FAZER LOGINElena segera bergegas menuju apartemen lamanya diantar oleh Samuel. Kedatangan sang ayah yang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya tentu saja sangat mengejutkannya. Sepanjang sisa perjalanan, jemari Elena bertautan erat, menahan gemuruh kecemasan yang mendadak melingkupi dadanya.Samuel yang duduk di sampingnya menyadari kegelisahan itu. Sesaat setelah mobil mewah mereka berhenti di area lobi gedung apartemen, Samuel menoleh dan menatap Elena lekat-lekat."Apakah aku perlu ikut masuk dan menjelaskan semuanya pada mereka?" tanya Samuel.Elena menoleh, lalu menggeleng kecil seraya memaksakan sebuah senyuman tipis. "Tidak perlu, Sam. Ayahku berbeda dengan orang kebanyakan. Dia sangat keras kepala. Jika kau langsung muncul sekarang, aku takut situasinya justru akan semakin keruh."Elena melepaskan sabuk pengamannya, lalu menatap Samuel sekali lagi.“Aku mungkin akan tinggal di apartemen lamaku dulu untuk sementara waktu, selagi keluargaku masih ada di kota ini."Samuel sempat te
Sebuah mobil sedan hitam melaju membelah jalanan lintas kota sejak matahari baru saja terbit. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu berat dan kaku, berbanding terbalik dengan pemandangan hijau yang membentang di luar jendela.Keluarga Wijaya sengaja berangkat lebih awal. Jarak yang lumayan jauh dari kediaman mereka menuju ibu kota memakan waktu berjam-jam. Erick dan Maria, kedua orang tua Elena, memutuskan untuk tiba lebih awal dengan harapan mereka bisa beristirahat sejenak sekaligus menemui putri bungsu mereka itu lebih dulu sebelum menghadiri undangan dari keluarga Pratama.Namun, sepanjang perjalanan, tidak ada ketenangan. Suara helaan napas berat dan keluhan tak henti-hentinya keluar dari mulut kedua orang tua Elena."Ayah benar-benar tidak habis pikir dengan Elena," ujar Erick sambil mencengkeram kemudi dengan erat. Wajah paruh bayanya mengeras menahan kecewa. Bagaimana tidak? Selama ini Elena adalah putri mereka yang paling penurut."Bisa-bisanya dia bersikap impulsif seperti
Di dalam ruang kerja Raka, ketegangan terasa begitu pekat hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau. Pria itu mondar-mandir di balik meja kerjanya yang mewah, sementara jemarinya tak henti-henti mengetuk layar ponsel dengan kasar.Sudah lebih dari dua puluh empat jam sejak dia merilis pembantahan resmi dan menyebarkan rumor perselingkuhan Elena ke media online. Raka sengaja memancing di air keruh, berharap Elena akan panik, membuat pernyataan emosional di publik, atau setidaknya memohon padanya untuk kembali. Namun, hasilnya nihil.Tidak ada tanggapan, tidak ada sanggahan, bahkan tidak ada satu pun rilis resmi dari pihak PHILATECH maupun Elena Wijaya. Keheningan mereka justru membuat Raka merasa seperti badut yang sedang berteriak sendirian di tengah lapangan kosong."Sialan!" umpat Raka, melempar ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan suara benturan yang keras.Amarahnya pada Elena semakin memburu, membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Dadanya kembang kempis menahan gejolak em
Pagi itu, Elena sengaja berangkat ke kantor jauh lebih awal dari biasanya. Sengaja, dia ingin pergi kerja sendiri demi menghindari kecurigaan.Begitu melangkah masuk ke lobi PHILATECH, atmosfer dingin langsung menyergap. Tatapan mata para karyawan yang berpapasan dengannya terasa berkali-kali lipat lebih sinis dibandingkan kemarin.“Abaikan saja, Elena,” gumamnya pelan.Elena masuk ke dalam ruang kerjanya, meski tidak besar tapi ruang itu cukup nyaman untuknya.Ponsel di dalam saku blazernya bergetar. Elena membukanya dan menemukan sebuah pesan dari Maura, kakaknya. Sebuah tautan berita online dikirimkan tanpa takarir panjang. Skandal Panas: Eks-Tunangan Pewaris Pratama Diduga Berselingkuh dengan CEO Philatech, Samuel Adiguna!"“Sesuai dugaanku. Semoga pengaruh buruknya tidak terlalu signifikan untuk Samuel.”Elena mencoba mengesampingkan dulu masalah itu, dia memilih untuk mulai bekerja.Namun, belum sempat dia membuka laptopnya, salah satu rekan kerjanya tiba-tiba menghampiri meja
Seharian penuh Elena berhasil bertahan di PHILATECH. Meski rasanya seperti berjalan di atas paku, dia tetap berdiri tegak. Didiamkan oleh satu divisi, menerima tatapan tajam di kantin, hingga bisik-bisik di area lobi tidak membuatnya gentar. Memang ada satu atau dua orang yang tetap menyapanya ala kadarnya demi formalitas, namun sisanya seolah menganggapnya sebagai parasit yang baru masuk ke tubuh perusahaan.Elena memutuskan pulang menggunakan taksi daring. Dia tidak ingin mencolok dengan dijemput mobil mewah Samuel, apalagi di tengah panasnya berita ‘pengkhianatan’ yang sedang digoreng oleh Raka di media sosial.Setibanya di Mansion Adiguna, kehangatan menyambutnya. Para pelayan melayaninya dengan ramah dan tulus, sesuatu yang masih terasa asing bagi Elena. Samuel tidak ada di sana, mobilnya belum terlihat di garasi. Mungkin pria itu masih terjebak dengan segunung dokumen di kantor, pikir Elena.“Apa anda mau secangkir teh, Nyonya?”Elena menggeleng kecil. “Tidak perlu. Tolong s
Sepanjang pagi hingga menjelang siang, Elena seolah menjadi hantu di Departemen IT PHILATECH, kehadirannya bahkan tidak dianggap oleh siapapun.Tidak ada instruksi, tidak ada akses data, dan tidak ada yang menyapanya. Rekan-rekan satu timnya sengaja menyibukkan diri, sesekali melempar tatapan sinis yang dibumbui bisik-bisik tajam."Sayang sekali Bianca sedang ada dinas di luar kota," bisik salah satu staf wanita, cukup keras untuk didengar Elena. "Andai ketua tim kita ada di sini, wanita pengkhianat ini pasti sudah habis dikuliti. Nona Bianca tidak akan membiarkan 'penyusup' duduk santai di ruangan ini."“Benar. Aku harap Nona Bianca segera menyudahi masa liburnya.”Elena hanya menatap layar laptop pribadinya, jemarinya menari lincah menyusun barisan kode enkripsi. Ia tidak butuh arahan mereka untuk saat ini. Ia sedang sibuk memasang ‘jerat’ terakhir untuk Raka. Baginya, pengabaian mereka hanyalah kerikil kecil dibandingkan jurang kematian yang pernah ia lewati.Saat jam makan sian







