Share

Bab 47

Penulis: Ummu Amay
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 20:00:16

Tenggorokanku tercekat.

Tak pernah Tian melakukan ini.

Dengan pakaiannya yang masih lengkap, air akhirnya membuat semua yang melekat di tubuhnya basah.

Aku membeku. Tak mampu bereaksi ketika tangan besar itu mulai meraba dan menjelajah.

“Aku bantu.” Lagi, ia bicara.

Suaranya rendah. Tepat di dekat telingaku.

Aku refleks menahan pergelangan tangannya.

“P-Pak Tian…”

Dia diam sebentar. Lalu perlahan membalik tubuhku menghadap dirinya.

"Tian."

Aku mendongak. Dan saat itu tatapan kami bertemu.

Air
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 93

    Aku diam. Tidak merespon ucapan Dendy, karena fokusku saat ini hanya untuk memastikan bahwa anak buah Tian tenang dan tidak bertindak provokatif. "Mana ayahku?"Ku lihat Dendy tersenyum sinis. Ia benar-benar mengejekku. Tak peduli dengan keberadaan beberapa pria yang datang bersamaku. "Sesuai kesepakatan, lunasi semua hutang dan kau bisa melihat ayahmu. Bahkan ... bisa membawanya pulang."Aku diam sejenak. Memikirkan sebenarnya berapa banyak hutang ayah kepada Dendy, juga orang-orang di luaran sana. "Berapa hutangnya?"Aku melihat tawa lelaki di depanku yang terlihat mengejek. "Apa kau yakin bisa melunasinya malam ini?""Katakan saja dulu."Wajah Dendy terlihat tidak senang. Sepertinya rencana yang ia punya tidak berjalan sesuai harapan. Entah apa itu. Perlahan lelaki itu bangun dari duduknya. Ia lalu berjalan mendekat ke arahku. Berjalan sembari membawa sebotol minuman beralkohol, yang aku yakin berharga murah. Dua orang pria di sebelahku terlihat bergerak siaga. Namun, mereka

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 92

    Tian sudah akan menciumku. Namun saat melihatku menangis, aksinya pun urung dilakukan. "Kau menolak?"Aku diam, tak menjawab. Hanya terisak pelan yang kemudian membuatnya duduk. Ku lihat ia merapikan dasinya. Wajahnya terlihat kesal dan dingin. Ia mengembus dan melepaskan napas cepat. Perlahan aku duduk sembari merapikan bajuku yang setengah berantakan. Setelahnya kami sama-sama terdiam, tak ada yang bicara. "Kau mau membalas dendam?" tanyanya memecah keheningan yang terjadi beberapa saat. "Saya tidak memiliki hak untuk melakukan itu."Seketika Tian menoleh, menatapku dengan matanya yang tajam. "Lalu, apa kau bisa menjelaskan situasi tadi?""Situasi yang mana? Waktu salah satu temanku ingin mengantar pulang? Apakah itu satu perbuatan yang salah, yang membuat harga diri Anda terusik?" Aku bertanya, sedikit berlebihan memang. Tian diam. Ku lihat ia menggeram. "Kau milikku. Masih milikku selama kontrak kita belum selesai.""Bagaimana kalau hubungan kita diketahui oleh tunangan An

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 91

    Baru selesai dengan pekerjaan di restoran, tiba-tiba ponselku berbunyi saat aku sedang berganti pakaian. Awalnya aku abaikan, tapi suara itu terus menjerit seperti memaksa ingin diperhatikan. Aku pun akhirnya merogoh kantong celana jeans bagian belakang untuk meraih benda yang berisik itu. Nama Bu Yana terpampang di layar. Membuat perasaanku mendadak tak enak. "Halo! Iya, Bu Yana. Ada apa?" Aku masih berusaha tenang meski perasaanku sudah tak karuan. Wajah menyedihkan ibu seolah berada di depan mataku sekarang. "Mba Bia, tolong bapak, Mba!" Suara Bu Yana terdengar panik. "Bapak? Kenapa sama ayah saya?" "Bapak dibawa sama orang-orang.""Siapa?""Saya engga tahu, Mba. Tapi, kata ibu, mereka orang-orang suruhannya Dendy."Aku terdiam sejenak. Ayah dan Dendy adalah teman sekaligus atasan dan bawahan. Dibawa oleh orang itu? Sepertinya bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. "Bu, Dendy kan memang atasannya ayah. Jadi, saya rasa mereka baik-baik saja.""Engga, Mba. Tadi sebelum diba

