Share

Bab 4

Author: By. S.A
last update Last Updated: 2025-10-26 09:48:38

"Nggak usah tegang gitu mas, mau nggak?" bisik Cintya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Revan.

Aroma parfum menyengat dari tubuhnya menusuk hidung.

Dengan sengaja ia mengambil tangan Revan, menaruhnya di atas squishy miliknya yang terpantul jelas dari piyama tipis dan ketat yang dipakai.

"Suami saya udah tua, nggak bisa puasin saya. Makanya saya nyuruh kamu. Revan..." suaranya bergetar nakal.

Sebelum Revan sempat menolak, Cintya makin berani. Ia menggiring tangan Revan masuk ke dalam belahan piyamanya.

Kulit hangat terasa di ujung jari Revan, membuat tubuhnya refleks menegang.

Detik itu, dada Revan berdegup kencang. Ia ingin menepis, tapi tubuhnya kaku.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Namun tepat saat momen itu semakin memanas, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu.

Ctak… ctak…

Cintya terperanjat.

Dengan wajah panik, ia buru-buru turun dari pangkuan Revan.

Napasnya masih terengah, piyamanya sedikit kusut karena ulahnya barusan.

Pintu terbuka.

Aruna masuk sambil membawa sebuah kotak di pelukannya.

Langkahnya sempat terhenti, bola matanya membesar melihat pemandangan di depan.

Revan duduk dengan wajah tegang, sementara Cintya berdiri di samping sofa, dengan pakaian yang jelas terlalu terbuka, jauh dari kata sopan.

"Aruna..." suara Revan tercekat.

Ia segera bangkit, mendekati istrinya. Jantungnya seakan mau meledak.

"Sialan, pengganggu saja," batin Cintya sambil menggertakkan giginya

"Kamu... kok bisa ke sini?" tanya Revan gugup, mencoba bersikap biasa padahal keringatnya menetes di pelipis.

Aruna masih terdiam sejenak, mencoba menelan rasa curiga yang mulai menyesakkan dadanya.

"Tadi ada kurir yang antar paket. Katanya dia kurir baru, nggak tau alamat rumah sini. Alamat paketnya di kantor, harus bayar COD. CS lain nyuruh aku buat antar ke sini."

"Oh... ha ha, gitu ya," Revan mencoba tersenyum canggung, padahal tubuhnya masih bergetar.

"Iya mas," ucap Aruna sambil menatap sekeliling, "tapi ngomong-ngomong… mas Revan cuma berdua sama Bu Cintya?

Belum sempat Revan membuka mulut, Cintya langsung menimpali cepat.

"Iya, tadi saya nyuruh suami kamu buat nyari tikus di kamar. Saya takut tikus, jadi saya pinjam sebentar suami kamu ya?" Nada suaranya terdengar manja, seolah tak ada yang janggal.

Aruna tersenyum tipis. "Oh gitu ya, bisa banget Bu. Kalau gitu ini paketnya, pak kurirnya udah pergi, katanya TF aja di situ." Ia menyerahkan kotak itu.

Cintyia mengambil paket tersebut dengan senyum dibuat-buat.

"Makasih ya, Aruna. Eh, ngomong-ngomong… boleh nggak saya minta tolong lagi? Boleh masakin sarapan buat saya? Soalnya saya belum sempat makan dari tadi."

Aruna agak ragu. "Bisa Bu, tapi kerja di sana—"

"Nggak papa," potong Cintya cepat sambil tersenyum lebar, "itu bisa diatur kok.

Aruna akhirnya mengangguk.

"Ya sudah, saya bikinin. Saya kan sudah hafal dapurnya." Ia pun melangkah ke arah dapur, masih dengan pikiran positif tanpa curiga lebih jauh.

Begitu suara langkah Aruna menjauh, wajah Cintya langsung berubah.

Ia menggertakkan giginya pelan, lalu menoleh ke arah Revan yang masih berdiri kaku di ruang tamu.

