Home / Romansa / Suamiku ternyata seorang Intel / Kedatangan orang asing

Share

Kedatangan orang asing

Author: Simplyree
last update publish date: 2025-07-28 11:04:00

"Enak," gumam Vita saat mencicipi seblak buatannya. Ia ingin mencoba melupakan perilah surat yang ditulis oleh Arga, dengan memasak makanan kesukaannya.

Sebenarnya selama menikah ia memang sering ditinggal dinas oleh suaminya, namun baru kali ini Arga tidak berpamitan langsung kepadanya sehingga membuat hatinya tidak tenang.

Vita mengecek ponselnya, tidak ada pesan apapun dari suaminya. Ia juga mengecek aplikasi W******p dan menunjukkan kalau Arga terakhir kali aktif sekitar pukul lima sore.

"Ternyata kamu emang beneran ngga bisa dihubungi ya?" gumam Vita. Ia kemudian mulai menyantap seblak yang sudah tersaji di mangkok.

Baru satu suapan masuk ke mulutnya, tiba tiba ingatan tentang awal ia mengenal Arga kembali berputar di kepalanya. Saat itu Vita masih kuliah, diakhir pekan ia dan teman-temannya terbiasa berkumpul entah di cafe ataupun tempat tongkrongan lain. Pada saat itu ada warung seblak yang baru saja buka dan berada di dekat kampus mereka. Mereka pun bersemangat mengunjungi warung seblak tersebut. Saat itulah ia mengetahui kalau penjual seblak saat itu adalah Arga. Iya Arga. Sebelum bekerja di perusahaan, laki-laki itu memang lebih dulu bekerja sebagai penjual seblak.

Saat pertama melihat lelaki itu, Vita bertanya-tanya kenapa lelaki setampan Arga mau bekerja menjadi pedagang seblak? Bukannya ia mau meremehkan pekerjaan tersebut, namun dilihat dari fisik Arga yang atletis dan cara berbicaranya yang luwes dan enak didengar, lelaki itu sepertinya bisa mendapatkan pekerjaan lain.

Saat minggu ketiga warung seblak tersebut buka, ia terkejut karena warung tersebut ternyata sudah tutup dan rukonya telah dijual. Ia merasa kecewa karena sebenarnya ia datang untuk menanyakan banyak hal kepada Arga.

Ting tong ting tong.

Suara bel rumah menyadarkan Vita dari lamunannya. "Siapa yang dateng? Tumben jam segini ada tamu," gumam Vita. Ia melirik jam dinding yang berada di sisi kanan. Jarum pendeknya menunjukkan pukul delapan malam.

Ting tong ting tong. Bel rumah kembali berbunyi. Karena penasaran siapa yang datang akhirnya Vita beranjak dari kursinya. Ia berjalan pelan menuju pintu utama. Jujur saja Vita merasa takut karena ia sedang sendirian di rumah.

Sebelum membuka pintu, Vita mengintip dari celah-celah tirai untuk melihat siapa yang datang. Dari situ lah ia bisa melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang berdiri tepat di depan pintu rumah. "Dia siapa sih?" gumam Vita. Karena di luar gelap, ia menjadi tidak bisa melihat wajah laki-laki tersebut.

Ting tong ting tong.

Bel kembali berbunyi. Karena berpikir laki-laki tersebut mungkin saja teman Arga, Vita pun memutuskan untuk membuka pintu. Ia memutar kunci, dan knop pintu secara perlahan.

Saat pintu terbuka, Vita bisa melihat sosok lelaki yang di depannya dengan jelas. Laki-laki tersebut memiliki mata tajam, bibir tipis dan rahang keras. Seketika ia merasa takut melihat penampilan laki-laki itu yang menggunakan setelan hitam dari atas hingga bawah. Hal itu membuat tubuhnya kaku dan ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Namun rasa takut itu perlahan menghilang saat laki-laki didepannya menampilkan sebuah senyuman.

"Permisi, maaf mengganggu waktunya. Apa benar ini rumahnya Pak Reksa?" tanya laki-laki itu.

Vita seketika mengerutkan keningnya. Ia belum pernah mendengar nama itu. "Pak Reksa? Maaf bukan," jawab Ivy dengan cepat.

"Ooh bukan, kalau gitu saya pasti salah alamat," balas laki-laki asing itu sambil mengecek ponselnya.

Vita hanya bisa menunjukkan senyum kaku. "Mungkin," balasnya singkat.

"Kalau begitu saya pamit dulu ya, sekali lagi maaf karena sudah mengganggu," ucap laki-laki asing itu sebelum akhirnya meninggalkan Vita.

Vita mengangguk, setelah memastikan laki-laki asing itu benar-benar pergi, ia segera masuk ke dalam rumah. Namun tak lama kemudian pintu kembali diketuk. Tanpa berpikir panjang, Vita langsung membuka pintu rumahnya kembali.

"Ada yang bis-"

BUG!