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 90

    "Sial." Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.Bagaimana mungkin aku bisa menghafal nomor pelat mobil seseorang?Bahkan nomor pelat motor Angga saja aku tidak tahu."Kok diam?" Hani menyipitkan mata, memperhatikanku.Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.""Kamu sadar, kan?""Sadar apa?""Barusan kamu lega."Aku mengerutkan dahi."Lega? Maksudmu?""Iya." Hani mengangguk mantap. "Pas yang turun bukan Tian."Aku membuka mulut, hendak menyangkal. Namun urung.Karena ... memang benar. Aku lega.Entah karena tidak perlu bertemu dengannya lagi hari ini, atau karena tidak perlu menghadapi tatapan aneh teman-teman kampus untuk kedua kalinya."Aku cuma..." Aku mencari alasan yang masuk akal. "Capek."Hani tidak langsung membalas. Tatapannya justru semakin sulit kuterjemahkan."Bia.""Hm?""Aku enggak akan ikut campur."Aku menoleh."Tapi aku minta satu hal.""Apa?""Jangan bohong sama diri sendiri."Kalimat itu membuatku terdiam.Sebelum sempat membalas, Hani sudah lebih dulu mengembuskan napas.

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 89

    "Seharusnya aku mencari cara supaya terlepas darinya."Kalimat itu terus berputar di kepalaku sampai jam kerjaku berakhir.Malam semakin larut ketika restoran akhirnya tutup. Aku membantu merapikan meja, menyusun kursi, lalu membersihkan area pelayanan seperti biasa."Bia."Aku menoleh. Angga sedang menggantung celemeknya."Pulang naik apa?""Ojek, seperti biasa.""Mau dianter?"Aku tersenyum kecil."Enggak usah. Hari ini sepupumu enggak manggil, 'kan?"Angga menggeleng."Enggak.""Ya sudah. Aku naik ojek saja.""Oke."Ia tidak memaksa. Itulah salah satu hal yang kusukai dari Angga. Perhatiannya selalu ada, tetapi tidak pernah berlebihan.Sementara aku membuka aplikasi untuk memesan ojek, Reina tiba-tiba menyenggol lenganku."Bi.""Hm?""Pak Tian enggak balik lagi, 'kan?"Aku langsung mendelik."Ngapain balik?""Ya siapa tahu. Enggak nungguin kamu juga 'kan di jalan?" tanyanya sembari celingak celinguk ke arah depan. "Enggak usah ngarang."Reina terkekeh."Soalnya akhir-akhir ini dia

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 88

    Lima belas menit istirahatku hampir habis. Aku melirik jam tangan, lalu perlahan mendorong kursi ke belakang."Sepertinya aku harus kembali kerja."Silvi mengangguk mengerti."Iya. Maaf ya, jadi ganggu waktu istirahatmu.""Enggak kok."Aku berdiri sambil merapikan celemek. Satu sikap yang sengaja aku lakukan, supaya aku juga Tian sadar mengenai siapa diriku. "Terima kasih sudah mampir.""Harusnya kami yang bilang terima kasih."Aku mengangguk pelan. Sesaat sebelum berbalik, tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Tian.Pria itu masih diam.Namun entah kenapa, sejak tadi aku merasa ia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya."Aku duluan."Silvi tersenyum. "Iya."Aku segera meninggalkan meja mereka. Semakin jauh melangkah, semakin ringan napasku.Setidaknya percakapan tadi tidak seburuk yang kubayangkan."Eh."Baru beberapa langkah, seseorang langsung menarik lenganku pelan.Reina."Wawancara selesai?"Aku mendengus."Lebih mirip sidang skripsi."Reina terkekeh."M

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 5

    Aku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku. Aroma amber. Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 7

    "Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 6

    Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar. Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!"Suara teriakan dan gedoran pi

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 1

    Suara erangan itu terdengar panjang. Memenuhi setiap sudut ruangan.Aku bisa mendengarnya tepat ketika sesuatu yang hangat memasuki area yang selama ini terlarang untuk disentuh. Pria di atasku tak lama ambruk. Menindih tubuhku dengan peluh yang juga membanjiri tubuhnya. Hangat. Basah. Lengket.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status