"Pinjam suaminya, rum. Mau suruh tangkep tikus," gumamnya mengejek sambil menyeringai

Dengan cepat, Cintya meraih tangan Revan, menggenggamnya erat, lalu menariknya ke arah tangga.

Tumitnya berderap cepat di lantai, seolah tak ingin membuang waktu.

"Bu… jangan begini…" Revan berbisik panik, matanya melirik ke arah dapur, takut Aruna tiba-tiba kembali.

Namun Cintya tak peduli.

Di setiap anak tangga, ia makin merapatkan tubuhnya ke Revan.

Tubuh mungilnya menempel erat, membuat dada Revan naik turun tak beraturan.

Begitu sampai di lantai atas, Cintya menutup pintu kamar dengan cepat.

Klik.

Suara kunci diputar.

Ia menempelkan tubuhnya ke pintu, matanya liar, bibirnya melengkung nakal.

"Nggak usah banyak alasan, Revan," bisiknya sambil mendorong dada Revan pelan hingga ia terdorong mundur ke tepi ranjang. "Tadi sempet keganggu, sekarang waktunya kita lanjutin."

Tangannya yang masih menggenggam tangan Revan perlahan menuntunnya kembali ke dalam piyama tipis yang longgar.

Revan menelan ludah, keringatnya bercucuran. "Tapi kalau Aruna—"

"Ssstt…" Cintya mendekat, meletakkan telunjuk di bibir Revan. "Dia sibuk di dapur. Nggak akan curiga."

Sesampainya di kamar, Cintya langsung mendorong dada Revan dengan keras.

Tubuh pria itu tak berdaya terhuyung hingga jatuh di atas ranjang empuk.

"Masss…" desah Cintya sambil menunduk, tubuhnya merayap ke atas ranjang. "Aku suka yang menantang seperti ini." Matanya menyala penuh nafsu.

Revan refleks menggeleng. Ia bangkit dari posisi telentang, berusaha menjauh, menolak semua itu. "Bu Cintya… jangan, saya nggak bisa."

Cintya terkekeh rendah. Ia merangkak di atas ranjang, tubuhnya mendekat lagi, seperti seekor predator yang sudah mengincar mangsanya.

Tangannya bergerak cepat, meraih paha Revan yang kaku.

"Ayolah, mas… dari tadi perkutut mas udah tegang, loh." Bibirnya menyeringai nakal, jari-jarinya berani merayap ke arah karet celana Revan.

Revan menggenggam pergelangan tangan itu, menahannya.

Nafasnya memburu, bukan karena godaan, melainkan karena panik.

"Bu Cintya, tolong… istri saya ada di bawah. Dia bisa naik kapan saja!"

Wajah Cintya berubah dingin seketika. Ia menempelkan tubuhnya makin dekat ke Revan. Suaranya menurun, seperti bisikan mengancam.

"Dia tidak akan tahu, mas. Dan satu lagi…" jemarinya menempelkan telunjuk ke bibir Revan, "jangan pernah panggil aku Bu kalau kita sudah di atas ranjang."

"Tapi, Bu—"

"Syutttt…" Cintya mendesis, menekan bibir Revan dengan jarinya.

Ia lalu menyeringai miring, mengambil ancamannya sebagai senjata pamungkas.

"Uang sudah kamu terima, kan? Perjanjian harus segera dilaksanakan. Kalau tidak…" ia mendekatkan bibir ke telinga Revan, berbisik penuh ancaman, "istri kamu akan tahu kalau uang itu bukan pinjaman, tapi uang tanda jadi kita."

Revan tercekat.

Wajahnya pucat, jantungnya berdentum keras. Ia ingin berteriak, ingin kabur, tapi bayangan Aruna mengetahui semuanya membuat lututnya lemas.

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Bertahan berarti dosa.

Menolak berarti kehancuran rumah tangga.

Ia terjebak.

Cintya semakin mendesak, kedua tangannya sudah berusaha membuka kancing baju Revan.

Revan menahan, tapi tenaganya goyah oleh ancaman itu.

°°°

Sementara itu, di bawah sana…

Aruna tersenyum lebar.

