MasukKeesokan harinya, Revan dan Aruna berangkat kerja bersama menggunakan motor tua kesayangan mereka.
Udara pagi masih terasa sejuk, jalanan belum terlalu ramai, hanya beberapa orang terlihat sibuk menuju tempat kerja masing-masing. Sesampainya di dekat gedung tempat Aruna bekerja, Revan melambatkan laju motor. "Mas cuma bisa antar kamu sampai sini ya, soalnya tempat kerja mas udah bukan di arah sini lagi," ujar Revan pelan. Aruna tersenyum, lalu menepuk lembut bahu suaminya. "Hi hi iya mas, hati-hati di jalan ya. Jangan nakal-nakal." Revan menoleh sekilas, ekspresinya serius tapi ada guratan manja di wajahnya. "Nggak akan. Orang mas cinta mati sama kamu." Aruna menunduk malu, kemudian turun dari motor. Ia meraih tangan suaminya, menciumnya penuh hormat. "Kalau gitu, Aruna pergi dulu ya." Namun tangan Revan menahan. "Ada yang kurang," katanya dengan suara genit. Aruna mengernyit bingung. "Apa?" Revan tersenyum penuh arti, lalu mendekatkan wajahnya. "Lihat saja." Cup! Kecupan hangat mendarat di pipi Aruna. Seketika pipinya merona, matanya melebar. "Masss… ih, banyak orang lihat, malu tau…" katanya dengan nada protes, tapi matanya berbinar. Revan hanya tertawa kecil, kemudian melajukan motor meninggalkan Aruna yang masih berdiri sambil menutupi wajahnya. °°° Tak lama, di perjalanan menuju rumah Cynthia—bos sekaligus wanita yang diam-diam menjadi tujuan lain Revan—tiba-tiba sebuah tangan terjulur menahan motornya. "Mas Revan?" suara seorang perempuan terdengar. Revan spontan menghentikan motor, wajahnya berubah agak kesal. Di hadapannya berdiri Lita, tetangganya, dengan raut wajah cemas. "Ada apa?" tanya Revan dengan nada dingin. "Arunanya mana? Kok nggak bareng?" Lita menatap penuh selidik. "Udah saya antar ke kantornya." Revan menjawab singkat. "Oh gitu…" Lita menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi dengan ragu. "Mas… boleh nggak antar saya ke sana juga? Udah telat banget ini. Masa iya hari pertama kerja langsung terlambat…" Revan menahan helaan napas. "Banyak ojek lain, Mbak. Kenapa harus saya?" tanyanya sinis. Lita menggigit bibir bawah, terlihat gugup. "Saya… saya nggak biasa naik ojek. Saya bayar lebih deh, gimana?" Revan diam sejenak, jelas enggan. Namun melihat wajah Lita yang penuh harap dan waktu yang makin sempit, ia akhirnya mengangguk pasrah. "Yaudah. Anggap aja saya jadi ojek pagi ini. Naik." Dengan senyum puas, Lita segera naik ke jok belakang motor Revan. Rok kerjanya sedikit tersibak karena terburu-buru, tapi ia tidak peduli. Revan menghidupkan motor, namun sesaat kemudian wajahnya berubah tegang. Ia bisa merasakan sesuatu yang padat menempel erat di punggungnya. "Mbak, munduran dikit bisa nggak?" tanyanya ketus sambil menoleh separuh. Lita langsung merangkul erat tubuh Revan dengan tatapan menggoda. "Nggak bisa! Nanti aku jatuh, Mas Revan," jawabnya manja. Revan menghembuskan napas kasar, jelas risih. Tapi ia memilih pasrah daripada ribut di pinggir jalan. "Ya sudah, cepat kita berangkat," gumamnya. Motor kembali melaju. Jalanan pagi yang biasanya terasa biasa saja, kini dipenuhi suasana aneh. Lita sengaja menempelkan tubuhnya lebih rapat lagi. Setiap kali motor berguncang, tubuhnya semakin menggesek punggung Revan. Dalam diam, Lita menggigit bibir bawahnya. Pikirannya melayang pada bayangan yang membuat wajahnya panas—Bayangan itu membuatnya