INICIAR SESIÓNPernikahan Vita dan Arga telah berjalan satu tahun. Mereka belum memiliki anak karena keduanya sepakat menundanya hingga usia pernikahan menginjak dua tahun. Arga adalah suami yang penuh perhatian. Ia tidak pernah menuntut banyak hal, selalu mendengarkan keinginan Vita, dan hampir tak pernah menolak permintaannya. Namun, segalanya mulai berubah. Banyak kejadian kecil yang terjadi dan mulai mengusik pernikahan mereka. Vita yang curiga pun diam-diam mulai menyelediki suaminya sendiri. Namun Vita yang awalnya curiga Arga selingkuh dengan perempuan lain, kini mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya pria yang ia nikahi? Apakah Arga menyimpan perempuan lain? Atau... rahasianya jauh lebih besar dari yang pernah Vita bayangkan?
Ver másAfternoon, Civil Affairs Bureau.
A stunning woman in a high-slit red dress walked in. Her makeup was minimal, and her hair was styled in a low bun, leaving her elegant neck exposed. As she walked, her ankle flashed occasionally, teasingly.
Hazel Queen’s sultry allure caught Damon Price by surprise. This was a far cry from the plain, simple Hazel he remembered.
Hazel didn’t even glance at him as she walked straight to the counter.
The staff member looked around nervously. “Are you two sure about this? Once you sign, and the stamp is on, it’s over.”
Hazel flashed a smile. “Do you really want to hold on to something you don’t even want? It’s trash.”
Damon’s eyes, cold as ice, fixed on her. As if he could burn a hole right through her.
She just called him trash?
But Hazel paid him no mind. Her hand signed the papers without a second thought, her signature flowing, neat, and beautiful. To Damon, it felt like a thorn in his chest, sinking deep.
He hadn’t expected her to agree so easily. Ha! Guess she really did marry him for the money after all.
The staff member shot Damon a pointed look.
With the certificate in hand, their three-year marriage was officially over.
What Hazel didn’t expect was that Damon had brought Delilah Hasani—his mistress, who had been the one to throw Hazel out of the Price mansion just yesterday.
But here, Delilah looked every bit the fragile, innocent woman. When she saw Hazel, her eyes widened with fear, as if the woman who had kicked her out the day before was someone else entirely.
“Hazel, I’m so sorry. If it wasn’t for me, Damon wouldn’t have pushed for the divorce. I’m really sorry…”
She put on a teary-eyed performance, crying as though she were the victim.
Hazel rolled her eyes, clearly irritated. “Cut it out. Mr. Price is really generous. He gave me a seaside villa, five shops on X Road, and ten million in cash. If I didn’t sign, it would just make me look petty.”
“Hazel, I know you said that to reassure me. Please forgive me. I’ll do anything for you!” Delilah pleaded, her voice sweet, but her eyes full of bitterness, knowing Hazel had walked away with a huge payout.
Hazel smirked. “Alright, then go die.”
“What? Hazel…” Delilah gasped, her voice quivering.
“What? Didn’t you just say you’d do anything for me? If you really mean it, slap yourself twice. I’m fine with that!” Hazel scoffed, raising her hand as if she might strike Delilah herself.
“Hazel!” A furious voice interrupted the tension.
Damon, playing the knight in shining armor, stepped in front of Delilah, glaring at Hazel.
Hazel was stunned. What was going on? What had she done to make them treat her like she was poison?
“You can hate me all you want, but Delilah’s pregnant. If anything happens to her, you’ll be responsible!” Damon snapped, his voice filled with barely contained rage.
Hazel crossed her arms, standing her ground. “Am I her mother? Why would I take responsibility for her? Let’s be clear—she’s just your mistress. And you? You’re nothing but a dog who’s eaten shit. No matter how clean I get, I wouldn’t want someone like her.”
“Hazel!” Damon growled, his fists clenched.
But she gritted her teeth, holding back, biding her time for the day when she’d sit in the position of Mrs. Price, finally taking down Hazel.
“Damon, don’t be like this. Hazel didn’t mean it. It’s all my fault for making her angry!” Delilah tugged at his sleeve, playing the role of the fragile woman flawlessly.
Hazel gave her a dismissive glance, adjusted the strap on her purse, and began to walk away. As she passed Damon, she paused for a moment, leaned in close to his ear, and whispered, “By the way, you might want to get a checkup. With all those pretty things outside, who knows if they’re clean.”
Damon’s face turned an ugly shade of red with rage as he watched her walk away, his eyes burning holes into her back
This woman—when had she become like this?
As Hazel stepped outside, the sun hung low in the sky, and the clock ticked past 3 PM.
“Damon Price,” she muttered under her breath, a smirk tugging at the corner of her lips. The echo of his voice from their past still rang clearly in her mind: “It’s been three years. I’m tired of even wearing a pair of shoes. Hazel, you’d better be smart about this, or we won’t end up in a happy situation. It won’t be good for anyone, okay?”
Three years. She had given everything—her heart, her soul—to a man who had never truly loved her. It had all started when she saved the old man of the Price family in a chance encounter. Out of gratitude, and trusting her, he had arranged for his grandson, Damon Price, to marry her.
She had never questioned the marriage, believing that love would come in time. But three years later, the love she had given had withered, unreciprocated. All that remained was the fading memory of someone who had never returned her feelings. She had loved him completely, and now, standing on the edge of divorce, she realized she had loved nothing but an illusion.