Dengan wajah penuh ketulusan, ia mengaduk nasi goreng di wajan.

Aroma harum menyebar ke seluruh dapur.

"Masak lebih aja, biar ada buat mas Revan juga," gumamnya penuh kasih.

Dengan cekatan ia menambahkan irisan cabai dan telur dadar.

Lima menit kemudian, nasi goreng tersaji hangat di atas piring besar.

"Ahhh, sudah selesai. Aku harus balik ke kantor. Biarkan saja mas Revan cari tikusnya di atas." Aruna menaruh piring di meja, lalu merapikan barang-barang.

Ia sama sekali tak menyadari bahwa di lantai atas, suami yang begitu ia cintai tengah berada di ujung maut perselingkuhan

Aruna bahkan masih sempat tersenyum kecil sambil berkata pelan, "Bu Cintya kan sudah menikah, jadi nggak mungkin lah mendekati mas Revan."

Betapa polosnya ia—tak tahu jika senyum manisnya sedang dibalas pengkhianatan di balik pintu kamar atas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 35

    Aruna masih terbaring di dalam ruangan, tubuhnya setengah mati rasa akibat pengaruh obat bius. Pandangannya kabur, kelopak matanya terasa berat, namun pendengarannya masih berfungsi dengan jelas.Saat lantunan azan perlahan berkumandang dari bibir Revan, sudut mata Aruna tiba-tiba terasa panas. Air mata itu menetes tanpa bisa ia cegah, mengalir pelan melewati pelipisnya dan membasahi bantal rumah sakit. Dadanya bergetar, napasnya tertahan, meski suaranya tak sanggup keluar.Di dalam hati, Aruna berdoa lirih.Ya Allah… aku menerima semua takdir yang Engkau tentukan untukku di masa depan. Tapi aku mohon, jangan Engkau kembalikan aku pada pria yang telah mengkhianatiku. Aku tak ingin hidupku berakhir seperti ibuku—bertahan dalam luka, terjebak bersama pria brengsek seperti ayahku.Tangisnya kian tak terbendung, meski hanya berupa isakan kecil yang tertahan di dada. Aruna terus memanjatkan doa itu berulang kali, memohon agar hidupnya kelak tidak lagi dipenuhi pengkhianatan dan penderitaa

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 34

    Kedua orang tua Aruna masih ada, namun sejak lama mereka tak benar-benar hadir dalam kehidupan putri mereka. Aruna tumbuh dan bertahan hampir selalu sendirian.Di depan ruang operasi, Revan berdiri dengan tubuh gemetar. Kedua tangannya terkatup di depan dada, bibirnya komat-kamit melantunkan doa yang bahkan tak ia sadari sudah berulang kali terucap. Matanya merah, napasnya tersengal—tak ada yang bisa ia lakukan selain berharap.Langkah tergesa memecah kesunyian lorong rumah sakit.Tante dan Om Aruna datang bersama Edward. Wajah Tante Aruna pucat, matanya sembab oleh tangis yang tertahan sejak perjalanan. Begitu pandangannya menangkap sosok Revan, langkahnya berhenti mendadak.Revan menoleh, refleks berdiri tegak.“Om, Tan—”Plak!Tamparan keras mendarat di pipinya sebelum kalimat itu selesai. Kepala Revan terlempar ke samping, namun ia tak berusaha membalas atau menghindar.“Belum puas kamu menyakiti Aruna, hah?!” suara Tante Aruna bergetar hebat, dadanya naik turun menahan amara