Vita merasakan sebuah pukulan keras yang mengenai wajahnya.

"Aah sakit!" seru Vita. Ia menyentuh hidungnya yang langsung mengeluarkan darah. Ia yang memiliki ketakutan akan darah pun langsung merinding.

"Perih!"

Vita menoleh ke arah pintu, sosok yang baru saja memukulnya. Di sana ia bisa melihat dua laki-laki bertubuh tinggi besar yang memakai setelan berwarna hitam serta memakai masker. Sehingga Vita tidak bisa melihat wajah mereka.

"Kalian siapa?!" seru Vita.

Kedua laki-laki itu tidak langsung menjawab. Namun mereka seperti memberikan isyarat ke arah belakang Vita.

Tiba-tiba Vita merasakan kepalanya dipukul oleh benda keras.

DUG!

Sebelum Vita sempat menoleh ke belakang, tubuhnya sudah lebih dulu terjatuh ke lantai, dan ia pun tidak sadarkan diri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Bab terakhir

    Arga tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, seolah menyusun kata-kata yang tepat agar tidak terdengar terlalu kasar di telinga Vita. Tangannya masih mengusap punggung sang istri dengan ritme pelan. “Gilang bukan cuma menipu kamu. Dia sudah melakukan itu ke banyak wanita di Korea saat berkuliah di sana,” ucap Arga dengan nada rendah dan penuh kehati-hatian. Vita mengangkat wajahnya perlahan dengan mata yang seketika melebar. “Banyak?” tanyanya hampir tak percaya.Arga mengangguk tipis. “Iya. Jumlahnya nggak sedikit. Total kerugian para korban bahkan sampai ratusan juta won,” jawabnya.Ia berhenti sejenak dan rahangnya perlahan mengeras. “Dan yang bikin kasus ini makin rumit adalah karena salah satu korbannya anak dari polisi yang dulunya senior Mas.”“Senior?” tanya Vita memastikan. Dengan cepat Arga mengangguk, namun ia memilih diam dan tidak melanjutkan bahwa senior yang dimaksud adalah orang yang membuatnya keluar dari kepolisian. Vita menutup mulutnya dengan tangan

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Rasa penasaran

    Vita keluar dari kamar mandi dengan rambut masih meneteskan air. Aroma sabun yang menenangkan membuatnya sedikit lebih rileks. Ia menempelkan handuk ke rambutnya, menggosok pelan sambil berjalan menuju cermin di kamar.Wajahnya tampak sedikit lebih baik dibanding saat pertama kali tiba di rumah, meski masih ada bekas kemerahan di pipi dan pergelangan tangan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan menegangkan yang masih tersisa di kepalanya. Saat teringat bagaimana Arga datang dan melepaskan ikatannya, sudut bibirnya terangkat tipis, ada rasa hangat yang muncul begitu saja di dada.Namun rasa itu tidak bertahan lama. Vita menoleh ke arah jendela lalu melangkah mendekat. Dengan tangan sedikit gemetar ia menyingkap tirai perlahan. Dari celah kecil itu terlihat tiga pria yang tadi mengantarnya pulang masih berjaga di depan rumah. “Mas Arga kok belum pulang ya?” gumam Vita pelan, ada nada cemas yang terdengar dalam suaranya.Matanya menatap kosong ke arah jalan yang sepi. L

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Misi selesai

    “Kalian yakin dia pelakunya?” tanya Bima dengan nada serius, matanya menatap Gilang yang tertidur dalam posisi duduk dan tangan terborgol. “Kami yakin, Pak. Bapak bisa lihat sendiri bukti fotonya,” jawab Nova tegas.Bima mengangguk singkat. Ia menepuk pundak Nova pelan sebagai bentuk apresiasi. Lalu tatapannya beralih pada Arga yang berdiri sedikit jauh membelakanginya sambil mengisap rokok.Bima melangkah mendekat hingga berdiri di samping pria itu. “Terima kasih karena sudah berhasil menangkap pelaku yang sudah merugikan banyak pihak, termasuk putri saya sendiri,” ucapnya. Arga tidak segera menjawab. Ia menyesap rokok dalam-dalam kemudian mengepulkan asapnya ke depan. “Jangan terlalu senang. Saya melakukan ini karena dia juga sudah menyakiti istri saya,” balasnya dingin. Arga membuang puntung rokok ke lantai dan hendak melangkah pergi, namun suara Bima kembali menghentikannya.“Semua bayaran untukmu sudah saya transfer. Saya harap itu cukup sebagai balasan atas jasa kamu kali ini

