共有

Siapa pelakunya?

作者: Simplyree
last update 公開日: 2025-07-29 12:02:57

Vita membuka matanya secara perlahan. Pandangannya masih kabur dan ia hanya bisa melihat langit-langit berwarna putih.

"Aku dimana?" gumam Vita sambil menoleh ke samping. Ia lalu berusaha untuk bangun, namun tiba-tiba kepalanya terasa sakit.

"Aw sakit banget," lirihnya sambil menyentuh kepalanya yang dibalut perban.

Dengan sekuat tenaga ia mengubah posisinya menjadi duduk. Vita memandang sekeliling. Ruangan itu berwarna krem, dengan sofa abu-abu yang berada di sudut ruangan. Di meja yang berada di dekat jendela ia bisa melihat ada banyak buah-buahan.

Tatapannya beralih ke dirinya sendiri. Ia langsung menyadari dirinya yang memakai baju berwarna biru muda dan kondisi tangan kanannya yang terpasang selang infus.

"Aku lagi di rumah sakit? Kok bisa?" Vita bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, sehingga dirinya bisa berakhir di sini. Namun seberapa kuat ia mencoba, ingatannya hanya bisa berputar saat saat ia akan membukakan pintu untuk tamu. Setelah itu ingatannya tampak gelap.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, membuat Vita terkejut. Namun saat ia melihat siapa yang datang, ia bisa bernapas lega. Seseorang yang datang adalag laki-laki yang sangat ia kenal, kakaknya, Desta. Seorang laki-laki kurus tinggi dan berambut panjang.

Desta juga tak kalah kaget saat melihat adik satu-satunya sudah bangun dan sedang terduduk di atas ranjang rumah sakit.

"Kamu udah bangun? Kapan bangunnya?" tanya desta panik. Dengan cepat ia menghampiri ranjang, dan meletakkan bungkusan yang ia beli ke atas meja.

Vita menatap kakaknya sambil tersenyum tipis. "Udah, aku baru aja bangun," jawabnya.

Desta menampilkan wajah lega dan mengambil kursi untuk duduk di sisi adiknya. "Syukurlah, abang takut banget kamu bakal mati," ucapnya santai.

Vita langsung mendelik mendengar perkataan kakaknya. "Abang ini kalo ngomong sembarangan ya!" serunya.

Desta langsung menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Lagian kamu udah lima hari di rumah sakit tapi ngga bangun-bangun. Ini untuk pertama kalinya kamu bangun," ucapnya.

Mata Vita langsung terbelalak. "Hah lima hari?! Kok bisa? Abang serius?" tanya Vita tak percaya.

Desta langsung mengangguk. "Abang serius. Emang kamu ngga inget apa-apa?" tanya desta.

Vita langsung menggeleng. "Aku ngga inget apapun," jawabnya sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.

"Tapi wajar si, kepala kamu kan emang terluka dan ngeluarin banyak darah," balas Desta yang seketika membuat Vita merinding.

"Coba dong abang ceritain apa yang terjadi, aku penasaran banget!" pinta Vita agar Desta segera bercerita tentang kejadian yang menimpa dirinya.

Desta menghela napas sebelum mulai bercerita. Sejujurnya ia merasa tidak tega menceritakan kejadian mengerikan yang terjadi pada adiknya sendiri. "Jadi, hari kamis kemarin, abang kan ke rumah kamu, tapi pintunya udah ke buka. Terus abang langsung masuk aja, eh malah kaget liat kamu lagi tiduran di lantai.

Abang lebih kaget lagi waktu liat hidung sama kepala kamu berdarah. Saat itu juga abang langsung bawa kamu ke rumah sakit. Untungnya kata dokter luka kamu ngga parah, tapi ya itu kamu ngga sadar-sadar sampai lima hari ini," jelas Desta.

Vita langsung mengangguk mendengarkan penjelasan dari kakaknya. Sekarang ia sudah ingat mengenai penyerangan yang dialami dirinya oleh laki-laki yang memakai setelan berwarna hitam.

"Kamu lihat atau inget orang yang udah nyerang kamu?" tanya Desta.

Vita mengangguk. "Aku udah inget. Emang ada dua orang laki-laki yang malem-malem dateng ke rumah aku. Mereka pakai baju hitam dari atas sampe bawah. Badan mereka juga tinggi besar, tapi aku ngga bisa lihat muka mereka karena pakai masker," jawab Vita.

Desta mengangguk. "Nanti abang kasih keterangan kamu ke polisi. Ngomong-ngomong suami kamu kemana? Abang teleponin ngga diangkat-angkat?" tanya Desta penasaran.

Wajah Vita langsung menegang. Ia jadi teringat dengan suaminya yang pergi tanpa pamit kepadanya. "Mas Arga lagi dinas di luar kota, katanya hpnya emang bakal dimatiin jadi ngga bisa dihubungi," jawab Vita senormal mungkin.