semakin berani. Tangannya yang awalnya hanya bertumpu di sisi motor kini perlahan merambat ke pinggang Revan. "Mas… aku peluk ya, takut jatuh," bisiknya, suaranya nyaris terdengar seperti rengekan. Revan mendengus. "Jangan, Mbak. Pegangan di belakang aja." Tapi larangan itu percuma. Lita tetap merapatkan lengannya ke tubuh Revan, memeluk erat seolah menolak dilepaskan. Tak cukup sampai di situ, jemari Lita mulai bermain nakal. Dari pinggang, tangannya bergerak lebih rendah, menyentuh paha Revan yang sedang fokus mengendarai motor. Revan langsung menegang, rahangnya mengeras, matanya fokus ke jalan. "Lita! Tanganmu—" Revan hendak menegur, tapi seketika ia menutup mulutnya sendiri. Berbicara pun percuma, karena wanita itu malah tersenyum samar di belakang punggungnya. Motor akhirnya berhenti di depan kantor. Revan cepat-cepat menurunkan kakinya ke tanah, memberi isyarat agar Lita turun. "Sudah sampai, Mbak," ucapnya datar, dingin. Lita justru terlihat kecewa, seolah perjalanan barusan terlalu singkat. Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan dua lembar uang merah, menyodorkannya dengan gaya genit. "Makasih ya, Mas Revan…" Revan menerima tanpa ekspresi, hanya mengangguk singkat, lalu segera memutar gas untuk pergi dari situ. Ia ingin menjauh secepat mungkin dari situasi yang membuatnya tidak nyaman. Sementara Lita hanya berdiri di depan kantor, menatap motor yang menjauh. Senyumnya tipis, penuh arti, seakan ia baru saja menemukan permainan baru yang menantang. Tetangga-tetangga Aruna yang bekerja sebagai cleaning service di gedung itu saling berbisik sambil melirik ke arah Lita. "Hih, janda menggatal. Udah tahu suami orang, masih aja ditempelin. Awas aja kalo berani coba-coba sama suami saya." "Iya. Dasar nggak punya malu. Padahal Aruna itu baik banget sama dia, malah ditusuk dari belakang. Emang dasarnya gatel nggak ketolong." Lita mendengarnya samar-samar. Bibirnya hanya tersenyum miring, dagunya terangkat tinggi. Ia melangkah cuek, seolah gosip-gosip itu hanya angin lalu yang sama sekali tak bisa merugikannya. --- Sementara itu, motor Revan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah mewah bercat putih gading. Gerbangnya terbuka, suasananya lengang. Tidak ada suara apa pun selain kicau burung dari pepohonan sekitar. Dengan jantung berdebar aneh, Revan turun dari motor dan menekan bel. Tak lama, pintu terbuka. Cynthia keluar dengan pakaian piyama tipis berwarna pastel, panjangnya hanya sampai di atas lutut. Rambutnya masih tergerai acak, tapi justru membuatnya terlihat menggoda. Revan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Pak Bos ada, Bu?" tanyanya dengan suara serak. Cynthia tersenyum samar, matanya menatap tajam ke arah Revan. "Keluar kota, Masss… Yuk, sini masuk aja." Revan mengerutkan dahi, menoleh ke kanan-kiri. "Kok rumah sepi banget, Bu?" Sambil berjalan anggun ke dalam, Cynthia menjawab santai, "Pembantu lagi antar anak saya sekolah. Supir juga lagi antar suami saya." Revan sempat ragu, tapi akhirnya mengikuti langkah Cynthia. Aroma parfum lembut dari tubuh wanita itu menguar, menusuk hidungnya. Begitu tiba di ruang tamu, Cynthia tiba-tiba berbalik cepat, menarik kerah baju Revan dengan tenaga mengejutkan. Revan kehilangan keseimbangan, tubuhnya jatuh terduduk ke sofa empuk. Sebelum ia sempat bangun, Cynthia sudah dengan berani duduk