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Tertangkap basah

    “Mas Arga kok bisa tahu aku di sini?” tanya Vita dengan suara yang terdengar panik. “Udah kamu diam dulu, Mas bakal jelasin nanti,” jawab Arga cepat. Tangannya bekerja tegang dan tergesa, berusaha melepaskan ikatan kasar yang membelit tubuh istrinya. Saat melihat bekas kemerahan di lengan dan pipi Vita, mata Arga tampak berkaca-kaca. Ia merasa gagal menjaga istri tercintanya dari jeratan pria menakutkan itu. “Ayo cepet, jangan terlalu lama. Takut dia balik!” seru Nova dari arah pintu.Arga mempercepat gerakannya. Ikatan terakhir akhirnya terlepas. Vita mengembuskan napas panjang, hampir tak percaya ia bisa bebas secepat ini. Arga menariknya ke dalam pelukan singkat, kemudian melepasnya karena tidak ingin Nova menunggu lebih lama. Pria itu membantu Vita berdiri. “Ayo kita pergi dari sini,” ucapnya lembut. Begitu mencoba menapak, Vita meringis. Sakit itu menyambar dari pergelangan hingga betisnya. Kemungkinan karena ia terlalu lama terikat sehingga membuat otot-ototnya kaku dan peri

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Terbongkarnya rahasia besar

    “Kamu benar-benar nggak tahu pekerjaan suamimu yang sebenarnya?” tanya Gilang dengan suara merendah namun mengandung kecurigaan yang besar. “Mas Arga… dia karyawan kantor biasa bukan agen rahasia seperti yang kamu bilang,” jawab Vita lirih. Ia mengalihkan pandangan karena tak sanggup menatap langsung mata sipit pria itu yang terasa menusuk hingga ke tulang.Gilang tertawa keras, tawa yang terdengar seperti ejekan. Ia meraih dagu Vita dan membelai pipinya dengan sentuhan yang membuat kulit perempuan itu merinding. Tatapannya menancap ke mata Vita, seolah ingin menelanjangi isi kepalanya.“Kamu memang lugu, pantas saja kamu gampang dibodohi laki-laki," ucap pria itu dengan nada meremehkan. Tanpa menunggu balasan, Gilang berdiri. Langkahnya terdengar berat saat berbalik, meninggalkan Vita yang masih terbaring di lantai dingin dengan kedua tangan dan kaki terikat tali. Nafas Vita terengah, antara sakit dan rasa tidak berdaya.Namun sebelum Gilang sempat melangkah lebih jauh, sebuah suar

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Kecurigaan

    “Kenapa kamu tega lakuin ini ke aku?” tanya Vita tajam dengan tangan dan kaki yang sudah terikat tali. Tubuhnya dibiarkan terbaring begitu saja di lantai kotor penuh debu. Wajah perempuan itu bahkan tertutupi oleh rambut panjangnya.Di sisi lain Gilang yang duduk di kursi sedang menatapnya sambil tersenyum penuh keangkuhan. “Apalagi alasannya selain kamu yang bodoh dan gampang ditipu?” tanya pria itu diakhiri kekehan dengan maksud mengejek. Vita mengerjap. Matanya seolah sudah kering karena terlalu lama menangis beberapa saat lalu. Kepalanya kemudian memutar perkataan Arga yang menyuruhnya untuh menjauhi Gilang. Maaf Mas Arga, aku nyesel karena ngga nurutin perintah Mas Arga buat jauhin Gilang, bisik Vita dalam hati. “Lihat aja, aku bakal laporin kamu ke polisi!” seru Vita dengan suara bergetar. “Polisi? Silahkan aja kalau kamu bisa keluar dari sini hidup-hidup!” balas Gilang. Pria itu lanjut menyesap rokoknya sambil menghembuskan asap ke udara. Ia seolah tak memedulikan Vita

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Secarik kertas

    “Maaf ya, kalau lama,” ucap Arga begitu kembali ke meja. Ia menarik kursinya dan duduk di hadapan Vita, mencoba tersenyum seperti biasa.Vita menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil. “Nggak papa,” jawabnya singkat sambil tetap mengunyah makanannya.Tanpa banyak bicara, Arga pun ikut kembali makan. Ia

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Sosok misterius.

    "Hah? Maksudnya?" tanya Arga tak paham.Pria itu menatap lebih dekat, matanya menyipit seolah meyakinkan dirinya sendiri. “Iya, Mas. Saya lihat mas persis banget kayak orang yang saya kenal dulu. Namanya Reksa. Teman lama saya, udah lama banget nggak ketemu," jelasnya.Arga tertawa kecil. “Wah, maa

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Jalan-jalan

    "Dari mana?""Eh kaget!" seru Vita terkejut begitu membuka pintu. Ia tak menyangka Arga sudah berdiri di sana, menunggunya dengan tangan bersedekap dan alis sedikit terangkat.“Habis dari depan sebentar,” jawab Vita sedikit gugup.Arga tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap wajah istrinya dala

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Pakaian berlumpur

    Vita berjalan menuju sudut rumah tempat keranjang pakaian kotor berada. Dengan cekatan, ia mulai memilah-milah baju kotor yang sudah menumpuk, lalu memisahkan pakaian berwarna putih, gelap, dan yang berbahan lembut.Namun tangannya terhenti saat ia mengambil sepotong celana panjang dan kemeja yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status