"Kalian ngga lagi marahan kan?" tanya Desta dengan tatapan menyelidik. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan cara bicara adiknya itu.

Vita langsung menggeleng. "Ngga kok," jawabnya cepat.

"Untunglah, kalau dia macam-macam sama kamu, kamu langsung bilang aja ke abang, biar abang kasih dia pelajaran," ucap Desta sambil memperagakan salah satu gerakan tinju.

Vita langsung terkekeh dibuatnya. Desta adalah satu-satunya keluarga kandung yang ia miliki. Oleh karenanya, Desta selalu bersikap protektif kepadanya.

"Makasih ya bang," ucap Vita tulus sambil menggenggam tangan kakaknya.

Tatapan desta langsung melunak. "Iya, kayak sama siapa aja. Sekarang kamu tiduran lagi aja ya, abang mau panggil dokter buat periksa kondisi kamu," ucap Desta sambil mengelus rambut Vita.

Vita mengangguk sambil bersiap untuk mengubah posisinya menjadi berbaring.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Bab terakhir

    Arga tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, seolah menyusun kata-kata yang tepat agar tidak terdengar terlalu kasar di telinga Vita. Tangannya masih mengusap punggung sang istri dengan ritme pelan. “Gilang bukan cuma menipu kamu. Dia sudah melakukan itu ke banyak wanita di Korea saat berkuliah di sana,” ucap Arga dengan nada rendah dan penuh kehati-hatian. Vita mengangkat wajahnya perlahan dengan mata yang seketika melebar. “Banyak?” tanyanya hampir tak percaya.Arga mengangguk tipis. “Iya. Jumlahnya nggak sedikit. Total kerugian para korban bahkan sampai ratusan juta won,” jawabnya.Ia berhenti sejenak dan rahangnya perlahan mengeras. “Dan yang bikin kasus ini makin rumit adalah karena salah satu korbannya anak dari polisi yang dulunya senior Mas.”“Senior?” tanya Vita memastikan. Dengan cepat Arga mengangguk, namun ia memilih diam dan tidak melanjutkan bahwa senior yang dimaksud adalah orang yang membuatnya keluar dari kepolisian. Vita menutup mulutnya dengan tangan

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Rasa penasaran

    Vita keluar dari kamar mandi dengan rambut masih meneteskan air. Aroma sabun yang menenangkan membuatnya sedikit lebih rileks. Ia menempelkan handuk ke rambutnya, menggosok pelan sambil berjalan menuju cermin di kamar.Wajahnya tampak sedikit lebih baik dibanding saat pertama kali tiba di rumah, meski masih ada bekas kemerahan di pipi dan pergelangan tangan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan menegangkan yang masih tersisa di kepalanya. Saat teringat bagaimana Arga datang dan melepaskan ikatannya, sudut bibirnya terangkat tipis, ada rasa hangat yang muncul begitu saja di dada.Namun rasa itu tidak bertahan lama. Vita menoleh ke arah jendela lalu melangkah mendekat. Dengan tangan sedikit gemetar ia menyingkap tirai perlahan. Dari celah kecil itu terlihat tiga pria yang tadi mengantarnya pulang masih berjaga di depan rumah. “Mas Arga kok belum pulang ya?” gumam Vita pelan, ada nada cemas yang terdengar dalam suaranya.Matanya menatap kosong ke arah jalan yang sepi. L

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Misi selesai

    “Kalian yakin dia pelakunya?” tanya Bima dengan nada serius, matanya menatap Gilang yang tertidur dalam posisi duduk dan tangan terborgol. “Kami yakin, Pak. Bapak bisa lihat sendiri bukti fotonya,” jawab Nova tegas.Bima mengangguk singkat. Ia menepuk pundak Nova pelan sebagai bentuk apresiasi. Lalu tatapannya beralih pada Arga yang berdiri sedikit jauh membelakanginya sambil mengisap rokok.Bima melangkah mendekat hingga berdiri di samping pria itu. “Terima kasih karena sudah berhasil menangkap pelaku yang sudah merugikan banyak pihak, termasuk putri saya sendiri,” ucapnya. Arga tidak segera menjawab. Ia menyesap rokok dalam-dalam kemudian mengepulkan asapnya ke depan. “Jangan terlalu senang. Saya melakukan ini karena dia juga sudah menyakiti istri saya,” balasnya dingin. Arga membuang puntung rokok ke lantai dan hendak melangkah pergi, namun suara Bima kembali menghentikannya.“Semua bayaran untukmu sudah saya transfer. Saya harap itu cukup sebagai balasan atas jasa kamu kali ini