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 33

    Wajah Aruna tampak semakin pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa sakit luar biasa terus menghantam perut dan pinggulnya hingga tubuhnya gemetar tak terkendali.Dokter itu segera memeriksa kembali kondisi Aruna. Ia menatap hasil pemeriksaan dengan dahi berkerut, lalu menghela napas pelan.“Pembukaan Bu Aruna baru dua, belum ada tanda-tanda bayi akan segera keluar,” ucapnya hati-hati.“Hikss… sakit sekali, Dok…” rintih Aruna lirih, suaranya hampir tenggelam oleh rasa nyeri.Dokter menatap Aruna dengan ekspresi serius. “Panggul Bu Aruna cukup kecil. Ini berisiko membuat bayi sulit keluar secara normal.”Revan yang sedari tadi berdiri di samping ranjang tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Ia menggenggam tangan Aruna erat-erat, lalu berkata tegas, “Kalau begitu operasi saja, Dok. Jangan sampai istri saya kenapa-kenapa.”Dokter menggeleng pelan. “Masih ada satu cara lain. Kami bisa memberikan obat perangsang, dimasuk

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 32

    “A-ahh… Pak Edward, tolong… kasih tahu tan— aaaa…” ucapan Aruna terputus oleh erangan panjang. Tubuhnya melemas, kedua kakinya gemetar tak sanggup lagi menopang.Belum sempat Edward bergerak, Revan sudah lebih dulu melangkah cepat. Tanpa banyak bicara, ia membopong tubuh Aruna yang basah oleh keringat dingin.“Revan, naikkan saja ke mobil saya—” seru Edward panik.Namun Revan sama sekali tak menghiraukan. Langkahnya cepat dan mantap. Pintu mobil dibukanya lebar, lalu ia meletakkan Aruna dengan hati-hati di kursi depan mobilnya.Aruna tidak lagi berontak. Tangannya mencengkeram kuat sabuk pengaman, matanya terpejam menahan sakit. Baginya kini hanya satu yang penting—bayinya harus selamat.“Akhh… sakit…” rintihnya lirih.Wajah Revan dipenuhi keringat dingin. Tangannya gemetar saat memutar kunci, lalu tanpa ragu ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang meninggalkan rumah itu, menyusuri j

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 31

    “Aruna…” panggil Revan dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.Langkahnya terhenti beberapa meter dari teras. Matanya tak lepas dari perut Aruna yang kini membuncit besar. Ada getar halus di sorot matanya—sesuatu yang selama ini ia tekan paksa.Rasa bersalah itu akhirnya datang, menggerogoti hatinya tanpa ampun.Andai dulu ia tidak berselingkuh.Andai ia lebih menghargai istrinya sendiri.Mungkin saat ini ia yang berdiri di sana—mengusap perut itu, merasakan gerakan kecil di balik kulit Aruna, menunggu kelahiran anak mereka bersama.Aruna refleks mengusap perutnya, seolah melindungi. Ia tidak mundur, namun jelas tubuhnya menegang.Edward yang sejak tadi berdiri di samping Aruna akhirnya membuka suara. Nadanya tegas, matanya menatap Revan tanpa gentar.“Apa yang kamu lakukan di sini?”Revan mengalihkan pandangan ke Edward. Rahangnya mengeras, nada suaranya berubah dingin.

  • Suamiku idaman istri orang dan JANDA   Bab 30

    Kini usia kandungan Aruna memasuki sembilan bulan. Perutnya membesar sempurna, langkahnya melambat, namun sorot matanya tetap tenang. Ia memilih hidup menyendiri, agak jauh dari perkampungan, di sebuah rumah sederhana milik tantenya. Di sanalah ia menjalani hari-harinya—menyiram sayur, membersihkan halaman, dan menunggu waktu panen yang tinggal menghitung hari.Selama ini, Edward-lah yang kerap membantu Aruna. Seorang pria yang hatinya juga terluka—istrinya telah menjadi pelakor dalam rumah tangganya aruna. Mungkin karena sama-sama pernah dikhianati, empati Edward pada Aruna tumbuh begitu saja, tanpa dipaksa.Siang itu, Edward kembali berkunjung. Ia datang membawa beberapa bahan makanan dan air galon. Aruna yang sedang duduk di bangku kayu depan rumah segera bangkit perlahan, meski Edward cepat-cepat menghentikannya.“Sudah, duduk saja. Biar saya yang angkat,” ucap Edward sambil tersenyum.Aruna menurut. Tangannya mengusap perutnya yang besar, lalu matanya menatap kebun kecil di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status