di pangkuannya. "A-astaghfirullah, Bu Cynthia!" Revan tergagap, matanya membelalak. Cynthia menunduk, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Revan. Senyum nakal tersungging di bibirnya, tangannya bermain di dada pria itu. "Gimana, Mas? Mau nggak sama tawaran saya?" bisiknya menggoda, suaranya lembut namun menusuk. Revan menahan napas. Tubuhnya kaku, jantungnya berpacu liar. Ada rasa takut sekaligus tergoda. Bayangan wajah Aruna melintas cepat di benaknya. Tangan Revan terangkat, berusaha mendorong Cynthia, tapi tubuhnya seperti kehilangan tenaga. "Emm… saya…." suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Cynthia semakin mendekat, napas hangatnya terasa di leher Revan. "Sudah, jangan pura-pura nggak mau. Aku tahu kamu juga suka." Revan memejamkan mata erat-erat. Dalam hatinya, ia sangat takut. Takut kalau Aruna sampai tahu semua ini. Takut kalau sekali saja ia lengah, semua yang ia jaga akan hancur berantakan.Aruna masih terbaring di dalam ruangan, tubuhnya setengah mati rasa akibat pengaruh obat bius. Pandangannya kabur, kelopak matanya terasa berat, namun pendengarannya masih berfungsi dengan jelas.Saat lantunan azan perlahan berkumandang dari bibir Revan, sudut mata Aruna tiba-tiba terasa panas. Air mata itu menetes tanpa bisa ia cegah, mengalir pelan melewati pelipisnya dan membasahi bantal rumah sakit. Dadanya bergetar, napasnya tertahan, meski suaranya tak sanggup keluar.Di dalam hati, Aruna berdoa lirih.Ya Allah… aku menerima semua takdir yang Engkau tentukan untukku di masa depan. Tapi aku mohon, jangan Engkau kembalikan aku pada pria yang telah mengkhianatiku. Aku tak ingin hidupku berakhir seperti ibuku—bertahan dalam luka, terjebak bersama pria brengsek seperti ayahku.Tangisnya kian tak terbendung, meski hanya berupa isakan kecil yang tertahan di dada. Aruna terus memanjatkan doa itu berulang kali, memohon agar hidupnya kelak tidak lagi dipenuhi pengkhianatan dan penderitaa
Kedua orang tua Aruna masih ada, namun sejak lama mereka tak benar-benar hadir dalam kehidupan putri mereka. Aruna tumbuh dan bertahan hampir selalu sendirian.Di depan ruang operasi, Revan berdiri dengan tubuh gemetar. Kedua tangannya terkatup di depan dada, bibirnya komat-kamit melantunkan doa yang bahkan tak ia sadari sudah berulang kali terucap. Matanya merah, napasnya tersengal—tak ada yang bisa ia lakukan selain berharap.Langkah tergesa memecah kesunyian lorong rumah sakit.Tante dan Om Aruna datang bersama Edward. Wajah Tante Aruna pucat, matanya sembab oleh tangis yang tertahan sejak perjalanan. Begitu pandangannya menangkap sosok Revan, langkahnya berhenti mendadak.Revan menoleh, refleks berdiri tegak.“Om, Tan—”Plak!Tamparan keras mendarat di pipinya sebelum kalimat itu selesai. Kepala Revan terlempar ke samping, namun ia tak berusaha membalas atau menghindar.“Belum puas kamu menyakiti Aruna, hah?!” suara Tante Aruna bergetar hebat, dadanya naik turun menahan amara