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Tertangkap basah

    “Mas Arga kok bisa tahu aku di sini?” tanya Vita dengan suara yang terdengar panik. “Udah kamu diam dulu, Mas bakal jelasin nanti,” jawab Arga cepat. Tangannya bekerja tegang dan tergesa, berusaha melepaskan ikatan kasar yang membelit tubuh istrinya. Saat melihat bekas kemerahan di lengan dan pipi Vita, mata Arga tampak berkaca-kaca. Ia merasa gagal menjaga istri tercintanya dari jeratan pria menakutkan itu. “Ayo cepet, jangan terlalu lama. Takut dia balik!” seru Nova dari arah pintu.Arga mempercepat gerakannya. Ikatan terakhir akhirnya terlepas. Vita mengembuskan napas panjang, hampir tak percaya ia bisa bebas secepat ini. Arga menariknya ke dalam pelukan singkat, kemudian melepasnya karena tidak ingin Nova menunggu lebih lama. Pria itu membantu Vita berdiri. “Ayo kita pergi dari sini,” ucapnya lembut. Begitu mencoba menapak, Vita meringis. Sakit itu menyambar dari pergelangan hingga betisnya. Kemungkinan karena ia terlalu lama terikat sehingga membuat otot-ototnya kaku dan peri

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Terbongkarnya rahasia besar

    “Kamu benar-benar nggak tahu pekerjaan suamimu yang sebenarnya?” tanya Gilang dengan suara merendah namun mengandung kecurigaan yang besar. “Mas Arga… dia karyawan kantor biasa bukan agen rahasia seperti yang kamu bilang,” jawab Vita lirih. Ia mengalihkan pandangan karena tak sanggup menatap langsung mata sipit pria itu yang terasa menusuk hingga ke tulang.Gilang tertawa keras, tawa yang terdengar seperti ejekan. Ia meraih dagu Vita dan membelai pipinya dengan sentuhan yang membuat kulit perempuan itu merinding. Tatapannya menancap ke mata Vita, seolah ingin menelanjangi isi kepalanya.“Kamu memang lugu, pantas saja kamu gampang dibodohi laki-laki," ucap pria itu dengan nada meremehkan. Tanpa menunggu balasan, Gilang berdiri. Langkahnya terdengar berat saat berbalik, meninggalkan Vita yang masih terbaring di lantai dingin dengan kedua tangan dan kaki terikat tali. Nafas Vita terengah, antara sakit dan rasa tidak berdaya.Namun sebelum Gilang sempat melangkah lebih jauh, sebuah suar

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Kecurigaan

    “Kenapa kamu tega lakuin ini ke aku?” tanya Vita tajam dengan tangan dan kaki yang sudah terikat tali. Tubuhnya dibiarkan terbaring begitu saja di lantai kotor penuh debu. Wajah perempuan itu bahkan tertutupi oleh rambut panjangnya.Di sisi lain Gilang yang duduk di kursi sedang menatapnya sambil tersenyum penuh keangkuhan. “Apalagi alasannya selain kamu yang bodoh dan gampang ditipu?” tanya pria itu diakhiri kekehan dengan maksud mengejek. Vita mengerjap. Matanya seolah sudah kering karena terlalu lama menangis beberapa saat lalu. Kepalanya kemudian memutar perkataan Arga yang menyuruhnya untuh menjauhi Gilang. Maaf Mas Arga, aku nyesel karena ngga nurutin perintah Mas Arga buat jauhin Gilang, bisik Vita dalam hati. “Lihat aja, aku bakal laporin kamu ke polisi!” seru Vita dengan suara bergetar. “Polisi? Silahkan aja kalau kamu bisa keluar dari sini hidup-hidup!” balas Gilang. Pria itu lanjut menyesap rokoknya sambil menghembuskan asap ke udara. Ia seolah tak memedulikan Vita

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Pakaian berlumpur

    Vita berjalan menuju sudut rumah tempat keranjang pakaian kotor berada. Dengan cekatan, ia mulai memilah-milah baju kotor yang sudah menumpuk, lalu memisahkan pakaian berwarna putih, gelap, dan yang berbahan lembut.Namun tangannya terhenti saat ia mengambil sepotong celana panjang dan kemeja yang

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Makanan Kesukaan

    Keesokan harinya, Vita terbangun karena suara nyaring yang berasal dari alarm yang ia pasang di ponselnya. Dengan mata masih terpejam, ia berusaha meraih ponsel yang berada di nakas sebelah ranjang menggunakan tangannya.Setelah berhasil mematikan alarm tersebut, ia berniat untuk kembali memejamkan

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Hari ulang tahun pernikahan.

    "Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke satu," ucap Vita sambil tersenyum lebar.Arga mengangguk, kemudian mendekat untuk mengecup kening Vita. "Terima kasih sudah bertahan dengan aku selama setahun ini," ucapnya lembut.Malam ini adalah tepat satu tahun sejak Vita dan Arga mengikat janji seba

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Kedatangan orang asing

    "Enak," gumam Vita saat mencicipi seblak buatannya. Ia ingin mencoba melupakan perilah surat yang ditulis oleh Arga, dengan memasak makanan kesukaannya.Sebenarnya selama menikah ia memang sering ditinggal dinas oleh suaminya, namun baru kali ini Arga tidak berpamitan langsung kepadanya sehingga me

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status