Share

Bab 2

Author: By. S.A
last update Last Updated: 2025-10-26 09:47:14

Tangannya sempat buru-buru ia rapikan wajahnya agar tidak terlihat panik.

“Eh, Bu Cynthia,” sambut Aruna dengan senyum ramah setelah membuka pintu. “Mari masuk.”

Cynthia melangkah masuk dengan anggun.

Wangi parfumnya langsung menyebar, menyisakan kesan elegan.

Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti menatap Revan yang berdiri agak canggung di sisi meja.

Ada senyum tipis yang samar, hanya sekejap, tapi cukup menusuk bila ada yang jeli memperhatikan.

Aruna sama sekali tidak menyadari tatapan. Ia sibuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan menawarkan duduk.

“Silakan, Bu.”

“Maaf mengganggu,” ucap Cynthia sembari duduk manis di sofa, meletakkan tasnya di pangkuan. “Tapi kedatangan saya ke sini untuk memberi tahu kabar baik. Mas Revan naik jabatan.”

Aruna spontan menoleh ke suaminya dengan wajah berbinar. “Ini serius?” suaranya penuh semangat, seolah ada beban yang terangkat.

“Iya, Aruna.” Senyum Cynthia meluas. Ia melirik Revan sejenak sebelum kembali menatap Aruna.

“Tapi pekerjaannya bukan hanya di kantor saja. Mas Revan juga akan sering menemani saya ke kota, membantu saya, seperti asisten pribadi.”

Alis Aruna sedikit bertaut.

Ada keraguan di wajahnya.

Dalam pikirannya, jabatan itu terasa janggal.

Bukankah suaminya anak buah dari suami Bu Cynthia? Kenapa kini malah melayani istrinya?

Namun, demi menjaga sopan santun, ia menahan rasa ingin tahunya.

“Oh, baik, Bu…” Aruna mengangguk, mencoba meyakinkan diri.

“Terima kasih sudah repot-repot mampir ke sini untuk kasih tahu berita baik ini.”

Dengan senyum penuh keramahan, Cynthia mendekat dan menggenggam tangan Aruna.

Jemarinya dingin namun genggaman itu erat, seolah ada makna tersembunyi.

“Nggak papa, sekalian tadi saya mampir ke sebelah. Ada calon cleaning service yang ngelamar kerja di tempat saya, jadi sekalian memastikan aja.”

Aruna hanya mengangguk sambil tersenyum, meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya.

Revan menundukkan kepala, pura-pura sibuk membenarkan letak kemejanya, menyembunyikan ekspresi yang sulit ditebak.

“Eh, maaf Bu,” Aruna menunduk sedikit, suaranya sopan tapi agak ragu.

“Bukan saya lancang… apa masih mencari cleaning service lagi?”

Cynthia menoleh, alisnya terangkat sedikit.

“Ada. Lagi cari satu orang lagi. Emang kenapa kamu tanya begitu?”

Aruna meneguk ludah, lalu tersenyum tipis.

“Aku mau bantu Mas Revan kerja, Bu.”

Seketika sudut bibir Cynthia melengkung.

Senyumnya manis, tapi matanya menyimpan sesuatu—seperti sengaja dibuat nakal. Ia melirik sekilas ke arah Revan, membuat pria itu kaku sejenak.

Revan buru-buru melangkah mendekat, meraih tangan Aruna dan menggenggamnya erat.

“Sayang, Mas aja yang kerja,” katanya dengan nada lembut, hampir memohon. “Kamu di rumah aja, nggak perlu capek-capek kerja.”

Aruna menatap suaminya.

Ada rasa hangat melihat perhatian itu, tapi senyumnya sedikit getir.

“Nggak papa, Mas. Aruna juga bosan di rumah terus.”

Cynthia terkekeh kecil, menutupi senyumnya dengan tangan.

“Ya sudah… kalau kamu memang niat kerja, besok datang saja ke perusahaan suami saya.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Datang bareng tetangga kamu itu yang janda, siapa namanya?”

Aruna mengerjap. “Oh… Lita?”

“Iya, Lita,” jawab Cynthia cepat. “Kebetulan saya butuh lebih dari satu orang. Bagus kalau kamu berdua sekalian.”

Aruna tersenyum, mengangguk kecil. “Dia teman saya juga, Bu. Sering main ke sini.”

“Oh ya?” Cynthia tersenyum samar, lalu bangkit dari sofa. Ia merapikan tas di lengannya. “Kalau begitu, saya pamit dulu.”

“Terima kasih banyak, Bu Cynthia.” Aruna ikut berdiri dan menunduk sopan.

Revan hanya mengangguk, wajahnya tetap tegang.

Saat hendak melangkah keluar, Cynthia sempat menoleh sekali lagi.

Dari balik bahunya, ia mengedipkan mata ke arah Revan. Gerakan itu cepat, seolah hanya angin lalu.