That evening, the storm hit. A bombshell exploded across Vernon’s trending news.
[Breaking: Price Family’s Eldest Son Caught with STDs, Ex-Wife Furious—Three-Year Marriage Finally Ends!]
“Wait, is this for real? My idol’s fallen from grace!”
“Sympathy for the ex-wife, a hundred times over. Ladies, be careful who you choose!”
“OMG, when did he get married? And when did they divorce? I’ll pay a thousand for someone to tell me what happened!”
***
Vita keluar dari kamar mandi dengan rambut masih meneteskan air. Aroma sabun yang menenangkan membuatnya sedikit lebih rileks. Ia menempelkan handuk ke rambutnya, menggosok pelan sambil berjalan menuju cermin di kamar.Wajahnya tampak sedikit lebih baik dibanding saat pertama kali tiba di rumah, meski masih ada bekas kemerahan di pipi dan pergelangan tangan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan menegangkan yang masih tersisa di kepalanya. Saat teringat bagaimana Arga datang dan melepaskan ikatannya, sudut bibirnya terangkat tipis, ada rasa hangat yang muncul begitu saja di dada.Namun rasa itu tidak bertahan lama. Vita menoleh ke arah jendela lalu melangkah mendekat. Dengan tangan sedikit gemetar ia menyingkap tirai perlahan. Dari celah kecil itu terlihat tiga pria yang tadi mengantarnya pulang masih berjaga di depan rumah. “Mas Arga kok belum pulang ya?” gumam Vita pelan, ada nada cemas yang terdengar dalam suaranya.Matanya menatap kosong ke arah jalan yang sepi. L
“Kalian yakin dia pelakunya?” tanya Bima dengan nada serius, matanya menatap Gilang yang tertidur dalam posisi duduk dan tangan terborgol. “Kami yakin, Pak. Bapak bisa lihat sendiri bukti fotonya,” jawab Nova tegas.Bima mengangguk singkat. Ia menepuk pundak Nova pelan sebagai bentuk apresiasi. Lalu tatapannya beralih pada Arga yang berdiri sedikit jauh membelakanginya sambil mengisap rokok.Bima melangkah mendekat hingga berdiri di samping pria itu. “Terima kasih karena sudah berhasil menangkap pelaku yang sudah merugikan banyak pihak, termasuk putri saya sendiri,” ucapnya. Arga tidak segera menjawab. Ia menyesap rokok dalam-dalam kemudian mengepulkan asapnya ke depan. “Jangan terlalu senang. Saya melakukan ini karena dia juga sudah menyakiti istri saya,” balasnya dingin. Arga membuang puntung rokok ke lantai dan hendak melangkah pergi, namun suara Bima kembali menghentikannya.“Semua bayaran untukmu sudah saya transfer. Saya harap itu cukup sebagai balasan atas jasa kamu kali ini
“Mas Arga kok bisa tahu aku di sini?” tanya Vita dengan suara yang terdengar panik. “Udah kamu diam dulu, Mas bakal jelasin nanti,” jawab Arga cepat. Tangannya bekerja tegang dan tergesa, berusaha melepaskan ikatan kasar yang membelit tubuh istrinya. Saat melihat bekas kemerahan di lengan dan pipi Vita, mata Arga tampak berkaca-kaca. Ia merasa gagal menjaga istri tercintanya dari jeratan pria menakutkan itu. “Ayo cepet, jangan terlalu lama. Takut dia balik!” seru Nova dari arah pintu.Arga mempercepat gerakannya. Ikatan terakhir akhirnya terlepas. Vita mengembuskan napas panjang, hampir tak percaya ia bisa bebas secepat ini. Arga menariknya ke dalam pelukan singkat, kemudian melepasnya karena tidak ingin Nova menunggu lebih lama. Pria itu membantu Vita berdiri. “Ayo kita pergi dari sini,” ucapnya lembut. Begitu mencoba menapak, Vita meringis. Sakit itu menyambar dari pergelangan hingga betisnya. Kemungkinan karena ia terlalu lama terikat sehingga membuat otot-ototnya kaku dan peri
“Kamu benar-benar nggak tahu pekerjaan suamimu yang sebenarnya?” tanya Gilang dengan suara merendah namun mengandung kecurigaan yang besar. “Mas Arga… dia karyawan kantor biasa bukan agen rahasia seperti yang kamu bilang,” jawab Vita lirih. Ia mengalihkan pandangan karena tak sanggup menatap langsung mata sipit pria itu yang terasa menusuk hingga ke tulang.Gilang tertawa keras, tawa yang terdengar seperti ejekan. Ia meraih dagu Vita dan membelai pipinya dengan sentuhan yang membuat kulit perempuan itu merinding. Tatapannya menancap ke mata Vita, seolah ingin menelanjangi isi kepalanya.“Kamu memang lugu, pantas saja kamu gampang dibodohi laki-laki," ucap pria itu dengan nada meremehkan. Tanpa menunggu balasan, Gilang berdiri. Langkahnya terdengar berat saat berbalik, meninggalkan Vita yang masih terbaring di lantai dingin dengan kedua tangan dan kaki terikat tali. Nafas Vita terengah, antara sakit dan rasa tidak berdaya.Namun sebelum Gilang sempat melangkah lebih jauh, sebuah suar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas