INICIAR SESIÓN“Kau benar-benar akan pergi?”
Sera berhenti di depan pintu kafe.
Selena berdiri di dekat jendela dengan sebuah koper kecil di sampingnya.
Tidak ada gaun mahal.
Tidak ada perhiasan mencolok.
Tidak ada tatapan penuh kemenangan seperti yang pernah Sera lihat dulu.
Hanya seorang perempuan yang tampak lelah setelah terlalu lama mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah hilang.
“Aku berangkat malam ini,” jawab Selena.
<“Kenapa kamu harus tersenyum seperti itu kepadanya?”Sera menghentikan gerakan tangannya di atas dokumen.Ia menoleh kepada Damian yang berdiri di ambang pintu ruang kerja yayasan. Wajah suaminya tampak tenang, tetapi rahangnya mengeras.Sera mengikuti arah pandang Damian.Theo sedang berdiri di samping meja, menjelaskan rancangan program kesehatan gratis untuk anak-anak penerima beasiswa. Dokter itu baru saja menawarkan bantuan untuk menghubungkan yayasan dengan beberapa rumah sakit.“Apa maksudmu?” tanya Sera.Damian melirik Theo. “Sepertinya kalian sangat menikmati waktu bersama.”Theo mengangkat alis, lalu menatap Sera dengan ekspresi geli.“Ah, aku mengerti.” Ia merapikan dokumennya. “Kurasa aku sebaiknya pergi sebelum suasana di sini semakin menarik.”“Duduklah,” kata Damian datar.“Terima kasih, tapi aku masih punya pasien.”
“Sepertinya hanya kamu yang bisa membuat Damian Wijaya tersenyum seperti itu.”Sera berhenti di depan ruang kerja suaminya.Seorang perempuan cantik berdiri terlalu dekat dengan Damian. Bahunya hampir menyentuh lengan pria itu saat mereka melihat layar laptop bersama.“Presentasi ini jauh lebih baik,” ujar Damian sambil tersenyum tipis. “Kamu tahu apa yang saya butuhkan.”Perempuan itu tertawa kecil.Sera merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan di dadanya.Ia tahu Damian mencintainya. Namun, melihat perempuan lain begitu dekat dengan suaminya ternyata berbeda dari sekadar meyakinkan diri bahwa ia dipercaya.Sera mengetuk pintu.Damian langsung menoleh. “Sera? Ada apa, Sayang?”Perempuan itu tersenyum sopan. “Saya Olivia, rekan kerja Pak Damian. Kami sedang membahas kerja sama dengan investor baru.”“Senang bertemu denganmu,” jawab Sera.
“Damian, kenapa alarm asap berbunyi?”Sera berlari memasuki dapur dengan rambut masih sedikit berantakan. Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat suaminya berdiri di depan kompor, memegang spatula dengan wajah setegang saat menghadapi rapat direksi.Asap tipis mengepul dari wajan.Di atas meja, dua potong roti tampak terlalu gosong untuk disebut sarapan.Damian menoleh. “Semuanya terkendali.”Sera menatap roti itu, lalu menatap wajah suaminya.“Benarkah?”“Telurnya hanya sedikit terlalu matang.”Sera melirik wajan.“Damian, telurnya hitam.”“Bagian pinggirnya saja.”Sera menggigit bibir, berusaha menahan tawa. Bahunya mulai bergetar.Damian menyipitkan mata. “Kamu menertawakanku?”“Tidak.”“Kamu jelas sedang menertawakanku.”“Aku hanya…” Sera menutup m
“Damian, kalau kamu terus mengirimkan bunga ke kantorku, orang-orang akan mengira yayasan ini dibiayai oleh toko bunga.”Damian mengangkat wajah dari tabletnya. “Bukankah memang begitu? Aku membeli hampir seluruh persediaan mereka minggu ini.”Sera menatap suaminya tidak percaya.“Damian!”Pria itu tersenyum santai, sama sekali tidak terlihat menyesal.Sera menggeleng sambil menahan tawa. Sudah tiga bulan sejak ia mengambil alih pengembangan yayasan yang didirikannya dari sebagian warisan Armand. Kini, yayasan itu mulai menjalankan program beasiswa dan bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.Pekerjaannya semakin banyak. Jadwal pertemuan, laporan anggaran, dan kunjungan lapangan memenuhi hari-harinya.Sementara itu, Damian mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Sera.Ia pulang lebih awal.Bahkan terkadang sebelum matahari terbenam.Awalnya, Se
“Kenapa kita ke sini?”Sera menatap restoran kecil di hadapannya. Bangunan itu masih sama seperti yang ia ingat, termasuk taman mungil dengan bunga putih di sepanjang jalan masuk.Tempat itu adalah lokasi pertama mereka bertemu.Damian menggenggam tangannya.“Ada sesuatu yang ingin kulakukan dengan benar kali ini.”“Apa?”“Meminta maaf kepadamu. Di tempat semuanya dimulai.”Sera menatap suaminya, mencoba membaca kesungguhan di wajahnya.Damian membuka pintu dan mempersilakannya masuk.“Setelah kamu.”Sera tersenyum tipis. “Kamu sekarang selalu mengatakan itu.”“Karena dulu aku terlalu sering membuatmu merasa tidak punya pilihan.”Senyum Sera perlahan menghilang.Mereka duduk di meja dekat jendela. Meja yang sama dengan tempat Sera pernah berusaha memulai percakapan, sementara Damian menjawab dingin tanpa benar-
“Damian, berdirilah lebih dekat dengan istrimu!”Suara Sukma Wijaya terdengar tegas dari depan kamera.“Kau dengar? Nenek menganggap jarak sepuluh sentimeter di antara kita sebagai masalah besar.”Sera menahan tawa. “Mungkin karena kau berdiri seperti sedang menghadiri rapat direksi.”“Aku sudah tersenyum.”“Itu bukan senyum. Itu ekspresi saat kau melihat laporan keuangan.”Damian menatapnya datar.Sera akhirnya tertawa, dan tanpa ragu Damian merangkul pinggangnya.“Begini lebih baik?” bisiknya.Jantung Sera berdegup sedikit lebih cepat.“Jangan menggodaku di depan semua orang.”“Bukankah kau yang memulainya?”Sebelum Sera sempat membalas, fotografer meminta seluruh keluarga bersiap. Baskoro berdiri di satu sisi, Clara di sisi lainnya bersama suaminya. Beberapa anggota keluarga besar berkumpul di belakang