Revan langsung menunduk, pura-pura sibuk merapikan kemejanya.

Aruna, dengan polosnya, sama sekali tidak menyadari apa-apa.

Ia justru sibuk menutup pintu sambil bergumam, “Orangnya baik ya, Mas…”

Revan terdiam, genggamannya di tangan tadi masih terasa dingin.

Setelah Cynthia pergi, Revan menarik tangan Aruna dengan wajah serius.

“Sayang, Mas nggak izinin kamu kerja. Apalagi jadi cleaning service. Nanti kamu capek, terus nggak ada yang layani Mas di rumah,” ujarnya sambil cemberut pura-pura manja.

Aruna tersenyum geli. “Mas bisa aja. Aruna tetap jalani kewajiban itu kok.”

Mendengar itu, mata Revan berkilat nakal.

Tanpa basa-basi, ia mengangkat tubuh mungil istrinya dengan mudah.

Tubuh kekarnya membuat Aruna tak bisa berbuat banyak selain memukul-mukul bahu suaminya.

“Mas! Ihhh, turunin! Ini masih pagi,” protesnya dengan tawa bercampur malu.

“Syuttt…” bisik Revan di telinganya, membuat wajah Aruna merona. “Katanya tetap jalani, kan? Jadi sekarang harus…”

Ia melangkah cepat ke kamar, membawa Aruna yang berusaha menutupi wajahnya.

Pintu menutup, dan sebentar kemudian suara tawa serta bisikan mereka bercampur menjadi desahan penuh gairah.

Namun kontrakan mereka berdinding tipis, tanpa pagar tinggi.

Dari balik jendela yang tirainya sedikit terbuka, Lita—tetangga mereka—terlihat berdiri diam.

Matanya menatap tajam ke arah kamar Aruna.

Dari celah itu, Lita bisa mendengar lirih suara Aruna yang menggema.

Nafasnya tercekat, tubuhnya ikut menegang.

Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena imajinasi yang berlari liar.

“Mas Revan…” gumamnya dalam hati, jemarinya meremas kain dasternya sendiri. “Aku ingin merasakan otot-ototmu. Ingin tahu bagaimana rasanya jadi Aruna…”

Lita menutup bibirnya sendiri agar tak mengeluarkan suara.

Matanya tak beranjak, menelan setiap bayangan samar yang muncul dari balik tirai.

Dalam dirinya tumbuh satu tekad: jika menjadi cleaning service bisa mendekatkannya dengan Revan, maka ia rela melakukannya.

Sebab keinginannya pada pria itu sudah terlalu besar untuk dipendam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
desisa
issss, mulai menggatal ya jendessss
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 35

    Aruna masih terbaring di dalam ruangan, tubuhnya setengah mati rasa akibat pengaruh obat bius. Pandangannya kabur, kelopak matanya terasa berat, namun pendengarannya masih berfungsi dengan jelas.Saat lantunan azan perlahan berkumandang dari bibir Revan, sudut mata Aruna tiba-tiba terasa panas. Air mata itu menetes tanpa bisa ia cegah, mengalir pelan melewati pelipisnya dan membasahi bantal rumah sakit. Dadanya bergetar, napasnya tertahan, meski suaranya tak sanggup keluar.Di dalam hati, Aruna berdoa lirih.Ya Allah… aku menerima semua takdir yang Engkau tentukan untukku di masa depan. Tapi aku mohon, jangan Engkau kembalikan aku pada pria yang telah mengkhianatiku. Aku tak ingin hidupku berakhir seperti ibuku—bertahan dalam luka, terjebak bersama pria brengsek seperti ayahku.Tangisnya kian tak terbendung, meski hanya berupa isakan kecil yang tertahan di dada. Aruna terus memanjatkan doa itu berulang kali, memohon agar hidupnya kelak tidak lagi dipenuhi pengkhianatan dan penderitaa

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 34

    Kedua orang tua Aruna masih ada, namun sejak lama mereka tak benar-benar hadir dalam kehidupan putri mereka. Aruna tumbuh dan bertahan hampir selalu sendirian.Di depan ruang operasi, Revan berdiri dengan tubuh gemetar. Kedua tangannya terkatup di depan dada, bibirnya komat-kamit melantunkan doa yang bahkan tak ia sadari sudah berulang kali terucap. Matanya merah, napasnya tersengal—tak ada yang bisa ia lakukan selain berharap.Langkah tergesa memecah kesunyian lorong rumah sakit.Tante dan Om Aruna datang bersama Edward. Wajah Tante Aruna pucat, matanya sembab oleh tangis yang tertahan sejak perjalanan. Begitu pandangannya menangkap sosok Revan, langkahnya berhenti mendadak.Revan menoleh, refleks berdiri tegak.“Om, Tan—”Plak!Tamparan keras mendarat di pipinya sebelum kalimat itu selesai. Kepala Revan terlempar ke samping, namun ia tak berusaha membalas atau menghindar.“Belum puas kamu menyakiti Aruna, hah?!” suara Tante Aruna bergetar hebat, dadanya naik turun menahan amara