Wajah Aruna tampak semakin pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa sakit luar biasa terus menghantam perut dan pinggulnya hingga tubuhnya gemetar tak terkendali.Dokter itu segera memeriksa kembali kondisi Aruna. Ia menatap hasil pemeriksaan dengan dahi berkerut, lalu menghela napas pelan.“Pembukaan Bu Aruna baru dua, belum ada tanda-tanda bayi akan segera keluar,” ucapnya hati-hati.“Hikss… sakit sekali, Dok…” rintih Aruna lirih, suaranya hampir tenggelam oleh rasa nyeri.Dokter menatap Aruna dengan ekspresi serius. “Panggul Bu Aruna cukup kecil. Ini berisiko membuat bayi sulit keluar secara normal.”Revan yang sedari tadi berdiri di samping ranjang tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Ia menggenggam tangan Aruna erat-erat, lalu berkata tegas, “Kalau begitu operasi saja, Dok. Jangan sampai istri saya kenapa-kenapa.”Dokter menggeleng pelan. “Masih ada satu cara lain. Kami bisa memberikan obat perangsang, dimasuk
“A-ahh… Pak Edward, tolong… kasih tahu tan— aaaa…” ucapan Aruna terputus oleh erangan panjang. Tubuhnya melemas, kedua kakinya gemetar tak sanggup lagi menopang.Belum sempat Edward bergerak, Revan sudah lebih dulu melangkah cepat. Tanpa banyak bicara, ia membopong tubuh Aruna yang basah oleh keringat dingin.“Revan, naikkan saja ke mobil saya—” seru Edward panik.Namun Revan sama sekali tak menghiraukan. Langkahnya cepat dan mantap. Pintu mobil dibukanya lebar, lalu ia meletakkan Aruna dengan hati-hati di kursi depan mobilnya.Aruna tidak lagi berontak. Tangannya mencengkeram kuat sabuk pengaman, matanya terpejam menahan sakit. Baginya kini hanya satu yang penting—bayinya harus selamat.“Akhh… sakit…” rintihnya lirih.Wajah Revan dipenuhi keringat dingin. Tangannya gemetar saat memutar kunci, lalu tanpa ragu ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang meninggalkan rumah itu, menyusuri j
“Aruna…” panggil Revan dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.Langkahnya terhenti beberapa meter dari teras. Matanya tak lepas dari perut Aruna yang kini membuncit besar. Ada getar halus di sorot matanya—sesuatu yang selama ini ia tekan paksa.Rasa bersalah itu akhirnya datang, menggerogoti hatinya tanpa ampun.Andai dulu ia tidak berselingkuh.Andai ia lebih menghargai istrinya sendiri.Mungkin saat ini ia yang berdiri di sana—mengusap perut itu, merasakan gerakan kecil di balik kulit Aruna, menunggu kelahiran anak mereka bersama.Aruna refleks mengusap perutnya, seolah melindungi. Ia tidak mundur, namun jelas tubuhnya menegang.Edward yang sejak tadi berdiri di samping Aruna akhirnya membuka suara. Nadanya tegas, matanya menatap Revan tanpa gentar.“Apa yang kamu lakukan di sini?”Revan mengalihkan pandangan ke Edward. Rahangnya mengeras, nada suaranya berubah dingin.
Kini usia kandungan Aruna memasuki sembilan bulan. Perutnya membesar sempurna, langkahnya melambat, namun sorot matanya tetap tenang. Ia memilih hidup menyendiri, agak jauh dari perkampungan, di sebuah rumah sederhana milik tantenya. Di sanalah ia menjalani hari-harinya—menyiram sayur, membersihkan halaman, dan menunggu waktu panen yang tinggal menghitung hari.Selama ini, Edward-lah yang kerap membantu Aruna. Seorang pria yang hatinya juga terluka—istrinya telah menjadi pelakor dalam rumah tangganya aruna. Mungkin karena sama-sama pernah dikhianati, empati Edward pada Aruna tumbuh begitu saja, tanpa dipaksa.Siang itu, Edward kembali berkunjung. Ia datang membawa beberapa bahan makanan dan air galon. Aruna yang sedang duduk di bangku kayu depan rumah segera bangkit perlahan, meski Edward cepat-cepat menghentikannya.“Sudah, duduk saja. Biar saya yang angkat,” ucap Edward sambil tersenyum.Aruna menurut. Tangannya mengusap perutnya yang besar, lalu matanya menatap kebun kecil di







