembok.Retno menjatuhkan pandangannya seraya menurunkan tongkat yang sedang dia pegang. "Ada apa Pak?""Bisa ikut saya ke ruang staf s

  • Suamiku Simpanan Tante-tante    Bab 113

    Bab 113Mega tidak mengajak Saleh bicara lagi setelah pertengkaran beberapa menit yang lalu. Saat ini dirinya masih berada di ruang tamu sedangkan Saleh sudah masuk ke dalam kamar. Setidaknya, Saleh tidak keluar lagi malam ini seperti malam-malam sebelumnya.Wanita itu sedang merenungkan, berpikir tentang apa yang kemungkinan terjadi pada suaminya itu sampai bisa marah besar dan memintanya agar pergi dari hadapan Mega merasa sakit hati, terluka dan tercabik-cabik namun dia juga berpikir bahwa mungkin saja terjadi sesuatu hal yang buruk saat Saleh berada di luar dan hal yang memungkinkan bagi lelaki tersebut melepaskan emosi ketika berhadapan dengan sang istri.Karena hal itulah Mega mencoba untuk mengerti dan memaafkan Saleh sekali lagi.Setelah cukup lama dia berada di ruang tamu sambil menunggu Anda harus suaminya tertidur terlebih dahulu, dia beranjak dari sana dan menuju ke kamar. Saat itu juga dia baru tersadar ada pakaian yang teronggok di lantai dan itu terlihat asing di matany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status