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 33

    Wajah Aruna tampak semakin pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa sakit luar biasa terus menghantam perut dan pinggulnya hingga tubuhnya gemetar tak terkendali.Dokter itu segera memeriksa kembali kondisi Aruna. Ia menatap hasil pemeriksaan dengan dahi berkerut, lalu menghela napas pelan.“Pembukaan Bu Aruna baru dua, belum ada tanda-tanda bayi akan segera keluar,” ucapnya hati-hati.“Hikss… sakit sekali, Dok…” rintih Aruna lirih, suaranya hampir tenggelam oleh rasa nyeri.Dokter menatap Aruna dengan ekspresi serius. “Panggul Bu Aruna cukup kecil. Ini berisiko membuat bayi sulit keluar secara normal.”Revan yang sedari tadi berdiri di samping ranjang tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Ia menggenggam tangan Aruna erat-erat, lalu berkata tegas, “Kalau begitu operasi saja, Dok. Jangan sampai istri saya kenapa-kenapa.”Dokter menggeleng pelan. “Masih ada satu cara lain. Kami bisa memberikan obat perangsang, dimasuk

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 32

    “A-ahh… Pak Edward, tolong… kasih tahu tan— aaaa…” ucapan Aruna terputus oleh erangan panjang. Tubuhnya melemas, kedua kakinya gemetar tak sanggup lagi menopang.Belum sempat Edward bergerak, Revan sudah lebih dulu melangkah cepat. Tanpa banyak bicara, ia membopong tubuh Aruna yang basah oleh keringat dingin.“Revan, naikkan saja ke mobil saya—” seru Edward panik.Namun Revan sama sekali tak menghiraukan. Langkahnya cepat dan mantap. Pintu mobil dibukanya lebar, lalu ia meletakkan Aruna dengan hati-hati di kursi depan mobilnya.Aruna tidak lagi berontak. Tangannya mencengkeram kuat sabuk pengaman, matanya terpejam menahan sakit. Baginya kini hanya satu yang penting—bayinya harus selamat.“Akhh… sakit…” rintihnya lirih.Wajah Revan dipenuhi keringat dingin. Tangannya gemetar saat memutar kunci, lalu tanpa ragu ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang meninggalkan rumah itu, menyusuri j

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 31

    “Aruna…” panggil Revan dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.Langkahnya terhenti beberapa meter dari teras. Matanya tak lepas dari perut Aruna yang kini membuncit besar. Ada getar halus di sorot matanya—sesuatu yang selama ini ia tekan paksa.Rasa bersalah itu akhirnya datang, menggerogoti hatinya tanpa ampun.Andai dulu ia tidak berselingkuh.Andai ia lebih menghargai istrinya sendiri.Mungkin saat ini ia yang berdiri di sana—mengusap perut itu, merasakan gerakan kecil di balik kulit Aruna, menunggu kelahiran anak mereka bersama.Aruna refleks mengusap perutnya, seolah melindungi. Ia tidak mundur, namun jelas tubuhnya menegang.Edward yang sejak tadi berdiri di samping Aruna akhirnya membuka suara. Nadanya tegas, matanya menatap Revan tanpa gentar.“Apa yang kamu lakukan di sini?”Revan mengalihkan pandangan ke Edward. Rahangnya mengeras, nada suaranya berubah dingin.

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 30

    Kini usia kandungan Aruna memasuki sembilan bulan. Perutnya membesar sempurna, langkahnya melambat, namun sorot matanya tetap tenang. Ia memilih hidup menyendiri, agak jauh dari perkampungan, di sebuah rumah sederhana milik tantenya. Di sanalah ia menjalani hari-harinya—menyiram sayur, membersihkan halaman, dan menunggu waktu panen yang tinggal menghitung hari.Selama ini, Edward-lah yang kerap membantu Aruna. Seorang pria yang hatinya juga terluka—istrinya telah menjadi pelakor dalam rumah tangganya aruna. Mungkin karena sama-sama pernah dikhianati, empati Edward pada Aruna tumbuh begitu saja, tanpa dipaksa.Siang itu, Edward kembali berkunjung. Ia datang membawa beberapa bahan makanan dan air galon. Aruna yang sedang duduk di bangku kayu depan rumah segera bangkit perlahan, meski Edward cepat-cepat menghentikannya.“Sudah, duduk saja. Biar saya yang angkat,” ucap Edward sambil tersenyum.Aruna menurut. Tangannya mengusap perutnya yang besar, lalu matanya menatap kebun kecil di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status